Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta

Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta
Kembali Pulang


__ADS_3

"Baik Kakang Ganendra Wisnu, Aku akan giat berlatih agar semakin kuat nantinya" jawab Diah Ayu Wardani sambil menahan malu


"Berlatihlah dengan Ganendra Wisnu Wijaya, Dia pantas untuk mengajarimu selain Silatnya sangat hebat Dia kan juga calon suamimu, jadi semua bukan masalah" ucap Tejarana, seketika wajah Diah Ayu Wardani langsung memerah lagi karena malu.


"Begini saja, kalian bisa latih tanding dulu untuk mengukur kemampuan masing-masing terlebih dahulu" ujar Guru Gunawan


"Ide bagus Paman Guru, besok sore saja karena besok pagi Aku dan Paman Tejarana harus pulang dulu ke Lereng Merapi, sore harinya Aku balik kesini, gimana Dinda?" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Baiklah Kakang besok sore Aku tunggu Kakang disini" jawab Diah Ayu Wardani


"Baiklah biar besok Paman menjadi wasit latih tanding kalian" ucap Guru Gunawan


"Baik Paman, kalau begitu Aku mau tidur dulu karena sudah larut malam" ucap Diah Ayu Wardani yang langsung masuk kedalam kamarnya.


"Mari Paman Kita juga harus istirahat karena besok pagi Kita harus bangun lebih awal" ucap Ganendra Wisnu Wijaya, kemudian mereka pun beranjak dari duduknya lalu masuk kekamar untuk beristirahat.


***


"Kenapa jantungku rasanya berdetak cepat sekali setelah tadi Paman Tejarana menyuruhku latih tanding melawan Kakang Ganendra Wisnu Wijaya, ini sangat membingungkan rasanya juga ketika didekat Kakang Ganendra Wisnu Wijaya merasa sangat nyaman" gumam Diah Ayu Wardani sambil mengacak-acak rambutnya dan mulai memejamkan mata.


***


Setelah pagi Ganendra Wisnu Wijaya sudah bersiap-siap lalu berpamitan kepada Guru Dirgajaya yang sedang melakukan senam pernafasan dihalaman Padepokan Gunung Pangrango


"Bopo Saya dan Paman Tejarana mohon pamit untuk pulang ke Lereng Merapi, Saya sore akan kembali tapi Paman Tejarana mungkin beberapa hari akan tinggal disana terlebih dahulu" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Baiklah tidak apa-apa, hati-hati dan salam untuk Guru Bagera, Nenekmu dan Nyai Maharani Ibumu" ucap Guru Dirgajaya


"Kakang jangan lupa nanti sore janjimu untuk latih tanding denganku" teriak Sukma dari belakang


"Baik Dinda" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Kakang Dirgajaya, Aku pamit pulang dulu" ucap Tejarana


"Baik Adimas Tejarana, hati-hati dan salam untuk Guru Bagera dan Nyai Bagera" jawab Guru Dirgajaya


"Mohon pamit Bopo, Dinda, Kakang pergi dulu" ucap Ganendra Wisnu Wijaya lalu Ganendra Wisnu Wijaya dan Tejarana menghilang dari pandangan mata.

__ADS_1


"Jangan sedih begitu, nanti sore Ganendra Wisnu sudah balik kesini,,hehehe" ucap Guru Dirgajaya menggoda Diah Ayu Wardani


"Bopo ih, apasih" jawab Diah Ayu Wardani dengan wajah memerah lalu pergi kedapur untuk membantu memasak.


"Akhirnya mereka dapat bertemu dan mulai akrab, semoga kesepakatan Kita dulu berjalan dengan lancar Kakang Wijaya Karna dan membawa kebaikan untuk Kita Semua agar Kau tenang disana Kakang Wijaya Karna" gumam Guru Dirgajaya


***


Dengan sekejap Ganendra Wisnu Wijaya dan Tejarana sudah sampai dirumah Lereng Gunung Merapi dan bergegas masuk kedalam tapi baru sampai depan pintu langsung ada suara.


"Kalian mau kemana, disini saja menemaniku minum teh sambil makan singkong bakar buatan Maharani" ucap Mpu Bagera


"hadeeehhh,,, Kakek selalu memakai ilmu Halimunan, Kita kan jadi gag bisa lihat" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Hahaha,,, Kalian saja yang ilmu sensornya masih tumpul,, hahaha" jawab Mpu Bagera


"Gimana kabarnya Bopo?Sehat kan?" tanya Tejarana yang kemudian memeluk Mpu Bilowo


"Sehat Anakku, Ibumu ada didapur bersama Mbakyumu Maharani sedang menanak nasi, bagimana apa sudah memiliki calon istri? Hahaha" ucap Mpu Bagera


"Doakan saja Bopo, semoga segera bertemu dengan jodoh sejati" ucap Tejarana


"Lho yang ditunggu sudah datang ternyata" ucap Nyai Bagera


"Iya Nenek, Kami baru saja sampai" ucap Ganendra Wisnu Wijaya sambil memeluk Neneknya


"Gimana Bu sehat kan?" ucap Tejarana lalu memeluk Ibunya.


"Sehat kalau sudah tua kan yang terpenting itu dan menunggu menantu wanita kapan datang." jawab Nyai Bagera


"Secepatnya Ibu semoga segera" ucap Tejarana


"Aamiin" ucap Nyai Maharani yang muncul dari dalam rumah sambil membawa Teh hangat diatas nampan.


"Ibu gimana kabarnya?" ucap Ganendra Wisnu Wijaya sambil memeluk Ibunya setelah meletakkan nampan diatas meja.


"Sehat Nak, gimana kabarmu dan calon mantu Ibu?" tanya Nyai Maharani

__ADS_1


"Sehat Bu, Diah Ayu Wardani setelah besar sangat cantik tapi agak judes" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Hehehe,,, Betulkah? Bagus donk wanita memang harus judes ketika awal ketemu biar tidak mudah didekati laki-laki" jawab Nyai Maharani


"Mbakyu benar, Sukma banyak yang mendekati tapi Keponakanku saja ketika baru datang sudah membuat masalah,,, hahaha" ucap Tejarana, lalu menceritakan tentang awal kedatangan Ganendra Wisnu Wijaya yang salah muncul di kamar Diah Ayu Wardani


"Hahaha,,, Dasar, pantas saja Diah Ayu Wardani marah" ucap Nyai Maharani dan Mereka berlanjut berseda-gurau untuk melepas rindu karena lama tak bertemu.


***


Sementara di Kerajaan Nagari Patih Lodaya sedang marah-marah karena ulah dari Si Sableng Bertopeng yang sangat meresahkan, dari sekian banyak informasi Dia tidak bisa menyimpulkan dari aliran mana Dia berasal karena Tehnik Silat dan semua yang ada dalam dirinya tidak pernah Patih Lodaya temui, sehingga membuatnya frustasi karena sudah banyak menghancurkan basis-basis Gagak Ireng daerah pesisir, karena jika dibiarkan tak butuh waktu lama akan membangkitkan semangat dan keberanian aliran putih yang sudah susah payah Dia matikan.


"Umumkan Sayembara kepada seluruh wilayah kerajaan jika mampu menghabisi Si Sableng Bertopeng akan Aku beri hadiah Emas dan Jabatan sebagai Adipati disebuah wilayah pemekaran" ucap Patih Lodaya kepada seluruh Punggawa Kerajaan Nagari


"Baik Patih Lodaya" ucap Senopati Ronggojoyo yang merupakan Pendekar Sakti aliran hitam yang menjadi Punggawa Kerajaan Nagari


"Tempatkan Pendekar pilih tanding disetiap markas Gagak Ireng dan jangan lupa perketat penjagaan disetiap markas jangan biarkan Si Sableng Bertopeng bertindak semaunya sendiri" perintah Patih Lodaya


***


"Bagaimana misimu Cucuku?" tanya Mpu Bagera


"Bertahap Kakek, ternyata kondisi sudah sangat parah, mereka hampir menguasai segala lini diseluruh Wilayah" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Lalu apa rencananmu selanjutnya Cucuku?" tanya Mpu Bagera


"Begini Kek, Aku sudah berembug dengan Bopo Dirgajaya, Paman Guru Gunawan dan Kakang Argo Baruna tentang niat Saya mendirikan ulang Padepokan di Gunung Arjuno sebagai kode eksistensi aliran putih, dan disana akan menjadi markas dari para pendekar aliran putih untuk melebur menjadi satu dengan Rakyat untuk menguatkan wilayah Lereng Gunung Arjuno hingga tempat Prabu Kertaraja Wiranegara bermukim dan kedepannya Kita harus membentuk kantong basis kekuatan yang saling berdekatan Kek agar mudah berkoordinasi dan saling melindungi" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Bagus Cucuku, jalani semua strategi dengan sabar, ikhlas, jangan sombong dan yang terpenting adalah selalu pasrah kepada Gusti Hamengku Jagad" ucap Mpu Bagera


"Baik Kakek Saya akan ingat selalu pesan dari Kakek" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Kamu kelak akan bertemu dengan Pendekar-pendekar hebat nantinya entah menjadi lawan atau kawan, jadi Kamu harus selalu waspada jangan lengah, selalu giat berlatih untuk memaksimalkan cakra tenaga dalam agar lebih singkron dengan tubuh itu akan sangat membantu dalam setiap pertarunganmu kelak" ucap Mpu Bagera


"Iya Kakek setiap hari Saya juga berlatih dan meditasi untuk menaikkan level Cakra dan kecepatan mata agar lebih tangguh ketika bertarung" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Baiklah teruskan saja latihanmu seperti itu agar kondisimu semakin meningkat, latih lagi improvisasi jurus ciptaanmu untuk karakter Si Sableng Bertopeng agar semakin tidak terdeteksi darimana Kamu berasal" ucap Mpu Bagera

__ADS_1


"Baik Kek, nanti sore Saya balik ke Padepokan Gunung Pangrango ya Kek karena ada janji dengan Dinda Diah Ayu Wardani untuk latih tanding dengannya Kek" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Tidak apa-apa, Kamu sudah besar harus bisa mengatur kegiatanmu sendiri jadi Kakek sudah tidak mempersoalkan kegiatanmu" jawab Mpu Bagera, kemudian Mereka saling bercerita tentang cara berlatih dan bertarung.


__ADS_2