
"Om apa kabar?"
perempuan muda belia yang pernah di bayar Marvin untuk bercinta kembali menghubungi Marvin di pagi buta. Marvin membaca pesan tersebut dan entah mengapa muncul pikiran plus-plus di otaknya.
Mungkin karena sesi bercinta dengan perempuan muda itu cukup berkesan. Kala itu Marvin memakaikan kostum maid Jepang yang seksi padanya.
Ia menyuruh perempuan muda itu berpura-pura sebagai pelayan, kemudian melayani dirinya dengan pelayanan yang plus-plus.
"Ada baru bangun, kenapa?" tanya Marvin.
Tak biasanya ia membalas seperti ini. Biasanya ia hanya mengabaikan saja kecuali chat dari Kinan.
Namun jika sedang menginginkan sesuatu, ia akan mengirim pesan yang berbunyi, "Datang di jam sekian." Maka perempuan yang ia inginkan tersebut akan datang.
Tapi pagi ini ia membalas. Marvin melihat handphone sambil beranjak keluar kamar dan bermaksud membuat kopi di dapur. Ia melangkah turun ke bawah, namun kemudian ia melihat seseorang membuka kulkas.
"Kamu siapa?" tanya nya kaget.
Orang itu menoleh. Marvin terdiam sejenak dan loading cukup lama. Sampai akhirnya ia menyadari jika itu adalah Edgar.
"Sorry, papa belum terbiasa ada kamu." ucap Marvin.
Edgar kembali berbalik ke arah kulkas dan mengambil serta menuang minuman dingin ke dalam gelas.
Karena itu adalah satu-satunya isi kulkas Marvin. Kemarin masih ada minuman keras, namun telah disingkirkan untuk di bawa oleh Igor ke rumahnya.
"Kamu minum air dingin pagi-pagi?" tanya Marvin seraya mendekat.
"Edgar nggak bisa minum kalau airnya nggak dingin." ucap Edgar.
Marvin mengambil gelas, kemudian memencet tombol hot di dispenser. Ia mengambil air panas dan mencampurnya dengan sedikit air dingin. Hingga air panas itu berubah menjadi hangat.
"Minum!"
Perintahnya pada sang anak, seraya memberikan gelas tersebut. Edgar tak punya pilihan lain selain meminumnya.
"Lebih baik kan?" tanya Marvin.
"Aneh." ucap Edgar kemudian.
Remaja itu terus bersikap dingin pada Marvin. Sedang Marvin yang memang otoriter tersebut, tak bisa jika tak dituruti oleh orang-orang sekitarnya.
"Kamu kenapa biru-biru begini?"
Marvin mulai menyadari ada beberapa lebam dan biru di lengan sang anak. Edgar sendiri belum memberitahu ayahnya itu jika ia mengidap autoimun jenis ITP. Sementara Dean lupa, sebab ia sudah sibuk mengurusi Marvin yang kemarin pontang-panting membersihkan rumah.
"Nggak apa-apa, mungkin anemia." ucap Edgar kemudian berlalu.
"Kamu siap-siap, nanti papa antar ke sekolah."
Edgar tak menjawab, namun ia kembali masuk ke kamar untuk mandi dan berpakaian. Kebetulan kemarin di mobil Dean, sudah ada semua barang Edgar dan mereka telah memindahkannya.
Beberapa menit berlalu, remaja itu turun dan telah siap dengan seragam sekolahnya. Marvin tau seragam sekolah mana itu, dan ia cukup kaget ternyata Edward menyekolahkan anaknya disana.
"Pak Edward kenapa nggak menyekolahkan kamu di tempat biasa aja, buat menghemat biaya?"
Marvin dengan santainya bertanya pada Edgar. Sementara yang ditanyai merasa sedikit kesal.
"Tanya aja langsung sama orangnya." jawab Edgar sambil berjalan ke depan.
__ADS_1
"Ya kan orangnya udah..."
"****!. Apaan sih gue?".
Marvin mengumpat pada diri sendiri. Karena hampir saja perkataanya melukai hati Edgar.
"Tunggu papa di depan!" ucapnya kemudian.
Edgar pun melangkah keluar rumah, sementara Marvin kini menelpon Dean.
"Hallo."
Dean selalu cepat tanggap.
"Kenapa bro?" tanya Dean kemudian.
"Dean gue harus bersikap gimana sih sama anak gue?" Marvin balik bertanya.
"Gue nggak tau bapak-bapak tuh kayak apa?" lanjutnya lagi.
Dean menahan tawa. Pastilah sangat lucu apabila ia melihat langsung ekspresi Marvin yang kebingungan. Ia yang cool dan berwibawa serta karismatik tersebut, kini harus mendadak menjadi bapak-bapak.
"Bro, syarat menjadi bapak-bapak itu gampang." ucap Dean.
"Apa?" Lagi-lagi Marvin bertanya.
"Perut lo harus buncit, pake batik sama peci. Jangan lupa pake cincin batu akik dan jokes lu harus ala-ala Facebook gitu."
"Hahaha."
Dean menjawab diiringi tawa. Hal tersebut tentu saja membuat Marvin jadi sewot setengah mati.
"Itu mah ciri khas pak RT, anjay." tukasnya lagi dan lagi-lagi Dean tertawa.
"Nggak ada gimana-gimana." ucap sahabat Marvin tersebut.
"Bersikap normal aja. Kasih dia fasilitas, makan, duit."
"Oh iya, dia belum sarapan lagi pagi ini." ujar Marvin.
"Tuh kan." ucap Dean sambil masih tertawa.
"Dikira anak lo sebatang pohon kali ya. Pohon aja butuh air." lanjut pria itu.
"Gue lupa, soalnya kan gue kalau pagi paling minum protein shake." jawab Marvin.
"Ya udah sana!. Lo ajak makan dulu tuh anak. Bikin roti isi kek atau nasi goreng."
"Kan lo tau kalau gue nggak bisa masak, Bambang. Dan lagi kulkas gue kosong."
"Mulai hari ini lo isi tuh pake bahan makanan. Stop dulu ngumpulin minuman setan."
Marvin menghela nafas.
"Iya deh, gue nganter dia dulu." ujarnya.
"Jangan lupa beliin dia sarapan di jalan." tukas Marvin lagi.
"Sarapan apaan di jalan, anjay?"
__ADS_1
Marvin memang tak pernah merasakan sarapan ala rakyat biasa, bahkan sejak ia kecil.
"Ya apa aja yang ketemu di jalan nanti." jawab Dean.
"Kalau ketemu tukang tambal ban gimana?" Marvin kembali bertanya dengan polosnya.
Sementara kini Dean terpingkal-pingkal.
"Makanya gaul sama rakyat jelata, bro. Biar tau kalau dipinggir jalan tuh kadang makanannya asik." ucap dokter itu.
"Iya, gue jalan dulu. Udah ah, bye."
"Bye, pak Marvin."
"Bangsat lo emang." Marvin kembali sewot namun Dean terus tertawa.
Tak lama telpon tersebut pun disudahi. Marvin keluar, tampak wajah Edgar sudah terlihat cukup bosan menunggu.
Marvin melihatnya sebagai anak yang tidak sabaran. Tanpa ia sadar jika sifat Edgar yang itu adalah sifatnya sendiri. Ia tak suka menunggu terlalu lama.
Mereka berangkat, di sepanjang jalan Marvin terus melihat kesana kemari. Ia mencoba mencari-cari yang kata Dean menjual sarapan.
Namun disepanjang perjalanan itu yang ia temui hanya beberapa tukang tambal ban dan juga minimarket.
"Kamu mau sarapan apa?" tanya Marvin pada Edgar.
"Ntar aja di dekat sekolah." ucap Edgar sambil bermain handphone.
"Emangnya di dekat sekolah kamu ada apa?" tanya Marvin lagi.
"Ada banyak." jawab Edgar.
Marvin sejatinya menginginkan jawaban yang lebih spesifik. Namun lantaran anak itu sibuk bermain game online, ia pun berhenti bertanya.
Setibanya di dekat sekolah, kira-kira 400meter lagi. Edgar melihat tukang bubur ayam yang mangkal. Marvin memperlambat mobilnya dan bertanya.
"Kamu mau makan itu?" tanya nya kemudian.
Edgar menggelengkan kepala.
"Ntar aja di kantin." ujarnya kembali menatap layar handphone.
"Oh ya udah." jawab Marvin.
Pria itu lanjut menekan pedal gas mobil, sementara hati Edgar hancur tanpa diketahui. Sebab di tempat tadi setiap pagi ia biasa makan bersama Edward. Sebelum ia berangkat ke sekolah dan Edward ke kantor.
Beberapa saat berlalu, Marvin memarkir mobil di lobi depan sekolah sang anak. Banyak siswa siswi serta guru yang lalu lalang.
Mobil-mobil yang mengantar para siswa dan siswi tak kalah mewahnya. Karena yang bersekolah ditempat itu adalah anak-anak orang kaya.
"Kamu biasa jajan berapa?" tanya Marvin pada Edgar.
"Seratus ribu." jawab Edgar.
"Hah?. Banyak banget." ucap Marvin dengan nada tercengang.
"Makanan disini paling murah 25 ribu. Minuman lima belas ribu. Air mineral doang yang murah. Sedang Edgar sekolah sampai sore." ujar Edgar menjelaskan.
Marvin lalu mengeluarkan selembar seratus ribuan dan memberikannya pada anak itu. Edgar pun menerima uang tersebut, kemudian keluar.
__ADS_1