Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta

Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta
Pedang Langit


__ADS_3

Untuk mematangkan Ganendra Wisnu Wijaya sebelum melakukan misinya, Mpu Bagera melakukan Latihan Pamungkas agar Ganendra Wisnu Wijaya sudah siap lahir dan batin dalam perjalanan yang berat untuk menegakkan keadilan, latihan terakhir adalah Meditasi Cakra Utama.


Dengan sistem pernafasan khusus dan bantuan Mpu Bagera akan memangaktifkan kembali seluruh titik cakra yang ketika Ganendra Wisnu Wijaya pertama datang, Mpu Bagera menutup titik cakra yang sudah terbuka, karena saat itu Ganendra Wisnu Wijaya sudah hampir membuka setiap titik cakra sampai level 6, padahal ketika itu dia masih Anak-anak sehingga membuatnya bisa lepas kontrol. Dan jika diteruskan sangat membahayakan tubuh Ganendra Wisnu Wijaya sendiri, minimal akan mengguncang kejiwaannya.


Dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengembalikan itu semua karena sekarang Ganendra Wisnu Wijaya sudah menginjak usia dewasa jadi wadah dari ilmunya sudah mampu untuk menampung powernya yang sangat besar.


Ketika dimulai pernafasan dan dibantu aliran tenaga dalam dari Mpu Bagera, Ganendra Wisnu Wijaya merasakan tubuhnya sangat panas sehingga keringat pun membasahi tubuhnya, lalu Ganendra Wisnu Wijaya merasakan munculnya sebuah aliran didalam tubuhnya yang bergerak naik-turun lalu menyebar keseluruh pembuluh darahnya, serta merasakan seolah-olah tubuhnya mengencang dan diluar kulit terdapat medan magnet yang menyelimuti dirinya


"Apa ini mengapa aliran ini begitu terasa, meditasi ini sangat berbeda bila dibandingkan dengan cara sebelumnya" batin Ganendra Wisnu Wijaya


Setelah terbukanya level 6 kembali, Mpu Bagera segera menyudahi meditasi, karena yang ke 7 harus Ganendra Wisnu Wijaya sendiri yang membukanya, dulu Mpu Bagera menutupnya dilevel ke 6 jadi dia hanya berkewajiban membuka sampai level 6 juga.


"Sudah selesai cucuku Ganendra Wisnu Wijaya" ucap Mpu Bagera, Ganendra Wisnu Wijaya lalu membuka Mata


"Baik kakek, rasanya tubuhku seperti sangat kuat dan ringan sekali" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Sekarang mintalah Restu kepada Ibumu, cucilah kakinya dan setelah kau cuci basuhkan air cucian kaki ibumu diwajah tangan dan kakimu" ucap Mpu Bagera


"Baik kakek" jawab Ganendra Wisnu Wijaya kemudian mengikuti apa yang diperintahkan oleh kakeknya, yaitu mencuci kaki Nyai Maharani, ketika Ganendra Wisnu Wijaya mencuci kakinya Nyai Maharani hanya mampu menangis lalu Ganendra Wisnu Wijaya meminta restu dari Nyai Maharani untuk memulai perjalanannya.


Setelah selesai Ganendra Wisnu Wijaya kemudian mulai berganti pakaian dan mengambil peralatan yang Dia butuhkan dalam perjalanan.


"Sebelum Kamu memulai, kamu juga harus sowan ke Padepokan Gunung Pangrango untuk meminta Restu dari Guru Dirgajaya karena dari 7 Pendekar saudara seperguruan Bopomu hanya Guru Dirgajaya lah yang tersisa, dan juga ketika kamu masih usia 5 Tahun dan Diah Ayu Wardani baru lahir kamu sudah dijodohkan dengannya, jadi Dirgajaya adalah calon mertuamu" ucap Mpu Bagera, mendengar ucapan kakeknya Ganendra Wisnu Wijaya kaget karena Dia dan Diah Ayu Wardani kelak akan menikah.

__ADS_1


"Baik Kakek, Saya akan ke Padepokan Gunung Pangrango sekarang" jawab Ganendra Wisnu Wijaya kemudian Dia pamit tapi sebelumnya dia memakai topengnya dulu. Lalu langsung berteleportasi ke Gunung Pangrango.


***


Sesampai di Padepokan Gunung Pangrango lalu Ganendra Wisnu Wijaya mengamati keadaan, Dia sangat terkejut bahwa Guru Gunawan ternyata masih hidup, tapi Ganendra Wisnu Wijaya belum berniat masuk Padepokan karena Dia berencana untuk melihat-lihat suasana disekitar Padepokan terlebih dahulu.


Ketika dia berkeliling kemampuan sensornya merasakan hawa jahat dari beberapa orang yang bersembunyi, dari gerak-geriknya mereka adalah telik sandi yang sedang mengamati kondisi Pedepokan Gunung Pangrango. Lalu Ganendra Wisnu Wijaya mengeluarkan Jarum beracun, namun racunnya tidak membunuh hanya menyebabkan lumpuh dalam 7 hari setelah yakin dengan keberadaan mereka kemudian Ganendra Wisnu Wijaya langsung menyerang mereka dengan melemparkan jarum beracun, seketika 4 orang dari mereka langsung berteriak dan tergelak, hal itu membuat para Pendekar yang sedang berjaga di Padepokan mengetahui keberadaan mereka, lalu mereka dibawa masuk kedalam padepokan.


Satu orang dari mereka tidak terkena jarum langsung melarikan diri, tapi memang itu tujuan Ganendra Wisnu Wijaya agar bisa mengikuti sampai markas Mereka, agar Ganendra Wisnu Wijaya tidak perlu bersusah payah mencari dimana letak markas musuh.


Telik sandi ini tidak menyadari keberadaan Ganendra yang sedang mengikutinya karena memang Ganendra dapat menyembunyikan hawanya agar tidak dideteksi oleh lawan. Sebelum berkunjung ke padepokan Dia harus mensterilkan keadaan sekitar Padepokan karena Dia harus merahasiakan keberadaanya dari siapapun.


Setelah mengikuti beberapa waktu sampailah mereka disebuah Padepokan


Setelah beberapa saat telik sandi masuk, lalu keluarlah seorang bertubuh kekar dan memiliki aura kesaktian yang lumayan, dan diikuti 4 Pendekar dibelakangnya


"Semua berkumpul, kita harus bersiaga karena Telik Sandi Kita ada yang menyerang, dan sekarang 2 dari Telik sandi telah ditawan oleh musuh" ucapnya


"hehehe,,,," suara tertawa yang memekakkan telinga tiba-tiba terdengar membuat murid dengan level rendah kesakitan dan beberapa dari mereka pingsan, level tenaga tertawa juga semakin meningkat dan lebih banyak lagi yang ambruk, hampir semua murid padepokan ambruk dan pingsan.


Lalu Salah satu dari 5 pemimpin padepokan melihat kearah Ganendra Wisnu Wijaya yang duduk diatas genteng salah satu bangunan dipadepokan, kemudian dia segera mengambil busur panah dipunggungnya dan menariknya, panah melesat ke arah Ganendra Wisnu Wijaya namun dia dengan sangat mudah menghindari panah tersebut.


"Yaaahhh ketahuan,,hehehe, padahal dari tadi enggak sembunyi juga lho,,hehehe, lho kug murid-muridnya malah tidur semua to,,hehehe" ucap Ganendra Wisnu Wijaya yang masih mengenakan topeng

__ADS_1


Dilain sisi telik sandi dari padepokan Gunung Gede pangrango sedang mengawasi dan salah satu dari mereka sudah ada yang pergi melapor tentang kejadian tersebut.


"Dasar orang tak punya adat, cecunguk siapa kau sebenarnya?" ucap salah seorang dari mereka yang nampak emosi


"Hehehe,,aku? Siapa?hehee aku siapa yaaa,,hehehe" jawab Si Sableng Bertopeng


"Apa ini yang sering kita dengar dari Gunung Merapi bahwa ada orang bertopeng yang sering menyerang, Mereka menyebutnya Si Sableng Bertopeng" bisik mereka


"Hehehe,,,benar sekali, aku mendengar bisik-bisik Kalian, Aku Si Sableng Brtopeng,,hehehe" jawab Ganendra Wisnu Wijaya, mendengar itu Mereka sangat kaget karena Mereka berbisik saja bisa terdengar oleh Ganendra Wisnu Wijaya


"Baiklah jika itu memang kau, sangat kebetulan sekali karena aku memang dari awal ingin menghabisimu" jawab seorang dari mereka


"hehehe,,,tidak semudah itu,,hehe coba saja kalau bisa kesini,,hehehe" ucap Si Sableng Bertopeng


"Kurang ajar, kau berani meremehkan kami" ucap salah satu dari Mereka, kemudian Mereka mulai akan menyerang baru saja melompat mereka sudah jatuh lagi karena batu yang dilemparkan oleh Ganendra Wisnu Wijaya, Mereka pun menjadi semakin emosi.


"Dasar Anak tak beradap, kau tak pernah dididik orang tuamu ya" ucap salah seorang dari mereka, Namun tak berselang lama Si Sableng Bertopeng langsung berada didepannya dan menebas kepalanya seketika dan kembali melompat mundur.


"Hehehe,,jangan bawa-bawa orang tua,,hehehe" ucap Si Sableng Bertopeng dan kemudian mereka mulai bertarung 1vs4 namun Ganendra Wisnu Wijaya sangat santai menghadapi mereka, ketika sudah bosan Ganendra Wisnu Wijaya langsung menyerang mereka secepat kilat dan menghabisi keempatnya dengan cepat, beberapa murid yang tadinya pingsan dan bangun melihat kejadian tersebut sampai badannya gemetar dan ada juga yang sampai buang air kecil ditempat.


"Hehehe,,,kalian murid-murid Gagak Ireng kan,,hehe, jika kalian berani bertindak kejahatan seumpama ketemu aku hehe, kalian akan aku habisi semua,,, hehehe" ucap Si Sableng Bertopeng, kemudian mereka mengangguk


"Sekarang urus mayat-mayat Gurumu ini" ucap Ganendra Wisnu Wijaya dan langsung menghilang seperti hantu.

__ADS_1


__ADS_2