
Ilmu pedang kelimanya sangat bagus, jadi Ganendra Wisnu Wijaya yang berperan menjadi Si Sableng Bertopeng melawan 5 Pendekar sekaligus dengan level yang cukup tinggi membuatnya harus sangat waspada dalam melakukan gerakan serangan dan bertahan, untungnya Pedang Langit bukanlah Pedang sembarangan karena termasuk pedang level 1 didunia persilatan jadi walau mengalami gempuran seperti apapun pedangnya tidak akan mengalami kerusakan, berat pedangnya pun sangat ringan jadi membuat siapapun yang menggunakannya tak akan mengalami kelelahan pada jari dan tangannya ketika bertarung.
"Ternyata memang lumayan hebat juga Dia, lakukan formasi bunga teratai kuncup" ucap salah satu dari mereka. Segera sebuah pola formasi serangan dari 5 Pendekar itu berganti, dengan serangan bergantian tanpa henti yang melakukan tebasan dari bergantian arah, satu ketika Si Sableng Bertopeng terpojok dan tiba-tiba dari arah samping kanan-kiri sudah muncul seseorang yang akan menebas posisi diatas dan dibawah, Ganendra Wisnu Wijaya sudah tak bisa menghindar lagi jadi Dia memilih untuk menangkis disisi kanannya yang berusaha menebas lehernya, dan Pendekar disebelah kiri Si Sableng Bertopeng sudah tersenyum namun tiba-tiba ketika hendak menebas keluarlah percikan api dari gesekan tebasan itu, lalu Paijo Bertopeng pun bergerak memutar jadi setelah menangkis disisi kanan Dia melanjutkan menyerang disebelah kiri karena terkejut dengan percikan Api membuat Pendekar disebelah kiri kurang fokus dan membuatnya terkena serangan pedang dari Si Sableng Bertopeng dan seketika membuatnya kehilangan nyawa.
"Waduhh,, hehehe Maap yak, Aku kira tidak kena,,, hehee" ucap Paijo Bertopeng
"Dia memiliki Ajian Lembu Sekilan yang sangat hebat, akan susah menanganinya apa lagi Dia sudah berhasil menghabisi satu dari Kita. Yang terpenting kegaduhan ini jangan sampai terdengar oleh Patih Lodaya" ucap salah seorang dari mereka.
Si Sableng Bertopeng hanya diam dan merinci detail setiap serangan mereka tadi. Walau serangannya bervariasi dan sangat konstan namun Dia mulai memahami bahwa kecepatan peralihan pertahan dari serangan mereka tak cukup bagus jadi jika ingin mengalahkan mereka Si Sableng Bertopeng harus melakukan serangan dadakan setelah menerima serangan dari mereka.
"Kenapa,, hehehe apa kalian sudah lelah? Hehehe sehingga mau menyerah? Hehehe membuat kehilangan arah? hehehe dan sedikit marah-marah? hehehe" ucap Si Sableng Bertopeng mengejek.
"Jangan jumawa dulu, Serang!" ucap salah satu dari mereka.
Pertarungan kembali berlanjut, namun Si Sableng Bertopeng sudah hafal dengan gerakan masing-masing dari mereka dari pertarungan sebelumnya kemudian serangan-serangannya pun dengan mudah dapat dimentahkan oleh Si Sableng bertopeng dan penyerang terakhir pun juga dapat dilumpuhkan olehnya karena ketika melakukan gerakan tusukan yang mengarah pada Si Sableng Bertopeng berhasil ditangkis dengan Pedang Langit dengan gerakan memutarkan pedang yang diakhiri dengan tusukan balasan sambil berbalik badan dan menusuknya hingga menembus punggung.
"Hehehe,,, Ups,,, maaf ya jadi sampai tembus, aduh" ucap Ganendra Wisnu Wijaya yang masih berperan sebagai Si Sableng Bertopeng Satu lagi dari mereka sudah tumbang, tinggal 3 Pendekar yang tersisa, namun sekarang kondisinya agak berbeda setelah menghabisi 1 orang lagi kemudian Si Sableng Bertopeng berinisiatif untuk gantian menyerang dengan gencar dan dengan serangan yang sangat cepat sehingga membuat mereka malah terpojok yang hanya menghadapi Si Sableng Bertopeng seorang diri, pertarungan terus berlangsung hingga akhirnya Ganendra Wisnu Wijaya melihat sebuah celah untuk menyelesaikan pertarungan kemudian Si Sableng Bertopeng mengalirkan cakra kedalam Pedang Langit miliknya sehingga dengan satu serangan membuat dua orang lagi sudah tertebas dan tak lagi bernafas karena pedangnya ikut patah karena sabetan Pedang Langit yang bablas mengenai tubuh mereka, hal itu langsung membuat satu orang yang tersisa membelalakan mata karena kaget dan langsung mundur beberapa langkah.
"Yaahhh kena lagi,, hehehe maapin lagi yak,,, hehehe" ucap Si Sableng bertopeng, Kemudian orang yang tersisa mengeluarkan suara yang seperti sebuah kode untuk lalu selang beberapa saat 3 Orang pun datang dengan jurus meringankan tubuh yang lumayan hebat, itu menandakan jika kemampuan tenaga dalam ketiganya sangat luar biasa.
__ADS_1
"Inikah Pendekar yang sedang dibicarakan banyak Orang, yang disebut sebagai Si Sableng Bertopeng?" tanya Seorang Pendekar dengan brewok dan berbadan besar
"Aishhh,,, aishhh,,, Aku memang benar-benar sudah begitu terkenal ya,,, hehehe" jawab Si Sableng Bertopeng
"Besar sekali nyalimu karena berani datang kesini seorang diri, namun sepertinya ilmu kanuraganmu lumayan tinggi karena bisa mengalahkan 4 dari 5 Orang muridku seorang diri" ucap Pendekar yang ada disebelah kanan
"Hehehe,,, berarti Kalian ini to ya yang jadi dedengkot disini? hehehe" ucap Si Sableng Bertopeng.
"Perkenalkan Aku adalah Ronggo Wongso Guru Utama dari Padepokan Gagak Ireng, Disebelahku ada kedua Adik Seperguruanku Dalijo Wongso dan Cokro Wongso" jawab Orang yang berada ditengah yang ternyata bernama Ronggo Wongso
"Hehehe ternyata Gagak Ireng aliran Hitam Legendaris dari Guru Wongso ya,,, hehehe Aku baru tau tapi ini sangat mengejutkan ,,,hehehe karena Aku kira aliran Wongso sudah punah,,, hehehe" ucap Si Sableng Bertopeng
"Hehehe,,, Guru Wongso adalah seorang Pendekar yang berjiwa Ksatria walau beliau beraliran hitam namun tindak pernah menindas rakyat kecil dan tidak menyusahkan rakyat miskin,,, hehehe kasian beliau yang malah memiliki murid seperti Kalian,,, hehehe Hobinya berbuat jahat,,, hehehe" ucap Si Sableng Bertopeng
"Kau sangat bernyali, coba seperti apa kemampuanmu" ucap Cokro Wongso yang bertubuh paling besar, kemudian langsung menyerang Si Sableng Bertopeng dengan serangan yang sangat cepat.
Si Sableng Bertopeng hanya tersenyum dan menangkis setiap serangan menggunakan Pedang Langit dengan cukup santai dan seolah-olah tidak merasakan kesusahan sama sekali,
"Hanya segini sajakah? Hehehe" ucap Si Sableng Bertopeng. Perkataan itu sontak membuat Cokro Wongso sangat emosi, kemudian menyerang dengan Jurus Pukulan Tanpa Bayangan yang luar biasa namun tetap bisa diatasi oleh Si Sableng Bertopeng dan ketika Si Sableng Bertopeng melakukan tebasan setelah menangkis serangan Cokro Wongso itu adalah tebasan yang sangat akurat dan mengenai tubuh dari Cokro Wongso dibagian pundak kebawah namun anehnya tiba-tiba wajahnya tubuh yang Ganendra Wisnu Wijaya tebas berubah menjadi sebatang Kayu, setelah itu Si Sableng Bertopeng pun menghilang dan hanya terdengar suara saja
__ADS_1
"Hehehe,,, Cukup dulu pertarungannya karena Aku ada urusan lebih penting, Kalian memang Murid Guru Wongso yang kehebatannya sudah melegenda, kapan-kapan akan Kita lanjutkan,,, hehehe" terdengar suara Si Sableng Bertopeng setelahnya langsung menjadi sunyi.
"Ternyata bocah itu memang memiliki kemampuan kanuragan yang sangat baik, Jurus Pukulan Tanpa Bayangan bisa diatasi olehnya" ucap Cokro Wongso
"Kita harus benar-benar mulai lebih berhati" ucap Ronggo Wongso
***
Ganendra Wisnu Wijaya pun sudah tiba di Padepokan Gunung Pangrango dan sudah berganti pakaian, kedatangannya sudah sangat dinanti oleh Guru Dirgajaya dan Guru Gunawan , sampai Mereka menunggu diteras Padepokan agar bisa mencegat Ganendra Wisnu Wijaya sebelum masuk kamarnya.
"Salam Hormat Bopo - Paman" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Akhirnya datang juga, darimana Nak?" tanya Guru Dirgajaya
"Hanya berjalan-jalan saja Bopo, menengok Padepokan Gunung Arjuno" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
"Bagaimana keadaan situasi disana?" tanya Guru Dirgajaya
"Aman Bopo, namun Aku merasakan ada sesuatu yang agak janggal tapi Aku belum yakin apa itu" ucap Ganendra Wisnu Wijaya dan kemudian menceritakan tentang keadaan secara rinci.
__ADS_1
"Baiklah berarti Kita tidak boleh terburu-buru Nak" ucap Guru Gunawan dan terlihat kecewa karena sudah lama Guru Gunawan ingin segera pulang kembali ke Padepokan. Lalu Mereka kembali mengobrol dan sesekali Ganendra Wisnu Wijaya menanyakan tentang nama-nama aliran silat ditanah Jawa.