Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta

Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta
Si Pendekar Jahil


__ADS_3

Ketika Ganendra Wisnu Wijaya dan Diah Ayu Wardani pemanasan, Mpu Bagera dan Guru Dirgajaya saling berdiskusi tentang kondisi yang saat ini terjadi


"Aku sangat berharap jika nanti Prabu Sanjaya Surawisesa akan bertindak Netral permasalahan antara Kerajaan Kahuripan dan Kerajaan Nagari, sehingga Kita bisa lebih leluasa dalam bertindak" ucap Mpu Bagera


"Menurutku Prabu Sanjaya Surawisesa adalah Raja yang sangat bijaksana Bopo, Saya yakin Baginda Prabu akan Netral dalam hal ini, karena dengan posisi Kita seperti ini adalah sebuah ketidakadilan yang nyata, apalagi Bopo adalah Bangsawan dari Kerajaan Nagari yang ingin dihabisi oleh Raja Kerajaan Nagari dan Ganendra Wisnu Wijaya saat ini adalah pewaris satu-satunya dari Kerajaan Kahuripan sehingga dari Kubu Kita masing-masing memiliki Hak yang sama dalam hal ini" jawab Guru Dirgajaya


"Padahal dulu Aku tidak pernah peduli dengan tahta dan harta, cukup buatku untuk hidup bersama istriku namun ternyata pilihan yang Aku tempuh membuat situasi menjadi seperti ini Aku juga harus melindungi keluargaku, termasuk Cucuku Ganendra Wisnu Wijaya " ucap Mpu Bagera


"Benar Bopo, apa yang Bopo pilih saat ini menurut Saya sudah tepat karena jika dibiarkan para pendekar aliran hitam akan terlalu dominan didunia persilatan sehingga keseimbangan akan hilang, tentu saja hal tersebut akan berimbas pada nilai moral dan perilaku Generasi selanjutnya pasti akan semakin memprihatinkan karena tak ada nilai-nilai moral yang diajarkan oleh Mereka, karena Mereka hanya memburu hawa nafsu saja" ucap Guru Dirgajaya


"Benar sekali apa yang Kau ucapkan, orang-orang seperti Kita ini yang memiliki jiwa seorang pendidik memang membuat pikiran Kita terganggu karena imbas dari semua ini, jadi semaksimal mungkin Aku akan menghancurkan Gagak Ireng sampai keakarnya" ucap Mpu Bagera


"Untuk saat ini, Saya tak mampu membantu secara langsung Bopo, karena statusku adalah rakyat dari Kerajaan Sundapura, sehingga akan menjadi sebuah permasalahan jika Saya ikut campur secara terbuka dalam hal ini" ucap Guru Dirgajaya


"Tidak apa-apa, sementara Kau cukup berada dibalik layar saja, baiklah Aku harus melatih Ganendra Wisnu dan Diah Ayu dulu" ucap Mpu Bagera


"Baik Bopo silahkan, namun jika Bopo dan Anakku Ganendra Wisnu membutuhkan bantuan, Saya tidak akan pernah menolaknya Bopo" jawab Guru Dirgajaya


"Baiklah, Aku berterima kasih" jawab Mpu Bagera dan langsung bergegas untuk melatih Ganendra Wisnu Wijaya dan Diah Ayu Wardani


***


"Sekarang adalah latihan ilmu kanuragan, kalian sudah mahir dalam hal jurus dan berpedang, sekarang Kalian meditasi berhadapan namun mata terpejam lalu rasakan energi yang mengalir pada tubuh Kalian" ucap Mpu Bagera


"Baik Kakek" jawab keduanya, kemudian Mereka berdua mulai meditasi sesuai instruksi dari Mpu Bagera, selang beberapa menit Mereka pun sudah berkeringat sangat banyak karena energi mereka berbenturan namun akhirnya sudah mencapai tahap keselaras.


"Sudah cukup" ucap Mpu Bagera, kemudian Ganendra Wisnu Wijaya dan Diah Ayu Wardani pun membuka mata bersama-sama dan saling tersenyum sendiri karena ketika membuka mata Mereka saling menatap.


"Sekarang langsung lakukan jurus pernafasan yang telah Aku ajarkan pada kalian secara bersama-sama, harus sama dan berirama" perintah Mpu Bagera kemudian Ganendra Wisnu Wijaya dan Diah Ayu Wardani kembali memulai untuk mempraktekkan apa yang diperintahkan oleh Mpu Bagera, kemudian selang beberapa waktu, Mpu Bagera nampak ikut bermeditasi


"Kalian boleh istirahat dan minum dulu" ucap Mpu Bagera


"Akhirnya selesai juga, kasian Dinda pasti lelah" ucap Ganendra Wisnu Wijaya dalam batin, sontak Diah Ayu Wardani pun langsung menoleh kepada Ganendra Wisnu Wijaya


"Kakang bilang apa tadi?" tanya Diah Ayu Wardani


"Enggak Dinda, Kakang tidak ngomong apa-apa, Kakang sedang minum" jawab Ganendra Wisnu Wijaya yang saat ini masih belum menyadari akan hal tersebut


"Oww,,, Baiklah Kakang, perasaan tadi Dinda bisa mendengar Kakang berbicara" jawab Diah Ayu Wardani

__ADS_1


"Bukankah tadi Aku mendengar Kakang sedang berbicara" ucap Diah Ayu Wardani dalam batin


"Beneran Dinda, tadi Kakang memang tidak ngomong apa-apa karena sedang minum" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Lah Iya Kakang, Dinda kan udah percaya sama Kakang" ucap Diah Ayu Wardani yang Mpu Bilowo pun tertawa


"Apakah kalian sudah mendengar ucapan batin masing-masing? Itu adalah telepati level tertinggi" ucap Mpu Bagera, yang membuat Mereka berdua terkejut.


"Benarkah itu Kakek? Lalu siapa lagi yang mampu mendengar batin Kami?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya


"Tentu saja Gusti Hamengku jagad dan hanya Kalian berdua yang bisa mendengarnya,,, hahaha" jawab Mpu Bagera


"Bisa dengar Dinda?" ucap Ganendra Wisnu Wijaya dalam batin


"Bisa Kakang" jawab Diah Ayu Wardani dalam batin yang kemudian keduanya langsung tertawa


"Jangan untuk mainan, dasar anak muda" ucap Mpu Bagera, keduanya hanya nyengir saja


"Dinda sangat cantik dan hebat, Aku tak sabar segera menikah denganmu" ucap Ganendra Wisnu Wijaya dalam batin


"Kakek Aku pamit mandi dulu dan istirahat ya?" tanya Diah Ayu Wardani dengan wajah memerah nampak malu


"Jangan jahil Cucuku, Kamu ngomong apa tadi sama Diah Ayu?" tanya Mpu Bagera masih menjewer telinganya


"Ampun Kakek, Ampun tidak diulangi lagi" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Hayo tadi bilang apa dulu?" tanya Mpu Bagera lagi memaksa


"Aku cuma bilang Kalau Dinda Diah Ayu Wardani cantik dan hebat, Aku tak sabar menikah dengannya" jawab Ganendra Wisnu Wijaya yang nampak kesakitan


"Woo Dasar Anak Nakal, segera mandi sana" ucap Mpu Bagera sambil melepaskan jewerannya


"Baik Kakek" jawab Ganendra Wisnu Wijaya sambil pergi kesumur belakang dengan berlari


"Dasar Anak jahil, kok ya ada-ada saja" ucap Mpu Bagera yang menggelengkan kepalanya berulang-ulang karena heran


***


"Dinda sudah tidur kah?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya dalam batin untuk bertelepati

__ADS_1


"Belum Kakang, Dinda sedang dikamar mengingat Jurus-jurus yang diajarkan oleh Kakek" jawab Diah Ayu Wardani


"Apa Dinda tak keberatan saat menikah denganku akan menjalani kehidupan yang berat kedepanya?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya


"Tidak masalah Kakang, asalkan Hidup Dinda bermanfaat untuk Orang banyak dan selalu bersama Kakang, Dinda sudah bahagia" jawab Diah Ayu Wardani


"Terima Kasih Dinda, Kakang sangat bahagia mendengarnya" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Dinda juga bahagia Kakang, jalan kedepan tak akan mudah namun asalkan Kita selalu bersama pasti dapat dilewati dengan lancar" jawab Diah Ayu Wardani


"Bagaimana kondisi Dinda, capek atau tidak?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya


"Tidak Kakang, badanku sudah mulai terbiasa dengan kegiatan fisik dan latihan keras dari Kakek" jawab Diah Ayu Wardani


"Dinda memang keren, ya sudah Dinda istirahat dan tidur ya, besok Kita akan latihan lagi karena masih banyak yang harus Kita pelajari kedepannya" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Baik Kakang, Kakang juga jangan begadang karena tidak bagus kalau terlalu sering tidur larut malam" ucap Diah Ayu Wardani


"Baiklah Dinda mari Kita istirahat" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


***


Sementara itu di Kerajaan Nagari nampak sedang mempersiapkan segala sesuatu dengan matang untuk pesta pernikahan putri dari Rajanya yang akan menikah dengan Putra dari Patih Lodaya, "Prabu Sanjaya Surawisesa dari kerajaan Sundapura tidak dapat hadir dalam acara Pernikahan Anak Kita nanti Kakang Prabu" ucap Patih Lodaya


"Tidak apa-apa Adimas, mungkin Beliau sibuk" jawab Prabu Kertaraja Wiranegara


"Namun ini adalah acara sangat penting dari Raja diwilayah tanah Jawa Baginda Prabu, apakah itu bukan sebuah penghinaan terhadap Baginda Prabu?" tanya Patih Lodaya


"Biarkan saja yang penting Acara berjalan dengan lancar saat hari H nanti" jawab Prabu Kertaraja Wiranegara


"Jujur Saya tidak terima Baginda Prabu, buat Saya ini adalah penghinaan terhadap Kerajaan terbesar ditanah Jawa, setelah acara pernikahan nanti Saya akan memberikan pelajaran kepada Kerajaan Sundapura atas penghinaan ini" ucap Patih Lodaya


"Jangan gegabah Adimas, semua harus disusun dengan baik jangan sampai Kita mengalami kerugian" jawab Prabu Kertaraja Wiranegara


"Tenang Baginda Prabu sekarang sudah berdiri tiga padepokan Gagak Ireng ditanah Sundapura" ucap Patih Lodaya


"Baiklah kalau begitu, Aku serahkan semua kepadamu Adimas" jawab Prabu Kertaraja Wiranegara


"Terima Kasih Baginda Prabu" jawab Patih Lodaya dengan senyuman liciknya

__ADS_1


__ADS_2