Penakluk CEO Plus-Plus

Penakluk CEO Plus-Plus
Pilihan


__ADS_3

"Huh, kelar juga akhirnya."


Marvin berucap ketika kamar tersebut telah selesai dibersihkan dan dilakukan pengecekan di setiap sudut sebanyak delapan kali.


Marvin sangat takut jika masih ada sisa-sisa dari alat bantu atau pun segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan orang dewasa. Sebab Edgar masih lima belas tahun.


Meski remaja seperti dia sudah menerima edukasi mengenai hal tersebut. Tetapi konsepnya tidaklah barbar seperti ini. Apa yang dilakukan Marvin bukan merupakan pelajaran yang pantas diterima oleh remaja. Tetapi tentang kebobrokan moral seorang ayah.


Edukasi yang berhubungan dengan hal tersebut harusnya berisi pelajaran untuk melindungi diri. Seperti menolak untuk di colek, di panggil-panggil saat dijalan bagi yang perempuan dan lain sebagainya. Tetapi bukan dengan apa yang Marvin lakukan.


"Udah, bro. Beneran udah nggak ada lagi sisa kebobrokan di kamar ini. Gue udah periksa secara mendalam dan mendetail." ucap Igor.


Marvin masih melihat ke bawah kolong meja dan memperhatikan secara seksama. Ia takut ada karet pengaman yang jatuh atau apa.


Tetapi sejauh mata memandang, Semuanya bersih. Bahkan lemari yang semula digunakan untuk menyimpan berbagai kostum, kini kosong melompong. Semuanya di semprot menggunakan hidrogen peroxide dan di lap.


"Oke, clean." ujar Marvin.


Pria itu kemudian beralih ke kamar-kamar yang lain dan turut melakukan hal serupa pada kamar-kamar tersebut. Dan sekalian ia membersihkan semua area lantai dua bersama Igor, dan dibantu oleh Dean.


"Tuh anak ngapain Dean, dibawah?" tanya Marvin pada Dean.


"Lagi main hp." ucap Dean.


Mereka bertiga saling membantu, lantaran di rumah itu memang tak asisten rumah tangga. Marvin enggan ada orang lain yang tinggal bersamanya. Alasannya tentu saja tak bebas, apabila ia kerap kali membawa perempuan.


Ia bukan tipikal orang monoton yang hanya bercinta di kamar saja. Ia sering menggarap perempuan yang ia sukai di berbagai tempat. Seperti ruang tamu, ruang tengah, kitchen set maupun area kolam renang, bahkan di apartemen miliknya.


Hal tersebut tak akan bisa dilakukan, seandainya ada asisten rumah tangga. Sebab asisten rumah tangga itu akan melihat semuanya.


Maka jadilah mereka kali ini mengandalkan tenaga masing-masing, guna membersihkan area lantai tersebut.


Setelah sekian lama berkutat, Dean pun masih membersihkan debu dengan menggunakan vakum cleaner. Marvin serta Igor membawa sampah yang berisi segitiga bermuda, pelindung gunung kembar yang entah milik perempuan mana, serta berbagai alat bantu lainnya ke bawah.


Banyak juga sampah lain dan gorden serta seprai set yang harus dibawa ke laundry. Marvin dan Igor menuruni tangga guna membawa itu semua.

__ADS_1


Namun melintasi ruang tengah Marvin pun mendadak terdiam. Pasalnya ia kini melihat Edgar yang tertidur dengan lelap di sofa, sambil memegang handphone dengan game yang masih menyala.


Entah mengapa hati Marvin yang biasanya bejat, kini seolah tersentuh. Ya, seperti sebuah perasaan iba yang tiba-tiba menyerang.


Anak itu pastilah masih terluka atas kehilangan sang ayah, Edward. Marvin pun kembali mengingat insiden yang menewaskan sang pengacara. Bagaimana ia kemudian di keluarkan dari dalam mobil, dengan kondisi yang mengenaskan.


"Ah, ngapain gue peduli?" Gumam Marvin dalam hati.


"Gue nggak boleh lemah dalam hal ini. Kalau nggak, nanti gue jadi kelewat baik sama ini anak." lanjutnya lagi.


Ia melangkah ke depan dan membuang sampah. Igor sudah duluan sejak ia masih terpaku memandangi Edgar.


Igor juga telah naik lagi ke lantai dua untuk membawa gorden dan seprai yang kotor. Marvin melangkah dan berusaha cuek pada sang anak. Namun ketika ia berlalu, entah mengapa ada perasaan yang memintanya untuk mundur.


Maka Marvin pun melangkah mundur lalu menoleh. Dan lagi-lagi muncul perasaan yang sama seperti tadi. Yakni merasa kasihan pada anak itu.


"Nggak, gue nggak boleh terlalu lemah. Dengan membiarkan dia tinggal di rumah ini aja, sebenernya gue udah kelewat baik." ujarnya dalam hati.


"Remaja kayak gini bisa ngelunjak kalau terlalu di sayang orang tuanya." lanjut pria itu.


"Sssttt." ujarnya memberi kode.


Igor lalu mendekat dan mereka sama-sama memiliki ke bawah. Kedua sahabat itu pun tersenyum.


"Kayaknya nih anak bakalan jadi rem pakemnya si Marvin." ucap Dean pada Igor.


"Ya, mudah-mudahan aja." timpal Igor.


"Gue sih nggak berharap muluk-muluk. Nggak terlalu berekspektasi dia bakal meninggalkan semua kebiasannya selama ini. Paling nggak, gue pengen dia lepas dari Kinan." lanjutnya lagi.


"Sama, gue juga." ucap Dean.


"Karena kayaknya Kinan tuh pengen banget menguasai Marvin seutuhnya." tambah pemuda itu.


Marvin kembali beranjak dan kini mengarah ke anak tangga, untuk naik lagi ke atas. Dean dan Igor segera menyudahi pengintaian mereka dan lanjut membersihkan lantai.

__ADS_1


***


Dinda mengajak Zara berbelanja. Ia senang karena dirinya tak jadi dipecat oleh Marvin. Memang goyangan selalu menjadi alat dalam hal apapun, untuk bisa membuat jalan menjadi mulus.


Bahkan di jaman dulu, para perempuan cantik yang siap di goyang menjadi alat diplomasi. Saking powerfull-nya sebuah jepitan dari sebuah area sensitif, dalam membuat pria menjadi senang.


"Jadi ceritanya sekarang semua udah aman?" tanya Zara.


"Aman dong, cowok itu kan otaknya lebih kecil dari pada cewek. Kasih aja mereka enak, bakalan langsung kelepek-kelepek." ucap Dinda sambil tertawa.


"Dasar lo, mental ani-ani." seloroh Zara sambil tertawa.


"Jaman sekarang kalau nggak begitu, sulit say mencapai tujuan. Apalagi yang non privilege kayak kita. Cewek yang jadi anak orang kaya mah enak. Apa-apa gampang, lah kita?"


"Kadang kita niat jadi orang baik tapi ditindas dan dipersulit." lanjutnya lagi.


"Ember." jawab Zara.


"Udah berusaha jadi baik, eh malah makan hati. Bejat aja sekalian." ucap perempuan itu.


Mereka tertawa-tawa. Sejatinya menjadi baik dan buruk itu pilihan. Semuanya sama-sama memiliki resiko. Menjadi bejat, resikonya dijadikan alat untuk kebejatan pula. Belum lagi dosa, urusan dengan pihak yang berwajib dan lain sebagainya.


Menjadi baik pun, memiliki resiko tak dibalas baik oleh orang lain. Bahkan mungkin kita bisa saja di manfaat oleh orang sekitar yang tak bertanggung jawab, atau malah kita dikhianati.


Pada akhirnya kita memang harus memilih resiko mana yang mau kita ambil. Karena hidup selalu penuh dengan hal tersebut


***


Di sebuah tempat.


Seorang perempuan berdiri dan memandang foto Marvin dengan penuh dendam. Di foto tersebut ada sebuah pisau yang menancap.


Dan di sekelilingnya banyak terdapat potongan berita-berita tentang Marvin, di media cetak. Berita-berita yang memuji prestasi serta pencapaian pria itu selama ini.


Si perempuan terus berdiri dan memandang dengan dingin, meski kini telah beberapa menit berlalu.

__ADS_1


__ADS_2