
"Bagaimana keadaanmu Ronggo?" tanya Simo
"Ajian Tapak Besi miliknya sangat Kuat" ucap Ronggo, kemudian Simo mengeluarkan pil dari sakunya yang kemudian ditelan oleh Gotri dan Ronggo, dalam waktu singkat Mereka seolah sudah sangat pulih dari luka dalam yang Mereka derita, bekas jari dari Ajian Tapak Besi milik Ganendra Wisnu Wijaya pun menghilang. Sontak hal tersebut membuatnya kaget dengan apa yang baru saja Dia lihat.
"Pil apa itu, Daya sembuhnya luar biasa cepat sangat ajaib" gumam Ganendra Wisnu Wijaya
"Baiklah sekarang apa yang akan Kita lakukan?" tanya Simo
"Kita gunakan formasi segitiga" ucap Ronggo, formasi Segitiga adalah formasi pengepungan lawan dengan membentuk segitiga yang tidak akan berhenti menyerang, berfungsi sebagai mode serangan agar lawan terperangakap lalu terkuras tenaganya dan kehilangan fokus, ini adalah sebuah tehnik serangan yang dikuasai oleh beberapa aliran yang memiliki murid berjumlah tiga Orang yang membentuk rangkaian. Kemudian Mereka langsung saja bergegas melompat dan menyerang Ganendra Wisnu Wijaya disaat itu juga, Ganendra Wisnu Wijaya pun langsung sigap dan memberikan perlawanan kepada Mereka.
"Formasi segitiga ya, Aku sudah diajari Oleh Kakek bagaimana mengatasi formasi ini" batin Ganendra Wisnu Wijaya dengan senyuman, Ganendra Wisnu Wijaya pun mampu menahan dan menebak setiap serangan dari Mereka namun Dia belum menemukan celah untuk menghancurkan formasi tersebut dan pertarungan terus berlanjut mulai dari Pukulan tendangan yang Mereka lancarkan dapat diatasi oleh Ganendra Wisnu Wijaya hingga akhirnya gerakan Mereka malah sedikit melambat karena energi mulai terkuras sedangkan Ganendra Wisnu Wijaya memiliki tenaga dan daya tahan yang sangat bagus, ketika ada celah kemudian Ganendra Wisnu Wijaya berhasil menendang Gotri dan Ronggo bergantian sampai terpental beberapa meter, lalu Ganendra Wisnu Wijaya langsung mencecar Simo dengan serangan bertubi-tubi karena memanfaatkan formasi ketiganya yang sudah mulai terpecah hingga akhirnya moment yang ditunggu pun tiba sehingga Ganendra Wisnu Wijaya mendaratkan Ajian Brojomusti dikepala Simo yang membuatnya langsung terkapar namun Ganendra Wisnu Wijaya langsung menyergapnya dan mematahkan tulang lehernya dengan sekali gerakan, kesempatan itu tidak disia-siakan olehnya untuk mengambil pil dari Saku Simo.
"Ini adalah rampasan pertarungan, jadi sah dan halal" ucap Ganendra Wisnu Wijaya sambil menunjukkan kantong yang berisi banyak pil yang digunakan Mereka untuk menyembuhkan tadi, Ronggo dan Gotri pun tercengang dengan hal ini, Simo sudah berhasil dikalahkan padahal Simo adalah Pendekar Penyembuh dari tim Mereka, selain memiliki Pil ajaib Simo juga handal dalam mengobati dengan Cakra miliknya. Sehingga membuat Ronggo dan Gotri berfikir jika sudah tidak memiliki harapan lagi, Mereka sudah terkena Pukulan Tapak Besi dan berhasil pulih dengan menyerang bersama-sama namun kehilangan Simo adalah sebuah pukulan telak karena jika Mereka terkena serangan lagi pasti akan menyusul Simo juga, setidaknya Mereka tak ingin mati konyol karena perhitungannya sudah jelas bahwa Mereka sudah kalah.
"Kami mengaku kalah, mohon kemurahan hati dari Pendekar, untuk mengijinkan Kami pergi lalu memakamkan saudara Kami dan Kami akan berjanji tidak akan pernah mengganggu Tuan Pendekar lagi" ucap Ronggo sebagai yang paling tua
"Baiklah, maafkan Aku yang terpaksa melakukan ini, Aku harap dimasa depan Kita tidak bertemu lagi sebagai Musuh" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Terima Kasih Pendekar, maafkan Kami yang berusaha mencelakaimu, berhati-hatilah dengan Rajamu karena Dia yang sebenarnya ada dibalik semua ini" ucap Ronggo
"Aku sudah tau dari awal" jawab Ganendra Wisnu Wijaya yang membuat Ronggo dan Gotri kaget,
"Baiklah Kami mohon pamit" ucap Ronggo
"Tunggu dulu, ini Aku kembalikan, Aku hanya minta 3pil saja untuk Aku teliti" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
__ADS_1
"Baik Terima kasih banyak Tuan Pendekar" ucap Gotri kemudian Mereka membawa tubuh Simo pergi untuk dibawa pulang ke Pantai Utara.
"30 Orang ini kalau dikubur satu-satu akan memakan banyak waktu dan tenaga" gumam Ganendra Wisnu Wijaya lalu Dia keluar dari lingkup Padepokan lalu melakukan sebuah Gerakan Jurus Amblas Bumi dan membaca sebuah doa tak berselang lama tanah disekitar bergetar dan kemudian yang terjadi padepokan dan semua yang didalamnya runtuh dan tertelan oleh Tanah, terlihat ada bekas gundukan tanah yang sangat lebar.
"Den kenapa dihancurkan Padepokannya?" tanya Seorang warga sekitar Padepokan Gunung Arjuno
"Tidak apa-apa Paman, untuk mengubur kenangan saja biar tidak membuat luka" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
"Raden ini siapa?" tanya penduduk tersebut
"Aku adalah Ganendra Wisnu Wijaya Paman, putra Guru Wijaya Karna" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
"Bersabarlah Nak Ganendra, Orang-orang Padepokan Kenaling Rogo adalah orang-orang baik" ucap penduduk tersebut
Setelah itu Ganendra Wisnu Wijaya kembali ke Padepokan Gunung Pangrango menggunakan Pusaka Juring Sakti ketika sudah muncul dipadepokan ternyata semua Orang sudah menunggunya dan Mereka langsung tersenyum gembira karena Ganendra Wisnu Wijaya berhasil pulang dengan Selamat tanpa terluka sedikitpun.
"Sudahlah Kakang, ini sudah jalan takdir yang harus ditempuh karena ini sudah menjadi ketentuan dari Gusti Hamengku Jagad" ucap Nyai Bagera sambil mengelus pundak suaminya.
"Sekarang Pangeran Gunawan Wibisono dan Nak Ganendra silahkan mempersiapkan diri untuk membangun kembali Kerajaan Kahuripan, jadikan alur Hidupku menjadi sebuah gambaran dalam mengelola Kerajaan dan nilai kekeluargaan" ucap Mpu Bagera
"Baik Bopo, Saya akan laksanakan sesuai perintah Bopo" ucap Pangeran Gunawan Wibisono sedangkan Ganendra Wisnu Wijaya hanya duduk dengan tenang sambil mendengarkan percakapan semua Orang Tuanya. Diah Ayu Wardani pun hanya duduk disebelah Ganendra Wisnu Wijaya yang diam saja, hanya sesekali memandangi Ganendra Wisnu Wijaya dengan penuh kekaguman.
"Nak Ganendra dan Nak Diah Ayu kalian didepan saja ditaman, agar bisa mengobrol berdua agar tidak sungkan dengan Kami, sepertinya Diah Ayu Wardani ingin sekali mengobrol denganmu" ucap Guru Dirgajaya
"Ti-tidak Bopo, Aku dan Kakang disini saja" jawab Diah Ayu Wardani kaget dengan wajah memerah karena malu ternyata dari tadi diperhatikan oleh Boponya
__ADS_1
"Baik Bopo" jawab Ganendra Wisnu Wijaya sambil menggandeng tangan Diah Ayu Wardani untuk menariknya berjalan keluar, setelah diluar Mereka pun baru berani berbincang
"Cieee Kenapa Dinda? Malu-malu gitu tadi didalam,,, hehe" tanya Ganendra Wisnu Wijaya
"Kakang apaan sih, gimana Kakang tidak terluka kan?" tanya balik Diah Ayu Wardani dengan nada khawatir
"Ada yang luka, disini" jawab Ganendra Wisnu Wijaya lalu menempelkan tangan Diah Ayu Wardani didadanya
"Hah apakah luka dalam Kakang?" tanya Diah Ayu Wardani dengan panik
"Iya luka dalam, didalam rasanya, tapi kalah dengan tangan Dinda, saat tangan Dinda sudah menempel seperti ini rasa sakitnya hilang Dinda" jawab Ganendra Wisnu Wijaya dan membuat Diah Ayu Wardani tau kalau Dia hanya digoda oleh Calon Suaminya, seketika langsung menarik tangannya dan memukul lengan Calon Suaminya tersebut.
"Kakang malah bercanda, Dinda nanya Serius" ucap Diah Ayu Wardani
"Hehehe puji syukur Kakang tidak apa-apa, terima kasih Dinda sudah mengkhawatirkan Kakang" ucap Ganendra Wisnu Wijaya sambil tersenyum
"Tetap khawatirlah, siapa yang tidak khawatir kepada calon suami yang pergi bertarung sendirian dengan resiko besar" jawab Diah Ayu Wardani
"Semoga Kita bisa segera menikah ya Dinda" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Kata Kakek harus nunggu dulu, Dinda harus berlatih dengan giat agar menjadi Pendekar hebat dulu Kakang" jawab Diah Ayu Wardani
"Iya Dinda harus semangat, mungkin dalam waktu kedepan Kakang akan sibuk jadi jangan marah kalau Kakang jarang ketemu atau ngobrol sama Dinda" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Iya kakang, Dinda paham kug" jawab Diah Ayu Wardani
__ADS_1
"Kakang kasihan sama Kakek, karena dikhianati oleh Adiknya sendiri" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Benar Kakang, mengapa ada juga Orang seperti itu didunia ini ternyata" jawab Diah Ayu Wardani