
Setelah badan kembali Fit lalu Guru Wijaya Karna beserta para Guru Padepokan aliran Kenaling Rogo lainnya kembali ke padepokan masing-masing.
"Dinda Maharani temani Anak Kita disini saja, Ganendra Wisnu Wijaya lebih membutuhkan kasih sayang Ibunya jangan sampai Dia kekurangan kasih sayang dari Ibunya" ucap Guru Wijaya Karna
"Nanti Kakang bagaimana disana?" tanya Nyai Maharani
"Tenang saja Dinda, di Padepokan kan banyak para murid dan ada Adimas Gunawan juga jadi jangan khawatir" jawab Guru Wijaya Karna
"Baiklah terserah Kakang saja, Aku akan menurut dengan Kakang Wijaya Karna" ucap Nyai Maharani, Guru Wijaya Karna memutuskan untuk meninggalkan Nyai Maharani karena sudah merasa kepayahan dan mengurangi resiko jika sewaktu-waktu situasi menjadi kalang kabut.
***
Sesampai di Padepokan Guru Wijaya Karna langsung melakukan meditasi pemulihan, karena setelah diobati oleh Mpu Bagera badannya sangat banyak mangalami perubahan jadi agar semakin baik beliau melakukan meditasi pemulihan namun belum sampai tahap akhir seorang Telik sandi sudah masuk karena ingin memberikan informasi penting.
"Mohon ampun Guru Wijaya Karna, Ada informasi bahwa malam ini akan ada serangan kesemua Padepokan aliran Kenaling Rogo oleh Patih Lodaya dan para murid Padepokan Gagak Ireng dengan kekuatan penuh" ucap Telik Sandi Padepokan
"Baiklah Aku paham" ucap Guru Wijaya Karna
"Saya mohon pamit Guru" ucap Telik Sandi Padepokan
"Tetap jaga diri dan hati-hati" ucap Guru Wijaya Karna
"Baik Guru, Terima kasih" Jawab Telik Sandi Padepokan yang kemudian kembali menghilang, Guru Wijaya Karna kemudian langsung memberikan informasi kepada Saudara seperguruannya yang ada dipadepokan masing-masing dan akhirnya serangan akan pecah dalam malam nanti, kemudian Guru Wijaya Karna keluar untuk mencari Guru Gunawan
"Adimas apakah Kamu sudah mendengar informasi dari Telik Sandi Padepokan?" tanya Guru Wijaya Karna
"Baru saja Kakang, bagaimana sebaiknya?" jawab Guru Gunawan
"Yang paling penting jika mendesak, Kamu harus menyelamatkan diri, agar keturunan Kerajaan Kahuripan masih ada, walaupun ada Ganendra Wisnu Wijaya namun Kamu harus selalu mendampingi Dia" ucap Guru Wijaya Karna
"Tidak bisa seperti itu Kakang, Aku akan selalu disamping Kakang apapun yang terjadi" jawab Guru Gunawan
"Anggap saja ini adalah perintah dariku, jadi jangan ngeyel" ucap Guru Wijaya Karna, Guru Gunawan hanya Diam saja tidak bisa menjawab apapun lagi karena itu adalah perintah dari Kakaknya.
"Bersiaplah dan koordinir semua murid, Aku akan melanjutkan meditasi untuk memulihkan kondisiku" ucap Guru Wijaya Karna
__ADS_1
"Baik Kakang, Aku pamit keluar dulu" ucap Guru Gunawan
***
Akhirnya serangan pun tiba, Murid Padepokan Gagak Ireng yang dibantu oleh Prajurit Kerajaan Nagari yang setia kepada Patih Lodaya pun menyerang bersamaan 6 Padepokan aliran Kenaling Rogo, pertempuran yang sudah tidak dapat dihindari Dua Kubu saling berperang dan banyak korban yang berjatuhan, namun perintah dari Guru Wijaya Karna adalah jika terdesak harus langsung menyelamatkan diri.
Namun tiba-tiba saat Guru Wijaya Karna sedang ingin keluar setelah selesai meditasi pemulihan untuk ikut berperang membantu para pasukan aliran putih Telik Sandi Padepokan menghampiri
"Mohon ijin mengganggu Guru" ucap Telik Sandi Padepokan
"Ada informasi genting apa seakan kamu sangat panik?" tanya Guru Wijaya Karna
"Saat ini Patih Lodaya merencanakan menghabisi Baginda Prabu Kertaraja Wiranegara, tolong segera bergegas Guru sebelum terlambat" ucap Telik Sandi Padepokan
"Segera beritahu para sesepuh dan Guru Gunawan, aku akan langsung kekerajaan" Ucap Guru Wijaya Karna dan langsung menuju ke Kerajaan Nagari dengan Pusaka Juring Sakti
Sesampai dikeraton Prabu Kertaraja Wiranegara dan para pengawal sedang diserang oleh pendekar aliran hitam dan Patih Lodaya, ketika Guru Wijaya Karna sampai terlihat Prabu Kertaraja Wiranegara akan terkena serangan dari Patih Lodaya, Guru Wijaya Karna langsung menyelamatkan Prabu Kertaraja Wiranegara lalu mereka bertarung dengan keadaan tidak imbang.
"Wijaya Karna lama tak berjumpa" ucap Patih Lodaya
"Tidak usaha basa basi, kau sudah benar-benar melebihi batas Lodaya" ucap Guru Wijaya Karna dan langsung saling serang diantara mereka, karena kondisi Guru Wijaya Karna belum pulih total dan ketika bertarung malah terkena beberapa serangan menyebabkan kondisinya semakin parah.
"Pusaka Juring Sakti" Gumam Patih Lodaya Ketika berkeliling setiap kamar namun ternyata keluarga Prabu Kertaraja Wiranegara sudah menghilang, namun Patih Lodaya tidak perduli karena rencana yang dibuat sudah berjalan dengan lancar
***
Setelah sampai dipadepokan Prabu Kertaraja Wiranegara kaget karena dalam sekejab mampu berpindah tempat. Namun dia juga sangat terkejut bahwa permaisuri dan anak-anaknya sudah diselamatkan dan juga berada dipadepokan. Kemudian Guru Wijaya Karna yang sedang menahan rasa sakit lalu memberikan perintah untuk mundur kepada para Guru Padepokan aliran Kenaling Rogo lainnya kemudian Para Guru kembali datang menemui Guru Wijaya Karna, semua yang datang nampak kaget karena ternyata Guru Wijaya Karna seorang diri berjuang melindungi Prabu Kertaraja Wiranegara dan keluarga, namun Guru Wijaya Karna mengalami luka dalam yang sangat parah.
Kemudian Para Guru Utama memutuskan untuk kembali ke Gunung Merapi menggunakan Pusaka Juring Sakti, alangkah kagetnya Nyai Maharani dan Ganendra Wisnu Wijaya melihat Guru Wijaya Karna terluka sangat parah. Kemudian setelah dicek oleh Mpu Bagera kondisinya sudah tidak memungkinkan.
"Ini Ajian Rengka Gunung" ucap Mpu Bagera sambil bergeleng dan sedih
"Tidak apa-apa Bopo, Saya sebagai warga Kerajaan sudah menuntaskan Tugas untuk melindungi Baginda Prabu sampai nafas terakhir, Saya Sudah bahagia, memiliki istri yang berbudi pekerti luhur, memiliki Anak Ganendra Wisnu Wijaya dan saudara Seperguruan yang sangat setia. Padepokan Gunung Arjuno biarkan Adimas Gunawan yang mengurus. Titip Anak dan Cucumu Bopo" ucap Guru Wijaya Karna yang langsung memecah tangis semua yang ada disitu, lalu Guru Dirgajaya berteleportasi lagi ke Padepokan Gunung Arjuno untuk mengabarkan Jika Guru Wijaya Karna telah Wafat dan mengamanahkan Guru Gunawan yang mengurus Padepokan.
Sontak kabar itu membuat semua orang menangis termasuk Prabu Kertaraja Wiranegara, kemudian Prabu Kertaraja Wiranegara dan Guru Gunawan ikut bersama Guru Dirgajaya ke Gunung Arjuno untuk ikut mamakamkan Guru Wijaya Karna.
__ADS_1
***
Sesampai disana melihat senyum diwajah Guru Wijaya Karna membuat semua Orang meyakini bahwa beliau sedang berada di Surga-Nya Gusti Yang Maha Agung, nampak sekali kesedihan dari wajah Guru Gunawan.
Semua acara dipercepat karena harus saat itu juga dimakamkan dan setelah pemakaman mereka mengumumkan bahwa berkabung selama 7hari.
Dan memberikan tanda dipadepokan bahwa suasana berkabung jadi pihak Gagak Ireng dan antek Patih Lodaya tidak akan berani menyerang karena itu adalah aturan yang harus dijunjung sampai kapanpun.
"Ananda Ganendra Wisnu Wijaya, jadilah seorang Pendekar yang Berjiwa ksatria dan Sakti Mandraguna melebihi siapapun yang pernah ada, Restu dan doaku selalu menyertaimu" ucap Prabu Kertaraja Wiranegara
Kemudian Rombongan Prabu Kertaraja Wiranegara memutuskan akan Naik dan membuat sebuah pemukiman di Gunung Arjuno, diikuti keluarga dan Pasukan serta Panglima Pasukan yang masih setia.
"Guru Dirgajaya Tolong sampaikan Surat ini kepada Baginda Prabu Kerajaan Sundapura, agar jika terjadi apa-apa tidak ada kesalah pahaman diantara Kami. Beliau adalah Sahabatku, jangan sampai hubungan baik ini menjadi buruk karena kesalah pahaman" perintah Prabu Kertaraja Wiranegara
"Baik Baginda Prabu" ucap Guru Dirgajaya
Kemudian Prabu Kertaraja Wiranegara beserta rombongan berangkat menuju ke Gunung Arjuno.
Guru Dirgajaya tidak menunggu lama langsung menuju Kerajaan Sundapura dan sesuai perintah Prabu Kertaraja Wiranegara menyerahkan gulungan Surat kepada Prabu Sanjaya Surawisesa dan menjelaskan perihal langkah yang ditempuh Prabu Kertaraja Wiranegara dan Guru Dirgajaya mengingatkan Prabu Sanjaya Surawisesa bahwa padepokan Gagak Ireng sudah berdiri diperbatan Kerajaan Sundapura dan Kerjaan Nagari.
"Saya ikut prihatin dengan apa yang terjadi, semoga masalah ini bisa segera diatasi Oleh Baginda Prabu Kertaraja Wiranegara" ucap Prabu Sanjaya Surawisesa
"Terima Kasih baginda Prabu, Saya ijin mohon pamit undur diri karena Kami sedang berkabung atas meninggalnya Kakak Seperguruan Kami karena ketika menyelamatkan Prabu Kertaraja Wiranegara mendapatkan luka dalam yang parah" ucap Guru Dirgajaya
"Baiklah Guru Dirgajaya, Aku ikut berduka dengan apa yang terjadi" jawab Prabu Sanjaya Surawisesa kemudian Guru Dirgajaya seketika menghilang dan berpindah ke Padepokan Gunung Pangrango.
***
Sementara dikediaman Mpu Bagera dilereng Gunung Merapi suasana duka masih menyelimuti keluarga Mpu Bagera, namun Ganendra Wisnu Wijaya nampak tegar menghadapi duka kehilangan Boponya tercinta. Dia memilih bermeditasi sepanjang waktu sampai 7hari berkabung, Ganendra Wisnu Wijaya baru keluar untuk makan dan langsung meminta Kakeknya Mpu Bagera untuk langsung mulai berlatih.
Latihan yang dijalani dengan rutin semakin membentuk Ganendra Wisnu Wijaya menjadi lebih kuat, tak terasa peperangan masih terus berlanjut dan korban menjadi tak terhitung jumlahnya dengan siasat licik dari Patih Lodaya, Mereka dapat mengalahkan dan menghancurkan semua padepokan aliran putih yang tersisa dan Guru-guru dari 7 Padepokan aliran Kenaling Rogo hanya menyisakan Guru Dirgajaya seorang, karena semua Guru sudah wafat dan dimakamkan disebelah Guru Wijaya Karna , sesuai prediksi Guru Wijaya Karna dulu bahwa tempat paling memungkinkan untuk pelarian adalah Padepokan Gunung Pangrango, semua padepokan sudah dihancurkan dan dibakar selama 5 Tahun belakangan.
Sedangkan Guru Gunawan dan Tejarana serta beberapa murid sudah berlindung di Padepokan Gunung Pangrango. Hal ini membuat Ganendra Wisnu Wijaya semakin semangat latihan, dan Diah Ayu Wardani pun telah menjadi remaja yang cantik dan tangkas berilmu pedang serta memiliki kesaktian yang tidak dapat diremehkan.
Banyak sekali Murid Padepokan Gunung Pangrango dan Pendekar luar yang mendekatinya namun Diah Ayu Wardani hanya fokus berlatih karena Dia tau bahwa sudah ada perjanjian jika kelak Dia akan menikah dengan Ganendra Wisnu Wijaya. Sudah bertahun-tahun Dia tidak bertemu dengan Ganendra Wisnu Wijaya dan terakhir bertemu ketika Dia masih belum remaja, sekarang Dia sudah mulai mengerti dengan cinta dan perasaan batinnya.
__ADS_1
Sedangkan Ganendra Wisnu Wijaya terkadang menyelinap keluar dan turun Gunung untuk membasmi pengikut Padepokan Gagak Ireng yang berbuat jahat dan menindas Rakyat, Dia selalu memakai topeng saat beraksi agar tidak ada yang mengetahui jati dirinya.
Namun Mpu Bagera sejatinya sudah tau tentang hal itu namun kakeknya membiarkan saja hal itu, toh apa yang Ganendra Wisnu Wijaya lakukan adalah untuk menumpas kejahatan.