Penakluk CEO Plus-Plus

Penakluk CEO Plus-Plus
Jungkir Balik Dunia Marvin


__ADS_3

Marvin duduk berhadapan dengan Edgar di meja makan, dengan tatapan mata yang terus tertuju pada remaja itu. Sementara Edgar tampak sedikit menunduk. Sama sekali ia tak menatap Marvin sejak tadi.


"Where is your mom?" tanya Marvin pada anaknya itu.


Edgar menggelengkan kepala dengan tetap masih menunduk.


"Dia nggak ada sekalipun menemui kamu selama ini?"


Marvin kembali bertanya dan Edgar lagi-lagi menggelengkan kepala.


"Tapi kamu tau kalau kamu punya ibu?"


"Nggak." jawabnya kemudian.


Marvin menghela nafas. Bayangan akan wajah Elina kini seolah enggan pergi dari pandangan matanya. Ia tak menyangka hasil kepiawaiannya dalam menggoyang wanita, berbuah seorang remaja yang kini telah berusia lima belas tahun.


Ia mengutuk benih yang berani berenang hingga sel telur tersebut dalam hati. Sebab kini hidupnya benar-benar seperti jungkir balik 180 derajat.


Ia yang tampan, mapan, dan single. Serta digilai dan di impikan banyak wanita. Kini terpaksa harus mengasuh seorang anak yang masih di bawah umur, tetapi sudah remaja. Ia benar-benar bingung harus bagaimana dan bersikap seperti apa.


"Kamu mau panggil saya siapa?" tanya Marvin pada Edgar.


Dan lagi-lagi Edgar menggeleng.


"Nggak tau." ucap remaja itu seraya menatap Marvin sejenak, kemudian kembali menunduk.


"Ya udah terserah. Mau panggil papa, ayah, daddy, atau om juga boleh. Yang pasti kalau di muka umum, harus panggil saya kakak atau cukup Marvin aja."


Edgar diam, tak ada reaksi apa-apa dari anak itu. Ini semua terlalu cepat baginya. Ia jelas belum bisa melupakan Edward, dan luka atas kehilangan ayahnya itu jelas masih terasa.


Ia timpang, sebab dari kecil Edward lah yah mengurus dirinya. Bahkan perasaan dihatinya berkata bahwa ayah sejatinya adalah Edward. Dan hal tersebut tak bisa digantikan oleh siapapun.


"Ya sudah, kamu bisa gunakan kamar sebelah kiri di lantai atas." ucap Marvin kemudian beranjak.


Edgar tak punya pilihan lain selain menuruti perintah ayah biologisnya tersebut. Keluarga besar Edward menyayangi dan siap menampungnya. Tetapi adik tiri Edward menjadi duri dalam daging yang terus menggerogoti hati Edgar.


Ia membenci anak itu dan melarang Edgar untuk dekat dengan keluarga Edward yang lain. Mau tidak mau Edgar harus tinggal bersama Marvin. Meski orang tua teman-temannya juga menawari untuk jadi anak asuh.


Ia tak ingin menyusahkan orang lain dan lagi Marvin sudah sepatutnya bertanggung jawab, atas apa yang telah ia perbuat di masa lalu.


Edgar naik ke atas, sementara Marvin kembali pada Dean dan juga Igor yang kini telah duduk di ruang tamu. Ketika sampai disana, tiba-tiba Marvin tersadar akan sesuatu.


"Astaga." ujarnya dengan ekspresi kaget.


"Kenapa bro?" tanya Dean heran, sementara wajah Igor juga menunjukkan keingintahuan.


"Dean, gue ngasih kamar ke anak gue, yang dalamnya banyak alat-alat gue buat nganu sama cewek." ujarnya.


"Hah?"


Dean dan Igor terkejut. Dan pada detik berikutnya,


"Gubrak."


"Gubrak."

__ADS_1


"Gubrak."


Marvin, Dean, dan Igor berlari membabi buta dan pontang-panting. Mereka menaiki tangga dengan secepat kilat. Pada saat mereka tiba, Edgar sudah akan masuk ke dalam kamar. Sontak ketiganya sama-sama berteriak.


"Edgaaar."


Edgar yang kaget pun menoleh.


"Kenapa pa, om?" tanya nya heran.


Marvin mendengar satu panggilan di awal, dan ia pun menyambungkan hal tersebut.


"Papa harus bersihkan kamar itu dulu. Kamu sama..."


Marvin menghentikan kata-kata lalu menilik kepada Dean dan juga Igor.


"Sama om Dean, makan dulu."


Dean menyelamatkan Marvin dengan menarik anak itu. Marvin menghela nafas lega, begitupula dengan Igor. Tak lama setelah Dean mengajak Edgar ke bawah. Marvin dan Igor bergegas membersihkan kamar tersebut.


***


Beberapa saat berlalu.


"Astaga, Bro."


Igor menemukan dalaman warna merah menyala milik wanita, di dekat tempat tidur.


"Ini segitiga bermuda punya siapa?" tanya nya seraya mengacungkan benda keramat tersebut kepada Marvin.


"Gue lupa, bro." ujar Marvin seraya menyodorkan plastik hitam yang ia dapatkan barusan dari dapur.


Igor pun memasukkan benda temuannya itu ke dalam plastik.


"Kenapa nggak dikasih kamar lain aja sih anak lo?. Orang kamar dirumah ini ada banyak." tanya Igor heran.


"Masalahnya, semua kamar dirumah ini pernah gue pake dan kondisinya sama." jawab Marvin.


Igor menggeleng-gelengkan kepala sambil mengelus dada.


"Untung dirumah masih ada nyokap gue. Jadi gue nggak pernah bawa cewek ke rumah. Paling mentok di hotel." ucap Igor.


"Lo mah parah banget." lanjutnya lagi.


Marvin hanya melirik kepada sahabatnya itu. Tidak membantah tapi ingin. Tapi malas juga untuk akhirnya jadi berdebat.


Mereka membersihkan alat bantu kebutuhan dewasa serta segala tali temali. Berikut kostum pramugari, anak sekolah Jepang, perawat seksi dan lain-lain yang ada di lemari kamar tersebut.


"Bangsat lo emang."


Igor berujar sambil tertawa tatkala membereskan itu semua. Marvin memang memiliki fantasi dan imajinasi tersendiri dalam melakukan tindakan kotornya. Semua itu bertujuan untuk mendapatkan sensasi dan mempertahankan gairah.


"Udah beresin aja." ujar Marvin kemudian.


***

__ADS_1


Sementara dibawah, Edgar makan bersama Dean. Dean membuatkan sereal coklat untuk mereka berdua.


Sebab hanya itu yang tersisa dari dapur Marvin yang kaya raya. Isi kulkasnya saja hanya seputar minuman beralkohol. Saking ia hanya tinggal sendiri dan tak di urus oleh siapapun.


"Kamu ngeliatin apa dari tadi?"


Dean bertanya pada Edgar yang sesekali tampak menilik ke sekitar.


"Istrinya papa, mana?" tanya nya kemudian.


"Dia masih single." ucap Dean.


"Hah?"


"Sama kayak om, dan om Igor juga." ujar Dean lagi.


"Oh." jawab Edgar lalu melanjutkan makan.


"Kamu udah baik-baik aja kan sekarang?" Dean kembali melontarkan pertanyaan dan Edgar pun mengangguk. Meski anggukan tersebut terasa tidak terlalu pasti.


Siapa yang bisa melupakan kepergian orang tercinta dalam waktu yang sedemikian singkat. Hal tersebut hampir mustahil untuk ukuran manusia biasa seperti dirinya.


"Mulai hari ini, kamu sudah harus membiasakan diri tinggal disini." ucap Dean.


"Om tau ini nggak mudah, tapi percayalah semuanya akan baik-baik aja." tambah dokter itu lagi.


Edgar hanya diam, namun ia mendengarkan semua itu dan mengerti.


***


"Bro, periksa lagi di laci-laci." ucap Marvin ketika ia telah mengganti seprai dan sarung bantal serta bed cover dengan yang baru.


Igor melakukan perintah dan ia ada menemukan satu kotak karet pengaman di dalam sebuah laci.


"Nih, bro. Balon." ucap Igor sambil tertawa. Marvin menahan senyuman, karena sejatinya ia agak malu mengenai hal tersebut.


"Kelakuan lu, Marvin, Marvin." ujar Igor lagi.


"Halah, kayak lo nggak aja." seloroh Marvin lalu mengambil penghisap debu.


"Eh, gue mau ganti gorden dulu." ucapnya.


"Sini gue aja yang bersihin lantai sama perabotan." ucap Igor.


"Emang lo bisa?" tanya Marvin.


"Bisalah, anjay. Gini doang."


"Jangan ngasal. Ini tempat harus clean. Anak gue masalahnya yang mau nempatin."


"Cie yang menerima anaknya dalam hitungan menit." Igor berseloroh, sementara Marvin kini terdiam.


"Kan nggak mungkin juga gue usir, Bambang. Emang lo sama Dean mau menampung dan menghidupi tuh anak?" tanya nya kemudian.


"Boleh aja sih, tapi kalau dia sukses nanti jangan lo ngaku-ngaku anak lo. Gue yang biayain, berarti jadi anak gue lah. Lo kagak punya hak." ucap Igor.

__ADS_1


"Dasar."


Marvin lalu berlalu untuk mencari gorden baru di ruang perlengkapan.


__ADS_2