
Dinda kembali ke kantor, namun ia belum melihat Marvin pagi ini. Biasanya CEO tampan itu sudah datang tak lama setelah dirinya sampai.
Marvin sendiri harus memutar arah, sebab sekolah Edgar berada cukup jauh dari rumah maupun kantornya.
"Tap, Tap, Tap."
Kinan yang baru kembali dari toilet melangkah ke arah meja. Ia melihat Dinda dan seketika ia kaget. Sebab ia pikir Marvin terlah memecat perempuan itu akibat perlakuannya tempo hari. Namun ternyata perempuan itu masih ada, dan kini menatap dengan wajah congkak ke arah Kinan.
Tentu saja Kinan jadi panas hatinya. Raut kemarahan itu bahkan terbaca jelas oleh Ira, Miranti dan beberapa karyawan yang lain.
"Kalau kata gue, bos tetap mempertahankan Dinda." Ira berspekulasi.
"Usaha kita berhasil." lanjutnya kemudian.
"Yoi, kalau udah dipecat dia nggak mungkin datang lagi." timpal Miranti.
"Paling ada pelumas jalannya." ucap Ira sambil tertawa.
"Apalagi say, kalau bukan urusan nikmat." Lagi-lagi Miranti menimpali.
"Tapi jadi bagus kan, drakornya lebih panjang." ucap Ira.
"Iya sih, walau gue masih nggak rela pak Marvin bobok sama si Dinda. Tapi ya udalah, demi supaya bos kita nggak bucin lagi sama si bunting." Lagi-lagi Miranti berujar.
***
Marvin ingat ucapan Dean. Perihal ia harus membeli bahan makanan untuk dirumah. Maka niat pergi ke kantor ia tahan dulu dan ia pun menuju ke sebuah supermarket.
Dulu ia ikut orang tua dan makan bersama mereka. Saat kuliah di luar negri ia selalu dapat privilege dan uang lebih di setiap bulan. Sehingga ia tak perlu susah payah memasak dan tinggal beli saja jika ia hendak makan.
Untuk sarapan ia terbiasa sejak dulu dengan protein shake. Sebab ia nge-gym dan cukup menjaga makan. Tapi kini ia harus belanja dan ia benar-benar tak mengerti apa saja yang mesti di beli.
"Bro, kata lo gue suruh belanja buat anak gue. Gue beli apa nih?"
Marvin bertanya di grup yang hanya terdiri atas dirinya, Dean dan juga Igor.
"Pelet Ikan."
"Makanan burung."
Dean dan Igor mengirim balasan yang super ngaco.
"Lo kata si Edgar itu ikan sapu-sapu?" tanya Marvin sewot.
"Wkwkwkwk."
"Wkwkwkwk."
Dean dan Igor balas tertawa. Di kenyataannya pun mereka benar-benar tertawa dan bukan hanya sekedar ketikan semata.
"Ya anak lo manusia kan, Bambang Sujatmiko?" tanya Igor kemudian.
"Manusia di negara kita makannya kalau nggak nasi, ya jagung sama umbi-umbian atau Sagu." lanjutnya lagi.
"Tau lo. Cool, smart, sama sukses doang, tapi loadingnya lama." Dean menimpali.
"Eh Daryono, Darmaji. Gue ini bukan emak-emak ya. Mana gue ngerti mau beli apa aja." Marvin membela diri.
__ADS_1
Dean kemudian mengetik dan mengirim ketikan tersebut.
"Beras, pasta, roti, oatmeal, susu, mentega atau butter, telur."
"Itu yang pokok." ujarnya lagi.
"Daging, ayam, ikan, sayuran, buah." Igor menimpali.
"Apalagi?" tanya Marvin.
"Minyak, bumbu, saos, kecap, penyedap, garam dan lain-lain." balas Igor.
"Ribet anjay."
Marvin menggerutu lalu mengirim selfie dirinya, yang tengah duduk di lantai supermarket sambil bersandar pada mie instan.
"Mending ini aja, praktis. Masak bentar tinggal makan." ujarnya lagi.
"Sesat." balas Dean sambil tertawa.
"Bapak yang tidak patut di contoh."
Igor menimpali. Ia pun kini tertawa-tawa sendiri di ruang kerjanya.
"Lagian ngapain sih, gue mesti punya anak segala?" Marvin bertanya pada kedua orang temannya itu.
"Makanya sebelum keluar tuh, cabut." ucap Igor.
"Jepitannya enak." seloroh Marvin.
"Udah ah, gue mau belanja dulu." tukas Marvin lagi.
"Selamat atas status baru lo, bro. Selamat gabung dengan jokes bapak-bapak." ujar Dean.
"Jangan lupa kalau ngumpul, makan gurame kipas." timpal Igor.
"Idung babi." Marvin mengumpat.
Kedua sahabatnya itu terus tertawa-tawa. Marvin kemudian melanjutkan belanja. Usai belanja ia pulang dulu ke rumah, baru kembali berangkat menuju kantor.
***
Kembali ke saat pagi tadi.
Setelah menerima uang dari sang ayah baru, Edgar keluar dari mobil. Ia berjalan menuju ke gerbang sekolah dan setibanya di dalam ia pun terdiam. Sebab disana sudah ada Angga, Dino dan Ello serta teman-teman sekelasnya.
Mereka semua mengucapkan bela sungkawa sekali lagi, dan Edgar pun menerimanya. Seisi kelas bahkan guru-guru kini sudah tau jika Edgar bukan anak kandung Edward.
Mereka juga kaget ketika tau ayah kandung Edgar adalah Marvin Sievert, si pengusaha terkenal sekaligus seorang influencer di beberapa sosial media.
"Lo baik-baik aja kan, bro?"
Angga bertanya pada Edgar, ketika mereka telah berjalan menuju kelas.
"Baik." jawab Edgar berusaha menyembunyikan kesedihan hatinya yang masih begitu besar.
"Sekarang lo tinggal dimana?" tanya Ello.
__ADS_1
"Ya dirumah dia, mau kemana lagi coba gue?" jawab Edgar.
"Tapi kalau lo nggak nyaman, balik ke rumah kita-kita juga nggak apa-apa bro. Kita udah bilang ke orang tua kita." ucap Dino.
"Iya, bro. Orang tua kita malah pengen lo ikut kita-kita." Angga menimpali.
Edgar tersenyum tipis. Ia terharu mendengar semua itu. Namun sejauh ini tinggal bersama Marvin belum ada masalah apa-apa. Meskipun masih terasa aneh sekaligus canggung.
Mereka kemudian masuk ke kelas dan tak lama setelahnya bel tanda masuk pun di bunyikan.
***
Marvin baru tiba saat siang hari.
Karyawan lain tak begitu heran, sebab Marvin sering melakukan hal tersebut. Namun bagi Dinda ini pertama kalinya ia melihat sang CEO tiba, saat matahari sudah sedemikian tinggi.
Dinda membantu pria itu sebelum di sambar oleh Kinan. Dan Kinan kembali panas di meja kerjanya. Ia melihat tak ada kemarahan sedikitpun lagi dimata selingkuhannya itu terhadap Dinda.
"Mungkinkah Dinda sudah di maafkan?" gumam Kinan.
"Lalu bagaimana caranya?. Apa Dinda menggunakan tubuhnya untuk memuluskan jalan?"
Pikiran Kinan benar-benar berkecamuk kali ini. Padahal wanita itu perutnya tengah berisi bayi. Seharusnya ia menjaga pikiran dan juga emosi.
Namun agaknya ia tak begitu peduli, mengingat benih yang ia kandung merupakan benih suaminya dan bukan dari Marvin.
***
"Masa anak gue yang jajannya seratus ribu."
Marvin curhat pada Dean dan juga Igor, ketika jam kantor telah bubar dan kedua sahabatnya itupun telah selesai bekerja. Seperti biasa mereka ngopi di kafe langganan mereka.
"Ya elu masa segitu pelitnya sama anak. Giliran sama cewek aja lo." Dean mengingatkan Marvin.
Seketika Marvin pun tersentil.
"Si Kinan aja lo beliin tas sampai puluhan juta. Masih mending lo cuma kasih Edgar seratus ribu." Igor menimpali ucapan Dean.
Marvin jadi makin tersudutkan.
"Koq lo berdua jadi malah mojokin gue sih?" tanya nya kemudian.
"Ya elo, ketimbang seratus ribu doang bro. Pak Edward membesarkan dia dari bayi, berapa coba biayanya?" ucap Dean diikuti anggukan tanda persetujuan dari Igor.
"Bener itu, pasti gila-gilaan dia abis duit." Igor menimpali.
Marvin terdiam lalu menghela nafas.
"Iya, iya. Kan dari sini ke depan bakal jadi tanggung jawab gue." ujarnya lagi.
"Makanya jangan pelit." ujar Igor.
"Iya, Bambang."
Marvin sewot lalu menyeruput kopinya. Sementara Dean dan Igor saling pandang sambil menahan senyum.
Mereka senang, dengan hadirnya Edgar, mereka bisa menyindir sekaligus mengingatkan Marvin soal Kinan. Tentang betapa bucinnya ia selama ini terhadap istri orang tersebut.
__ADS_1