
Lima hari kemudian, Dinda lembur di kantor menemani Marvin. Sebab ada banyak hal yang ia dan bosnya tersebut harus kerjakan. Mereka dikejar deadline.
Satu persatu karyawan yang masih tersisa, pulang. Dan pada akhirnya hanya tinggal Marvin serta perempuan itu saja di kantor tersebut.
"Din, tolong flashdisk di kamu yang warna merah." ujar Marvin dari dalam.
Dinda mengambil flashdisk tersebut lalu membawanya ke ruangan Marvin.
"Ini pak." ujarnya kemudian.
"Sekalian bilang sama office girl, bikinkan saya kopi tanpa gula." ucap Marvin lagi.
"Oke pak."
Dinda pergi mencari office girl, namun tampaknya semua sudah pulang. Tak ada satupun lagi office girl maupun office boy yang tersisa.
Akhirnya karena tidak ada yang bisa di suruh, Dinda berinisiatif membuatkan kopi untuk Marvin. Kebetulan membuat kopi bukanlah hal yang sulit bagi perempuan itu. Tak lama setelahnya ia kembali masuk ke ruangan Marvin dan membawa kopi tersebut.
"Ini pak kopinya." ucap Dinda.
Marvin diam dan menatap sekretaris barunya itu. Dinda sendiri meletakkan kopi tepat dihadapan sang CEO.
"Kenapa kamu yang bawa?" tanya Marvin heran.
"Office girl dan office boy sudah pulang semua pak." jawabnya.
Marvin meraih kopi tersebut lalu meminumnya. Mendadak ia pun batuk-batuk, sebab kopi tersebut terasa sangat berampas di mulut.
"Kamu kasih kopinya berapa sendok ini?" tanya Marvin lalu mereguk air mineral yang ada di atas meja.
"Dua sendok pak." jawab Dinda dengan polosnya.
Marvin menarik nafas.
"Kamu mau bikin saya radang tenggorokan?" tanya nya dengan nada kesal.
"Emang kenapa pak?" Dinda balik bertanya.
"Coba kamu minum!"
"Saya nggak ngopi item pak." ucap Dinda.
__ADS_1
Marvin menghela nafas kesal.
"Ya sudah sana!"
Marvin memerintahkan Dinda untuk keluar, perempuan itu berbalik namun kemudian ia oleng dan...
"Awww."
Perempuan itu hampir terjatuh, andai saja Marvin tidak dengan sigap menangkap tubuhnya. Marvin sejatinya kaget dan ingin marah, namun keburu tatapan mata Dinda membuatnya membeku. Dan lagi pula ada pemandangan besar dan indah di depan matanya kini.
Seketika jantung Marvin pun berpacu dengan cepat. Lama keduanya bersitatap dalam diam, sampai kemudian bibir mereka terlihat menyatu.
"Pak." Dinda melenguh setelah beberapa detik.
Marvin menatap wanita itu sejenak. Kemudian tangannya mulai berani bergerilya. Menyentuh keindahan yang seharusnya tak boleh dilakukan seorang bos terhadap karyawannya sendiri. Terlebih itu terjadi didalam kantor.
Dinda melayang tanpa sadar, ketika arogansi Marvin mulai menguasai tiap jengkal area yang ia inginkan. Tak ada penolakan atau perlawanan sedikitpun. Hal tersebut tentu saja membuat Marvin semakin menjadi-jadi.
"Pak, apa ini nggak apa-apa?" tanya Dinda sambil membuka dan memejamkan matanya. Itu bukan di sengaja namun terjadi secara alamiah.
"I, ini kan kantor." ujarnya sekali lagi.
Wanita itu sedikit menunduk.
"Iya pak, soalnya disini banyak CCTV." ujarnya kemudian.
"Di ruangan ini nggak ada cctv dan manusia-nya cuma kita berdua." ucap Marvin.
"Dan lagi pula saya sudah mendandani kamu habis-habisan. Kamu terikat sama saya, kecuali kamu mampu mengembalikan semua uang yang sudah saya keluarkan." lanjut pria itu kemudian.
"Totalnya hampir seratus juta." tambahnya lagi.
Dinda diam, sementara tangan Marvin terus membuat nafasnya menjadi memburu.
"Saya, hmmh. Nggak sanggup, pak." jawabnya.
Dinda makin terlihat menggila. Saat tangan Marvin mulai menjajah wilayah yang lain dan bermain-main disana. Hal ini sama seperti tempo hari, saat dirinya di selesaikan di kamar hotel.
"Kalau begitu sanggupi untuk yang satu ini. Ini akan bisa melunasi semuanya." tukas Marvin.
Dinda kembali diam. Marvin dengan pesonanya membuat wanita itu tak mampu lagi untuk menolak. Tidak bahkan untuk sedetikpun. Lalu semuanya terjadi begitu saja.
__ADS_1
Waktu pun berlalu.
Keduanya berteriak cukup kencang usai menit demi menit mereka berkutat dalam penyatuan. Kenikmatan yang bergelombang-gelombang datang. Tubuh keduanya bergetar hebat seperti tersengat listrik.
"Pak."
Dinda berusaha mengambil nafas panjang. Kini ia terlihat lelah namun juga senang. Marvin mencium kening perempuan itu, lalu menatapnya dengan lembut.
"Kamu masih menggunakan pencegah kan?" tanya nya kemudian.
Sebelumnya Dinda sempat mengatakan jika ia menggunakan hal tersebut. Saat pertama kali mereka bertemu di klub malam dan berakhir di hotel.
"Iya pak, masih." jawab Dinda.
Marvin bernafas lega, sejatinya ia memang menginginkan hubungan yang berakhir seperti ini. Ia ingin bebas melakukan sampai puncak tertinggi, namun tak ingin wanitanya berakhir mengandung. Sementara ia juga malas menggunakan safety, karena rasanya tidak nyaman.
Marvin belum ingin menikahi siapapun, atau terlibat urusan mengenai anak dengan perempuan manapun.
Sebab ia ada belajar dari beberapa temannya yang juga sesama pengusaha. Bahwa perempuan yang mengandung anak dari hasil bersenang-senang, biasanya akan sangat memanfaatkan anak mereka demi kebutuhan ekonomi.
Marvin tak ingin menjadi seperti teman-temannya itu. Diperas dan selalu dimintai uang dengan alasan biaya anak.
Padahal kadang jumlah yang diminta melebihi batas wajar kebutuhan seorang anak. Si perempuannya nebeng kebutuhan pada uang tersebut. Sedikit untuk anak, sisanya untuk diri mereka sendiri.
Marvin tak ingin dirinya menjadi ladang ataupun sapi perah. Sebab meskipun kaya raya, ia sadar mencari uang itu bukan sesuatu hal yang gampang.
Lalu wanita-wanita tersebut seenaknya mengambil jalan pintas, dengan memanfaatkan kehamilan serta anak mereka sendiri demi uang.
Kalau memberi uang cukup banyak sebagai bayaran bersenang-senang, bagi Marvin itu tidak apa-apa. Ia hanya tidak ingin selalu berkewajiban memberi setiap saat. Jika memiliki anak ia akan terikat dan berkewajiban sampai kapanpun.
"Aku mau bersih-bersih dulu." tukas Marvin lalu beranjak.
Dinda mengangguk, Marvin lalu masuk ke dalam toilet. Tak lama ia keluar dan sudah kembali rapi seperti sebelumnya.
Selang beberapa saat Dinda juga melakukan hal serupa. Ia membersihkan diri, merapikan baju dan kembali ke meja kerjanya yang ada di luar.
Malam beranjak semakin larut. Dinda telah menyelesaikan pekerjaan dan saat ini ia benar-benar mengantuk.
"Tidur di sofa dalam aja." ujar Marvin pada perempuan itu.
Dinda mengangguk, lalu menuruti keinginan bosnya tersebut. Dinda masuk lalu berbaring duluan di sofa sementara Marvin masih melanjutkan pekerjaan.
__ADS_1