
"What?. Gue harus berkebun?"
Marvin kaget mendengar penjelasan Dean.
"Ya." ucap Dean dengan nada penuh meyakinkan.
"Kondisi seperti Edgar itu, apa-apa yang dia makan harus organik. Dia nggak bisa mengkonsumsi sembarang bahan makanan." tukasnya lagi.
"Kan di label sayuran yang gue beli, ada tulisan organiknya." ucap Marvin.
"Tapi lebih bagus kalau di tanam sendiri, bro. Lebih terjaga kualitasnya." Dean menjelaskan.
Igor memperhatikan percakapan kedua sahabatnya itu. Marvin kemudian tampak diam.
"Lo pengen Edgar sembuh nggak?" tanya Dean lagi.
Marvin menatap sang sahabat.
"Ya mau lah." jawabnya
"Miris gue dengar dia punya cita-cita mau jadi angkatan udara. Tapi kondisi dia kayak begitu." lanjut pria tersebut.
"Maka dari itu, lo harus memperhatikan mulai dari apa yang dia makan."
"Emang itu ngaruh ya, bro?" Kali ini Igor yang melontarkan pertanyaan.
"Oh iya dong." jawab Dean dengan nada pasti.
"Pernah dengar istilah you're what you eat kan?" tanya nya kemudian.
Igor mengangguk-anggukan kepalanya.
"Tapi kan lo tau, kalau gue nggak punya basic bercocok tanam." tukas Marvin.
"Iya, tapi bercocok tanam di ranjang jago." celetuk Igor yang membuat Dean tertawa.
"Babi." balas Marvin sambil tak kuasa menahan senyuman.
"Iyalah, buktinya jadi noh. Udah lima belas tahun lagi umurnya."
Igor menyinggung soal Edgar dan lagi-lagi Dean tertawa. Sementara Marvin antara dongkol namun tak ingin membantah. Sebab memang itulah kenyataan yang ada.
"Lo bisa beli lahan dan suruh orang, bro. Tapi tetap lo yang mengawasi." ujar Dean.
Marvin berpikir.
"Oke, mungkin gue akan pertimbangkan." ujarnya kemudian beranjak.
Marvin lalu berjalan menuju toilet kafe. Saat ini ketiganya memang tengah ngopi bersama.
"Lo nggak serius kan bro, soal si Edgar mesti makan makanan yang organik itu?"
Igor bertanya pada Dean ketika Marvin telah pergi ke toilet.
"Serius gue, emang dia harus bener-bener di perhatikan soal makanan. Kebersihannya juga harus bener-bener dijaga." jawab Dean.
"Emang harus beneran menanam sendiri gitu?" tanya Igor lagi.
Dean tertawa.
__ADS_1
"Nggak juga sih." ujarnya kemudian.
"Gue tuh cuma mau memanfaatkan situasi ini buat kebaikan si Marvin. Kan kalau dia punya banyak kegiatan, fokus dia buat Kinan bakalan terpecah tuh. Kalau bisa jadi renggang dan bubar." ucap Dean lagi.
"Iya juga sih, biar dia fokus ke Edgar aja." timpal Igor.
Biar nggak kebanyakan main cewek juga." tukas Dean.
"Gue tuh agak worry sama kesehatan dia. Kalau misalkan dari kebiasaan-kebiasaan itu, jadi timbul penyakit. Kan gue sebagai teman yang juga berprofesi sebagai dokter, bakalan ngerasa bersalah banget. Harusnya gue bisa mewanti-wanti sahabat gue sendiri." lanjut pria itu.
"Gue pikir selama ini lo nggak terlalu peduli soal itu." Lagi-lagi Igor berujar.
"Apaan?. Gue tuh selalu khawatir kalau si Marvin asal celap-celup. Ya walaupun dia selalu menjalani pemeriksaan rutin sih. Tapi kan resiko itu tetap ada."
Igor mengangguk-anggukan kepala. Tak lama Marvin kembali dari toilet dan mereka menyudahi percakapan tersebut.
"Tadi Edgar baik-baik aja kan, bro?"
Marvin mempertanyakan perihal anaknya pada Dean, seraya kembali duduk.
"Baik-baik aja, lagi ada teman-temannya juga." jawab Dean.
"Cewek itu?" Marvin menyinggung soal Tania.
"Maksud gue ada ceweknya nggak tadi?'' tanya nya lagi.
"Nggak ada sih, cowok semua." jawab Dean.
"Kenapa emangnya kalau ada cewek, bro?. Si Edgar udah pacaran?" tanya Igor.
Marvin menghela nafas, kemudian menceritakan soal Tania. Igor kaget kemudian tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sementara Dean melirik ke arah Marvin.
"Apa?" tanya Marvin pada keduanya.
"Kayak lo berdua nggak kotor aja." lanjutnya lagi.
Igor menatap Dean dan begitupula sebaliknya. Mereka menahan senyum demi memperhatikan ekspresi Marvin yang tampak sedemikian sewot tersebut.
***
"Giman beb, hari pertama berbuat manis sama si bos?"
Zara bertanya pada Dinda ketika akhirnya mereka bertemu.
"Lumayan sukses sih, kalau nggak di recokin sama si bunting." jawab Dinda lalu menyedot minuman dingin yang ia pesan sejak tadi.
"Kenapa lagi dia?" tanya Zara heran.
Kemudian Dinda menceritakan perihal kopi yang di serobot oleh perempuan itu.
"Wah gila sih, emang kuntilanak tuh cewek."
Zara kesal mendengar hal tersebut.
"Ngeselin anjir." lanjutnya lagi.
"Ember." ucap Dinda.
__ADS_1
"Keliatan banget dia mau perang sama lo." tukas Zara.
"Makanya gue antepin aja, mau sampe mana dia ngelawan gue." jawab Dinda.
Zara tertawa kecil.
"Segatel-gatelnya kita, ternyata ada yang lebih gatel. Udalah bini orang, masih aja selingkuh sana-sini." ujarnya kemudian.
"Makanya." Lagi-lagi Dinda menjawab.
Sementara itu di lain pihak, Kinan yang hari ini tak dijemput oleh suaminya lantaran suaminya tengah sibuk itu pun, menelpon Marvin.
Ia sengaja mencuri start untuk menjadi orang paling manis di mata selingkuhannya tersebut. Sebelum Dinda berbuat lebih jauh, dan merebut hati Marvin lebih dalam.
"Hallo sayang."
Kinan membuat Marvin agak terkejut dengan perkataan yang keluar dari mulutnya.
"Kamu jangan biasakan seperti itu, nanti keceplosan." ucap Marvin.
"Nggak koq, jangan terlalu khawatir." ucap Kinan.
"Aku akan berusaha untuk memisahkan hal tersebut kalau lagi di depan orang banyak." ujarnya lagi.
Marvin menarik nafas agak dalam.
"Kamu dimana sekarang?" tanya pria itu.
"Lagi nunggu taksi." jawab Kinan.
"Kamu nggak dijemput?" Marvin kembali bertanya.
"Nggak." jawab Kinan.
"Kenapa tadi nggak bilang, biar aku antar." tukas Marvin.
"Abisnya bapak sibuk banget dan keliatan buru-buru."
Kinan berkata dengan nada begitu tenang dan lembut. Sangat berbeda dengan Kinan yang biasanya suka marah serta merajuk. Marvin pun jadi merasa bersalah dibuatnya. Apalagi ia menyadari hari-hari belakangan ini ia sangat sibuk pada Edgar.
"Maafin aku ya. Nanti kalau ada waktu kita jalan." ucap Marvin.
"Yes."
Kinan berjingkrak dalam hati. Menurutnya trik dengan kelembutan ini mulai menunjukkan hasil, meski dalam waktu yang cukup singkat.
"Iya, kalau bapak banyak pikiran kasih tau aku ya. Mungkin aku bisa bantu meringankan." ujarnya sekali lagi.
Marvin diam sejenak, ia memang sedang banyak mengalami hal berat dan tak bisa mengatakan itu semua. Namun untuk tidak mematahkan harapan Kinan, ia pun menjawab.
"Iya, aku pasti bilang kalau ada apa-apa." ujarnya kemudian.
Kinan pun tersenyum namun tidak tulus. Sebab ia merasa misinya kali ini telah cukup menunjukkan progres. Tak lama taksi yang ia tunggu datang.
"Taksinya udah datang. Mau lanjut ngobrol apa gimana?" tanya Kinan.
"Lanjut aja, sampai kamu tiba dirumah." ujar Marvin.
Maka keduanya pun melanjutkan percakapan.
__ADS_1