Penakluk CEO Plus-Plus

Penakluk CEO Plus-Plus
Salah Bicara


__ADS_3

Marvin senyum-senyum sendiri saat ia dan Edgar sudah masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk pulang ke rumah. Beberapa saat yang lalu, setelah makanan yang dipesan Edgar tiba. Mereka pun membagikan makanan tersebut, lalu Marvin ada memberikan sejumlah uang pada pihak panti asuhan


Kini kunjungan tersebut telah selesai. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Marvin seperti mendapatkan kembali jiwanya yang hilang selama ini.


"Papa kenapa?"


Edgar bertanya lantaran heran melihat sikap Marvin yang cengar-cengir seperti orang kesurupan.


"Nggak apa-apa, kenapa emangnya?"


Marvin balas melontarkan pertanyaan kepada sang anak. Namun masih dengan mode yang senyum-senyum sendiri. Ia kemudian menghidupkan mesin mobil dan menginjak pedal gas.


Tak lama mobil mereka pun mulai meninggalkan pelataran rumah ibadah. Sebab sejak awal Marvin memang memarkir mobilnya di tempat tersebut.


Disepanjang perjalanan, Edgar lebih banyak diam. Sementara Marvin terus berkutat dengan pikirannya yang menggembirakan.


"Edgar."


Marvin mulai bersuara pada puteranya itu, ketika mereka bahkan nyaris tiba dirumah.


"Hmm?" jawab Edgar sambil terus memperhatikan handphone yang ia pegang.


"Suster itu nggak boleh menikah ya?" tanya Marvin kemudian.


Edgar curiga mendengar pertanyaan tersebut, dan entah mengapa pikirannya tiba-tiba tertuju pada suster Bernadette.


"Kenapa emangnya?" Edgar balik melontarkan pertanyaan.


"Ya, nanya aja. Papa kan nggak begitu paham sama keyakinan yang kamu anut."


"Bukan karena hal lain?" tanya Edgar lagi.


Marvin agak sedikit tersentak mendengar hal tersebut, dan Edgar tau itu.


"Ya, papa cuma penasaran aja. Emang nggak boleh penasaran?" lanjut Marvin.


"Ya, suster emang nggak boleh menikah." jawab Edgar.


"Kecuali kalau dia mau meninggalkan pelayanannya dan kembali ke duniawi." imbuh remaja itu.


"Berarti intinya boleh dong?" tanya Marvin lagi, kali ini dengan nada penuh semangat dan senyum yang makin menjadi-jadi.


"Papa suka sama suster Bernadette?"


Edgar menghentikan aktivitas dan langsung menjudge sang ayah sampai ke inti DNA. Hingga Marvin pun begitu kaget dan seperti tiba-tiba terperangkap ke dalam sarang laba-laba raksasa.


"Koq kamu bisa menyimpulkan hal kayak gitu?" Ia masih saja ngeles.

__ADS_1


Edgar menarik nafas agak panjang lalu menjawab.


"Setahu Edgar, suster Bernadette itu dulunya orang biasa dan bukan pelayan Tuhan dari kecil. Kabar-kabarnya dia malah mau menikah dulu. Tapi kemudian dia memilih untuk mengabdikan diri di rumah ibadah, dan ninggalin pacarnya itu." ucap Edgar panjang lebar.


Jujur Marvin agak kecewa mendengar hal tersebut. Tadinya ia pikir suster Bernadette telah menjadi pelayan Tuhannya sejak kecil. Dan mungkin saja wanita cantik itu bisa tergoda atau jatuh cinta ketika didekati oleh laki-laki, apalagi yang seperti dirinya. Tampan, mapan serta berkelimpahan.


"Mantannya suster Bernadette itu orang baik-baik, bukan playboy atau apapun itu." lagi-lagi Edgar berujar. Kali ini relung hati terdalam Marvin yang makjleb.


Edgar sendiri belum begitu tau jika ayahnya adalah seorang cassanova. Sehingga ia santai saja mengatakan hal tersebut. Tanpa diketahui jika Marvin jadi malu pada dirinya sendiri.


Laki-laki yang baik saja ditinggalkan oleh suster Bernadette untuk menjadi pelayan Tuhan, apalagi dirinya yang hinggap kesana-kemari.


Mobil yang dikendarai Marvin akhirnya tiba di rumah. Usai memarkir mobil tersebut, tiba-tiba Marvin kembali melempar pertanyaan.


"Oh ya, soal makanan yang kamu beli tadi. Kamu dapat uangnya dari mana?"


"Oh, itu. Itu dari akun yang Edgar dan papa Edward kelola selama ini." jawab Edgar.


"Akun?" tanya Marvin heran.


"Iya, akun sosial media untuk kegiatan sosial. Dananya dari donatur." jawab Edgar lagi.


"Banyak dong kalau dari donatur?" Marvin kembali bertanya.


"Ya, lumayan lah." jawab Edgar.


Edgar diam mendengar semua itu. Mendadak Marvin pun sadar jika ia telah salah bicara.


"Eee, maaf. Papa bukannya mau..."


Edgar keluar dari dalam mobil, sebelum Marvin meneruskan klarifikasinya.


"Aduh, kenapa sih gue harus ngomong itu.


Marvin benar-benar menyesal. Kemudian ia mencoba menyusul Edgar ke dalam. Sebab anak itu memegang kunci dan kini ia telah masuk.


"Edgar."


"Tok, tok, tok, tok."


Marvin mengetuk pintu kamar Edgar, karena anak itu telah berada disana sejak beberapa detik yang lalu.


"Edgar papa minta maaf, papa nggak maksud apa-apa. Bukan keberatan soal kamu tinggal disini."


Tak ada jawaban. Marvin semakin di dera rasa bersalah.


"Edgar, dengerin papa dulu."

__ADS_1


Tetap tak ada jawaban, namun tak lama kemudian Edgar membuka pintu kamarnya dan ia telah siap seperti mau pergi.


"Mau kemana kamu?" tanya Marvin dengan mimik wajah yang khawatir.


"Mau cari kosan." jawab Edgar.


"Papa nggak ada maksud menyinggung kamu atau apa. Ini tuh cuma sekedar pertanyaan."


"Papa pernah berbuat baik kepada orang lain?"


Edgar mencecar ayahnya itu dengan pertanyaan yang seakan langsung menusuk ke hari Marvin. Selama ini ia berbuat sesuatu pasti ada maksud dibelakangnya.


"Pernah?" tanya Edgar lagi. Marvin seperti tak bisa lagi berkutik.


"Uang yang ada di rekening akun sosial media itu, adalah uang dari orang lain. Untuk orang lain yang benar-benar membutuhkan. Edgar nggak bisa memakan hak orang lain, apalagi demi kepentingan Edgar sendiri."


Marvin makin terdiam. Belum sempat ia menjawab tiba-tiba Kinan menelpon. Marvin kaget kenapa wanita yang berselingkuh dengannya itu bisa tiba-tiba menelpon.


Di satu sisi ia masih harus menyelesaikan perkaranya dengan sang anak. Namun disisi lain wanita itu terus-menerus menghubungi. Seperti ada sesuatu yang sangat penting untuk dibicarakan.


Karena masih berat kepada perempuan itu, Marvin pun lalu menjauh dan menjawab telpon tersebut. Ternyata Kinan sedang menangis di seberang sana.


"Kinan, kamu kenapa?" tanya Marvin pada Kinan dengan nada cemas.


"Aku bener-bener udah nggak tahan lagi sama pernikahan ini. Aku mau cerai sama dia."


Kinan makin terisak.


"Iya, tapi masalahnya apa?" tanya Marvin lagi.


"Kamu bertengkar sama suami kamu?" lanjut pria itu kemudian.


Kinan makin menjadi tangisnya.


"Ibu sama kakak perempuannya datang dan mencecar aku soal koleksi barang dan tas yang aku punya. Katanya aku menyusahkan anak mereka, dan jadi beban. Padahal seumur-umur menikah, anaknya belum ada beli barang satupun buat aku. Ibu sama kakak-kakaknya ngambil barang aku dan dia diem aja. Padahal dia punya mulut untuk bilang ke mereka, kalau barang itu nggak ada satupun dari duit dia."


Marvin menghela nafas panjang.


"Ya udah, yang mana yang diambil. Nanti aku beliin lagi." ucap Marvin.


Di seberang sana Kinan tersenyum jumawa. Trik-nya untuk mendapatkan tas baru ternyata berhasil. Marvin memang tampan dan terpelajar, tapi gampang diperdaya.


Mereka lanjut berbincang sejenak, dan Marvin mencoba menenangkan wanita itu. Tak lama setelah panggilan tersebut selesai, Marvin kembali pada Edgar. Saat itu Edgar sudah tidak ada di tempat. Marvin menilik ke pintu kamar Edgar yang terbuka. Edgar juga sudah tidak ada disana.


Bahkan di kamar mandi dan dimana pun tidak ada. Marvin berubah panik, ia berlari keluar dan melihat pintu pagar yang terbuka. Kemudian ia berlarian ke arah sana. Tampak di ujung jalan, Edgar naik sebuah ojek online.


"Edgar!"

__ADS_1


Marvin berteriak dan mengejar, namun sayang ojek online tersebut sudah melaju. Marvin dengan penuh rasa bersalah dan juga kecemasan kini berlari kembali ke rumah. Buru-buru ia masuk ke dalam, mengambil kunci mobil lalu pergi menyusul remaja tersebut.


__ADS_2