
Setelah kembali kedalam Padepokan, ketiganya lantas duduk dan meminta tolong kepada Mpu Bagera
"Semua sudah beres, Bopo tolong batalkan Ajian Gelap Ngampar dari begundal tadi, Kasihan yang tidak kuat karena diluar juga banyak yang tergeletak" ucap Pangeran Gunawan Wibisono
"Baiklah" jawab Mpu Bagera yang kemudian menyatukan tangannya didepan dada, selang beberapa menit Semua Orang pun bangun dan terlihat kebingungan
"Wah Kakek memang benar-benar hebat, Aku belum diajari caranya" ucap Ganendra Wisnu Wijaya yang membuat Mpu Bagera dan Pangeran Gunawan Wibisono tersenyum
"Belum saatnya, tunggu ketika Kau sudah menjadi Raja di Kerajaan Kahuripan" jawab Mpu Bagera
"Hahaha,,, Anakku Pangeran Ganendra Wisnu Wijaya ternyata sangat bersemangat dalam mempelajari ilmu kadigdayaan" ucap Pangeran Gunawan Wibisono
"Baiklah Kakek, mumpung masih muda Ramanda jadi harus banyak belajar" jawab Ganendra Wisnu Wijaya sambil nyengir
"Untung saja Kau ini istimewa jadi wadahmu mampu menampung semua yang Kau pelajari, jika tidak Kau bisa kehilangan akal sehatmu" ucap Mpu Bagera
"Benarkah itu Kakek? Kenapa bisa?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya
"Karena setiap aliran memiliki energi yang berbeda jadi membuat syaraf terganggu, karena tubuh dan wadahnya tidak kuat menahan guncangan energi didalam tubuhnya" jawab Mpu Bagera yang membuat Ganendra Wisnu Wijaya nampak terkejut
"Seperti Patih Lodaya, Aku mendengar Dia mempelajari hampir semua aliran ilmu sehingga terkadang Dia bertingkah aneh, Aku pernah mendapatkan cerita dari seorang pengembara yang sakti yang tidak sengaja bertemu Patih Lodaya ketika sedang bertingkah aneh, namun entah pengembara itu sekarang masih hidup atau tidak karena usianya dan usiaku terpaut beberapa tahun lebih tua dirinya" ucap Pangeran Rajasawira Prawirabuana
"Benarkah itu Kakek? Berarti kabar jika Patih Lodaya bukan pendekar sakti adalah berita bohong?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya
"Itu tidak benar Pangeran karena Aku pernah berhadapan dengan Patih Lodaya ketika Dia masih menjadi Senopati, ketika Kerajaan Nagari menyerang Kerajaan Kahuripan, saat itu Patihnya bukan Lodaya, Dia menjadi Patih ketika Prabu Kertaraja Wiranegara menjadi Raja di Kerajaan Nagari" jawab Pangeran Rajasawira Prawirabuana
"Kalau Patih Lodaya tidak sakti, Dia tidak mungkin bisa mengelabui Kakang Sagara dengan Ajian Ilusinya, Kakang Sagara bisa terkena Ajian ilusi karena saat itu sedang tidak sehat dan diberi racun lewat makanan oleh Patih Lodaya jadi tubuhnya sangat lemah dengan usia yang tidak lagi muda. Saat itu Guru Dirgajaya sudah kembali kesini dan 6 lainnya termasuk Bopomu sudah mendirikan Padepokan sendiri-sendiri" ucap Mpu Bagera
__ADS_1
"Ajian Ilusi, seperti apa itu Kek?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya
"Ajian ilusi bisa membuat Orang berhalusinasi namun dapat merasakan sakit seperti didunia nyata yang bisa menyebabkan yang terkena Ajian itu kehilangan nyawa" jawab Mpu Bagera
"Bagaimana cara melawannya Kek?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya lagi
"Dengan Kau juga mempelajari Ajian itu lalu baru bisa mempelajari Ajian Sukma Sejati" jawab Mpu Bagera
"Ke Siapa Aku bisa mempelajari itu Kek?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya lagi
"Kepada Kakekmu Mpu Bagera" ucap Tejarana yang membuat semua yang ada disitu kaget
"Kalian jangan berfikir yang aneh-aneh, Aku menguasai beberapa Ajian yang hebat namun Aku tidak bisa dan tidak boleh secara langsung menghancurkan Kerajaan Nagari karena jika Aku melakukan itu, sama saja Aku melanggar sumpahku sendiri, seperti apa sumpahku biarkan hanya Aku dan Yang Maha Kuasa yang tau" ucap Mpu Bagera yang membuat raut wajah yang ada disitu merasa tidak enak karena Mpu Bagera berhasil membaca pikiran Mereka, sementara Tejarana hanya tertawa melihat apa yang terjadi
"Sudahlah bukan kesalahan yang berfikiran seperti itu, ini sesuai logika semua Orang namun ada hal yang tidak diketahui, Aku pun juga tidak boleh menyerang Kerajaan Nagari secara langsung" ucap Tejarana
"Biarkan Bopo saja yang menjawab" jawab Tejarana
"Nasab Keturunan bangsawanmu lebih Kuat dari Kerajaan Kahuripan karena Bopomu adalah Putra Mahkota Kerajaan Kahuripan, sedangkan kebangsawananmu dari Kerajaan Nagari adalah dari Ibumu, jadi Kau tidak memiliki Hak di Kerajaan Nagari sehingga membatalkan kewajibanmu dalam hal menjaga kelangsungan Kerajaan Nagari" jawab Mpu Bagera
"Oww,, begitu ya Kek, Aku paham Kek" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Namun Aku sangat kaget dengan kejadian tadi ketika Diah Ayu Wardani tidak terpengaruh dengan Ajian Gelap Ngampar dari penyusup tadi" ucap Guru Dirgajaya
"Jangan terlalu memandang rendah Anakmu sendiri, Dia sudah berada dilevel yang berbeda" jawab Mpu Bagera, Diah Ayu Wardani hanya tersenyum saja mendengarnya karena tidak tau harus menjawab bagaimana
"Perkembanganmu sangat pesat Anakku semenjak dilatih Oleh Bopo Bagera" ucap Guru Dirgajaya
__ADS_1
"Aku juga kaget Bopo, karena Aku hanya merasa tubuhku semakin bagus staminanya, terima kasih banyak Kakek atas bimbingannya" jawab Diah Ayu Wardani
"Tidak perlu berterima kasih, Kau ini cucuku jadi sudan menjadi kewajiban seorang Kakek untuk menyiapkan Cucunya untuk mengarungi Dunia yang belantara ini" jawab Mpu Bagera
"Hari sudah semakin sore, sebaiknya Kita semua mandi dan beritirahat" ucap Guru Dirgajaya
"Memang waktu tak terasa jika obrolan Kita penuh manfaat, kalau begitu Aku mohon pamit Guru karena Aku harus segera melaporkan kepada Sang Prabu Sanjaya Surawisesa tentang penyerangan tadi, prajuritku saja tadi pingsan berarti Aku akan membawa Prajuritku kembali ke Kerajaan Sundapura Guru karena bukan level Mereka juga jika tetap disini" ucap Senopati Arya Lodra
"Itu terserah padamu Senopati Arya Lodra, sampaikan salam Kami kepada Sang Prabu, dalam waktu dekat Aku akan menghadap kepada Sang Prabu Sanjaya Surawisesa di Kerajaan Sundapura" jawab Guru Dirgajaya
"Baik Guru akan Saya sampaikan kepada Sang Prabu, Saya mohon pamit" ucap Senopati Arya Lodra kemudian menyalami satu-satu
"Selamat menempuh Hidup Baru Pangeran Ganendra Wisnu Wijaya, semoga langgeng dan selalu bahagia" ucap Senopati Arya Lodra ketika berjabat tangan dengan Ganendra Wisnu Wijaya
"Terima Kasih Senopati Arya Lodra, sampai jumpa dilain kesempatan" jawab Ganendra Wisnu Wijaya kemudian Senopati Arya Lodra meninggalkan Padepokan Gunung Pangrango bersama para prajuritnya
"Jangan lupa Nak Ganendra, kamarmu dan kamar Diah Ayu Wardani sudah sama didalam rumah jangan kembali kekamar lamamu karena semua pakaianmu sudah dipindahkan, tapi bisa Kau cek dulu kamar lamamu jika ada yang tertinggal" ucap Guru Dirgajaya
"Hehehe,,, Baik Bopo" jawab Ganendra Wisnu Wijaya sumringah kemudian Mereka semua membubarkan diri
***
"Maafkan Kami Sang Patih karena Kami gagal melaksanakan misi hari ini" ucap salah satu dari Mereka
"Kegagalan tetap akan menjadi kegagalan, Kalian harus diberi hukuman, Mereka harus mendapatkan hukuman yang setimpal" ucap Patih Lodaya
"Ampuni Kami Sang Patih" ucap salah satu dari Mereka msmohon ampunan
__ADS_1
"Bawa Mereka" ucap Patih Lodaya, setelah itu Mereka msncoba melawan namun Patih Lodaya langsung mengeluarkan Ajian Ilusi, seketika 3 orang tadi langsung tergeletak lalu tak berdaya dan seketika langsung dibawa dan dieksekusi oleh para Anak Buahnya karena didalam Kamus Hidup Patih Lodaya, Kegagalan adalah sebuah penghinaan kepada Padepokan