Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta

Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta
Manjing Jiwo Tanpo Winates


__ADS_3

"Berlatih yang giat ya Ganendra" ucap Semua orang melambaikan tangan kepadanya. Kemudian kilauan cahaya bersinar dan dalam sekejap mereka sudah berada didepan sebuah rumah


"Bopo kenapa bisa?dengan ajian apakah tadi Bopo? Karena setahuku Bukan ajian sepi angin yang biasa digunakan" tanya Ganendra Wisnu Wijaya


"itu tadi kita menggunakan Pusaka Juring Sakti nak, seperti ini dan tinggal menyentuh cincin ini, dan memikirkan tujuan kita mau kemana" jawab Guru Wijaya Karna


"Oww semudah itu ya bopo, tanpa kita harus mengeluarkan Tenaga Dalam?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya


"Sebuah pusaka dibuat untuk memudahkan manusia nak" jawab Guru Wijaya Karna


"Lalu siapakah yang membuat pusaka itu bopo?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya lagi


"Ada yang terbuat dari alam, ada juga yang dibuat oleh para Mpu Sakti dan Guru-guru sakti kita terdahulu" jawab Guru Wijaya Karna


"Oh begitu ya Bopo, Aku paham" sambil mengangguk, walaupun masih berusia belia namun Ganendra Wisnu Wijaya sangat tertarik terhadap segala macam yang menyangkut masalah Ilmu Kanuragan.


"Sudah datang rupanya kedua cucuku" suara datang seakan-akan dari udara.


"Salam Hormat kami kepada Guru Bagera" ucap serentak Para Guru yang kemudian berlutut memberi hormat lalu seperti biasa muncul dikursi bersama Istri dan Anaknya Tejarana yang merupakan Pendekar Sakti

__ADS_1


"Sini cu kenalan sama Kakek Dan Nenek" ucap Mpu Bagera kemudian mereka bermain bersama Ganendra Wisnu Wijaya dan Diah Ayu Wardani.


Mpu Bagera dan Istrinya seperti sangat bahagia dengan hari ini, para Guru yang menyaksikan pun tidak tau kenapa bisa mereka begitu sangat bahagia, setelah Mpu Bagera merasa cukup bermain dengan Ganendra Wisnu Wijaya dan Diah Ayu Wardani kemudian Mpu Bagera kembali bergabung dengan Para Guru dari 7 Padepokan aliran Kenaling Rogo dan membiarkan Istrinya bermain dengan kedua Cucunya.


"Mohon maaf Guru dapat salam dari Dinda Maharani, semoga Paman dan Bibi selalu sehat dan bahagia katanya" Ucap Guru Wijaya Karna, mendengar itu Mpu Bagera dan Istrinya malah menangis haru.


"Karena Ganendra Wisnu Wijaya sudah kesini, maka sudah saatnya Kamu turun Gunung putraku Tejarana" ucap Mpu Bagera


"Yang benar bopo? Akhirnya aku bisa melihat dunia luar,,, hehehe" ucap Tejarana


"Pangeran Wijaya Karna sebenarnya istrimu Maharani adalah Anakku, dulu karena Kakang Sagara tak memiliki Putra jadi kemudian Maharani diasuh oleh Kakang Sagara agar bisa menjadi pancingan, tapi ketika Istri Kakang Sagara hamil dirinya malah terbunuh dalam sebuah pertarungan ketika Guru-guru Gagak Ireng menyerang kesini untuk menghancurkan Padepokan dan ternyata Patih Lodaya memiliki dendam terhadap Kakang Sagara karena dulu pernah diusir dari sini dan kemudian menjadi murid dari aliran ilmu hitam untung saja saat itu Maharani dapat diselamatkan" ucap Mpu Bagera


"Mengapa dulu Patih Lodaya diusir Guru, sehingga membuat Dia dendam terhadap Guru Sagara?" tanya Guru Wijaya Karna


"Mohon ampun Bopo, Saya pamit sebentar" ucap Guru Wijaya Karna dan tak berselang lama lalu kembali bersama Nyai Maharani. Setelah sampai disana Nyai Maharani langsung sungkem dan memeluk Ayah ibu dan adiknya lalu meminta maaf kepada Mpu Bagera dan Ibunya.


Sebuah pemandangan yang begitu ironi, disaksikan 7 Murid yang puluhan tahun tidak tau latar belakang dari Gurunya yaitu Mpu Sagara, kemudian mereka mulai mengobrol dan membahas tentang masalah yang sedang dihadapi, kemudian Mpu Bagera memberikan saran tentang strategi yang akan dilakukan.


Setelah semua sudah merasa cukup Para Guru berpamitan untuk kembali kepadepokan masing-masing dan Tejarana juga ikut bersama Guru Wijaya Karna dan Nyai Maharani ke padepokan Gunung Arjuno.

__ADS_1


Setelah mereka berpamitan tak menunggu lama Ganendra Wisnu Wijaya langsung mulai berlatih ditempat khusus, tempat ini oleh Mpu Bagera didesain khusus dengan memperhitungkan letak, mata angin dan disekitarnya ditaruh bebatuan dan kayu khusus untuk mempercepat penetralan power agar mudah dikontrol dan memperkuat jiwa agar wadah ilmu juga menjadi kokoh.


Ketika melihat Ganendra Wisnu Wijaya berlatih Mpu Bagera bisa merasakan aura dahsyat dari dalam tubuh Ganendra Wisnu Wijaya, ini adalah hal yang tidak mudah untuk anak sekecil ini mengontrol sebuah power kanuragan yang begitu besar.


Hanya ada satu cara agar Ganendra Wisnu Wijaya mampu dengan cepat mengontrol apa yang ada dalam dirinya, yaitu mencapai tahapan Manjing Jiwo Tanpo Winates, tahapan itu adalah tingkat tanpa batas dari sebuah kontrol karena jiwanya sudah menyatu dengan Gusti Hamengku Jagad, tapi tahap ini sangat sulit dicapai apa lagi untuk penalaran seusia Ganendra Wisnu Wijaya tapi semua hal patut dicoba karena terbukti dia memiliki sesuatu didalam tubuhnya yang itu diluar logika manusia.


Setelah latihan fisik selesai lalu menjadi latihan kebatinan dengan mengasah batin untuk lebih merasakan kebesaran Gusti Hamengku Jagad sehingga seorang manusia tidak akan memiliki keAKUan didalam dirinya, karena keabadian adalah mutlak milik Gusti Hamengku Jagad.


Dan rutinitas latihan pun lebih intens dan tak terasa sudah beberapa tahun berlalu, Ganendra Wisnu Wijaya sudah berusia Remaja menjadi sosok remaja yang tangkas, otomatis kesaktiannya juga bertambah, pemikiran dan kedewasaan serta mentalnya melebihi seusia dirinya terkadang jika Dia melihat penindasan terutama dari para antek Gagak Ireng dia langsung bertindak walaupun dia harus memakai topeng agar tidak ketahuan jatidirinya, karena Ganendra Wisnu Wijaya sering diam-diam turun Gunung untuk melihat-lihat kondisi.


Hari itu 7 Guru Padepokan aliran Kenaling Rogo kembali berkunjung ke Merapi, sehingga juga menjadi pertemuan Ganendra Wisnu Wijaya dengan Boponya sejak pertama kali diantar ke Merapi,


"Salam Hormat dari kami Guru" ucap Guru Padepokan aliran Kenaling Rogo serentak setelah muncul menggunakan Pusaka Juring Sakti, Nyai Maharani dan Juga Diah Ayu Wardani yang sudah beranjak remaja.


Kemudian mereka melepas Rindu dulu dan para Guru Utama juga sangat penasaran dengan perkembangan Ganendra Wisnu Wijaya lalu Ganendra Wisnu Wijaya dites berapa jurus oleh masing-masing Guru dan diluar dugaan untuk anak seusia Ganendra Wisnu Wijaya memiliki Kanuragan dan kesaktian yang sangat mumpuni, belum tentu Guru Utama dapat mengalahkan Ganendra Wisnu Wijaya saat itu jika bertarung satu lawan satu.


Kemudian giliran melawan Boponya Ganendra Wisnu Wijaya tampak sangat bersemangat dan latihan sparing pun dimulai keduanya sangat berimbang dan saling serang dan bertahan namun akhirnya Guru Wijaya Karna menghentikan dan mengaku kalah, itu semua untuk menutupi kondisinya saat ini, akibat setahun yang lalu dia terkena serangan jarum beracun dari beberapa penyusup yang berhasil masuk lagi ke padepokan, itu disebabkan karena ilmu sirep yang dilakukan oleh para tetua ilmu hitam, karena sekarang pertempuran menjadi lebih frontal, tak ada aturan dan kode etik yang mengatur, jadi siapa yang tidak waspada pasti akan hilang tinggal nama.


"Anakku Pangeran Wijaya Karna aku dapat melihat dengan jelas jika kondisi tubuhmu sedang bermasalah" tebak Mpu Bagera

__ADS_1


"Benar sekali bopo sejak terkena racun tahun lalu, Saya merasa seolah sudah sangat renta" jawab Guru Wijaya Karna, mendengar jawaban itu membuat para Guru Padepokan aliran Kenaling Rogo lainnya kaget sekaligus khawatir, kemudian Mpu Bilowo mengecek kondisi dari Guru Wijaya Karna


"Racun ini sudah menyerang organ vital dan sudah mengendap terlalu lama sehingga merusak jaringan sel tubuhmu" ucap Mpu Bagera tapi kemudian Mpu Bagera menotok 7 titik cakra yang berada di area dada dan punggung, tak selang lama kemudian Guru Wijaya Karna memuntahkan darah berwarna hitam pekat, namun setelah itu kondisinya menjadi lebih baik dibanding sebelumnya.


__ADS_2