Penakluk CEO Plus-Plus

Penakluk CEO Plus-Plus
Soal


__ADS_3

"Aku udah sampe."


Kinan berkata pada Marvin yang kini juga telah sampai di parkiran rumah sakit.


"Ya udah, makan dan istirahat." ujar Marvin.


"Makasih ya sayang." tukas Kinan kemudian.


Marvin agak takut mendengar semua itu, sebab posisi Kinan telah tiba di rumah. Namun kemudian ia menjawab meski agak ragu.


"Iya, sayang." ujarnya.


"Kamu jangan lupa makan." tukas Kinan lagi.


"Iya." jawab Marvin.


"Bye."


"Bye."


Kinan menyudahi percakapan tersebut. Marvin memarkir mobil dan keluar. Ia kemudian menuju ke pintu lobi rumah sakit.


Sementara di kamar rawat.


"Jangan bilang siapa-siapa ya, om. Edgar nggak mau terlalu di khawatirkan. Nanti Edgar malah susah kemana-mana."


Edgar berkata pada Dean yang saat itu tengah bertugas.


"Soal apa?"


Tiba-tiba Marvin muncul dan membuat keduanya menjadi kaget. Marvin mendekat lalu menatap sang anak dan juga sahabatnya tersebut.


"Dean, ada apa?" tanya nya lagi. Kali ini dengan nada penuh kecurigaan.


Dean menghela nafas agak dalam.


"Tadi Edgar, hidungnya pendarahan lagi." ujar dokter itu menjelaskan.


Marvin kaget, ia lalu menatap Edgar. Sedang Edgar mengalihkan tatapan matanya ke lain arah.


"Pokoknya sama papa nggak boleh ada yang dirahasiakan. Kamu harus jujur dan terbuka, apalagi menyangkut masalah kesehatan. Papa akan sangat marah sekali kalau sampai kamu nggak melibatkan papa dalam masalah yang kamu hadapi. Paham kamu Edgar?"


Suara Marvin terdengar agak marah. Edgar sendiri jadi terdiam, sedang Dean tak mampu membela remaja itu. Sebab Marvin sejatinya memang berhak tau keadaan sang anak.


"Permisi."


Seorang perawat tiba-tiba masuk dan membawa satu paket buah-buahan. Perawat itu adalah perawat yang selalu menanyakan tentang Marvin pada Dean.


Dean sendiri senyum-senyum melihatnya. Sebab ia tau perawat bernama Alma itu tergila-gila pada sosok Marvin.


"Edgar, ini ada titipan buat Edgar." ujarnya seraya meletakkan buah-buahan itu di atas meja.


"Dari siapa, sus?" tanya Marvin sebelum Edgar sempat melontarkan pertanyaan yang sama.


"Dari bu Cassey katanya tadi." jawab suster itu.


"Oh, bu Cassey nya mana?" tanya Edgar.


"Saya kurang tau, soalnya yang nganter kurir." jawab perawat itu lagi.


"Oh, ya udah kalau gitu. Makasih ya sus." ujar Edgar.


Perawat itu pun lalu keluar.

__ADS_1


"Bu Casey siapa?" tanya Marvin pada Edgar.


"Guru Edgar, pa." jawab remaja itu.


"Oh, cantik nggak?" tanya nya lagi.


Dean kemudian melotot dan seakan memberi kode pada Marvin. Seketika Marvin pun tersadar jika dirinya harus menjaga wibawa dihadapan sang anak. Tak boleh terlihat jika ia berotak plus-plus.


"Mmm maksud papa, orangnya baik gitu?. Dekat sama kamu?"


Marvin agak kelabakan mencari alasan, namun tetap dibungkus dengan gaya bicaranya yang sok cool.


"Lumayan dekat koq." jawab Edgar dengan nada pelan.


"Oh, oke." jawab Marvin.


"Oh ya Edgar, om mau lanjut ke ruangan lain ya." ucap Dean kemudian.


"Bro." ia juga berujar pada Marvin.


"Makasih ya om." tukas Edgar.


"Thanks, bro." Marvin menimpali.


"Sama-sama."


Dean berlalu meninggalkan ruangan itu.


"Tadi kenapa bisa pendarahan lagi hidung kamu?"


Marvin menyeret kursi dan duduk di samping sang anak.


"Nggak tau, pa. Tiba-tiba drop aja." jawab Edgar.


"Ya udah kamu istirahat gih!" perintah Marvin.


"Edgar mau ngerjain tugas sekolah dulu. Tadi teman-teman kesini dan bilang kalau di sekolah banyak tugas."


"Kan kamu lagi sakit, harusnya pengecualian dong." tukas Marvin.


"Ya nggak bisa gitu, kan Edgar yang butuh sekolah."


Jawaban Edgar sukses membuat Marvin keki setengah mati. Sebab di jaman sekolah dulu, Marvin merupakan siswa yang paling malas mengerjakan tugas. Tapi Edgar sangat berbeda jauh dengan dirinya. Seperti langit dan inti bumi.


"Ya udah papa temani kamu ngerjain tugasnya." ujar Marvin.


Selang beberapa saat berlalu, mereka sudah terlihat duduk di kursi dan sebuah meja yang lebih mirip meja makan kecil. Edgar tampak mengerjakan tugas, meski infus masih menempel di lengannya.


Marvin melihat angka-angka serta rumus-rumus yang ada di buku sang anak. Kepala pria itu pun terasa seperti berputar-putar dibuatnya. Tetapi Edgar santai saja dan bahkan seperti orang yang begitu bersemangat.


"Anak gue antusias banget ngerjain matematika. Keturunan dari siapa, anjay?"


Marvin mengirim pesan singkat di grup WhatsApp, namun tetap terlihat cool di hadapan Edgar. Seolah-olah ia adalah sosok yang tak anti pelajaran.


"Yang pasti bukan meniru sifat elo." Dean memberi jawaban.


"Kenapa, bro?. Marvin bego kah kalau soal matematika?" Igor bertanya pada Dean.


"Bukan lagi, nyontek mulu sama gue." jawab Dean.


"Gue itu bukan bego, cuma nggak suka aja sama pelajarannya. Buktinya di pelajaran lain, gue jago." Marvin membela diri.


"Nggak usah beralibi. Nggak bisa sama nggak suka itu beda tipis." seloroh Dean lagi.

__ADS_1


"WKWKWKWK." Igor tertawa.


"Halah, lo kayak bisa aja." Marvin menyindir Igor.


"Eh, gue juara lomba olimpiade matematika tingkat nasional ya di jaman SMA." Igor membalas.


"Mana buktinya?. Kagak percaya gue." ujar Marvin.


Igor lalu mengirimkan foto saat dirinya masih SMA dan memenangkan medali emas untuk olimpiade matematika. Marvin pun jadi makin keki.


"Pasti lo nggak suka dan bilang ini editan kan?" Igor menggoda Marvin.


Marvin mengirimkan stiker babi pada Igor. Sementara Dean terkekeh-kekeh.


"Pa, ini gimana ya?"


Tiba-tiba Edgar melontarkan pertanyaan pada Marvin, mengenai tugas yang tengah ia kerjakan. Sontak saja Marvin terkejut dan membeku sambil menatap sang anak.


"Hah?" tanya nya pura-pura budek.


"Ini, papa bisa nggak?"


Edgar kembali bertanya, dan pertanyaan tersebut seakan membuat kelenjar keringat Marvin berpacu lebih cepat.


"Mmm, si, sini!" ujarnya dengan nada agak ragu.


Marvin melihat soal itu. Mendadak otaknya menjadi simpul Pramuka yang gagal dibuat, alias kusut dan carut-marut. Ingin bilang tidak bisa namun gengsi. Sebab selama ini citra Marvin adalah seorang pria tampan, sukses dan juga smart.


Marvin mengambil handphone, lalu memfoto soal tersebut. Tetapi dengan tangan yang pura-pura mengetik.


"Papa kerjain disini dulu." ujarnya.


Padahal ia mengirimkan soal tersebut di grup WhatsApp dan meminta jawaban pada Igor dan juga Dean.


"Buruan jawab, anak gue nanya!" ujarnya kemudian.


"Kenapa papa nggak kerjain di kertas aja?" tanya Edgar heran.


"Kan nggak ada pulpennya." Marvin beralasan.


"Ya udah, pake pulpen Edgar."


Edgar menyodorkan pulpen yang ada di tangannya, sementara Marvin kian berkeringat dingin. Pasalnya baik Dean maupun Igor, belum ada satu orang pun yang memberikan jawaban.


"Udah terlanjur disini, tunggu bentar ya!" ujar Marvin.


Edgar mengangguk lalu mengerjakan soal lain.


"Buruan, Bambang, Daryono!" Marvin berkata sekali lagi di grup.


Tak lama Igor dan Dean memberikan jawaban. Untungnya jawaban mereka sama, sehingga tak membuat Marvin menjadi bingung.


"Sini pinjam pulpennya bentar." ujar Marvin.


Edgar lalu menyerahkan pulpen tersebut. Kemudian Marvin menuliskan jawaban di kertas. Tak lama ia pun memberikan jawaban itu pada Edgar. Edgar mempelajarinya sejenak. Dalam hati Marvin berkata,


"God, jangan buat dia nanya, please!. Gue nggak bisa menjelaskan sama nih anak. Ngerti juga nggak." gumamnya.


"Oh, oke."


Edgar tampaknya memahami jawaban tersebut, kemudian menyalinnya ke buku. Marvin kini bernafas lega, seperti orang yang baru terlepas dari dalam tahanan.


"Huuuh."

__ADS_1


__ADS_2