
"Bro."
Tiba-tiba Igor menelpon Marvin, ketika Marvin tengah berada di jalan menuju kantor. Ia telah menitipkan Edgar pada Dean, dan Dean bilang itu tidak masalah.
"Iya, bro." jawab Marvin.
"Duit tempo hari yang gue pinjem, udah gue transfer ya ke rekening lo."
Igor menjelaskan mengapa ia menghubungi.
"Yaelah, santai kali bro." ucap Marvin.
"Nggak bisa gitu, bro. Nggak enak gue." tukas Igor lagi.
"Thanks ya." ujar Marvin.
"Gue yang terima kasih. Lagian gue teledor banget waktu itu. Sampe dompet sama handphone ketinggalan dan gue nggak tau ketinggalannya dimana. Untung ketemu lo." ucap Igor.
Marvin tertawa.
Kala itu ia mendatangi sebuah pameran gadget dan arloji. Ia bertemu Igor yang kebingungan hendak membayar pesanannya. Sebab sahabatnya tersebut kehilangan dompet dan juga handphone.
Kala itu semua berpikir jika Igor telah di copet. Namun ia meninggalkan handphone serta dompetnya di sebuah Bar
Beruntung pihak bar tersebut menemukan dan mengembalikan barang miliknya di beberapa hari kemudian.
Saat dipameran tersebut, Marvin membayar pesanan Igor dan memberinya ongkos untuk membeli bensin. Dan kini Igor mengembalikan semuanya.
"Lo kerja, bro?" tanya Igor pada Marvin.
"Ini masih di jalan gue. Mau ke kantor." jawab Marvin.
"Gue juga lagi di jalan." timpal Igor.
"Mau kemana lo?" Marvin balik bertanya.
"Ke rumah Raymond." jawabnya.
"Raymond temen lo yang pengusaha properti itu?" tanya Marvin.
"Iya, kan dia lumpuh bro sekarang. Terus dia minta ada kerjasama di beberapa bidang dan gue mau bantu dia."
"Lumpuh?. Koq bisa?" tanya Marvin heran.
"Kecelakaan apa gimana?" lanjutnya lagi.
"Nggak tau gue persisnya kenapa, katanya sih mendadak gitu aja. Ada yang bilang saraf kejepit, terlalu tinggi kolesterol, dan lain-lain. Tapi kalau kata gue dia kena karma." ucap Igor.
"Karma maksudnya?" Marvin tak mengerti.
"Iya, dulu kan dia selingkuh mulu dari bininya. Dua bulan lalu baru ketok palu, istrinya di ceraikan demi sugar baby. Sekarang sugar baby-nya malah pergi ninggalin dia, gara-gara dia lumpuh." lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Oh ya?"
"Iya." jawab Igor.
"Mana anak tunggalnya di diagnosa penyakit serius lagi." lanjut pria itu.
"Degh." Marvin terdiam.
Entah mengapa pikirannya kini menghubungkan penyakit yang di derita Edgar, dengan karma atas apa yang telah ia perbuat selama ini. Mungkinkah ini semacam hukuman baginya.
"Bro."
"Aaa, iya." Marvin tersadar dari lamunannya.
"Gue jalan dulu ya, ada polantas di depan. Ntar ditilang lagi gue sambil nelpon begini." ucap Igor.
"Oke-oke." jawab Marvin kemudian.
Tak lama Igor pun menyudahi percakapan tersebut. Sementara Marvin lanjut mengemudi dengan benak yang mulai berspekulasi.
Ia menganggap apa yang dialami Edgar saat ini merupakan salahnya. Ia mengingat betapa kotornya tindakan yang telah ia perbuat selama ini.
Di setiap kesempatan selalu saja ada perempuan yang ia prospek, untuk dijadikan sumber kesenangan.
"Pak, saya..."
Marvin mengingat peristiwa itu. Saat kantornya hendak merekrut karyawan baru untuk kekosongan di beberapa divisi.
Ia menemukan satu perempuan yang ia sukai dari sekian banyaknya kandidat. Kemudian perempuan itu ia hipnotis dengan pesonanya yang tampan dan ia dapatkan bibirnya.
Kali lain ia menjalin affair dengan pegawainya dengan sistem kedekatan dengan benefit. Seperti yang ia dan Dinda jalani saat ini.
Beberapa diantara pegawai yang pernah bersenang-senang dengannya tersebut, ada yang resign dengan berbagai alasan.
Sebagian ada juga yang masih berada di kantor hingga detik ini. Tetapi sudah hampir tak pernah Marvin temui secara personal. Mengingat ia telah tergila-gila terhadap Kinan.
Mereka semua tersangkut dalam ingatan Marvin. Seperti video slide yang tayang berulang.
Apalagi dengan adanya kasus penyakit yang dialami Edgar barusan. Ingatan akan mereka dan bayangan dosa itu terasa semakin nyata.
Marvin tiba di kantor saat selesai jam maka siang. Kinan memperhatikan pria itu, sebab pria itu tak ada membalas satupun pesan pun yang ia kirim. Bahkan ia belum ada menilik handphone hingga kini.
Sementara Dinda akhirnya lega, lantaran CEO tampan yang ia nantikan tersebut akhirnya masuk juga.
***
Sore hari.
"Edgar."
Angga, Dino, dan Ello tiba di rumah sakit saat sore hari menjelang. Mereka telah menerima kabar, dan sejatinya mereka sudah hendak bolos tadi pagi guna pergi ke rumah sakit.
__ADS_1
Tapi kata Angga, mereka semua sudah sering bolos dalam minggu-minggu ini. Maka dari itu mereka harus menjadi anak baik terlebih dahulu, sebelum kemudian kembali nakal. Sebab bila diteruskan bisa-bisa nanti dipanggil orang tua.
"Hei, Bro."
Edgar tersenyum pada mereka semua, karena ia senang akhirnya mereka datang. Sejak tadi siang ia hanya sendirian. Dean hanya sesekali menyambangi, sebab dokter itu juga sibuk.
"Gimana keadaan lo?" tanya Angga mewakili kedua temanya.
"Baik." jawab Edgar singkat.
Angga duduk di sisi sahabatnya itu. Sementara kini Dino dan Ello meletakkan apa yang mereka bawa ke atas meja dekat sofa.
"Nih, Gar. Kita bawain lo makanan yang lagi viral." ucap Ello.
"Apaan?" tanya Edgar penasaran.
"Nasi bungkus Jepang." tukas Dino.
"Nasi bungkus Jepang?" tanya nya heran.
"Iya." jawab Angga.
"Masakan Jepang tapi dijadiin kayak nasi bungkus." lanjutnya kemudian.
"Oh, emang enak ya?" tanya Edgar penasaran.
"Kita nggak tau juga sih. Baru mau cobain ini." ucap Ello.
"Makan yuk." ajak mereka kemudian.
Edgar mengangguk. Sejatinya bukan sekali dua kali ini terjadi. Saat hidup bersama Edward pun, ketika penyakitnya kambuh. Edgar akan berada di rumah sakit dan sahabat-sahabatnya itu akan datang dengan membawa makanan yang kadang agak nyeleneh
Mereka duduk di sofa, Angga membantu Edgar untuk berada di sana dan Dino menyiapkan makanan untuknya. Sementara Ello kini tengah mengatur infus holder.
Mereka makan bersama di beberapa menit kemudian. Secara serta merta Marvin masuk. Sebab kantor telah bubar dan ia kembali ke sana.
Marvin diam menatap Edgar dan teman-temannya. Begitu juga dengan mereka. Mereka agak kaget dan tak menyangka jika Marvin akan berada disana lagi.
"Pa, ini teman-teman Edgar." ucap remaja itu memperkenalkan.
"Hai om." ucap mereka serentak.
Marvin menganggukkan kepala. Sejatinya ia agak keki dipanggil om oleh para remaja tersebut. Mengingat dirinya masih muda dan tampan menurut versi penilainya sendiri.
"Kamu makan apa?" tanya Marvin pada Edgar.
"Nasi bungkus." jawab remaja itu.
"Emangnya boleh sama dokter?" tanya nya sekali lagi.
"Sebenarnya sih nggak boleh. Tapi daripada dia nggak mau makan." Dean tiba-tiba muncul.
__ADS_1
Edgar menyudahi makannya dengan sedikit terburu-buru. Kemudian dengan dibantu Dino dan juga Ello, ia mencuci tangan lalu menggosok gigi di kamar mandi. Tak lama ia sudah kembali ke tempat tidur dan membiarkan Dean melakukan pemeriksaan.
Di lain pihak di jam yang sama. Bu Cassey atau bu Cassandra guru Edgar, kini tampak tengah bersiap untuk menjenguk siswanya yang sedang sakit itu.