Penakluk CEO Plus-Plus

Penakluk CEO Plus-Plus
Perjodohan


__ADS_3

"Nggak, apaan sih?"


Marvin menolak mentah-mentah perjodohan yang baru saja dibicarakan oleh ayahnya.


"Ini udah tahun berapa, pa. Dan papa itu bule, harusnya nggak ada pola didik yang menjodoh-jodohkan anak kayak gini." lanjut Marvin lagi.


"Di Eropa jaman dulu juga semua pernikahan di atur keluarga." tukas Marcell.


"Ya itu Eropa jaman dulu pak Bambang. Ini tahun berapa coba?"


"Kalau itu untuk kebaikan why not?" ujar Marcell lagi.


"Lagian kamu sedikit-sedikit berganti perempuan. Urusan pekerjaan sering terbengkalai. Kalau kamu menikah, ada yang membuat kamu rindu pulang ke rumah. Ada yang mengurus segala keperluan kamu. Menikah itu lebih bagus untuk kesehatan, daripada bergonta-ganti pasangan."


"Marvin nggak mau."


"Kamu akan papa jodohkan dengan anak teman papa, titik!"


Marcell berlalu. Marvin begitu geram pada ayahnya itu.


"Dasar bule lokal, nyebelin banget. Hhhhh."


Ia rasanya ingin melempar ayahnya itu ke matahari. Tapi takut kualat dan masuk neraka. Meski keturunan Eropa, namun sang ayah telah tinggal disini sejak ia lahir.


Maka hanya fisik dan namanya saja yang bule. Sifat dan karakternya persis orang lokal. Karena dulu ibu dan ayahnya pun bergaul dengan warga sekitar dan telah menyatu bersama adat-istiadat serta budaya setempat.


Hingga Marcell tumbuh menjadi anak yang keras, kritis, sangat mengikuti budaya dan cara-cara pribumi. Sampai ia pun menikahi wanita pribumi asli, lalu lahirlah Marvin.


Namun beberapa tahun lalu ibu Marvin meninggal karena sakit. Dan ayahnya enggan untuk menikah lagi. Keinginan terakhir sang ibu adalah melihat Marvin menikah, namun itu tak kesampaian. Karena sampai hari ini Marvin masih enggan terikat dengan perempuan manapun.


***


"Hahahaha."


"Hahahaha."


Dean dan Igor menertawai Marvin, ketika ia bercerita perihal perjodohan yang direncanakan sang ayah padanya.


"Seneng lo berdua?" tanya Marvin sewot.


"Seneng lah." tukas Igor.


"Kan kita bakal kondangan. Iya nggak, Dean?"


"Yoi, makan-makan." Dean menimpali.


"Lo berdua bener-bener ya. Temen lagi kesusahan bukannya di support."


"Ya ini di support." ujar Dean.


"Yang di support gue-nya dokter Karyadi, bukan perjodohannya."


Marvin sewot. Sementara Dean dan Igor terus tertawa-tawa. Mereka kemudian kembali mereguk kopi masing-masing.


"Lagian kenapa sih lo nggak mau nikah?" tanya Dean seraya meletakkan gelas ke atas meja.

__ADS_1


"Lo sendiri apa kabar, Jumali?" Marvin balik bertanya.


"Oh iya, gue lupa." ucap Dean.


"Hahahaha."


Mereka bertiga kembali tertawa.


"Kalau gue kan belum ketemu yang pas aja." Dean membela diri.


"Ya sama, gue juga gitu." ucap Marvin.


"Bukannya lo bilang nggak mau nikah, karena nggak bisa bebas kesana-sini." Igor mengingatkan.


"Gue nggak sebejat itu, Gor. Gue mah anak baik, setia." ucap Marvin lagi.


Serentak Dean dan Igor melebarkan bibir mereka hingga kuping. Terlihat jelas bahwa mereka ingin memukul kepala sahabat mereka itu dengan bangku.


"Lo mau di jodohin sama siapa sih?" tanya Dean penasaran.


"Mana gue tau, orang baru dicanangkan." jawab Marvin.


"Tapi kata bokap, dia mau jodohin gue sama anak temennya dia. Gue nggak tau temen yang mana, kayak gimana bentukan tuh cewek." lanjutnya lagi.


"Tapi kalau misalkan ceweknya cakep dan tipe lo banget, gimana?" tanya Igor.


"Nah iya, gimana tuh?" Dean menimpali.


"Ya, tetap aja gue nggak mau." ucap Marvin.


"Sama orangnya apa sama status pernikahannya?" tanya Dean.


Ketiga sahabat itu kembali tertawa-tawa.


"Dasar." ucap Igor.


"Otak emang kagak bisa dibenerin nih anak." celetuk Dean.


"Ya kalau masalah orangnya, itu bisa dibicarakan baik-baik lah." tukas Marvin.


Dean dan Igor sama-sama menggelengkan kepala mereka sambil terus tertawa.


"Tapi pernikahan itu emang agak menyeramkan sih." ujar Dean lagi.


"Apalagi kalau sama orang yang salah." lanjutnya kemudian.


"Bener banget. Temen-temen gue di kantor banyak yang pada stress setelah menikah. Gara-gara tuntutan ekonomi. Istri yang nggak sabar pengen cepet-cepet punya ini itu, biar samaan kayak tetangga." Igor menimpali.


"Ada juga bini yang minta di kekepin sepanjang waktu. Kemana suami pergi harus ngintil. Kalau suami ada hobi dikit, di recokin. Temen suami semuanya di musuhin." ujar Marvin.


"Padahal suaminya main sekali sebulan sama temen. Terus dia curhat di sosmed dan bilang,


"Wahai suami dahulukan lah istri dan anakmu."


"Padahal 29 hari lainnya si suami di rumah mulu sepulang kerja. Tapi lagunya kayak ditinggal main tiap hari." lanjutnya kemudian.

__ADS_1


Dean tertawa, begitu pula dengan Igor.


"Gue kalau denger pendapatnya Marvin, jadi makin ragu nih buat nikah." celetuk dokter itu kemudian.


"Halah, bro. Kayak lo punya cewek aja." Igor membuat mereka semua kembali tertawa.


"Dean mah cinta mati sama dokter Regita. Dokter Regita-nya udah tunangan sama Letnan." ucap Marvin.


Lagi-lagi ketiga sahabat itu kembali tertawa. Dean memang ada jatuh cinta pada sesosok dokter cantik keturunan darah biru.


Dokter Regita pun sejatinya juga sama memiliki rasa pada Dean. Namun cinta mereka terhalang status sosial dan juga weton.


Keluarga dokter Regita tak setuju jika anak mereka menikah dengan Dean yang tidak berdarah biru. Dan lagipula sudah ada laki-laki priayi berpangkat Letnan yang akan mereka jodohkan dengan anak mereka tersebut.


"Makanya Dean, lo banyak-banyak makan kepiting tapal kuda. Kan darahnya biru tuh." celetuk Marvin.


Igor yang tengah minum tersebut akhirnya tersedak, sebab ia tertawa mendengar ucapan Marvin. Sedang Sean sendiri ikut tertawa sambil menyalakan sebatang rokok.


Ia memang seorang dokter, namun tak begitu menjaga kesehatannya sendiri apabila sudah masuk di ranah tongkrongan. Tetapi di rumah, ia tidak berani melakukan itu semua. Karena ayahnya dokter Farhan, pasti akan murka.


***


"Apa gue bunting aja ya?"


Dinda membiarkan pikiran liar itu memenuhi benaknya. Ia kini menatap perutnya sendiri yang tidak begitu rata.


Sebab ia memiliki bobot tubuh yang lumayan, yakni lima puluh kilogram. Namun ia tak terlihat gendut, hanya montok.


"Bunting, abis itu mau nggak mau gue pasti jadi yang teristimewa di mata si Marvin. Si ceweknya itu jadi ada saingan." gumamnya lagi.


"Syukur-syukur gue dinikahi. Nggak dinikahi juga nggak apa-apa sih, asal dinafkahi."


Dinda tertawa-tawa.


Sementara di kediamannya, Kinan tengah membuat gerakan menolak. Saat sang suami yang bernama Fadly itu mengajak ia untuk berhubungan suami-istri..


"Jangan sekarang mas. Ini perut aku yang bawah kencang banget rasanya. Takut bayi kita kenapa-kenapa." Kinan beralasan.


Padahal ia tak memiliki gairah dengan suaminya itu.  Hari-hari biasanya ia hanya terpaksa melayani.


Ia hamil pun dengan keadaan terpaksa. Sebab yang ia ingin kan sejatinya adalah mengandung anak Marvin.


Namun anak ini adalah anak suaminya. Saat itu ia berhubungan dengan Marvin, namun setelahnya ia datang bulan.


Saat periode datang bulan itu, Marvin ada perjalanan keluar kota selama tiga bulan. Hingga praktis selama itu, ia pun hanya di gauli oleh sang suami hingga akhirnya ia hamil.


"Ya udah kalau memang kamu belum bisa. Nggak apa-apa koq." jawab suaminya dengan nada yang lembut.


Fadly bukan tipikal laki-laki yang suka memaksakan kehendak pada istrinya. Dan Kinan kurang menyukai laki-laki seperti itu. Ia sangat memimpikan memiliki suami yang dominan seperti Marvin.


Plus good looking dan kaya raya tentunya. Sedang Fadly hanya karyawan dengan gaji UMR, ditambah ia tak terlalu good looking seperti Marvin.


Kinan menikah atas desakan orang tua terutama ibunya. Agar ia tak jadi bahan omongan tetangga.


Sebab anak tetangganya sudah menikah setamat SMA. Hanya Kinan yang lanjut kuliah serta bekerja. Dan dia menjadi bahan cibiran tetangga.

__ADS_1


Ia saat itu ia telah jatuh cinta pada Marvin, dan Marvin pun ada menanggapi. Namun berhubung Marvin tidak jelas akan menikahi atau tidak. Maka saat itu ia menerima perjodohan yang dibuat ibunya. Ia mengalami tekanan batin karena terus di desak setiap hari.


Ia menikah dengan Fadly dengan hati yang hancur. Sedang Marvin memang masih belum mau menikah, meski ia menyukai Kinan.


__ADS_2