Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta

Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta
Menanti Hari H


__ADS_3

Dan Malam harinya ketika hendak tidur, Guru Dirgajaya dan istrinya mengobrol didalam Kamar membahas tentang pernikahan antara Ganendra Wisnu Wijaya dan Diah Ayu Wardani yang dalam waktu dekat berlangsung


"Kakang Dinda ingin bertanya, apakah sudah ikhlas dengan pernikahan Anak Kita Diah Ayu Wardani?" tanya Nyai Dirgajaya


"Tentu saja sudah Dinda, karena semua sudah ditentukan sejak Diah Ayu Wardani lahir walau awalnya agak khawatir jika Anak Kita menjalaninya dengan terpaksa tapi Kakang sangat bersyukur karena Kakang lihat bahwa Mereka saling mencintai" jawab Guru Dirgajaya


"Benar sekali Kakang, awalnya Dinda takut juga dalam hal itu namun saat melihat cara Pangeran Ganendra Wisnu Wijaya memperlakukan Anak Kita membuat hati Dinda sangat bahagia" ucap Nyai Dirgajaya


"Aku tak pernah menyangka bahwa latar belakang Kakang seperguruanku dan Guruku ternyata berasal dari trah darah biru, sedangkan Kita dari Rakyat biasa walau Kakek Buyut dulu masih kerabat dari Raja Kerajaan Sundapura terdahulu namun silsilah Kita sudah menghilang" jawab Guru Dirgajaya


"Iya Kakang, Aku sangat bersyukur memiliki menantu seperti Pangeran Ganendra Wisnu Wijaya yang berbudi luhur dan juga sangat baik jadi bukan karena statusnya, toh pada awalnya Kita tidak pernah tau jika Pangeran Ganendra Wisnu Wijaya adalah pewaris dari Kerajaan Kahuripan" ucap Nyai Dirgajaya


"Benar sekali Dinda, yang membuatku kaget tadi ketika bertemu dengan Sang Patih dari Kerajaan Sundapura menceritakan tentang Pangeran Ganendra Wisnu Wijaya adalah Warga Kehormatan Kerajaaan Sundapura sehingga kemarin Sang Prabu Sanjaya Surawisesa memberikan mahar untuk pernikahan Anak Kita sangat banyak, itu bisa digunakan untuk membangun Padepokan yang kokoh nantinya, karena Padepokan Kita kan tidak pernah menuntut bayaran dari para murid dan Kita selalu menolak jika ada yang ingin menyewa Pendekar dari Padepokan Kita jika itu orang-orang yang latar belakangnya kurang baik, walaupun Mereka menawarkan biaya sewa yang sangat tinggi, biarkan para Pendekar dari sini memilih jalan hidupnya ketika sudah lulus dari sini, walaupun lebih banyak dari para Murid Kita menjadi senopati di Kerajaan Sundapura qdan beberapa tersebar dikadipaten ataupun Mereka memilih menjadi pedagang keluar wilayah, yang terpenting Kita tidak pernah memanfaatkan Mereka menjadi ladang penghasilan untuk Padepokan Kita" ucap Guru Dirgajaya


"Tapi buktinya walau Mereka sudah tidak kesini terkadang masih memberikan hadiah emas atau bahan makanan untuk adik-adik seperguruan Mereka Kakang" jawab Nyai Dirgajaya


"Benar sekali Dinda, karena Mereka tidak lupa dari mana Mereka berasal namun yang terpenting buat Kita adalah Kita tidak pernah berharap apapun dari Mereka karena melihat Mereka hidup tidak kesusahan sudah merupakan hal yang sangat membahagiakan untukku" ucap Guru Dirgajaya


"Apakah nantinya Diah Ayu anak Kita akan diboyong ke Kahuripan oleh Pangeran Ganendra Wisnu Wijaya Kakang?" tanya Nyai Dirgajaya


"Sepertinya begitu namun Aku tidak tau pasti wacana kedepannya seperti apa, karena Bopo Bagera juga sangat susah ditebak, Beliau sangat waskito jadi kedepannya seperti apa sangat susah diprediksi pergerakannya" jawab Guru Dirgajaya


"Semoga Mereka selalu diberikan Perlindungan dan keselamatan" ucap Nyai Dirgajaya

__ADS_1


"Aamiin,,, Oh iya Dinda bagaimana dengan keadaan kandunganmu?" tanya Guru Dirgajaya


"Syukur Sehat Kakang, sudah mulai besar juga Kandunganku" jawab Nyai Dirgajaya


"Nak sehat-sehat ya, kelak jadilah Orang yang berbudi luhur baik, berjiwa Kesatria dan berguna buat Dunia ini" ucap Guru Dirgajaya dengan mendekatkan kepalanya diperut istrinya sambil mengelus-elus perut Istrinya


"Aamiin" jawab Nyai Dirgajaya sambil mengusap perutnya


"Sudah larut malam Dinda, mari Kita istirahat" ucap Guru Dirgajaya


"Baik Kakang, Aku akan mematikan sentirnya Kakang" jawab Nyai Dirgajaya lalu bangun untuk mematikan sentir yang digunakan untuk menerangi pada malam hari


***


***


"Bagaimana Anakku apakah Kau mengalami gugub?" tanya Pangeran Gunawan Wibisono


"Hehehe,,, sedikit Ramanda, sudah beberapa hari tidak ketemu Dinda Diah Ayu Wardani rasanya deg-degan Ramanda" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Ya begitulah rasanya, seperti Ramanda kemarin saat ingin menikahi Ibumu rasanya juga seperti itu" ucap Pangeran Gunawan Wibisono


"Iya Ramanda, semua ini rasanya seperti mimpi karena cepat sekali waktu berlalu dan besok Aku sudah akan menikah padahal perasaan baru kemarin ketika Aku membantu Ramanda mencari tanaman obat dihutan dan berburu Rusa dihutan" ucap Ganendra Wisnu Wijaya

__ADS_1


"Begitulah waktu memang cepat berlalu Ramanda dan Ibumu juga semakin menua nantinya" jawab Pangeran Gunawan Wibisono


"Kalau dihitung hanya sebentar waktuku bersama Bopo dulu ya Ramanda, karena setelah Aku usia 12 Tahun dititipkan ditempat Kakek Bagera untuk berlatih Kanuragan namun tiba-tiba Bopo sudah tiada" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Perputaran kehidupan memang seperti itu, jadi jalani peran masing-masing dan menikmatinya, semua memiliki proses masing-masing jangan disesali Nak" jawab Pangeran Gunawan Wibisono


"Tentu Ramanda, Aku tidak menyesali dengan semua takdir dari Yang Maha Kuasa, karena Aku mulai memahami bahwa takdir seorang manusia berpengaruh kepada jalan hidup orang lain jadi Aku akan berusaha memaksimalkan hidupku untuk kepentingan Orang banyak tanpa mengorbankan keluargaku" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Bagus Nak, tetaplah semangat menjalani hidup ini agar dapat menyebarkan aura positif kepada orang lain, minimal Orang-orang disekitarmu" jawab Pangeran Gunawan Wibisono


"Baik Ramanda, liku kehidupan didepan akan lebih sulit nantinya jika hati ini lemah mau jadi apa Aku" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Apa lagi Kau akan menjadi seorang pemimpin, Kau harus menjadi contoh untuk orang lain, Kau juga harus menjadi contoh dari Anak-cucumu kelak tetaplah menjadi dirimu sendiri" jawab Pangeran Gunawan Wibisono


"Baik Ramanda" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Hidup adalah Proses Menanam, jika Kau menanam kebaikan maka itulah yang akan Kau tuai dikehidupan, namun ujian hidup tetap akan selalu datang untuk menempa hidupmu" ucap Pangeran Gunawan Wibisono


"Baik Ramanda" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Baiklah untuk saat ini perbanyaklah meditasi meresapi makna dari alur kehidupanmu, dan agar hatimu menyatu dengan alam serta Kau akan memahami kehendak dari Yang Maha Kuasa, sehingga membuatmu menjadi seseorang yang pandai dalam menyikapi setiap kehidupan, baik kehidupanmu ataupun Orang lain" ucap Pangeran Gunawan Wibisono


"Baik Ramanda, kalau begitu Aku akan pergi meditasi dikamar dari pada pikiranku kemana-mana karena gugup menanti pernikahanku besok" jawab Ganendra Wisnu Wijaya kemudian berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


"Anak baik, tetaplah menjadi seperti ini tetap menjadi orang yang selalu menghormati dan sopan kepada Orang tuamu" gumam Pangeran Gunawan Wibisono dalam batin


__ADS_2