
"Angga."
Marvin yang masih syok atas apa yang ia lihat barusan tersebut, kini menarik Angga yang kebetulan baru tiba entah dari mana.
"Iya om?" ucap Angga pada Marvin.
"Itu yang didalam."
Marvin memberi kode dengan menggerakkan kepalanya. Angga pun lalu tersenyum.
"Itu Tania, om. Kakak kelas kita, yang di taksir sama Edgar." jawab Angga kemudian.
Marvin masih mengingat nama perempuan belia itu. Tapi ia benar-benar tak menyangka jika Tania adalah kakak kelas Edgar. Bahkan merupakan orang yang disukai oleh anaknya tersebut.
Ini bukan persoalan apakah Marvin memiliki perasaan cinta atau tidak terhadap Tania. Sebab itu jelas tidak sama sekali. Ia juga baru perdana menggunakan jasa perempuan muda tersebut.
Tapi saat ini ia benar-benar berada dalam posisi yang serba salah. Ia tak ingin anaknya berhubungan dengan perempuan nakal. Namun disisi lain anaknya itu tengah jatuh cinta, dan si perempuan yang ia cintai tersebut sudah pernah memberi pelayanan pada Marvin.
"Ngga?"
Tiba-tiba Edgar menyadari jika pintu terbuka dan ia mendengar suara disana.
"Iya, Gar."
Angga menongolkan kepalanya.
"Ada papa di depan?"
Edgar bertanya sebab ia juga mendengar suara Marvin.
"Ini kamu pegang, bawa ke dalam. Om mau ke toilet, om lagi agak diare."
Marvin memberikan kue serabi Solo yang ia bawa kepada Angga. Kemudian ia pergi begitu saja dan berpura-pura ke toilet. Angga masuk ke dalam dan membawa apa yang telah diamanatkan kepadanya.
"Papa mana?" tanya Edgar pada sahabatnya itu.
Sejatinya ia hendak mengenalkan Tania pada Marvin sebagai temannya. Meskipun mungkin ia akan tetap merahasiakan jika Tania adalah gadis yang ia suka.
"Bokap lo ke toilet." jawab Angga.
"Lah, disini kan ada toilet." ucapnya kemudian.
"Lupa kali bokap lo." tukas Angga.
"Nih." ujarnya lalu memberikan apa yang ia bawa.
"Widih, lo beliin gue?" tanya Edgar.
"Bapak lo noh yang beli." jawab Angga.
"Tau dari mana dia, kalau gue suka serabi Solo?"
__ADS_1
"Mana gue tau, mungkin dia cari Info tentang lo." jawab Angga lagi.
"Aku penasaran papa kamu yang mana?" tanya Tania.
Ia telah mendengar desas-desus di sekolah, bahwa Edgar ternyata merupakan anak dari seorang pengusaha yang tak kalah kaya-raya dari Edward.
Namun ia sendiri belum menyadari jika pengusaha yang di maksud adalah om-om yang pernah ia datangi rumahnya dan mereka pernah bersenang-senang.
Mereka dikenalkan oleh mami yang menjadi manager dari perempuan-perempuan seperti Tania. Mami hanya mengatakan jika Tania harus menemui si ini dan si itu, kemudian Tania diantar.
"Ntar juga dia kesini." ucap Angga.
Edgar membuka serabi yang dibawa oleh sang ayah dan menyuruh Tania maupun Angga untuk makan.
"Dino sama Ello lama banget." ucap Edgar kemudian.
"Biasa, jam karet. Kayak nggak tau mereka berdua aja." tukas Angga.
Edgar dan Tania tertawa. Angga senang melihat Edgar sudah bisa melakukan hal tersebut. Meski sejatinya Edgar hanya berusaha menyenangkan hati orang-orang di sekitar.
Padahal isi dalamnya masih hancur berantakan dan tak mungkin bisa pulih dalam waktu singkat.
***
Sementara di suatu sudut Marvin mondar mandir dengan resah. Ia benar-benar tak mau anaknya jatuh cinta pada perempuan seperti itu. Ia ingin memberitahu siapa Tania sesungguhnya. Namun itu pasti akan menjadi buah simalakama.
Dimana posisinya berada di titik yang serba tak menguntungkan. Maju masuk jurang, mundur di serang hewan buas. Seolah dirinya kini tengah berada di tengah-tengah hutan yang berbahaya. Ia benar-benar terdesak dan terjepit oleh keadaan.
Dean tak sengaja melintas dan melihat Marvin.
"Dean, bisa bicara nggak?. Bentar aja." ucap Marvin pada sahabatnya itu.
Dean melirik arloji.
"Bisa, tapi bentar doang." ujarnya lagi.
Tak lama Marvin terlihat menjelaskan pada dokter tersebut, perihal mengenai apa yang sesungguhnya telah terjadi.
"What?. Cewek itu tadi pernah begituan sama lo?" tanya Dean kaget sekaligus tak percaya.
"Iya."
Marvin menjawab seraya memejamkan matanya sejenak dan mengambil nafas panjang. Jujur ia masih berat mengatakan itu semua, namun Dean memang harus tau. Agar ia merasa beban pikirannya sedikit berkurang.
"Astaga, bro."
Dean terlihat sangat menyayangkan apa yang barusan ia dengar. Dokter tampan itu kini terlihat turut menarik nafas dalam-dalam, dengan pandangan yang ia jatuhkan ke suatu sudut.
"Makanya bro, lo kurang-kurangin lah hal kayak gitu. Kalau udah begini kan repot jadinya. Lo bisa melukai hati anak lo sendiri secara mendalam." ucap Dean.
Marvin benar-benar dilanda rasa bersalah kali ini. Bahkan lidahnya mendadak lumpuh dan tak mampu berbicara apapun lagi.
__ADS_1
***
Tania menerima telpon dari mami. Perempuan belia itu kemudian menjauh, bahkan keluar dari kamar ruang rawat dan mengangkat panggilan tersebut di muka pintu.
"Oh iya, oke Mi."
"Oke, Tania jalan sekarang." ujarnya lagi.
Tak lama telpon tersebut pun disudahi. Tania kembali ke dalam dan mengatakan pada Edgar jika ia harus pergi.
"Pokoknya aku berharap kamu segera sehat, Gar." ucap Tania pada Edgar.
"Lo mau pulang, kak?" tanya Angga pada kakak kelasnya itu.
"Iya, lagi ada urusan mendadak gue." jawab Tania.
Edgar sejatinya agak sedikit kecewa. Ia masih ingin Tania ada di tempat itu, namun ia juga tak bisa memaksa. Mengingat orang lain pun memiliki urusan hidupnya masing-masing.
"Makasih ya, udah datang kesini." ujar Edgar pada perempuan itu.
"Sama-sama." jawab Tania.
"Aku pamit dulu ya." lanjutnya lagi.
Edgar mengangguk.
"Ngga, jagain Edgar ya."
Tania berbicara pada Angga.
"Tenang aja, serahkan sama Angga." jawab Angga sambil tertawa dan menarik turunkan alisnya.
Tania tersenyum, kemudian ia pamit. Ketika ia keluar Marvin tengah melangkah sambil mengintai ke arah ruangan tempat dimana anaknya tengah dirawat tersebut. Tampak ia melihat Tania dari kejauhan.
Perempuan muda itu melangkah menuju ke arah jalur yang menghubungkan dengan lobi rumah sakit. Seketika Marvin pun mengikutinya dari belakang. Bahkan akhirnya sampai ke gerbang depan rumah sakit.
Marvin menyelinap diantara beberapa orang sambil terus memperhatikan. Sebuah mobil mewah tampak berhenti di muka gerbang, tak lama Tania pun masuk dan mobil itu kembali berjalan.
Marvin kembali menarik nafas dalam-dalam, pikirannya lagi-lagi berkecamuk. Ia kini menyesali mengapa ia selama ini begitu suka bersenang-senang. Dan ia juga menyayangkan mengapa karma yang ia terima haruslah berhubungan dengan sang anak.
Edgar tak salah apa-apa. Ini semua murni karena perbuatan Marvin sendiri. Ia benar-benar tak menyangka hidupnya akan jadi serumit ini.
"Om Marvin."
Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari suatu arah. Marvin menoleh, ternyata Dino dan Ello yang baru saja tiba. Marvin agak sedikit loading untuk mengenali mereka, lantaran saat ini pikirannya fokus kepada Tania dan juga Edgar.
"Hei, baru sampai kalian?" tanya nya kemudian.
"Iya, tadi kita pulang dulu. Ada urusan sebentar." ucap Ello.
"Oke, kita ke dalam aja!" ajak Marvin.
__ADS_1
Keduanya mengangguk dan mereka kemudian kembali kepada Edgar.