Penakluk CEO Plus-Plus

Penakluk CEO Plus-Plus
Suster Bernadette


__ADS_3

Usai kidung-kidung kedamaian itu dilantunkan secara bersama-sama. Marvin merasakan kedamaian menyeruak di dalam jiwanya.


Meski ia bukanlah penganut dari agama yang diyakini sang anak. Namun dimana-mana doa selalu mendamaikan hati siapapun yang mendengarkan.


Karena dalam kepercayaan apapun, doa adalah penyelamat batin dari keresahan dan pemikiran-pemikiran yang begitu liar.


Ketika semuanya telah selesai, dan para jemaat telah keluar. Marvin dan Edgar bergerak paling belakang. Sebab Edgar mendahulukan yang duduk di depan terlebih dahulu.


"Edgar."


Seorang Romo mendekati Edgar, dan Edgar pun menoleh sambil tersenyum.


"Iya Romo." ujarnya kemudian.


"Ini...?" Romo tersebut melihat ke arah Marvin.


"Ini..."


Edgar ingin menjawab. Namun ia ingat jika Marvin pernah mengatakan, bahwa dirinya harus memanggil Marvin dengan nama. Bila mereka tengah berada di muka umum.


Tetapi Edgar juga sungkan menyebut nama sang ayah itu tanpa ada tutur di belakangnya. Karena itu seperti terkesan kurang ajar. Sementara hampir semua orang tau jika saat ini Edgar telah tinggal bersama ayah kandungnya.


"Saya ayahnya, Edgar."


Secara serta merta Marvin memperkenalkan diri. Edgar sendiri kaget dan tak menyangka Marvin mau mengakui hal tersebut. Tak lama Marvin dan Romo terlihat saling bersalaman.


"Kamu sudah sehat kan?" tanya Romo itu pada Edgar, usai ia berbasa-basi dengan Marvin. Edgar pun mengangguk.


"Saya sedang mencoba, Romo." jawabnya kemudian.


"Percayalah Tuhan tidak akan membiarkan kita dan sebaik-baiknya penghiburan adalah kasih Tuhan." jawab Romo itu lagi.


Edgar mengangguk, kemudian mereka lanjut berbincang sedikit lalu pamit. Marvin dan anaknya itu kini berjalan keluar.


"Pa."


"Hmm?"


"Papa kalau udah capek, pulang aja. Kan semalam papa nungguin Edgar juga."


"Lah emang kamu mau kemana lagi?" tanya Marvin heran.


"Mau ke panti asuhan di sebelah. Edgar udah lama nggak kesana, terakhir dua bulan lalu sama papa Edward."


Marvin memperhatikan anaknya tersebut. Edgar memang 180 derajat berlawanan arah dengannya.


"Ya, ya udah. Papa ikut aja." ujar pria itu.


"Emang papa nggak apa-apa ketemu anak kecil?" tanya Edgar.


"Ya..." Marvin agak memberi jeda pada ucapannya. Namun kemudian ia pun kembali melanjutkan.


"Nggak apa-apa." tukas pria itu penuh keragu-raguan. Edgar menghentikan langkah dan menatap ayahnya itu.

__ADS_1


"Yakin?" tanya nya lagi.


"Yakin." jawab Marvin.


"Papa bukannya nggak suka anak-anak?"


Edgar kembali berjalan, begitupula dengan sang ayah.


"Kata siapa?" Marvin balik bertanya.


"Waktu Edgar baru pertama kali sampai di rumah papa, papa menolak kedatangan Edgar kan?"


"Kata siapa?" Lagi-lagi Marvin melontarkan pertanyaan.


"Orang Edgar dengar dari bawah."


"Emang kedengaran?"


"Kedengaran, suara papa gede gitu. Papa bilang Edgar bohong dan nipu papa, nggak mungkin papa punya anak."


Marvin menghela nafas agak panjang, ia sudah tidak bisa berkutik lagi kali ini. Karena semua itu memang benar adanya.


"Ya kan, itu karena papa kaget. Buktinya kamu papa suruh tinggal sama papa sekarang."


"Papa terpaksa karena udah ada hasil tes DNA itu kan?"


"Edgar, stop untuk mencecar papa soal ini. Ini bukan masalah yang harus diperpanjang."


Marvin berkata seraya menghentikan langkahnya. Edgar pun turut berhenti, namun tidak menoleh pada sang ayah. Tapi kemudian ia diam dan melanjutkan perjalanan hingga sampai ke panti asuhan yang ada disebelah.


Seorang anak berteriak dan langsung menghambur menghampiri Edgar. Selang beberapa detik kemudian banyak anak lain yang berlarian ke arahnya. Marvin sendiri kaget dan sedikit panik, sebab ia memang tidak begitu menyukai anak kecil.


"Kak, koq kakak baru kesini. Kita kangen kak."


Edgar memeluk mereka dan mengambil salah satu yang paling kecil, kemudian menggendongnya.


"Kakak juga kangen kalian semua." jawab Edgar.


Marvin berusaha mengambil nafas, karena di dera rasa panik. Panik melihat gerombolan anak kecil yang kini ada didepan matanya.


"Hei, anak-anak."


Seorang wanita terdengar suaranya dari arah depan. Marvin melihat ke arah sana, dan seketika waktu pun seakan terhenti.


Marvin seakan membeku jiwa dan tubuhnya tatkala melihat wajah cantik dan senyum manis, yang berada dalam balutan gaun pelayan Tuhan.


"Hai Edgar."


Wanita cantik itu mendekat. Tubuh Marvin makin gemetaran dengan jantung yang berdegup kencang.


"Edgar, ini...?"


Wanita itu menilik ke arah Marvin yang masih juga terpaku dalam diam. Edgar bisa melihat perubahan perilaku dari sang ayah. Ia sejatinya ingin tertawa, namun hal tersebut tak jadi ia lakukan.

__ADS_1


Mengingat hubungannya dengan Marvin saat ini, masih terasa dihalangi oleh tembok yang cukup tinggi. Ia belum begitu luwes untuk bisa bercanda dengan pria itu. Semua masih terasa sedikit kaku.


"Ini papa saya, suster." jawab Edgar kemudian.


"Pa, ini suster Cecilia Bernadette. Atau biasa kami panggil dengan suster Bernadette." ucap Edgar.


Suster Bernadette tersenyum. Sementara Marvin masih seperti orang yang terhipnotis.


"Pa."


Edgar membuyarkan lamunan Marvin.


"Eh, oh, iya."


Marvin berusaha bersikap kembali cool seperti biasa, padahal tangannya terlihat jelas gemetar oleh mata Edgar.


"Kak Edgar bawa apa buat kita?"


Salah satu anak panti asuhan tersebut bertanya pada Edgar, yang kemudian di tegur oleh suster Bernadette.


"Eh, nggak boleh begitu ya Cindy." ujarnya kemudian.


"Harusnya dengan kak Edgar kesini aja, kita semua harus bergembira." ujarnya lagi.


Edgar tersenyum.


"Tenaga aja, kak Edgar bawa makanan banyak untuk kalian. Tapi belum sampai, paling berapa menit lagi." jawab Edgar.


Marvin melirik sang anak. Ia bingung kapan Edgar memesan semua itu dan ia menggunakan uang milik siapa.


"Ayo, kita masuk ke dalam." ujar suster Bernadette setelah berterima kasih atas apa yang telah diberitakan Edgar.


Maka mereka pun melangkah masuk dan Marvin mengikuti. Setibanya di dalam, Marvin di kerubuti anak-anak lain. Ada yang memeluk dirinya dari belakang dan ada yang minta dipangku. Saat itu mereka tengah berada di ruangan para bayi dan balita.


Jika bukan karena Edgar, Marvin pasti sudah keluar sejak tadi. Sebab ada beberapa bayi yang menangis dan membuat Marvin ingin pecah gendang telinganya. Ia tidak pernah mengasuh Edgar sejak bayi, jadi ia tidak tau bagaimana cara menghadapi semua itu.


Namun kehadiran suster Bernadette juga berperan penting untuk mendamaikan jiwa Marvin yang semrawut. Entah mengapa kini muncul perasaan aneh di batin pria itu.


Jika selama ini ia melihat wanita sebagai objek pikiran plus-plusnya. Entah mengapa justru yang ini membuat dirinya merasa malu dan kotor atas segala perbuatannya selama ini.


"Edgar, Marvin masih jagain kamu kan?"


Dean memastikan jika saat ini Edgar masih baik-baik saja dan di jaga oleh ayahnya. Ia sengaja mengirim pesan singkat melalui WhatsApp kepada remaja itu.


"Masih koq, om. Edgar sama papa lagi di panti asuhan." jawab Edgar.


Dean kaget.


"Mau-mauan si Junaedi ke sana?" tanya nya kemudian.


"Coba kamu fotoin!" pinta dokter itu.


Edgar lalu mengambil foto Marvin yang saat ini tengah memangku anak-anak secara diam-diam. Kemudian ia mengirimkannya pada Dean

__ADS_1


Sontak Dean pun lalu tertawa-tawa melihat semua itu, namun ia senang. Ia juga memforward foto tersebut dan mengirimnya pada Igor.


__ADS_2