
Pada Pagi hari Ganendra Wisnu Wijaya dan Guru Gunawan pun mengobrol tentang ilmu pengobatan yang belum Ganendra Wisnu Wijaya pelajari.
"Ilmu pengobatan itu tidak mudah, yang paling mendasar dari hafalan tentang bahan-bahan pengobatan namun dalam meracik Kita harus mengalirkan cakra tenaga dalam ketika Kita mengolah bahan-bahan tersebut dan juga adalah sebuah pengharapan dari Gusti Hamengku Jagad agar apa yang sedang Kita buat bisa manjur serta bermanfaat bagi kehidupan" ucap Guru Gunawan
"Iya Paman, ketulusan hati ketika memproduksi ramuan begitu ya Paman?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya
"Betul sekali, itu yang jarang disadari oleh banyak Pendekar Medis atau para Tabib" jawab Guru Gunawan, Ganendra Wisnu Wijaya hanya menganggukkan Kepala tanda paham dengan penjelasan dari Guru Gunawan
"Oh iya Paman, hari ini Aku berencana pulang kelereng Merapi untuk menemui Kakek karena ada hal yang ingin Aku sampaikan kepada Kakek Bagera" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Kakang nanti Dinda ikut ya, karena Ibu dan Bopo sudah mengijinkan" ucap Diah Ayu Wardani dari arah belakang
"Baiklah Dinda, setelah sarapan nanti Kita akan berkunjung kerumah Kakek" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
"Ya sudah tidak apa-apa, salam untuk Mpu Bagera dan Mbakyu Nyai Maharani ketika nanti sampai kesana" ucap Guru Gunawan
"Baik Paman nanti akan Aku sampaikan kepada Kakek dan Ibu" jawab Ganendra Wisnu Wijaya,
"Sarapan dulu, katanya mau ke rumah Kakek Bagera?" tanya Guru Dirgajaya yang berjalan mendekat
"Mari Paman Guru Gunawan, ikut sarapan sekalian" ucap Diah Ayu Wardani, kemudian Mereka semua pun beranjak dari duduknya dan kemudian masuk rumah untuk sarapan.
Apakah ada hal penting sehingga Nak Ganendra ingin pulang ke Merapi?" tanya Guru Dirgajaya
"Iya Bopo, ada sesuatu yang harus Saya laporkan kepada Kakek" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
"Oww begitu, baiklah Nak Ganendra" ucap Guru Dirgajaya yang kemudian Mereka melanjutkan sarapan pagi
Setelah sarapan sudah selesai, Ganendra Wisnu Wijaya dan Diah Ayu Wardani berpamitan untuk berangkat berkunjung ke Rumah Mpu Bagera di Lereng Gunung Merapi
__ADS_1
***
"Lho gag ada Orang pada kemana ya" ucap Ganendra Wisnu Wijaya setelah sampai dirumah lereng semeru, perjalanan yang hanya sekedipan mata karena berteleportasi menggunakan Pusaka Juring Sakti.
"Mungkin ke Hutan Kakang, cari tanaman Obat atau Hewan buruan untuk dimasak" ucap Diah Ayu Wardani
"Kakek, Nenek dan Ibu itu tidak makan daging darat,,, hehe sesekali makan Ikan iya tapi tidak sering, paling Makan Ubi, Singkong dan buah" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
"Oww,,, menjalani laku Ngrowot ya Kakang?" tanya Diah Ayu Wardani
"Betul Sekali Dinda, jadi kalau pas tidak sedang puasa paling kesungai cari ikan lalu dibakar" jawab Ganendra Wisnu Wijaya namun tiba-tiba seperti Biasa Mpu Bagera, Nyai Bagera dan Nyai Maharani sedang duduk dikursi sambil menahan tawa.
"Kalian sedang apa? Hahaha" tanya Mpu Bagera sambil tertawa dan menjitak kepala Ganendra Wisnu Wijaya
"Aduh,,!!!" teriak Ganendra Wisnu Wijaya yang kesakitan karena kepalanya dijitak
"Kemampuan sensormu masih buruk" keluh Mpu Bagera
"Belum ada 3hari sudah kesini, kenapa ada masalah atau kangen Ibumu?" tanya Mpu Bagera
"Hehehe,,, Semua Kek, sekalian ngajak Dinda Diah Ayu kesini juga, biar tambah akrab. Dapet salam Kek dari Bopo Dirgajaya dan Paman Gunawan " ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Salam kembali semoga selalu diberi keslamatan, kesehatan dan umur panjang" jawab Mpu Bagera
"Nenek dan Ibu juga dapet salam dari Ibu" ucap Diah Ayu Wardani
"Iya salam kembali Nak, semoga selalu diberi keslamatan, kesehatan dan umur panjang" ucap Nyai Bagera dan disusul dengan senyuman dari Nyai Maharani
"Begini saja, Nak Diah ikut Ibu dan Nenek kedalam, biar Ganendra mengobrol dengan Kakek dulu, Kita buatkan minum dan masak beberapa makanan" ucap Nyai Maharani
__ADS_1
"Baik Ibu" jawab Diah Ayu Wardani kemudian ikut dengan Nyai Bagera dan Nyai Maharani untuk masuk kedalam Rumah.
"Ada apa Nak? Apakah ada sesuatu yang mengganjal atau menemukan hal yang membuatmu bingung?" tanya Mpu Bagera
"Begini Kakek, Saya mau bertanya tentang kaitan antara Guru Wongso, Kakek Sagara, Pedang Langit dan Pedang Petir" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Ceritakan kepada Kakek dulu seperti apa yang Kau ingin ketahui dan yang sudah Kau ketahui dari hal yang Kau tanyakan tadi" ucap Mpu Bagera , kemudian Ganendra Wisnu Wijaya menjelaskan tentang pertempurannya dengan 3 pendekar yang dibelakangnya memakai nama Wongso yang merupakan Guru Utama dari Padepokan Gagak Ireng, lalu tentang cerita Guru Gunawan dan Guru Dirgajaya tentang Pedang Langit dan Pedang Petir.
"3 Pendekar yang Kau temui adalah Pembunuh dari Kakang Wongso dan yang menyerang Kakang Sagara ketika itu, Mereka bekerja sama dengan Patih Lodaya yang bertugas melumpuhkan Kakang Sagara menggunakan racun kemudian Mereka baru menyerang kesini dan menghabisi semua Orang yang ada tak terkecuali. Mereka layak Kau habisi jika bertemu lagi, namun bersabarlah sampai saatnya nanti. Sebenarnya Mereka melakukan hal itu tujuan Mereka adalah Pedang Langit dan Pedang Petir , itu akan menjadi pukulan telak saat Mereka mengetahui jika Pedang Petir akan Aku wariskan kepadamu" ucap Mpu Bagera , seketika membuat Arya Sena terkejut dengan jawaban itu.
"Sedangkan tentang Pedang Langit dan Pedang Petir memang benar awalnya adalah milik sepasang pendekar sakti dari negeri sebrang. Ketika Guru Wongso dan Kakang Sagara bertarung masing-masing memiliki Pedang Legendaris itu makanya pertarungan imbang dan mereka menjadi sahabat, itu juga ketika Guru Wongso menyadari bahwa Pedang yang dibawa Kakang Sagara adalah Pedang Langit setelah 3hari pertarungan Mereka" ucap Mpu Bagera yang kemudian meletakkan tangan didadanya dan tiba-tiba sebuah Pedang dengan ukiran Petir disarungnya yang sangat Indah muncul didepan Ganendra Wisnu Wijaya
"Apakah ini Pedang Petir Kakek?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya penasaran
"Tentu saja, bukankah Kau bisa melihat ukiran petir dan ini (sambil menarik dari sarungnya) seakan bersinar dengan kilatan-kilatan, ini adalah sebuah mahakarya yang tak ternilai makanya sampai ada Murid yang tega membunuh Gurunya hanya agar memiliki Pedang ini, kemudian mereka selang beberapa hari menyerang kesini bermaksud merampas Pedang Petir namun tidak menemukan juga" ucap Mpu Bagera
"Saat kejadian itu Kakek berada dimana?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya
"Saat itu Kakek berada dikerajaan sedang menghadap Sang Prabu karena ada satu masalah, karena sejatinya Sang Prabu adalah Adik Kakek. Jadi Kakang Sagara, Anak pertama Dengan nama asli Kertaraja Mangkubumi Wiranegara , Kakek adalah anak kedua dengan nama asli Kertaraja Prawira Wiranegara dan Raja saat ini adalah anak ketiga dengan nama Kertaraja Aditya Wiranegara, sedangkan Bopomu Wijaya Karna bernama Wijaya Karna Rajasanagara putra Mahkota Kerajaan Kahuripan sebelum dihancurkan oleh Adikku, kemudian Bopomu menjadi murid Kakang Sagara dan nama lengkapmu adalah Ganendra Wisnu Rajasanagara Wijaya" jawab Mpu Bagera yang membuat Ganendra Wisnu Wijaya terbelalak seakan tidak percaya.
"Lalu mengapa Lodaya bisa menjadi Patih dikerajaan Kek? padahal Lodaya adalah orang yang menghabisi Kakek Sagara?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya dengan mata berkaca-kaca
"Kakek tidak mau berfikir terlalu jauh cucuku, biarlah waktu yang akan menjawab dan biarkan alam menjalankan karmanya sendiri" jawab Mpu Bagera dengan air mata yang tak terasa sudah menetes.
"Kalau seperti ini apa yang selanjutnya harus Saya lakukan Kek?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya sambil menangis.
"Jangan terlalu dekat dengan Kertaraja Aditya Wiranegara, yang terpenting sekarang adalah Kau harus menjadi Pendekar tak terkalahkan dan hancurkan Lodaya, namun Kau harus giat berlatih dan mengasah Kanuraganmu karena Lodaya tidak mudah dikalahkan" ucap Mpu Bagera
"Baik Kakek" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
__ADS_1
"Sekarang cobalah menggunakan Pedang Petir ini" ucap Mpu Bagera kemudian Ganendra Wisnu Wijaya menarik pedang dari sarungnya, ketika Pedang sudah tertarik sepenuhnya Ganendra Wisnu Wijaya langsung terpental dan pedangnya pun terlepas dari tangannya.