
Setelah mengobrol dan membahas tentang beberapa aliran Silat ditanah jawa, kemudian Guru Gunawan tiba-tiba menyebut seorang pendekar aliran hitam namun sangat disegani oleh seluruh pendekar baik dari aliran putih maupun aliran hitam. Dia adalah Guru Sulung, Seorang pendekar dengan kesaktian yang luar biasa dan menjadi Legenda pada jamannya, karena Dia belum pernah kalah dalam pertarungan, namanya sangat disegani ketika itu.
"Siapakah sebenarnya Guru Wongso itu Paman? Aku sudah mendengar tentang legenda Guru Wongso tapi belum benar-benar paham" tanya Ganendra Wisnu Wijaya
"Guru Wongso adalah seseorang yang masih keturunan bangsawan dari Kerajaan Jawa dimasa lalu, beliau sangat gemar berlatih beladiri sejak kecil, hampir semua aliran ilmu kanuragan pernah Dia pelajari, sehingga membuatnya sangat sakti namun Beliau ketika masih muda sangat angkuh dan sombong, karena beliau juga memiliki Pedang Petir, sebuah pedang legendaris pada saat itu namun sekarang tak tau entah dimana dan siapa tuannya.
Satu ketika karena Guru Wongso tidak menemukan lawan yang seimbang kemudian menantang seorang Pendekar dari aliran putih Beliau adalah Mpu Sagara Kakekmu ketika masih muda, saat itu karena Guru Wongso tidak pernah mengalami kekalahan dalam pertarungan namun ketika bertarung dengan Mpu Sagara, Dia dibuat frustasi oleh Mpu Sagara karena pertarungan tak kunjung usai walau sudah 3hari 3malam Mereka bertarung, sesekali Mereka berhenti bertarung hanya untuk makan, lalu setelah makan mereka bertarung lagi, dan kejadian itu berlangsung selama 3hari dan karena kejadian tersebut malah membuat ikatan antara Guru Wongso dan Mpu Sagara semakin akrab dan dari pertarungan itu Mereka malah bisa saling memahami satu sama lain.
Pertarungan pun berhenti walau keduanya sama-sama terluka tapi berakhir dengan tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah karena Mereka memang sama-sama hebat, dari pertarungan itu Guru Wongso seakan tersadar dengan kesalahan dan kekeliruannya dalam memahami tentang ilmu dan menjadi hebat.
Sejak saat itulah aliran putih dan aliran hitam dapat hidup berdampingan karena setiap ada pertikaian antara aliran hitam dan aliran putih maka yang akan menyelesaikan dari masalah tersebut adalah 2 pendekar yang memiliki ikatan persahabatan sangat erat,yaitu Guru Wongso dan Mpu Sagara, karena Guru Wongso sangat dihormati dan disegani dilingkup aliran Hitam, sedangkan Mpu Sagara sangat disegani dilingkup aliran putih jadi pada akhirnya kehidupan menjadi sangat damai sekali saat itu. Tapi setelah bertahun-tahun lamanya kemudian tersiar kabar bahwa Guru Wongso dihabisi dengan diracun yang sangat hebat oleh muridnya sendiri, hanya Murid yang sangat biadab yang tega meracuni Gurunya sendiri" ucap Guru Gunawan
"Apakah tidak ada satupun murid dipadepokan yang setia kepadanya Paman?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya
"Guru Wongso itu karakternya mirip Mpu Bagera jadi tidak sembarangan mengangkat murid dan tidak banyak juga ketika mengangkat murid, jadi Paman mendengar jika murid Guru Wongso hanya berjumlah 3orang" jawab Guru Gunawan
"Apakah mungkin bahwa Mereka bertiga semalam adalah 3 Guru Utama dari Padepokan Gagak Ireng Pusat yang merupakan murid Guru Wongso" batin Ganendra Wisnu Wijaya
"Yang paling menjadi perhatian ketika kabar itu menyebar adalah keberadaan Pedang Petir karena menurut kabar yang beredar dari 3 muridnya tidak ada yang berhasil menemukan pedang tersebut" ucap Guru Dirgajaya .
"Betul sekali Kakang Dirgajaya karena yang bisa mengimbangi dan menetraliris kekuatan dari Pedang Petir adalah Pedang Langit" ucap Guru Gunawan
__ADS_1
"Pedang Petir Bopo? Apakah pedang tersebut benar-benar ada Bopo?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya
"Walaupun Aku belum pernah melihat pedang tersebut selama ini, namun Aku percaya jika pedang itu ada, karena Mpu Sagara sendiri yang bercerita tentang Pedang tersebut karena Guru Sagara pernah dititipi Pedang Petir oleh Guru Wongso ketika masih muda dulu katanya" jawab Guru Dirgajaya
"Kalau Pedang Langit? Sehebat Apakah Pedang Langit itu Bopo?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya yang penasaran karena ketika Ganendra Wisnu Wijaya menggunakan Pedang Langit, Dia merasa Pedang Langit seperti pedang-pedang pada umumnya
"Pedang Langit itu juga benar ada, Guru Sagara bisa mengimbangi kehebatan Guru Wongso juga karena memiliki Pedang Langit, Pedang Langit itu jika dilihat seperti pedang pada umumnya namun jika digunakan untuk bertarung seakan sangat ringan karena dapat meredam setiap getaran jadi rasanya jika menggunakan Pedang Langit saat bertarung rasanya seperti ketika Kita menggunakan pedang kayu saat kita latih tanding ilmu pedang. Pedang Langit mampu menetralisir Kekuatan Pedang Petir, jadi jika Pedang Petir diadu dengan Pedang Langit maka kekuatannya seakan menghilang, menurut Legendanya Pedang Petir dan Pedang Langit dulunya adalah milik sepasang Pendekar yang tak terkalahkan yang berasal dari Negeri Sebrang, jadi Pedang Petir adalah pedang dari Pendekar laki-laki sedangkang Pedang Langit adalah senjata dari Pendekar Wanitanya, Mereka sangat tersohor dimasa lalu namun cerita tentang mereka digenerasi sekarang seakan menjadi sebuah mitos belaka, Aku sendiri tak bisa memastikan secara tepat kapan jaman kedua Pendekar itu berada karena keberadaan Mereka seperti sebuah dongeng" ucap Guru Dirgajaya penjelasan tersebut membuat Ganendra Wisnu Wijaya sangat kaget karena yang diceritakan Guru Dirgajaya sama persis dengan yang Arya Sena rasakan ketika menggunakan Pedang Langit , jadi membuat Ganendra Wisnu Wijaya hanya terdiam dan berfikir tentang Pedang Petir. Dan tak terasa waktu semakin larut kemudian Mereka memutuskan untuk keluar memeriksa kondisi murid-murid yang sedang melakukan jaga malam.
***
"Sepertinya kondisi aman terkendali Adimas Gunawan, kalau begitu Kita mending istirahat saja, Saya akan bermeditasi diruang meditasi" ucap Guru Dirgajaya
"Baik Kakang, silahkan Aku akan istirahat dulu dikamar" jawab Guru Gunawan
***
Pagi harinya Ganendra Wisnu Wijaya langsung latihan pernafasan pagi dan melatih beberapa jurus sedangkan Diah Ayu Wardani sedang berada didapur untuk membantu Nyai Eis ibunya dan para bibi untuk menyiapkan makanan untuk para murid-murid. Ganendra Wisnu Wijaya setelah selesai latihan kemudian duduk di Taman Padepokan sekalian pemulihan energy, setelah sesaat kemudian Diah Ayu Wardani keluar dari Dapur dan langsung menghampirinya.
"Selamat Pagi Kakang" ucap Diah Ayu Wardani
"Pagi Dinda, sudah selesai masaknya?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya
__ADS_1
"Sudah Kakang, Apakah Kakang sudah selesai latihannya? Apa ada waktu untuk mengajari Dinda beberapa jurus?" tanya Diah Ayu Wardani
"Baiklah Ayo akan Kakang ajari beberapa jurus untuk Dinda" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
"Baik Kakang" jawab Ganendra Wisnu Wijaya dengan antusias, kemudian Ganendra Wisnu Wijaya mengajari Diah Ayu Wardani tentang dasar-dasar ilmu pedang yang sedikit berbeda.
"Dari aliran mana ini Kakang? karena sedikit banyak berbeda dibandingkan dengan yang pernah Dinda pelajari" tanya Diah Ayu Wardani
"Anggap saja ini aliran dari Negeri sebrang agar Dinda tidak terbebani karena tidak boleh dipilah-pilah tehniknya harus bercampur dengan yang sudah dipelajari maka tehniknya akan menyesuaikan dengan tubuh Kita jadi tidak usah difikirkan Dinda" jawab Ganendra Wisnu Wijaya menjelaskan
"Baik Kakang" ucap Diah Ayu Wardani kemudian mereka terus berlatih, daya tangkap Diah Ayu Wardani sangat cepat dalam berlatih setiap gerakan dan jurus yang diajarkan kepada Diah Ayu Wardani langsung bisa menguasai dan bergerak sangat indah sekali.
"Luar biasa, ini memang bakat alam, bisa jadi karena faktor keturunan dari kedua orang tuanya, Dinda Diah Ayu sangat menikmati gerakan-gerakan yang Dia peragakan" batin Ganendra Wisnu Wijaya, dan ternyata latihan itu dilihat oleh Guru Dirgajaya
"Ganendra memang sangat berbakat namun berbudi luhur walaupun level tehniknya lebih tinggi namun tidak merendahkan apa yang sudah dipelajari Diah Ayu Wardani" gumam Guru Dirgajaya, setelah beberapa saat kemudian latihan telah selesai lalu terlihat Ganendra Wisnu Wijaya dan Diah Ayu Wardani berbincang ditaman sambil bercanda.
"Kakang nanti akan pulang sebentar ke Lereng Merapi, apakah Dinda ingin ikut?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya
"Kalau diperbolehkan oleh Bopo dan Ibu, Dinda ikut Kakang" jawab Diah Ayu Wardani
"Baiklah nanti Dinda bertanya kepada Bopo dan Ibu dulu, mari Kita mandi dulu saja lalu sarapan Dinda" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
__ADS_1
"Baik Kakang, Dinda pergi dulu ya nanti ketemu lagi" jawab Diah Ayu Wardani sumringah dan langsung masuk kepondok rumahnya, sedangkan Ganendra Wisnu Wijaya kembali kekamarnya.