
"Bagus Nak Ganendra Wisnu Wijaya , semoga strategi itu dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan apa yang Nak Ganendra Wisnu rencanakan, malam ini tidur lah disini beristirahat sejenak dan melihat murid-murid disini berlatih, siapa tau Jika ada salah satu dari mereka yang Nak Ganendra Wisnu anggap mampu untuk melakukan sebuah misi bawalah nak" ucap Guru Dirgajaya
"Terima Kasih banyak Bopo, tapi untuk saat ini Saya masih akan bergerak sendiri dulu Bopo karena Saya belum mengetahui secara menyeluruh sistem dan jumlah kekuatan mereka disatu daerah, Jadi Saya harus berani mengambil resiko dalam hal ini tanpa melibatkan orang lain dulu untuk sementara waktu" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
"Baiklah kalau itu sudah menjadi pertimbangan Nak Ganendra, Bopo cuma bisa mendoakan dan memberi Restu saja" ujar Guru Dirgajaya
"Aamiin terima kasih Bopo" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
"Paman yakin padamu nak, maafkan paman yang tak mampu membantu apapun untukmu" ujar Guru Gunawan
"Paman Guru ini bicara apa, sejak Aku masih kecil Paman Guru Gunawan selalu mengajariku banyak hal sehingga sekarang Aku dapat meramu obat-obatan dan paham dengan tanaman obat yang ada dihutan, Paman Guru juga dulu sangat sabar kepadaku. Aku bersyukur hidup dikelilingan Orang-orang baik yang penuh cinta dan kasih sayang" jawab Ganendra Wisnu Wijaya, kemudian mereka pun mulai mengobrol ringan untuk saling menanyakan beberapa hal tentang pengalaman pertempuran dan besok Ganendra Wisnu Wijaya akan pulang ke Lereng Gunung Merapi sesuai perintah Mpu Bagera agar setiap 3 hari Ganendra Wisnu Wijaya harus pulang ke Lereng Gunung Merapi.
"Bagaimana Nak apakah tadi sudah mengobrol dengan Diah Ayu Wardani ?" tanya Guru Dirgajaya
"Sudah Bopo,,,hehe Dinda Diah Ayu Wardani sudah memaafkan Saya Bopo" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
"Diah Ayu memang seperti itu padahal Dia pasti juga ingin bertemu denganmu sejak lama, Diah Ayu sudah banyak menolak para pemuda yang mendekatinya" ujar Guru Dirgajaya
"Mohon maaf Bopo, sepertinya ada tamu tak diundang datang, Saya mohon ijin untuk memberikan sambutan kepada mereka" ucap Ganendra Wisnu Wijaya dan langsung menghilang dari tempat duduknya
"Kemampuan sensor yang sangat luar biasa, Ganendra Wisnu sudah tumbuh dan berkembang melebihi prediksi Saya ternyata" ucap Guru Dirgajaya
***
"Kalian ini mau nyari siapa? mbokya lewat pintu depan dan mengucapkan salam terlebih dahulu kalau masuk pekarangan orang" ucap Ganendra Wisnu Wijaya yang dalam sekejap muncul dihadapan 4 Penyusup yang belum sempat masuk kedalam wilayah Padepokan Gunung Pangrango, mereka terkejut dan langsung bersiaga dengan kuda-kuda serta pasang tempur.
__ADS_1
"Hati-hati dengan orang ini, Dia mampu merasakan kehadiran Kita berarti Dia bukan Orang sembarangan" bisik salah satu dari Mereka, kemudian keempatnya langsung menghunus pedang dan melakukan formasi penyergapan, melakukan penyerangan dua orang dan saling bergantian dengan tempo yang cepat dimaksudkan agar lawan yang diserang kehabisan tenaga, sehingga membuat Ganendra Wisnu Wijaya hanya mampu bertahan menangkis dan menghindari setiap serangan, pada satu serangan Ganendra Wisnu Wijaya sudah terpojok dan keempat pedang mengarah kepadanya dari empat penjuru disekelilingnya
"Tamat riwayat sudah Kau bocah" ucap salah satu penyusup
Namun Ganendra Wisnu Wijaya hanya tersenyum dan ketika tebasan 4 pedang hampir mengenai tubuhnya, Ganendra Wisnu Wijaya mengayunkan Telapak Tangan dengan memutar yang merupakan Jurus Tangisan Angin Topan namun dimodifikasi dengan melakukan gerakan tebasan menggunakan telapak tangan, seketika pedang dari 4 penyusup pun patah semua, belum Mereka sempat menyadari apa yang terjadi serangan Ganendra Wisnu Wijaya dengan Ajian Tapak Besi langsung menghantam tubuh Mereka satu persatu hingga terpental
"Ajian Tapak Besi bukankah ilmu ini sudah punah, Siapa Kau sebenarnya?" teriak salah satu dari mereka, Ganendra Wisnu Wijaya tidak menjawab sama sekali tapi Dia langsung menghabisi satu persatu dari mereka dengan Ajian Gelap Ngampar yang membuat Orang terakhir gemetar dan mengompol ditempat, "Si--siapa Kau sebenarnya?" teriaknya
"Pertanyaan yang tidak berguna sama sekali terucap dari orang sepertimu yang sedang menanti ajalnya" ucap Ganendra Wisnu Wijaya dingin dan melemparkan sebuah jarum tepat dikeningnya yang membuatnya sudah tak mampu bernafas seketika.
"Kemampuan yang sangat luar biasa, Ganendra Wisnu Wijaya baru menggunakan 10% tingkat tenaga dalamnya, pantas saja Dia sangat percaya diri akan mengawali perlawanan seorang diri." gumam Guru Dirgajaya dalam batin ketika menyaksikan Pertempuran Ganendra Wisnu Wijaya dari kejauhan
"Bopo Level penyusup yang masuk kesini semakin meningkat Bopo, harap lebih waspada dan berhati-hati" ucap Arya Sena memecahkan keheningan
"Baiklah Nak mulai besok Bopo akan membagi giliran jaga malam, setiap malam akan ada jadwal para Guru dan Pendekar Senior yang bergiliran agar hal seperti ini bisa diantisipasi" jawab Guru Dirgajaya
"Kalau Saya rasakan mereka bukan dari aliran Gagak Ireng, sepertinya Mereka adalah pendekar bayaran karena sebenarnya mereka sudah menyembunyikan aura keberadaan Mereka Paman Guru. Sementara waktu mungkin Saya akan bermalam disini setelah selesai melakukan misi, karena Saya juga penasaran dengan kejadian dipadepokan ini Paman" jawab Ganendra Wisnu Wijaya, kemudian Mereka kembali masuk kedalam Padepokan, Guru Dirgajaya lantas melakukan rapat darurat bersama para Pendekar Senior Padepokan, para Guru dan para Sesepuh Padepokan Gunung Pangrango.
Dalam rapat tersebut dibahas mengenai serangan dari para panyusup beberapa saat lalu dan Guru Dirgajaya pun menjelaskan beberapa hal tentang kegiatan untuk menanggulangi kejadian yang sama diwaktu mendatang, namun ketika rapat berlangsung ada seseorang yang menatap tajam kepada Ganendra Wisnu Wijaya, seolah ingin memakannya saat itu juga namun Ganendra Wisnu Wijaya hanya diam dan seolah-olah tidak tau apa-apa.
Guru Gunawan yang berada disebelah Ganendra Wisnu Wijaya bisa merasakan hal yang terjadi, namun Guru Gunawan hanya tersenyum saja.
"Menginaplah disini lebih lama, agar Nak Ganendra Wisnu segera tau dan memahami tatapan mata kebencian itu,,,hehehe" ucap Guru Gunawan
"Oh begitu ya Paman, baiklah Paman Guru" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
__ADS_1
"Mumpung disini, ajaklah Diah Ayu Wardani untuk latihan bersama tularkan ilmu kanuraganmu walau cuma sedikit agar minimal Diah Ayu Wardani berada dilevel lebih tinggi dibanding murid dari Padepokan ini agar tidak ada yang mampu membuat Diah Ayu terkesan selain Dirimu,,,hahaha" bisik Guru Gunawan
"Baiklah Paman Guru. Aku paham, tapi Aku belum tau sejauh mana Dinda Diah Ayu Wardani menguasai ilmu kanuragan" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
"Kamu ini jangan terlalu polos, ajak saja latih tanding berdua" ucap Guru Gunawan
"Wah betul sekali Paman Guru, Aku sampai tidak kepikiran sama sekali,,, hehehe" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
"Kamu hanya kurang pengalaman saja,,haha" ucap Guru Gunawan lirih.
Kemudian rapat darurat sudah selesai dan kebanyakan dari mereka berkumpul dihalaman, termasuk Ganendra Wisnu Wijaya yang tengah mengobrol dengan kedua pamannya yaitu Guru Gunawan dan Pamannya Tejarana
"Besok kalau Paman ikut pulang sebentar apa boleh?" ucap Tejarana
"Boleh dong Paman, pasti nanti Kakek, Nenek dan Ibu sangat senang" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
"Baiklah besok aku akan pulang bersamamu" jawab Tejarana, ketika mereka tengah asik mengobrol tiba-tiba Diah Ayu Wardani muncul dan ikut mengobrol bersama Mereka.
"Hallo Paman Guru Gunawan, Paman Tejarana tadi ada rapat darurat ya Paman?" tanya Diah Ayu Wardani
"Paman gag mau jawab ah, Nak Diah Ayu Wardani tanya sama Ganendra Wisnu saja" jawab Tejarana
"Laah Kok gitu sih, Paman Tejarana jahat ih, Aku tanya sama Paman Gunawan saja kalau begitu, Bagaimana Paman?" ucap Diah Ayu Wardani
"Tolong dijawabkan Nak Ganendra Wisnu Wijaya, mewakili Paman ya" jawab Guru Gunawan, nampak wajah Diah Ayu Wardani langsung memerah karena malu dan bibirnya langsung manyun.
__ADS_1
"Iya Dinda tadi ada rapat darurat karena ada penyusup 4 Orang jadi Padepokan harus lebih waspada, Dinda Diah Ayu juga harus lebih giat latihan lagi agar kemampuan kanuragan semakin meningkat" jawab Ganendra Wisnu Wijaya sambil tersenyum lepas.