
Ternyata Ganendra Wisnu Wijaya tak langsung ke Padepokan Gunung Arjuno namun Dia menyempatkan diri Ziaroh ke Makam Boponya beserta mendiang Mpu Sagara dan mendiang para Guru dari saudara seperguruan Boponya yang sudah wafat. Setelah selesai ziaroh kemudian Ganendra Wisnu Wijaya kembali melanjutkan ketujuan selanjutnya yaitu bekas Padepokan aliran Kenaling Rogo Lereng Gunung Arjuno dengan Pusaka Juring Sakti, Ganendra Wisnu Wijaya pun langsung sampai di Padepokan Gunung Lawu ketika masih pagi, ternyata sudah ada seorang yang asing disana menyapu halaman.
"Kang maaf Bapak-bapak yang biasanya nyapu disini kemana?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya
"Oww Beliau sedang sakit den, Aden apakah den Ganendra?" tanya orang tersebut orang tersebut dan balik bertanya
"Betul, kamu siapa?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya
"Saya Jitong den, tukang bersih-bersih yang baru disini" jawab Jitong
"Katanya Pakde Sukir sedang sakit, kenapa diganti Kamu? ucap Arya Sena yang kemudian bertanya. Jitong pun nampak kebingungan
"Oh begini Den, karena Pakde Sukir sudah tidak sanggup bersih-bersih lagi, Saya sekarang yang menggantikan, Aden sendirian saja?" jawab Jitong yang kemudian bertanya lagi
"Iya sendirian aja" jawab Ganendra Wisnu Wijaya yang kemudian masuk kedalam Rumah
"Omongan kug bolak-balik, apalagi tukang bersih-bersih namun memiliki otot yang kencang walau badannya kecil, pancaran tenaga dalamnya juga bagus" gumam Ganendra Wisnu Wijaya yang curiga. Kemudian Dia berkeliling kedalam padepokan dan melihat-lihat sambil mengingat masa kecilnya dulu, rasanya seperti melihat bayang-bayang ketika Dia berlarian dan belajar pukulan dan tendangan disamping beberapa kursi yang tersusun, lalu terbayang dengan Boponya Guru Wijaya Karna yang seolah masih ada. Ada rasa sakit didalam dada ketika mengenang setiap hal dan cerita dimasa lalu yang hampir keseluruhannya adalah kebahagiaan, namun Ganendra Wisnu Wijaya sadar bahwa kehidupan harus tetap berlanjut dan hati harus lebih kuat waktu demi waktu untuk menjaga asa sebuah masa depan.
Kemudian Ganendra Wisnu Wijaya kembali keluar rumah dan bertemu Jitong yang sedang berdiri diteras,
"Kamu lagi ngapain Tong?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya
"Eh iya den, Saya sedang istirahat karena pekerjaan sudah selesai. Aden sendirian? Tidak bersama rombongan?" ucap Jitong
__ADS_1
"Enggak, itu rombonganku sudah didalam rumah tadi sudah masuk, apa kamu gag ngliat pas tadi ada yang lewat sini?" jawab Ganendra Wisnu Wijaya berbohong
"Oh bisa jadi den karena Saya tadi kesumur ngambil air" ucap Jitong sambil ersenyum
"Kalau kamu bisa liat berarti sakti donk kamu, karena Pamanku dan beberapa murid yang terdahulu memakai ajian sepi angin jadi gerakannya sangat cepat jadi tidak mampu dilihat dengan mata orang biasa" jawab Ganendra Wisnu Wijaya berbohong lagi
"Oalahhh bener den, pantesan Saya tidak bisa melihat, jumlah total ada berapa den? Biar Saya siapkan makan atau minuman" jawab Jitong
"Ada 5 tapi tidak perlu Kau siapkan apa-apa karena tadi sudah pada makan dan minum diwarung" jawab Ganendra Wisnu Wijaya sambil tersenyum
"Oww,,Ya sudah kalau begitu den, Saya pamit kebelakang dulu ya den kalau ada apa-apa panggil Saya saja" ucap Jitong
"Baiklah nanti kalau ada apa-apa Saya cari kamu" jawab Ganendra Wisnu Wijaya yang kemudian kembali kedalam rumah, namun beberapa saat ketika Ganendra Wisnu Wijaya sudah masuk kedalam rumah dan duduk santai, tiba-tiba Dia merasakan ada 10 Orang yang sedang bersembunyi dibalik anyaman bambu sebagai pembatas kamar. Kemudian Dia mengeluarkan 10 jarum beracun, lalu melemparkan jarum tersebut dan melesat menembus anyaman Bambu dan seketika kesepuluh berteriak dan minta tolong namun selang berapa menit sudah tidak ada suara lagi, tapi serang berapa saat Ganendra Wisnu Wijaya merasakan ada banyak sekali energi berkumpul didepan lalu samping dan belakang, memang benar saat ini Dia sedang dikepung oleh banyak sekali pendekar yang berpakaian seperti Ninja, tanpa atribut identitas dari aliran mana mereka berasal.
"Siap kang" jawab anak buahnya
"langsung masuk 30 orang, kalau ketemu orang langsung saja habisi" ucap pemimpin itu lagi, Anak buahnya mengangguk dan langsung mengendap-endap masuk
Namun selang berapa saat terdengar suara gaduh dan "Braaakkkkkk" suara sangat keras ternyata semua pintu rusak karena diterjang 30 orang gerombolan Ninja yang terpental dan membentur pintu serta papan kayu yang menjadi dinding rumah itu hingga berserakan, ke 30 orang itu langsung terkapar tak mampu bangun lagi yang dibadannya sekarang berasap seperti habis tersambar petir sontak hal itu membuat para pengepung padepokan kaget, lalu selang berapa saat keluarlah Ganendra Wisnu Wijaya dengan menenteng Pedang Petir
"Jangan bengong, langsung serang" ucap pemimpin kelompok tersebut seketika Mereka semua maju merangseg untuk menyerang Ganendra Wisnu Wijaya namun dengan sekali sabetan beberapa orang yang paling depan langsung terpental berhamburan, yang lain pun semua bingung dan saling melihat, namun mereka hanya dengan sekali sabetan pedang langsung terpental kembali, tapi sisa dari Mereka tetap maju dan bernasib sama, Mereka semua terkapar dan hanya menyisakan Pemimpin kelompok tersebut.
"Kembalilah kepada yang menyuruhmu kesini, suruh Dia menghadapiku, laporkan bahwa semua anak buahmu sudah tidak bernafas" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
__ADS_1
"Ba-baik tuan" jawabnya dengan gugup dan langsung pergi, kemudian Ganendra Wisnu Wijaya menyarungkan pedangnya dan meletakkannya dipunggungnya.
"Kalian sia-sia diperalat oleh orang-orang jahat" ucap Ganendra Wisnu Wijaya lirih. Selang berapa waktu datanglah 3 Orang yang belum pernah Dia temui sebelumnya.
"Wah ternyata Kau hebat juga Anak Muda" ucap salah satu dari Mereka
"Kau ini tidak sopan, seharusnya Kau mengenalkan siapa nama kalian dulu" ucap Ganendra Wisnu Wijaya yang sedang duduk disebuah kursi dari bambu ditaman
"Hahaha,,, nanti Kau bisa lari ketakutan" ucapnya
"Kami adalah Tiga Serangkai dari Pantai Utara, Aku adalah Ronggo, Aku adalah Simo, dan Aku adalah Gotri" ucap Mereka bergantian
"Baiklah tapi mohon maaf, Aku biasa saja jadi Aku gag perlu lari kabur kan" jawab Ganendra Wisnu Wijaya , setelah itu tiga serangkai dari pantai utara langsung menyerang Ganendra Wisnu Wijaya bergantian, Mereka adalah pendekar-pendekar hebat dari aliran hitam, namun diluar dugaan Mereka, ternyata Ganendra Wisnu Wijaya mampu bertahan dari semua jurus yang mereka lakukan namun Ganendra Wisnu Wijaya juga terlihat kepayahan saat menghadapi Mereka, beberapa jurus dan serangan yang saling Mereka lancarkan dapat saling diatasi, namun ketika salah satu dari Mereka lengah Ajian Tapak Besi dari Ganendra Wisnu Wijaya pun mendarat didada salah satu dari mereka yang membuatnya langsung mengalami luka dalam yang lumayan serius.
"Bagaimana Ronggo keadaanmu?" tanya Gotri
"Dadaku rasanya seperti mau terbakar, sakit dan sangat panas" ucap Ronggo setelah dilihat ternyata ada bekas telapak tangan yang menghitam didadanya
"Ini Ajian Tapak Besi, padahal Aku mendengar bahwa Padepokan Tapak Besi sudah dihancurkan oleh Gagak Ireng, Kita harus hati-hati" ucap Simo
"Maaf Ronggo lukamu sangat parah" ucap Gotri, namun Ronggo sudah tidak mampu menjawab, Dia hanya tergulai lemas menahan rasa sakit didadanya
"Serang lagi saja Gotri" ucap Simo lalu Mereka langsung melancarkan serangan kepada Ganendra Wisnu Wijaya tapi nampak serangan tersebut tidak berarti apa-apa Ganendra Wisnu Wijaya hanya menangkis dan menghindar dengan sangat mudah karena Dia tinggal melawan 2 orang saja, setelah itu Gotri terkena serangan Tapak Besi lagi, Dia pun langsung terpental dan mengerang kesakitan.
__ADS_1