Penakluk CEO Plus-Plus

Penakluk CEO Plus-Plus
Sebelum Itu


__ADS_3

Langit memuram di hari itu. Edgar melangkah dengan tubuh gemetaran dan kesedihan yang membuncah.


Ia masih tak percaya ini semua terjadi. Berkali-kali ia berharap ini mimpi buruk dan ia akan segera terbangun.


Namun rangkain bunga di rumah duka, kedatangan kerabat serta teman-teman sekolahnya seolah menegaskan bahwa semua itu nyata.


Ini bukan mimpi, tetapi Edward sang ayah memang telah pergi dan tak akan kembali lagi. Edgar yang berusia 15 tahun itu begitu sesak dadanya.


Ingatan bersama Edward yang sangat dekat dengannya selama ini, seperti tayangan slide yang terulang-ulang dibenak remaja itu. Ia melangkah dengan di dampingi oleh Angga, Ello, dan juga Dino ke arah peti mati sang ayah.


Tubuhnya nyaris ambruk melihat Edward sudah terbujur kaku, dan telah di pakaian baju serta di dandani sedemikian rupa.


"Pa."


Hanya itulah kata yang mampu keluar dari bibirnya. Tak lama kemudian remaja tampan itu pun terisak dalam penyesalan.


Ia menyalahkan dirinya yang bertanya di telpon, dan tak menunggu dulu sampai sang ayah tiba di rumah.


Meski perkara hidup dan mati adalah sebuah kepastian. Dan apa yang menjadi penyebab hanyalah alasan.


Sejatinya Edward pun mengemudi dalam keadaan mengantuk. Tak sepenuhnya salah Edgar. Namun bagi Edgar ia lah penyebab apa yang tejadi pada sang ayah.


***


Sementara di kantor polisi.


Marvin yang tak begitu terluka berat namun syok, kini memberikan keterangan. Kejadian sebenarnya adalah mereka bertabrakan di lampu merah, tempat dimana pertama kali mereka bertemu lalu cekcok.


Kali ini bukan Marvin yang menerobos lampu merah tersebut, melainkan Edward. Lantaran pria itu mengantuk dan mungkin tak memperhatikan traffic light yang sudah berubah warna.


Edward menabrak bagian belakang mobil Marvin. Hingga Marvin oleng, sementara Edward sendiri mobilnya terbang setinggi satu meter kemudian terbalik. Air bag gagal mengembang.


Dari arah lain muncul sebuah truk yang tengah melaju kencang, kemudian menghantam mobil pria itu. Hingga terseret belasan meter.


Itulah yang menyebabkan ia pergi selamanya. Sedang meskipun berada di posisi yang benar, Marvin tetap terdiam di lokasi kejadian. Terlebih ia melihat jika korbannya adalah Edward.


Marvin bengong dan gemetaran saat petugas tiba di tempat kejadian perkara. Saat bertemu dengan Dean dan Igor pun, ia masih belum bisa menjawab pertanyaan.


***


Waktu berlalu.


Edgar terdiam membisu, saat makam ayahnya di tutup dan dipasangi tanda sesuai kepercayaan yang dianut.


Pihak keluarga besar menaburi bunga. Sementara Dean yang pontang-panting mengurus Marvin, kini tiba dan langsung menghampiri remaja itu.


"Edgar." ujarnya mendekat dan menyentuh bahu Edgar.


Saat ini Edgar masih terpaku di makam sang ayah, sedang satu persatu pelayat telah pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Ini salah Edgar, om." Remaja itu berujar dengan penuh penyesalan.


"Kalau bukan karena Edgar, papa nggak akan pergi secepat ini." lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Semua sudah kehendak semesta, Edgar. Jangan menyalahkan diri sendiri."


Dean mencoba menghibur dan menenangkan hati salah satu pasiennya itu. Meski Edgar masih saja dengan perasaan yang sama.


***


Di sekolah, sehari sebelum kejadian memilukan tersebut.


"Gar, lo kadang kangen nggak sih sama nyokap lo?"


Angga yang baru dua bulan lalu ditinggal sang ibu pergi untuk selamanya itu, bertanya pada Edgar yang sejak kecil sudah tak punya ibu.


"Ya kangen kadang, tapi gue juga nggak punya memori tentang dia. Soalnya pas dia meningal itu, gue masih usia 11 bulan kata bokap." jawab Edgar.


"Dan foto-fotonya nggak ada." lanjutnya lagi.


"Masa nggak ada fotonya sama sekali!" tanya Ello heran.


"Bukannya kita lahir udah di era digital." lanjutnya kemudian.


"Kata bokap sih dulu banyak. Cuma rumah lama kami itu pernah kebanjiran gede, dan semua foto nyokap kebawa banjir. Dulu kan waktu gue kecil, bokap gue nggak sekaya sekarang. Masih merintis karir juga. Dan kita tuh pernah tinggal di kawasan yang sering banjir." jawab Edgar.


"Oh gitu."


Angga, Ello, dan Dino mengangguk-anggukan kepalanya.


"Nyokap lo bule ya?" tanya Dino.


"Nggak, timur tengah kata bokap. Orang namanya aja Ameera." lagi-lagi Edgar menjawab.


"Iya malah nggak ada timur tengahnya sama sekali." ucap Angga.


"Nggak tau, karena mix kali." jawab Edgar sotoy.


"Oh iya, kayak yang gue pernah liat di tiktok." tukas Dino.


"Ada bapaknya India, emaknya Thailand apa China gitu. Jadinya kayak bule." lanjutnya lagi.


"Masa sih?" untuk ke sekian kalinya Ello bertanya.


"Iya ada, lupa gue nama akunnya siapa. Pokoknya dia salah satu tiktoker yang terkenal." jawab Dino.


"Dulu kita kira bokap lo malah yang bule." ujar Ello pada Edgar.


"Iya, tetangga-tetangga gue juga nggak nyangka sih kalau bapak gue lokal." tukas Edgar.


"Pernah nggak sih, lo lagi jalan gitu sama bokap lo. Terus lo manggil dia, dan orang kaget itu bokap lo." tanya Angga.


"Sering." jawab Edgar sambil tertawa.


"Yang paling parah bilang gini, anaknya koq bule banget ya. Anak selingkuhan bininya kali tuh."


"Terus bokap lo gimana?" tanya Angga.

__ADS_1


"Ya marah lah bokap gue. Ini anak gue ya, emang kenapa kalau nggak mirip gue. Dia mirip ibunya. Pokoknya kayak gitu-gitu deh." ucap Edgar.


Mereka semua tertawa.


Sepulang sekolah, Edgar mengerjakan tugas dari gurunya yang terkenal galak. Ia merupakan anak pintar di sekolah namun juga agak bandel.


Berkali-kali ia dan ketiga temannya membuat kasus, namun selalu tertutupi oleh kepintaran dan prestasi yang dimiliki.


Edward memaafkan kenakalan Edgar, asal anak itu bertanggung jawab atas nilai-nilainya di sekolah dan Edgar menyanggupi hal tersebut.


Ia terus mengerjakan tugas dan ada beberapa hal yang ia belum ketahui. Maka ia pergi ke ruang perpustakaan pribadi milik sang ayah, dan bermaksud mencari beberapa buku disana.


Ia sampai naik tangga lipat dan mencari ke bagian atas rak. Ia menemukan buku yang ia inginkan. Namun ketika buku tersebut ia raih, sesuatu terjatuh dari sana.


Edgar turun dan melihat benda itu. Ternyata foto seorang wanita seperti keturunan timur tengah, namun berkulit cukup gelap. Edgar membalikkan foto tersebut dan ada tulisan di belakangnya.


"In loving memory, Ameera Al Rasyid."


Edgar tersenyum, sebab foto sang ibu ternyata masih ada. Namun kemudian ia menyadari sesuatu yang janggal.


Ya, Ameera berkulit cenderung gelap. Sama halnya dengan warna kulit Edward. Tapi warna kulitnya sendiri putih bersih.


Edgar mulai merasa ada yang aneh. Dan lagi keyakinan ayah dan ibunya sudah pasti berbeda. Apakah bisa mereka menikah dalam kondisi seperti itu.


"Wait?"


Apa dirinya anak di luar nikah, pikir Edgar. Kalaupun iya, kenapa warna kulitnya berbeda dengan mereka.


Edgar yang penasaran, akhirnya kembali membuka buku yang tadi ia ambil. Mungkin ada petunjuk lain yang tersimpan didalam sana. Dan ternyata benar, ada foto Edward berdua dengan Ameera. Di belakang foto itu tertulis,


"Aku masih tidak menyangka kamu pergi secepat ini. Sebelum kita mampu memperjuangkan cinta kita ke jenjang yang lebih serius."


Edgar berhenti sejenak pada kata-kata tersebut.


"Berarti mereka belum menikah." gumamnya.


Kemudian remaja itu lanjut membaca.


"My lovely Ameera, 1975-1999."


Edgar kaget dan membaca hal tersebut sekali lagi. Jika benar Ameera telah tiada sejak tahun 1999, maka wanita itu bukanlah ibunya. Sebab ia sendiri lahir di tahun 2007.


Ia yang tadinya berniat menyelesaikan pekerjaan rumah dari sekolah. Kini malah membongkar dan mencari bukti lain di ruangan tersebut.


Setelah beberapa saat berkutat, ia menemukan foto-foto pernikahan Edward dengan seorang wanita lain di tahun 2005. Kemudian ada surat cerai bertahun 2007, saat dirinya masih bayi.


Ada lagi ia menemukan foto pernikahan kedua Edward, dengan perempuan bernama Winny. Edgar ingat pada ibu tirinya itu. Edward menceraikannya karena terbukti melakukan kekerasan fisik terhadap Edgar yang saat itu masih berusia tiga tahun.


Edgar terus mencari bukti lain, hingga semalam suntuk. Dan ketika menjelang pagi, ia dikejutkan dengan penemuan sebuah surat adopsi.


Disana tertulis tanggal, bulan dan tahun. Serta surat pengesahan dari pengadilan. Bahwasannya bayi itu telah resmi menjadi anak Edward dan diberi nama Edgar O'Brien Panggabean.


Jantung Edgar berdegup kencang. Ada emosi serta kesedihan yang mendadak meluap dalam hatinya.

__ADS_1


Ia mencoba menghubungi Edward berkali-kali dan baru tersambung saat menjelang kejadian itu.


__ADS_2