
Pagi-pagi sekali, Daryanti si office girl merangkap biang gosip kantor tiba. Ia memang selalu datang lebih awal bahkan melebihi tenaga cleaning service lainnya.
Hal tersebutlah yang membuat Marvin sering memberi tips lebih pada perempuan itu. Sebab di samping kebiasaannya yang suka bergosip, ia terbilang cekatan dan juga sangat rapi serta bersih dalam bekerja.
"Hoahm."
Dinda tampak keluar dari ruangan Marvin, dengan rambut kusut seperti baru bangun tidur. Tak lama Marvin pun menyusul.
Daryanti yang belum disadari Marvin kehadirannya itu, kini bersembunyi di balik tembok seraya mengintip. Ia kaget melihat Marvin dan Dinda yang seperti habis menginap semalaman.
"Kita harus buru-buru pulang sebelum ada yang melihat." ucap Marvin.
"Iya pak." jawab Dinda.
Buru-buru mereka berkemas lalu sama-sama meninggalkan kantor tersebut. Ketika Marvin dan Dinda melintas, hampir saja Daryanti ketahuan.
Namun office girl tersebut langsung bersembunyi di tempat lain, sehingga kehadirannya tetap tidak terlihat.
Waktu berlalu, para karyawan mulai hadir satu persatu. Dan ketika semua yang suka bergunjing telah berkumpul, Daryanti memulai gosipnya.
Di kelompok gosip mereka tidak ada Kinan. Sebab Kinan merupakan salah satu orang yang juga suka mereka bicarakan di belakang.
"Serius, mbak Dar?" Ira bertanya pada Daryanti dengan nada tak percaya.
"Serius bu Ira, orang saya ngeliat dengan mata kepala saya sendiri. Mungkin di CCTV ada, kalau sekuriti mengizinkan untuk dilihat hasil rekamannya."
"Kenapa nggak direkam pake hp?" tanya Miranti.
"Saya nggak berani, bu. Pak Marvin kan baik banget orangnya. Kalau ada dokumentasi di saya, nanti kesalahan lagi. Saya belum mau dipecat, cicilan saya masih banyak." jawab Daryanti.
"Iya sih." Miranti seakan memahami hal tersebut.
"Tapi tadi pas mereka keluar dari ruangan pak Marvin, gimana bentukannya?" lanjut wanita itu lagi.
"Ya kusut, kayak orang habis bangun tidur bu." ujar Daryanti.
Miranti dan Ira saling bersitatap. Sementara karyawan lain melakukan hal serupa. Dan tiba-tiba Kinan melintas. Mereka semua terkejut namun senang, terutama Miranti dan juga Ira.
"Tapi bos kayaknya cocok deh kalau sama si sekretaris."
Miranti tiba-tiba mengeluarkan pernyataan yang membuat para pekerja di kantor itu sedikit terdiam.
Pasalnya mereka semua tau jika Miranti dan hampir seisi kantor memuja Marvin serta berharap dapat menggaet pria itu.
Namun kini mereka juga jadi tau jika Miranti hendak memporak-porandakan hati Kinan. Sebab semua juga sudah tak asing dengan gosip affair yang terjadi antara Kinan dan juga Marvin.
__ADS_1
"Ada yang terbakar hati nih." celetuk Ira.
"Uuuuh, panas." Sindir mereka semua.
Kinan yang datang sejak tadi dan mendengar segala gosip yang beredar tersebut, memang tengah terbakar hatinya saat ini.
Ia marah, namun tak bisa menunjukkan ekspresi lebih. Sebab ia saat ini tengah mengandung dan tak bisa berkelahi.
Kinan melangkah ke meja kerjanya. Ia berusaha bersikap biasa sambil menghidupkan komputer.
"Sayang, aku suka liat kamu hamil kayak gini. Kamu cantik."
Kinan mengingat saat ia melakukan hal terlarangnya dengan Marvin, di sebuah tempat. Saat itu Marvin terdengar memuji-muji dirinya dengan sangat.
"Kapan kita punya anak, pak?. Saya mau punya anak dari bapak."
Kinan juga ingat saat ia meminta hal tersebut pada Marvin.
"Aku belum siap punya anak sayang, kamu punya anak sama suami kamu dulu aja kayak gini. Sama aja kan." ucap Marvin.
"Tapi pak, saya sayang sama bapak, saya mau mengandung anak bapak." ucap Kinan lagi.
Marvin diam sambil terus melakukan aktivitas terlarangnya.
Marvin makin diam.
"Please pak, please!. Hmmh, please."
Kinan terus memohon dengan nafas yang tersengal-sengal. Sementara Marvin yang sudah tak bisa berpikir, akibat aktivitas yang terlalu nikmat tersebut akhirnya kembali menjawab.
"Iya sayang, aku akan kasih kamu anak nanti. Setelah anak dari suami kamu ini lahir." ujarnya.
"Janji ya pak."
"Iya sayang, iya."
Marvin tak paham jika janji yang ia ucapkan benar-benar dianggap serius oleh Kinan. Padahal pria itu hanya terbawa suasana saking nikmatnya.
Ia memang mencintai Kinan, tapi untuk memiliki anak ia belum mau serta masih alergi. Ia suka melihat perempuan hamil, tapi tidak mau bila disuruh menjaga bayi. Baginya bayi itu makhluk kecil berisik yang menyebalkan.
Marvin terus bergerak, sampai kemudian kegiatan laknat mereka itu mencapai muara. Tubuh kedua bergetar hebat, luapan kenikmatan terasa di sekujur tubuh.
Marvin berteriak panjang sekali lagi. Kemudian tubuhnya dan tubuh Kinan mulai melemah.
"Bu Kinan, bu."
__ADS_1
Kinan tersadar dari lamunannya, ketika seorang karyawan bawahan menghampiri.
"Aaa, iya." jawab Kinan.
"Ini laporan yang ibu minta kemarin." tukas karyawan itu seraya menyerahkan sebuah file.
"Oh oke, terima kasih." jawab Kinan.
Ia lalu meraih file tersebut dan si karyawan kembali ke meja kerjanya. Selang dua jam, Marvin kembali tiba di kantor. Dan dibelakang CEO tampan itu ada Dinda yang tengah berjalan membawakan tasnya.
Seisi ruangan saling melirik. Sebab mereka semua sudah sarapan gosip Daryanti tadi pagi. Miranti dan Ira sendiri tersenyum sambil saling memberi kode dengan melirik ke arah Kinan.
"Panas." ujar Ira tanpa suara.
Hanya gerakan mulut serta gerakan seperti berkipas saja yang terlihat. Dan itu sudah cukup membuat Miranti tertawa. Sebab ia tau Ira saat ini tengah meledek Kinan.
Dinda membukakan pintu ruangan Marvin, kemudian Marvin masuk dan ia membawakan tas dari CEO tersebut.
Usai mengurus segala keperluan Marvin, Dinda keluar dan kembali me meja kerjanya. Saat itu mata Kinan tak terlepas dari sekretaris itu. Seperti ia hendak menelan Dinda hidup-hidup.
Dinda sendiri tau jika ia tengah diperhatikan oleh Kinan dan ia cuek saja. Toh ia sudah mengambil celah untuk menjadi orang yang disukai oleh Marvin.
Waktu berlalu, hari perlahan senja. Kantor pun akhirnya dibubarkan, karena jam kerja telah selesai.
Tak ada lembur hari ini, hingga seluruh karyawan pun satu persatu mulai pulang. Dinda juga ingin segera istirahat. Ia lelah setelah semalam dua kali di gempur oleh Marvin. Ia jadi tidur tak tidur sebab permainan kedua diminta oleh Marvin di jam tiga pagi.
Ia kini bersiap. Kemudian bergegas melangkah meninggalkan ruangan. Namun secara serta merta Kinan berdiri dihadapan wanita itu, dan menatapnya dengan tajam..Kebetulan Marvin tadi terlihat pergi ke bawah. Sehingga ia tak melihat kejadian tersebut.
"Ada apa ya?" tanya Dinda dengan santai.
"Nggak usah sok kecakepan." ujar Kinan kemudian.
"Mau dengan siapapun Marvin itu bersenang-senang, dia akan tetap kembali sama saya. Dia cinta mati sama saya." lanjutnya lagi.
Dinda tersenyum kali ini.
"Orang yang cinta mati, nggak akan bisa punya gairah sama orang lain." jawabnya.
"Kalau dia masih bisa berdiri dengan perempuan lain."
Dinda mengacungkan jari telunjuk. Mengibaratkan itu adalah milik Marvin.
"Itu artinya dia nggak bener-bener cinta mati sama anda. Anda kena tipu." tambahnya lagi.
Kinan mendadak begitu meluap-luap emosinya. Nafas wanita itu kini naik turun serta memburu. Sementara Dinda kemudian berlalu sambil masih tersenyum.
__ADS_1