Penakluk CEO Plus-Plus

Penakluk CEO Plus-Plus
Kantor Sievert.co


__ADS_3

Dinda tiba di kantor Sievert.co di jam yang sudah mepet pukul 11:00 siang. Jika terlambat ia khawatir akan di diskualifikasi.


Namun untungnya Dewi Fortuna masih berpihak pada perempuan itu. Lima menit sebelum batas waktu ia tiba di muka resepsionis.


"Mbak, saya Dinda yang tadi ditelpon. Katanya saya diterima untuk posisi sekretaris."


Dinda berujar dengan nafas yang masih ngos-ngosan. Sebab ojek online hanya boleh menunggu atau berhenti di depan gerbang. Ia berlarian menuju ke lobi.


"Oh mbak Dinda yang kemarin ya." tanya resepsionis tersebut.


"Iya mbak." jawab Dinda.


"Mari saya antar."


Resepsionis tersebut beranjak, Dinda mengikuti wanita itu. Kemudian ia dihadapkan pada seorang wanita, namun bukan bu Hilda.


"Selamat siang." ujar wanita itu dengan nada yang ramah.


"Selamat siang, bu....?"


"Saya Tasya. Saya yang menghubungi kamu atas perintah langsung dari bos." ujar Tasya.


Dinda diam. Mungkin bos perusahaan ini melihat profilnya dan tertarik.


"Hahaha, mampus lo bu Hilda." ujarnya dalam hati.


"Sok-sokan nolak gue sih lo." gumamnya lagi.


"Mari saya antar ke meja kamu." ujar bu Tasya kemudian.


Dinda pun hanya menurut saja. Namun kali ini ia bisa melangkah dengan cukup sombong, terutama ketika ia berpapasan dengan bu Hilda yang kebetulan lewat.


Sebab ia merasa dirinya adalah pilihan bos langsung dan tidak ada satupun yang bisa menggangu gugat. Bu Hilda sendiri masih bersikap sama seperti kemarin. Ia tidak terlihat ramah kepada Dinda.


"Ini meja kamu." ujar bu Tasya ketika mereka tiba di dekat ruangan bos.


Hati Dinda pun bertanya-tanya seperti apa rupa bos dari perusahaan ini.


"Sebentar saya kasih tau bos dulu." ujar bu Tasya.


Wanita itu lalu masuk ke ruangan CEO dari kantor tersebut, tak lama ia kembali keluar.


"Dinda, kamu disuruh menghadap bos segera." ujarnya.


Jantung Dinda berdegup kencang. Jujur ia gugup dan tak tau harus berkata apa nanti di hadapan sang atasan. Namun mau tidak mau ini semua harus dihadapi.


Ia berjalan perlahan, membuka pintu. Ia melihat seorang pria tengah duduk sambil menghadap ke kaca. Ke arah pemandangan gedung-gedung bertingkat yang berjejer diluar sana.


"Permisi, pak." ujar Dinda.


Pria itu berbalik, dan seketika waktu pun terhenti. Dinda sangat-sangat terkejut melihat Marvin ada di depan matanya.

__ADS_1


"Marvin?" ujarnya tak percaya.


"Eh, pak Marvin maksud saya."


Marvin masih dengan gayanya yang dingin. Pria itu lalu memberikan beberapa file kepada Dinda.


"Saya tidak suka pada orang yang bekerja asal-asalan. Apalagi hanya sekadar asal selesai dan asal jadi." ujarnya kemudian.


Dinda memperhatikan pria tersebut.


"Semua karyawan digaji dengan setimpal disini, jadi berikan yang terbaik untuk pekerjaan yang di bebankan kepada kamu. Mengerti?" tanya Marvin.


"Me, mengerti Mar eh pak." jawab Dinda.


"Dan satu lagi, perusahaan ini bukan aneh. Karena tidak ada salahnya mempertimbangkan sebuah penampilan. Kalau saya nilai penampilan kamu sangat tidak eksklusif, warna yang kamu pilih terlalu kampungan. Nanti akan diganti semuanya."


Dinda tak mengerti akhir kalimat yang di ucapkan Marvin. Jujur ia agak sakit hati mendengar penampilannya di komentari. Apalagi kata-kata Marvin termasuk kasar.


Namun untuk jabatan yang ia dapatkan, juga Marvin yang begitu tampan. Semua itu bisa dimaafkan oleh Dinda.


"Baik pak." ujarnya kemudian.


Marvin lalu menggerakkan tangannya. Dinda tau itu merupakan kode pengusiran. Segera saja ia keluar dan langsung mempelajari apa yang harus ia kerjakan.


***


"Gue nggak bisa, bro. Itu bukan tugas gue."


Dean berujar pada Marvin di telpon, ketika temannya itu minta diresepkan obat penenang.


"Gue bukan dokter jiwa ya, Bambang. Jadi gue nggak bisa asal meresepkan obat buat lo." ujar Dean sewot.


"Lagian lo ngapain sih, mau minum-minum obat kayak gitu segala?" tanya Dean kemudian.


"Udalah alkohol iya, mau minum obat begituan pula. Kecuali emang mental dan jiwa lo bermasalah dan udah di diagnosa sama ahlinya. Baru nggak apa-apa untuk konsumsi obat kayak gitu."


"Iya, bawel. Lo kayak emak gue, Dean." tukas Marvin sambil tertawa.


"Lagian lo ada-ada aja." ucap Dean.


"Iya, kagak jadi. Gue tuh cuma pusing aja sama urusan kantor beberapa hari ini. Mana bapak gue kalau nelpon pasti ngomel. Gimana gue nggak butuh sesuatu yang menenangkan coba."


"Udalah nggak usah aneh-aneh." ujar Dean.


"Awas lo ya sampe minum obat begitu. Ntar ada aja nih akal lo. Entah dapat dari mana." Lanjutnya lagi.


Kali ini Marvin tertawa.


"Kagak, curigaan amat sih lo." tukasnya.


"Kadang sekali-kali lo itu emang patut di curigai." ucap Dean.

__ADS_1


Marvin kembali tertawa dan menghisap batang rokok yang terselip diantara kedua jarinya. Tak lama ia berpamitan dan telpon tersebut pun disudahi.


***


Dinda sudah memulai pekerjaan sejak tadi. Meski Marvin agak keras padanya, namun ia bisa lebih santai. Sebab ia sudah pernah tidur dengan lelaki itu.


Bisa saja ia merayunya lagi dan lagi. Sebagai tiket baginya untuk selalu mendapatkan hak istimewa di kantor ini.


Jika sudah seperti itu tak akan ada yang berani mengusik dirinya. Ini posisi yang sangat menguntungkan bagi Dinda.


"Braaak."


Seorang karyawati meletakkan beberapa file di meja Dinda secara tiba-tiba. Membuat Dinda yang tengah fokus pada layar komputer itu menjadi kaget.


Ia menatap si karyawati tersebut. Namun si karyawati tersebut berlalu dengan muka yang sangat asam dan terlihat sangat tak senang kepadanya.


"Eh, eh liat tuh si Kinan. Mukanya asem banget sama sekretaris baru pak bos."


Ira berucap pada Miranti yang juga tengah sibuk dengan pekerjaannya. Mereka berdua melihat ke arah Kinan yang kini telah kembali ke meja kerja.


"Gue juga nggak begitu suka sih sama si sekretaris baru itu. Keliatan banget kayak sengak terus sombong." ujar Miranti.


"Tapi kalau kehadiran dia bisa bikin si Kinan jadi ketar-ketir, gue dukung." ucapnya lagi.


"Yoi, liat aja kalau misalkan pak bos lebih dekat sama sekretarisnya itu. Apa Kinan masih bisa gonta-ganti tas mahal. Selama ini kan duitnya dari bos, gue denger-denger." tukas Ira.


"Ya iyalah karyawan plus-plus, pasti ada upahnya. Lon to the te aja dibayar ya kan."


Miranti mencibir sambil tertawa, begitupula dengan Ira.


"Takut tuh si Kinan, takut duit bos nggak mengalir lagi ke dia." ucap Miranti.


"Kan lakinya dese pegawai biasa yang gajinya nggak seberapa." lanjut perempuan itu.


"Ember, kita mah nonton aja drama ini. Mau sampai mana nantinya mereka." tukas Ira lagi.


"Yoi." balas Miranti.


***


"Dinda."


Bu Tasya kembali menghampiri Dinda.


"Iya bu." jawab Dinda.


"Pulang ini nanti, kamu jangan langsung pulang. Kamu ikut saya." ujar wanita itu.


"Kemana bu?" tanya Dinda penasaran.


"Pokoknya kamu nanti ikut saya, ini perintah dari pak Marvin."

__ADS_1


"Oh, baik bu." jawab Dinda.


Bu Tasya kemudian berlalu dan Dinda melanjutkan pekerjaan.


__ADS_2