
Tiga minggu pasca kejadian yang menimpa Edward, Marvin menjadi sedikit lebih tenang dan mampu mengendalikan pikiran.
Ia terbukti tidak mengemudi dibawah pengaruh alkohol dan bukan ia yang menerobos lampu merah.
Pihak keluarga besar Edward pun telah merelakan dan meski dinyatakan tak bersalah, Marvin tetap memberikan bantuan sejumlah uang bagi keluarga tersebut.
"Dert."
"Dert."
Sebuah panggilan telpon dari Dean tertera di handphone Marvin. Saat hari pun masih pagi dan Marvin baru bangun beberapa menit yang lalu. Pria tampan itu kemudian mengangkat panggilan tersebut.
"Iya, bro." ujarnya kemudian.
"Gue di depan rumah lo. Tadi gue cari Lo ke apartemen dan lo nggak ada. Bukain pintu pagar!" ucap Dean.
Marvin lalu memencet tombol dari dalam yang membuka pintu pagar, lalu memencet tombol lain yang membuka pintu depan.
Dean menemui Marvin di lantai atas bersama Igor. Dan setelah kedua temannya itu berbicara, Marvin pun jadi kaget setengah mati.
"Apa?. A, anak gue?" tanya nya tak percaya.
"Iya." jawab Dean dengan nada pasti.
"Anak gimana?" tanya Marvin masih tak mengerti.
"Lo punya anak. Anak dari Edward Panggabean itu adalah anak kandung lo." ucap Dean lagi.
Marvin benar-benar kaget dibuatnya.
"Ini ada apa sih sebenernya?" tanya pria itu dengan nada resah.
"Makanya dengerin penjelasan gue dulu." tukas Dean kemudian.
Marvin pun tak punya pilihan selain memberikan ruang.
"Saat kejadian itu berlangsung, setelah pemakaman pak Edward. Edgar di usir dari rumah, karena dia nggak punya hak. Edward juga belum sempat menuliskan surat wasiat apa-apa untuk anak itu." ujar Dean.
"Dia datang ke gue, dan bilang kalau dia juga butuh mencari informasi ibunya. Lima belas tahun lalu ibunya melahirkan dia di rumah sakit tempat gue bekerja. Dalam catatan dari ibunya yang disimpan oleh Edward, ada nama lo disana. Lo disebut-sebut sebagai ayah biologis dari anak itu."
Marvin menghela nafas dan terlihat sangat tak habis pikir. Ini semua terasa begitu berat sekaligus aneh baginya.
"Ya, bisa aja kan itu orang nipu." ujarnya kemudian.
"Dia ngaku-ngaku itu anak gue." lanjutnya lagi.
"Tes DNA udah keluar, dan dia anak lo." tukas Igor.
Marvin makin terperangah.
"Tes DNA?" tanya nya tak percaya.
__ADS_1
"Kapan lo ngambil sampel DNA gue?" lanjutnya kemudian.
"Pada saat lo di rumah sakit, pasca lo melapor ke pihak yang berwajib dan setelah pengusiran itu terjadi." jawab Dean.
Marvin terdiam, ia ingat saat itu terpaksa kembali ke rumah sakit karena bagian dadanya terasa nyeri. Meski air bag mengembang sempurna, namun ia tak tau apa saja yang sudah ia alami dalam kecelakaan tersebut. Semua terasa begitu cepat.
Karena khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan, ia pun menghubungi Dean dan meminta dirinya untuk dirawat.
Ia kemudian kembali ke rumah sakit, dan ia ingat Dean pernah mengambil sampel darah miliknya.
"Lo harusnya periksa dulu, siapa tau hasil tes itu salah. Sebab gue merasa nggak ada perempuan hamil yang mencari dan meminta pertanggungjawaban gue." lanjutnya lagi.
"Tes DNA itu hasilnya 99,9% akurat, bro. Lo nggak akan bisa bantah." ujar Dean seraya menatap Marvin. Sementara yang ditatap kini bertambah resah.
"Nggak mungkin, nggak mungkin gue punya anak." ujarnya sambil mondar-mandir dalam keadaan panik.
Dean dan Igor saling menatap satu sama lain, kemudian melihat kembali ke arah Marvin.
"Ini pasti salah, Dean. Nggak mungkin gue punya anak." ujarnya lagi.
"Kalau lo mau tes ulang, ayo!. Tapi gue jamin hasilnya akan tetap sama." tukas Dean.
"Di catatan itu tertulis nama ibunya Elina. Lo kenal nggak sama cewek yang namanya Elina?" tanya Igor.
"Nggak ada." jawab Marvin.
"Ingat-ingat dulu!" pinta Igor kemudian.
"Itu siapa?" tanya Marvin pada Dean dan juga Igor.
"Itu anak lo." jawab Dean.
Marvin kaget dan tersentak untuk yang kesekian kali. Jantung pria itu kini berdegup kencang dan keringat dingin mulai menetes di sekujur tubuh.
"Lo berdua bawa dia kesini?" tanya nya dengan nada marah.
"Dia nggak punya tempat tinggal, bro." ujar Igor.
"Selama tiga minggu ini dia ada di rumah gue. Dia maksa mau ketemu ayah kandungnya. Dia udah tau nama lo, udah tau elo dari catatan yang ditinggalkan." Dean menimpali panjang lebar.
Marvin memejamkan matanya sejenak, lalu mengambil sebotol wine yang memang sudah sisa setengah di sebuah meja. Kemudian ia menenggak wine tersebut hingga banyak. Ia benar-benar stress kali ini.
Siapa Elina, kapan ia pernah tidur dengan wanita itu dan mengapa ia tak menghubungi jika saat itu dirinya hamil. Minimal anak tersebut bisa di gugurkan dan tak harus lahir ke dunia.
"Sebaiknya lo temuin dulu!" ujar Igor.
"Nggak." Marvin menolak.
"Bro."
"Nggak!" jawab Marvin tegas.
__ADS_1
"Itu bukan anak gue, ini pasti kesalahan." ujarnya lagi.
Tiba-tiba ia teringat. Belasan tahun lalu ia sempat menghadiri sebuah pesta pembukaan klub malam milik sepupu ibunya.
"Elina."
"Marvin."
Ia juga teringat pernah bertemu seorang gadis muda di floor. Kemudian malam itu berlanjut di sebuah kamar hotel. Kala itu usia Marvin masih 20 tahun.
"Kamu keluarin di dalam ya?" ujar gadis itu setelah kegiatan nikmat mereka selesai berlangsung.
"Iya." jawab Marvin santai.
"Abis terlanjur enak." ujarnya lagi.
"Kalau aku sampai hamil gimana?" tanya si gadis khawatir.
"Tenang aja, cuma sekali doang koq. Ntar juga kamu jalan, pada keluar semua." lanjut Marvin.
"Kalau kamu khawatir banget, ini uang buat kamu."
Marvin memberikan sejumlah uang pada gadis itu.
"Kamu bisa beli obat kontrasepsi darurat." tukasnya.
"Belinya dimana?" tanya perempuan itu.
Marvin berpikir. Mungkin Elina memang tak punya koneksi untuk hal tersebut. Sedangkan obat seperti itu tak bisa dibeli sembarangan tanpa resep.
"Tunggu disini!" ujar Marvin.
Ia lalu menghubungi sepupu jauhnya yang biasa menyuplai obat tersebut dan ia pun mendapatkan dua butir.
Obat tersebut diantarkan langsung oleh temannya itu. Kemudian Marvin memberikannya pada Elina.
"Bro."
Dean dan Igor menyadarkan lamunan Marvin. Tak lama pria itu bergegas turun ke bawah. Bahkan ia setengah berlarian menghampiri Edgar.
Saat itu Edgar langsung berdiri dari duduknya dan menatap Marvin. Sementara Marvin melihat anak itu sambil terus mengingat wajah Elina.
Edgar memiliki face dan hidung seperti Marvin. Namun bibir dan bentuk matanya mirip sang ibu. Warna matanya sendiri adalah warna mata Marvin, yakni hazel.
Rambutnya adalah rambut sang ibu. Tetapi postur dan tinggi badan serta warna kulitnya jelas menurun dari Marvin.
Marvin benar-benar terdiam dan terus menatap Edgar penuh rasa tak percaya. Dean dan Igor yang menyusul di belakang kini memperhatikan keduanya.
Marvin berhenti tepat dua meter dihadapan sang anak. Dengan tubuh kaku dan lidah yang kelu. Edgar sendiri tak mampu berkata apa-apa. Isi kepala remaja itu seakan berkecamuk dan penuh dengan pertanyaan.
"Edgar, ini papa kamu." ucap Dean pada Edgar.
__ADS_1
Keduanya masih sama-sama terdiam, sebab tak tau harus berbuat apa dan bagaimana. Mereka bingung dan suasana pun kini kian terasa canggung.