
Marvin pulang ke rumah. Disana sudah ada Dean yang menunggu di meja makan, sambil bermain handphone.
"Bro."
Marvin masuk lalu meletakkan tas laptopnya di atas sofa. Ia kini mendekat ke arah meja makan dan melihat ada banyak makanan disana.
"Widih, tau aja lo gue laper. Beli dimana?" seloroh Marvin kemudian menarik kursi.
"Anak lo noh yang masak." ucap Dean kemudian.
"Hah, masa sih?" Marvin tak percaya.
"Dia lebih baik daripada elo. Masakan lo kayak Gian-nya Nobita tau nggak." ucap Dean lagi.
Marvin yang masih ragu kemudian mengambil piring dan nasi.
"Edgar mana?" tanya nya lagi.
"Ada di atas." jawab Dean.
"Edgar." Dean memanggil Edgar.
"Ayo makan, ini papa kamu udah pulang." lanjut pria itu.
Tak lama Edgar pun turun, lalu duduk di meja makan tepatnya di samping Dean. Sedang Marvin ada di hadapan mereka berdua.
"Ini kamu yang masak?" tanya Marvin pada Edgar.
Remaja itu mengangguk. Marvin agak insecure dengan tampilan masakan dari anaknya itu. Meski belum tau bagaimana rasanya, namun ini sepertinya lebih baik dibanding masakannya yang horor look.
Edgar dan Dean mengambil piring serta nasi. Sementara Marvin yang sudah terlebih dahulu melakukan hal tersebut, kini terlihat mengambil lauk yang tersedia.
Saat mendapat suapan pertama Marvin terdiam. Sebab rasa masakan itu cukup enak, untuk ukuran masakan laki-laki yang masih remaja seperti Edgar.
"Hmm, enak."
Berbeda dengan Marvin, Dean lebih bisa mengekspresikan apa yang ia rasa. Bila Marvin diam, maka ia bersuara.
"Kamu belajar masak dimana?" tanya Dean pada Edgar.
"Nggak pernah sengaja belajar sih, tapi sering masak bareng papa kalau dirumah." jawab Edgar kemudian.
Dean jadi agak tak enak menanyakan hal tersebut. Karena ia telah mengingatkan Edgar soal Edward.
"Papa kamu pasti bangga punya anak seperti kamu." ucap Dean lagi.
Mereka lanjut makan, sampai kemudian Edgar selesai dan mendapat telpon dari salah seorang temannya. Edgar menjauh untuk menjawab panggilan tersebut, sementara Marvin lanjut menambah nasi yang banyak dan juga lauk segambreng.
"Enak kan bro?"'ujar Dean pada sahabatnya itu.
"Biasa aja sih, berhubung gue laper." ucap Marvin.
__ADS_1
"Hilih, sa ae lo kutu air." Dean berseloroh.
"Bilang aja lo iri tuh anak lebih bisa masak ketimbang elo. Ganteng sama ya kan, tapi dia lebih muda dan lo tua." ujar Dean lagi.
Marvin benar-benar sewot lalu menyendok nasi banyak-banyak dan memasukkannya ke dalam mulut. Hingga mulut CEO tampan itu kini penuh.
***
Kinan galau setengah mati. Pikiran wanita hamil itu berkecamuk. Ini sudah begitu larut namun Marvin tak ada tanda-tanda membalas pesan yang ia kirimkan.
Pastilah Marvin saat ini sudah berada di hotel bersama Dinda pikirnya. Sebab tak mungkin Marvin melewatkan kesempatan bagus tersebut. Sementara Dinda yang menurut pandangan mata Kinan sangat gatal itu, mustahil juga melewatkan kesempatan berduaan bersama Marvin.
"Hhhhh."
Kinan menarik nafas panjang. Ia benar-benar gelisah dan tak bisa tidur malam ini. Sementara sang suami sudah nyenyak sejak tadi.
Tak jauh berbeda dengan Kinan, Dinda pun kini tengah galau hatinya. Ia sendirian di kamar hotel dengan ekspektasi yang tak sampai *******.
"Hhhhh."
Ia juga menghela nafas panjang. Mungkin ia harus lebih getol lagi dalam hal mendekati Marvin. Sebab bila kegagalan ini terus terjadi, cita-citanya untuk mendapat pasangan pria kaya-raya akan kandas begitu saja.
Sementara dua orang perempuan itu memikirkan Marvin. Marvin sendiri tertidur dengan nyenyak akibat kekenyangan.
***
Pagi hari.
Mereka berdua mencoba tersenyum, dan saat ini mereka masih berada di ujung tempat tidur. Mereka berjanji untuk tampil habis-habisan dan memberi pelayanan bagi Marvin habis-habisan pula.
Pagi itu Marvin terbangun, lantaran ingat harus mengantar Edgar ke sekolah. Maka pria itu pun bersiap, lalu pergi ke dapur untuk membuat sarapan.
Meski sempat insecure dengan masakan sang anak semalam. Tapi ia ada membeli roti, dan roti tak pernah salah bila dijadikan menu untuk sarapan.
Maka Marvin menyiapkan roti tersebut, berikut selai kacang dan juga coklat yang ia dapat di lemari kitchen set. Ternyata ia pernah membeli kedua selai itu dan melupakannya.
Marvin lihat itu belum expired, maka ia meletakkannya di atas meja makan. Pria itu kemudian melirik arloji dan melihat Edgar belum juga turun.
"Edgar." panggilnya dari bawah.
"Edgar kamu sekolah apa nggak?" tanya nya lagi.
"Tak ada jawaban."
"Masih tidur kali tuh anak."
Marvin menuju ke lantai atas dan mencoba mengetuk pintu kamar anak itu.
"Tok, tok, tok."
"Edgar."
__ADS_1
"Tok, tok, tok"
"Edgar."
Tak lama pintu di buka. Marvin kaget melihat wajah sang anak yang begitu pucat.
"Edgar nggak sekolah, pa." ujar Edgar kemudian.
"Loh, kamu kenapa?. Sakit?" tanya Marvin heran.
Ia menemukan bintik-bintik seperti demam berdarah berikut lebam-lebam di sekujur tangan anaknya tersebut. Marvin meraba kening Edgar secara spontan.
"Kamu demam berdarah?" tanya nya lagi.
Edgar menggeleng.
"Edgar cuma butuh istirahat aja." jawab Edgar.
"Nggak bisa gitu dong, kamu meremehkan penyakit itu namanya."
"Edgar ada obat sendiri."
"Obat apa?. Mana bisa demam berdarah pake self medicine gitu. Kamu harus ke dokter sekarang."
Tiba-tiba hidung Edgar mengeluarkan darah. Remaja itu refleks menghapusnya dengan tangan, namun darah terus mengalir. Marvin yang kaget pun lalu semakin mendekat.
"Kamu kenapa Edgar?" tanya nya khawatir.
Edgar tak mengatakan apa-apa, sebab detik berikutnya ia jatuh tak sadarkan diri.
"Edgar."
Marvin menangkap tubuh anaknya itu dan kini mencoba membangunkannya.
"Edgar, Edgar."
Kepanikan semakin melanda, ia pun lalu bergegas membawa tubuh anak itu ke mobil.
"Pak, pak, tolong bukain dan tahan pintunya pak."
Marvin memberikan kunci mobil pada sekuriti. Kemudian sekuriti tersebut membukakan pintu mobil untuk Marvin dan membantu memasukkan tubuh Edgar kesana. Tak lama setelah itu mobil Marvin mulai terlihat meninggalkan rumah.
***
Di kantor.
Kinan mengenakan knit dress yang tampak membentuk body. Meski sedang hamil, ia kini terlihat sangat sexy di mata para karyawan laki-laki. Ditambah ia juga berdandan makeup full ala makeup perempuan Amerika. Jadilah semua mata kini tertuju padanya.
Tak jauh berbeda dengan Kinan, Dinda pun sama berdandan. Ia mengambil tema elegan dengan mengenakan dress ala duchess atau puteri kerajaan. Ditambah sentuhan makeup yang sederhana. Membuat ia juga tak kalah memiliki pesona.
Seisi kantor paham, jika kedua perempuan itu berdandan untuk Marvin. Tapi sayangnya sampai detik ini Marvin belum ada rencana ke kantor. Ia masih di rumah sakit dan penuh dengan kekhawatiran terhadap anaknya.
__ADS_1