Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta

Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta
Misi Serangan Senyap


__ADS_3

Malam sudah menunjukkan waktu saatnya serangan akan dilancarkan, telik sandi Padepokan sudah dengan jelas menunjukkan titik-titiknya, dikala banyak Anggota Gagak Ireng terlena dengan mabuk-mabukan, judi dan main perempuan. Serangan pun dilancarkan dititik yang dihuni oleh para antek Gagak Ireng, Satu persatu mereka berjatuhan tidak sadar dengan apa yang terjadi, karena para Murid aliran Kenaling Rogo menggunakan senjata rahasia berupa jarum beracun, ini bukanlah pertempuran tapi lebih tepatnya adalah pembantaian namun mereka adalah para begal, rampok dan penindas yang sangat kejam, Murid aliran Kenaling Rogo yang melakukan misi seolah sudah tau mana yang harus dihabisi dan mana yang dibiarkan saja.


Mereka adalah orang-orang pilihan yang sudah teruji kualitas kanuragannya, dalam sekejap mereka mampu berpindah tempat untuk membantai target selanjutnya dan total ada 12 titik yang mereka lenyapkan, setelah selesai merekapun kembali ke Padepokan Kenaling Rogo Gunung Arjuno.


***


Pengerjaan membuat benteng pun sudah 80% karena pembuatannya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kanuragan dan tenaga dalam terlatih jadi pengerjaan sangat cepat dilakukan. 20% ini semalam besok pasti sudah selesai, karena Guru Wijaya Karna memiliki Ajian Bolosewu jadi bisa mengerahkan tentara dari alam lain untuk menyelesaikan bangunan benteng Padepokan.


"Bagaimana efek dari misi ini kedepan, karena Patih Lodaya pasti sudah memiliki gambaran jika pelaku pembantaian tersebut adalah dari Padepokan Kenaling Rogo karena Aliran Kenaling Rogo satu-satunya musuh yang masih tersisa" ucap Guru Wijaya Karna


"Mungkin sudah saatnya Kakang, Kita harus siap berperang melawan aliran hitam, karena Mpu Bagera pun juga mengatakan kepada Kita bahwa apa yang saat ini Kita lakukan sebenarnya sudah terlambat, seharusnya beberapa tahun lalu sudah bertindak dan berani mengambil resiko apapun dengan bertujuan menegakkan kebenaran" jawab Guru Ambarukmo


"Berarti selama beberapa tahun ini Kita juga ikut berdosa karena membiarkan kebatilan merajalela, Kita tidak menyadari hal itu" ucap Guru Dirgajaya


"Benar sekali, Kita harus selalu siap dengan segala resiko yang akan terjadi, sebentar saudara-saudaraku Aku akan kebelakang sebentar" ucap Guru Wijaya Karna yang kemudian beranjak berdiri dan berjalan kebelakang


***


Dari siang Guru Wijaya Karna sudah memerintahkan Ganendra Wisnu Wijaya untuk membaca kitab yang dihadiahkan oleh para Guru ketika Dirinya lahir dulu, dan tidak boleh berhenti sampai ketujuh kitab tersebut dibaca sampai tuntas, Ganendra Wisnu Wijaya sudah semalaman tidak tidur dan terus membaca kitab-kitab tersebut, sesekali Guru Wijaya Karna mengecek kondisi Ganendra Wisnu Wijaya, namun Ganendra Wisnu Wijaya seperti tidak merasakan lapar dan haus, Dia hanya fokus kepada kitab itu dan terlihat jelas sinar berwarna putih memancar dari tubuh Ganendra Wisnu Wijaya, seakan sinar itu melingkari tubuhnya. Guru Wijaya Karna sudah merasa lega karena sudah memiliki penerus yang akan melanjutkan perjuangan dirinya.


"Kakang, ada apa kenapa dinda perhatikan sepertinya sedang gelisah" tanya nyai Maharani istri dari Guru Wijaya Karna


"Tidak apa-apa dinda, wajar karena sebentar lagi pertempuran aliran hitam dan aliran putih mungkin akan pecah dalam beberapa waktu kedepan, tidak ada rasa takut dan khawatir karena segala sesuatu sudah diatur oleh Gusti Hamengku Jagad, tapi melihat Ganendra Wisnu Wijaya ada sedikit kelegaan dalam hati kakang" jawab Guru Wijaya Karna

__ADS_1


"Iya kakang selama kita membela kebaikan tidak perlu khawatir karena hidup ini hanya sementara, semua akan kembali padaNYA jika saatnya sudah tiba" ucap Nyai Maharani


"Apakah dinda memiliki penyesalan karena menikah dengan kakang?" tanya Guru Wijaya Karna


"Kakang ini bicara apa, sejak awal kita ketemu sebelum dijodohkan oleh Bopo Sagara, Dinda memang sudah jatuh cinta kepada kakang Wijaya Karna dan resiko apapun sudah dari awal Dinda pahami, Kakang Wijaya Karna juga tidak ada kurangnya ketika menjadi suami Dinda" jawab Nyai Maharani


"Kemarin Kakang sowan kepada Paman Bagera, Paman Bagera menyuruh Kakang mengantarkan Ganendra Wisnu Wijaya kesana untuk dilatih oleh Beliau" ucap Guru Wijaya Karna


"Benarkah itu Kakang, beruntung sekali anak kita menjadi murid dari Paman Bagera, Kita semua tau bahwa Paman Bagera tidak mau mengangkat murid sejak dulu" jawab Nyai Maharani


"Benar Dinda, Kita sebagai orang tua hanya bisa memberikan restu kita sepenuhnya untuk Ananda Ganendra Wisnu Wijaya" ucap Guru Wijaya Karna


"Iya kakang jika bertemu lagi dengan Paman Bagera sampaikan salam Dinda untuk Beliau ya Kakang" ucap Nyai Maharani


"Iya Dinda, kalau begitu temanilah Anak kita yang sedang mengarungi waktu dalam meditasinya membaca kitab dari Kakeknya dulu, biar Kakang kembali bersama para saudara dari 6 Padepokan Kenaling Rogo lainnya di aula utama" ucap Guru Wijaya Karna


***


"Para Sesepuh dan Pendekar Senior di Padepokan Gunung Arjuno, Aku ingin menyampaikan wasiat, semua manusia akan kembali kepada Sang Pencipta dan jika waktuku sudah datang nantinya, Aku berpesan agar jasadku dimakamkan di Gunung Merapi disamping Guru sekaligus mertuaku Mpu Sagara, Adimas Gunawan sudah paham dengan apa yang harus dilakukan agar jasadku sampai kepada Mpu Bagera tanpa harus kaliyan angkat kesana" ucap Guru Wijaya Karna


Mendengar semua itu setiap yang disana meneteskan air mata seolah-olah itu memang akan terjadi. Dan semua Guru dari 6 Padepokan lainnya mengikuti Guru Wijaya Karna yang juga berpesan agar dimakamkan disebelah saudara seperguruan Mereka.


"Jika nanti kita kewalahan menghadapi pasukan musuh, kalian bisa menepi di Padepokan Gunung Pangrango tempat Guru Dirgajaya karena disana kemungkinan tidak bisa dijamah oleh Para antek Patih Lodaya karena wilayah Gunung Pangrango berada di wilayah Kerajaan Sundapura" ucap Guru Wijaya Karna

__ADS_1


Para Sesepuh dan Pendekar Senior hanya tertunduk dan terdiam tak sanggup berucap dan tak mampu menatap Guru Wijaya Karna. Lalu Panglima pasukan alam lain yaitu Panglima Macan Kumbang yang membantu membuat benteng tiba-tiba muncul disebelah Guru Hadi Wijaya lalu memberikan Laporan bahwa Benteng sudah selesai dan mereka mohon Pamit.


"Pangeran Wijaya Karna Aku bisa melihat Cahaya Putih yang berasal dari kamar, Cahaya apa ini?" tanya Panglima Macan Kumbang


"Itu adalah Putraku Ganendra Wisnu Wijaya" ucap Guru Wijaya Karna menjelaskan


"Baiklah Pangeran Wijaya Karna, Aku sudah paham kalau begitu Aku mohon pamit dulu" ucap Panglima Macan Kumbang


"Terima kasih banyak Panglima Macan Kumbang" jawab Guru Wijaya Karna yang kemudian Panglima Macan Kumbang pun menghilang


"Silahkan para Sesepuh dan Pendekar Senior kembali untuk beristirahat" ucap Guru Wijaya Karna yang kemudian para Sesepuh dan Guru membubarkan diri


"Kalau begitu Kami mohon pamit juga Kakang Wijaya Karna" ucap Guru Ambarukmo


"Baik saudara-saudaraku" jawab Guru Wijaya Karna dan kemudian Para Guru dari 6 Padepokan aliran Kenaling Rogo menghilang dan membawa muridnya untuk kembali ke Padepokan masing-masing.


Setelah itu Guru Wijaya Karna melihat kondisi Ganendra Wisnu Wijaya, Setelah melihat bahwa Ganendra Wisnu Wijaya baik-baik saja lalu menggendong Nyai Maharani kekamar yang ketiduran saat menemani Ganendra Wisnu Wijaya.


Kemudian Guru Wijaya Karna kembali bermeditasi ke ruangan meditasinya, sampai Pagi hari seperti biasa yang dilakukan olehnya jika sedang mengalami situasi yang sulit seperti peperangan yang akan terjadi kali ini agar lebih mendekatkan jiwanya kepada Gusti Hamengku Jagad.


***


Pada pagi hari Telik sandi Padepokan sudah melaporkan pergerakan yang terjadi dalam aliansi aliran Hitam, mereka belum akan menyerang karena masih kerepotan dengan serangan semalam dan masih harus mempersiapkan semua komponen untuk mengobarkan perang besar melawan aliran putih.

__ADS_1


"Dari yang Saya amati mungkin perkiraan Saya mereka akan mencoba menyerang secara senyap dulu Guru, karena mereka juga memiliki Pendekar-pendekar sakti yang bisa menyokong mereka dalam sebuah misi" ungkap telik sandi tersebut.


"Baiklah aku paham maksudmu, tetaplah menjaga diri" ucap Guru Wijaya Karna kemudian Guru Wijaya Karna melakukan telepati dengan para Guru dari 6 Padepokan untuk mewaspadai serangan balasan dengan senyap dari pihak Gagak Ireng, level dinaikkan menjadi Siaga1. Dan para Guru dari 6 Padepokan lainnya dapat memahami hal tersebut dan kemudian mengumumkan kepada murid-muridnya.


__ADS_2