Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta

Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta
Tabib Sakti


__ADS_3

Hari yang melelahkan untuk Ganendra Wisnu Wijaya dan setelah berganti pakaian Dia kembali kepadepokan Gunung Pangrango untuk melaporkan apa yang Dia alami kepada Guru Dirgajaya dan ketika Dia muncul Guru Gunawan langsung menghampirinya


"Bagaimana Nak, apa mengalami kesulitan dalam pertarungan tadi?" tanya Guru Gunawan


"Lumayan merepotkan Paman, ternyata kehidupan itu sangat kejam, Saya tak habis pikir dengan apa yang Saya lihat hari ini. Berhasil menang namun dada ini terasa sangat sesak melihat Seorang Guru yang tega menghabisi muridnya sendiri dan banyak sekali Orang menjalankan perbuatan yang terlarang hanya untuk mendapatkan kekayaan duniawi, beberapa terjebak dalan lingkaran yang mengharuskan Mereka berbuat jahat kepada sesama karena faktor lingkungan yang mereka tempati" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Hidup adalah pilihan Nak karena didunia hanya ada dua macam, baik-buruk, hidup-mati, benar-salah masing-masing memiliki pilihan dalam kehidupan mereka jadi ketika Kita memilih maka akan ada resiko yang harus ditanggung dikemudian hari, karena Hidup adalah proses menanam ketika Kita menanam kebaikan akan menuai kebaikan dan sebaliknya ketika Kita menanam keburukan maka karma juga berlaku didunia ini, alam akan menjadi saksi dari kehidupan yang Kita jalani, Jika Kita hanya diam dan tidak bertindak menumpas kejahatan maka kejahatan akan menang dan merajalela karena diamnya orang-orang baik" ucap Guru Gunawan


"Baik Paman Saya akan merenungi dan mencoba memahami nasehat Paman" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Menghadaplah Bopomu Kakang Dirgajaya karena Beliau mengkhawatirkanmu" ucap Guru Gunawan


"Baik Paman" jawab Ganendra Wisnu Wijaya dan kemudian berjalan masuk kedalam Aula Utama


***


"Salam hormat Bopo" ucap Ganendra Wisnu Wijaya yang melihat Guru Dirgajaya yang sedang menenangkan Diah Ayu Wardani yang menangis dipelukan Ibunya, seketika Diah Ayu Wardani menoleh lalu langsung berlari kearah Ganendra Wisnu Wijaya dan memeluknya, Guru Dirgajaya dan Nyai Eis pun tersenyum melihat hal tersebut.


"Sudah jangan menangis Dinda, Kakang tidak apa-apa" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Bener kan Bopo bilang tadi, Nak Ganendra akan kembali dengan cepat" ucap Guru Dirgajaya lalu Ganendra Wisnu Wijaya mengajak Diah Ayu Wardani duduk dan masih menenangkannya.


"Bopo ada yang mau Saya sampaikan tentang kejadian yang Saya alami tadi" ucap Ganendra Wisnu Wijaya, kemudian Dia menceritakan tentang kejadian yang Dia alami dan pertempurannya dengan Kabut Hitam serta alasan Mereka menyerang Padepokan.

__ADS_1


"Patih Lodaya ternyata dibalik semua ini, sekarang Nak Ganendra istirahat dulu saja jangan terlalu memaksakan diri, butuh strategi matang dan kesabaran dalam menangani masalah ini, akan banyak rintangan serta pendekar-pendekar aliran hitam yang akan Kita hadapi nantinya, Mereka juga pasti akan mencari Pendekar yang lebih hebat dari yang pernah Kita hadapi" ucap Guru Dirgajaya


"Baik Bopo, Dinda sudah jangan menangis lagi Kamu kan pendekar jadi harus selalu siap mental dan kuat ya" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Baik Kakang maafin Dinda kalau terlalu cengeng" jawab Diah Ayu Wardani


"Tidak apa-apa, ini akan proses menguatkan hati dan mentalmu, saatnya nanti jika Bopo sudah berkenan nanti Dindq akan dilatih oleh Kakek dan Nenek di Lereng Gunung Merapi, jadi persiapkan dirimu dan lebih giatlah berlatih" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Betul sekali yang diucapkan Nak Ganendra, saatnya nanti Kamu harus berlatih di Lereng Merapi agar menjadi seorang Pendekar pilih tanding nikmati saja kebersamaanmu dengan Ibumu selama dipadepokan karena Kamu kelak harus mendampingi Nak Ganendra kemanapun Nak Ganendra pergi karena masing-masing manusia memiliki jalan Hidup dan takdirnya sendiri-sendiri" jawab Guru Dirgajaya


"Kau juga akan segera memiliki Adik karena saat ini Ibu sedang mengandung" ucap Nyai Eis


"Benarkah itu Dinda?" tanya Guru Dirgajaya dan dibalas senyuman oleh Nyai Eis, kabar tersebut membuat Mereka sangat bahagia karena kelak akan ada penerus yang mengurusi padepokan.


"Baik Nak Ganendra, silahkan" jawab Guru Dirgajaya


"Kakang keluar dulu ya Dinda" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Baik Kakang" jawab Diah Ayu Wardani kemudian Ganendra Wisnu Wijaya pun keluar dan mencari Guru Gunawan


***


"Paman apakah sedang sibuk?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya ketika melihat Guru Gunawan yang sedang memilih-milih tanaman Obat yang sedang dikeringkan.

__ADS_1


"Ada apa Nak?" jawab Guru Gunawan sekaligus bertanya


"Begini Paman, Aku ingin bertanya tentang tanaman Obat, Apakah ada tanaman yang bisa dikonsumsi yang manfaatnya itu mempercepat proses regenerasi tubuh jadi tubuh Kita mampu menjadi segar dan fit lagi setelah meminumnya tapi yang tidak memiliki efek samping negatif ditubuh Kita" tanya Ganendra Wisnu Wijaya


"Ada tapi itu resep sangat rahasia dan tidak boleh sembarangan dikonsumsi orang karena selain mempercepat pemulihan kondisi tubuh, juga berdampak kecepatan dalam menguasai ilmu kanuragan dan otomatis dapat meningkatkan power cakra tenaga dalam. Jadi tidak boleh dikonsumsi oleh sembarangan orang karena jika wadahnya tidak kuat dan terlalu diforsir berlatih bisa menyebabkan gangguan syaraf dan yang paling parah energi yin dan yang dalam tubuh tidak bisa seimbang otomatis akan merusak tubuh juga" ucap Guru Gunawan


"Kalau yang tidak memiliki efek samping negatif apakah tidak ada Paman?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya lagi


"Aku hanya menjawab ramuan yang Kau butuhkan saja, seperti yang Aku sampaikan sebelumnya" jawab Guru Gunawan


"Aku masih belum paham maksud dari Paman Guru" ucap Ganendra Wisnu Wijaya sambil nyengir dan garuk-garuk kepala


"Intinya Aku akan membuatkan obat itu untukmu agar Kau juga lebih cepat mencapai level Cakra Tenaga Dalam yang diinginkan" ucap Guru Gunawan


"Baik Paman, Terima Kasih banyak,,hehe bolehkah Saya ikut dalam membuatnya Paman?" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Tentu saja boleh, kebetulan bahan-bahan sudah ada jadi tinggal meraciknya saja, Ayo Kita kebelakang sekarang biar Aku ajari cara membuatnya" ucap Guru Gunawan


"Baik Paman" jawab Ganendra Wisnu Wijaya dengan penuh semangat, kemudian Mereka mulai berjalan ke Gudang tempat penyimpanan bahan obat-obatan.


Guru Gunawan mulai mengajari Ganendra Wisnu Wijaya cara pembuatan dan bahan-bahan yang akan digunakan dalam pembuatan Obat yang akan mempercepat proses pemulihan Ganendra Wisnu Wijaya yang dalam beberapa hari ini mengeluarkan banyak sekali tenaga dalam sehingga membuat badannya terasa sangat letih apalagi setelah melawan Kabut Hitam generasi terakhir yang mampu Dia kalahkan namun Dia menyadari bahwa kedepan yang akan menjadi lawannya adalah pendekar-pendekar yang lebih kuat jadi Dia harus segera pulih dan segera menaikkan level Kanuragannya karena walau dilihat mudah namun ketika Dia sering menggunakan Ajian-ajian hebat akan menguras tenaga dalamnya. Seperti Tapak Besi dan Ajian Tapak Wisanggeni, Ajian Lebur Saketi merupakan level Ajian tinggi yang menguras banyak Cakra Tenaga Dalamnya, apalagi dalam pertempuran terakhir Dia sudah menggunakan tiga Ajian dalam waktu yang berdekatan yang sangat membutuhkan energi Tenaga Dalam yang cukup banyak, sehingga Dia harus benar-benar merawat tubuhnya agar tidak mengalami kerusakan dikemudian hari.


Ganendra Wisnu Wijaya berinisiatif menanyakan tentang Ramuan Obat karena pernah diberi tau oleh Kakeknya Mpu Bagera bahwa Guru Gunawan adalah salah satu pendekar yang terkenal dengan ilmu tabibnya dan menurut Kakeknya Mpu Bagera bahwa Guru Gunawan mengetahui resep untuk membuat Obat-obatan ajaib.

__ADS_1


__ADS_2