
"Ibu sudah sore Aku berangkat dulu ya bu, kakek - Nenek - Paman Aku berangkat dulu" ucap Ganendra Wisnu Wijaya yang kemudian mencium tangan mereka
"Iya hati-hati tetap selalu waspada ya Nak" ucap Mpu Bagera
"Baik Kakek" jawab Ganendra Wisnu Wijaya, kemudian Ganendra Wisnu Wijaya pun menghilang.
"Tejarana ini hadiah untukmu" ucap Mpu Bagera yang memberikan Pusaka Juring Sakti kepada Tejarana
"Pusaka Juring Sakti,,, terima kasih Bopo" ucap Tejarana terlihat sangat gembira
"Jaga baik-baik, jangan sampai berpindah tangan kesiapapun walaupun Dia adalah Orang yang paling Kamu cintai, kecuali Kau wariskan kepada Anakmu kelak" ucap Mpu Bagera
"Baik Bopo, Saya paham" jawab Tejarana
***
"Diah Ayu Wardani dari siang menjelang sore kenapa cemberut saja Kakang? Dinda sudah menanyainya namun Dia tidak mau menjawab" ucap Nyai Eis Istri Guru Dirgajaya
"Sepertinya Dia menunggu Ganendra Wisnu Wijaya yang berjanji akan latih tanding dengannya sore ini" jawab Guru Dirgajaya sambil tersenyum.
"Oalah ternyata Anak Kita sedang kasmaran sepertinya Kakang" ucap Nyai Eis sambil tertawa
"Untung saja kasmaran kepada Orang yang tepat" jawab Guru Dirgajaya, namun tidak berselang lama tiba-tiba Ganendra Wisnu Wijaya muncul dihadapan mereka
__ADS_1
"Salam hormat Bopo - Ibu" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Sudah datang Nak, bagaimana kabar Kakek, Nenek dan Ibumu?" tanya Guru Dirgajaya
"Syukur semua sehat dan baik Bopo, ini dapat kiriman dari Ibu buat Ibu" ucap Ganendra
"Wahh terima kasih, kain dari jawa Kakang" ucap Nyai Eis sambil tersenyum
"Coraknya sangat bagus, sepertinya ini Nyai Maharani membuat sendiri, betulkah itu Nak?" tanya Guru Dirgajaya
"Betul Bopo, Ibu sehari-hari untuk mengisi waktu luang membatik kain Bopo" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
"Pantas saja agak berbeda dengan yang Kakang belikan dulu, sampaikan salamku untuk Mbakyu Maharani ya Nak kalau kembali kesana" ucap Nyai Eis
"Sekarang temuilah Diah Ayu Wardani sepertinya Dia menunggumu sedari tadi, lihat wajahnya cemberut seperti bebek belum mandi berhari-hari" ucap Guru Dirgajaya sambil tertawa
"Baik Bopo" jawab Ganendra Wisnu Wijaya sambil bergegas menghampiri Diah Ayu Wardani yang sedang duduk ditaman
"Ciee,,, cemberut aja, nungguin siapa Dinda?" goda Ganendra Wisnu Wijaya
"Hemm kirain gag berani nglawan Aku" jawab Diah Ayu Wardani dan seketika wajahnya langsung sumringah
"Yakin bisa ngalahin Kakang?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya
__ADS_1
"Yakinlah Aku sudah berlatih dari kecil, masa kalah sama Kakang" jawab Diah Ayu Wardani
"Kalau nanti Dinda kalah, Kakang akan mengajari Dinda agar menjadi lebih hebat jadi bukan tentang siapa yang menang atau kalah" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
"Huft Kakang terlalu percaya diri, belum bertanding tapi sudah mau mengajariku" ucap Diah Ayu Wardani
"Baiklah Kita mulai saja, Paman akan menjadi wasit" ucap Guru Gunawan yang berjalan dari belakang, lalu ketiganya naik kesebuah panggung yang digunakan untuk latih tanding para murid-murid. Keduanya langsung pasang dan menggunakan pedang kayu yang biasa digunakan untuk latihan.
"Semua siap... Mulai" teriak Guru Gunawan dan kemudian para murid padepokan berkumpul untuk menyaksikan latih tanding antara Ganendra Wisnu Wijaya dan Diah Ayu Wardani
Diah Ayu Wardani langsung berinisiatif melakukan serangan, gerakannya indah seperti seorang penari namun serangannya sangat mematikan karena pola serangannya tak bisa ditebak karena disertai dengan gerakan tipuan yang membuat lawan kebingungan, Ganendra Wisnu Wijaya pun hanya bisa menghindar dan menangkis setiap ayunan pedang kayu yang mengarah padanya, sebuah serangan tipuan dari ayunan pedang Diah Ayu Wardani hampir mengenai kepalanya namun untung saja Ganendra Wisnu Wijaya dapat mengatasinya dengan tehnik memutarkan badan dengan setengah salto, lalu dia terhuyun hampir saja jatuh dari panggung.
"Kenapa Kakang? boleh kalau ingin mengaku kalah" ucap Diah Ayu Wardani
"Belum Dinda Sayang, Kakang masih disini" ucap Ganendra Wisnu Wijaya, jawaban Ganendra Wisnu Wijaya mambuat wajah Diah Ayu Wardani memerah lalu kembali melakukan serangan, kalau sekarang Diah Ayu Wardani mengeluarkan jurus khas dari Padepokan Gunung Pangrango, para murid Padepokan Gunung Pangrango sudah yakin bahwa Diah Ayu Wardani akan menjatuhkan Ganendra Wisnu Wijaya dengan jurus tersebut, namun Ganendra Wisnu Wijaya bisa menangkis setiap gerakan yang dilakukan oleh Diah Ayu Wardani namun kali ini tanpa menghindar tapi Ganendra Wisnu Wijaya menangkis dan tidak berpindah tempat sama sekali, Guru Dirgajaya pun dibuat kagum dengan kuda-kuda dan ketenangan Ganendra Wisnu Wijaya.
Ketika gerakan mematikan dari jurus tersebut dikeluarkan Ganendra Wisnu Wijaya hanya tersenyum dan dia seperti menebak arah serangannya lalu Ganendra Wisnu Wijaya bergerak menyerong kesebelah kiri dari Diah Ayu Wardani sambil membungkuk sehingga dalam posisi kosong tanpa perlindungan, namun Ganendra Wisnu Wijaya tidak menyerangnya hanya menepis tangan Diah Ayu Wardani sehingga pedangnya terjatuh dari genggaman tangannya, Diah Ayu Wardani kaget dengan cara yang dilakukan oleh Ganendra Wisnu Wijaya sehingga dapat mengatasi jurusnya kemudian Ganendra Wisnu Wijaya meletakkan pedangnya dan mengisyaratkan akan bertarung dengan tangan kosong, Diah Ayu Wardani langsung menyerang Ganendra Wisnu Wijaya dengan jurus-jurus yang sudah dia pelajari namun setiap pukulan dan tendangannya dapat dihindari oleh Ganendra Wisnu Wijaya walau mereka dalam jarak yang sangat dekat, Ganendra Wisnu Wijaya mampu bergerak dengan luwes dan cepat ketika menghindar dan menangkis, Diah Ayu Wardani masih menyerang dengan jurus andalan dari Padepokan Gunung Pangrango hampir saja Ganendra Wisnu Wijaya terkena Ajian tapak suci dari Diah Ayu Wardani namun Ganendra Wisnu Wijaya dengan cerdik melakukan gerakan sahutan tangan, sehingga sebelum terkena dada, tangan Diah Ayu Wardani sudah berubah arah, namun Diah Ayu hanya langsung menyusulkan serangan tumit yang masuk diperut Ganendra Wisnu Wijaya hampir saja mengenai namun Ganendra Wisnu Wijaya dapat melompat keatas kepala Diah Ayu Wardani dan mengambil tusuk konde Diah Ayu Wardani ketika berada tepat diatas kepalanya, gerakan itu membuat rambut Diah Ayu Wardani terurai dan pesonanya membuat Ganendra Wisnu Wijaya begitu terpesona. Kemudian Ganendra Wisnu Wijaya melemparkan tusuk konde kepada Diah Ayu Wardani agar dipakai lagi, namun setelah Diah Ayu Wardani menerima tusuk konde itu Dia langsung kembali menyerang kearah Ganendra Wisnu Wijaya dengan Jurus Tapak Seribu, Diah Ayu sudah menyerang dengan gerakan tangan sangat cepat yang membuat Ganendra Wisnu Wijaya pun sempat kerepotan namun semua berhasil dihindari olehnya dan ketika Diah Ayu Wardani sedang melakukan serangan dengan cepat kearah Ganendra Wisnu Wijaya, Dia berhasil menangkis dan kemudian menyerang balik dengan mencubit pipi kiri Diah Ayu Wardani dan sekali lagi menangkis serangan dan mencubit pipi kanan Diah Ayu Wardani, hal tersebut sangat cepat jadi para murid tidak melihat kecuali para Guru yang sedang menonton, Mereka sangat kagum dengan ketangkasan Ganendra Wisnu Wijaya. Diah Ayu Wardani pun sangat kaget dengan cubitan tersebut dan Dia mulai berfikir untuk menggunakan jurus andalannya sendiri, lalu dia menyerang dengan sangat cepat gerakannya lebih cepat dari jurus-jurus sebelumnya namun Ganendra Wisnu Wijaya tetap dengan tenang dan lebih cepat dapat menghindari dan menangkis setiap serangan yang dilancarkan, lalu disatu moment Ganendra Wisnu Wijaya memiliki celah untuk melakukan serangan balik, Dia hanya mendorong pundak dari Diah Ayu Wardani yang membuatnya terpental dan akan jatuh, namun Ganendra Wisnu Wijaya dengan cepat meraih badan Diah Ayu Wardani dan menangkapnya, kedua mata mereka pun saling bertemu dan Diah Ayu Wardani menjadi terpaku seolah terhipnotis oleh Ganendra Wisnu Wijaya.
"Bagaimana Dinda? Bersedia Kakang ajari beberapa jurus kan?" ucap Ganendra Wisnu Wijaya yang memecahkan lamunan, seketika Diah Ayu Wardani pun tersadar dan berdiri.
"Baik Kakang, Aku mengaku kalah dan Kakang harus mengajariku agar lebih hebat" jawab Diah Ayu Wardani
"Pemenangnya Ganendra Wisnu Wijaya" teriak Guru Gunawan disambut tepuk tangan murid dan para Guru yang menonton.
__ADS_1