Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta

Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta
Proses Diah Ayu Wardani


__ADS_3

"Aku tak tau mengapa seperti itu Dinda hanya demi Kekuasaan namun mengorbankan sanak keluarga" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Jadikan sebagai pelajaran hidup Kita saja Kakang" ucap Diah Ayu Wardani


"Iya Dinda, bagaimana kemajuan latihanmu Dinda?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya


"Masih belum seperti yang Aku harapkan Kakang" jawab Diah Ayu Wardani


"Apa yang menurutmu sulit?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya


"Terkadang masih seperti bingung Kakang, jadi terkadang ngeblank sendiri" jawab Diah Ayu Wardani


"Gerakan itu harus dengan hati, bener-bener dinikmati jangan malah menjadi beban" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Caranya bagaimana Kakang? Aku belum paham sama sekali masalah itu" ucap Diah Ayu Wardani


"Coba sekarang praktekkan saja bersamaku" ucap Ganendra Wisnu Wijaya lalu Mereka pun berlatih bersama dan Ganendra memberikan pemahaman tentang cara bergerak dan bagaimana rasanya menikmati setiap Gerakan dari Jurus Silat. Tak butuh waktu lama untuk Diah Ayu Wardani dapat memahami dari setiap instruksi Ganendra Wisnu Wijaya


"Bagaimana sudah paham Dinda?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya


"Paham Kanda, ternyata memang beda ya ketika menikmati setiap gerakan dibanding dengan yang penting hafal lalu mempraktekkan gerakan" jawab Diah Ayu Wardani


"Coba praktekkan dengan pedang kayu ini semua rangkaian jurus dan nikmati improvisasi dari tubuhmu sendiri" ucap Ganendra Wisnu Wijaya sambil memberikan pedang kayu


"Baik Kakang" jawab Diah Ayu Wardani kemudian memulai bergerak dengan sangat pasti dan meyakinkan, dengan gerakan sepenuh hati dan tanpa beban membuat tubuhnya lebih luwes dan gerakannya lebih cepat dari biasanya, tenaganya pun mulai terlihat menyatu maksimal dengan setiap gerakannya dan sampai akhir jurus, terdengar suara tepuk tangan dari Mpu Bagera, Guru Dirgajaya dan Pangeran Gunawan Wibisono yang melihat latihan Mereka


"Kau sudah menemukan apa yang kurang dari dirimu, selama Kakek disini akan setiap hari melatihmu Cucuku Diah Ayu" ucap Mpu Bagera


"Perkembanganmu sangat mengagumkan Anakku , Bopo tak menyangka dalam waktu sesingkat ini Kamu sudah mencapai level yang seperti ini" ucap Guru Dirgajaya

__ADS_1


"Nak Diah Ayu sudah setara dengan Pendekar-pendekar hebat diluar sana" ucap Pangeran Gunawan Wibisono


"Terima Kasih Bopo, Kakek dan Paman untuk pujiannya tapi ini belum ada apa-apanya, Aku harus terus belajar dan berlatih" jawab Diah Ayu Wardani


"Sekarang gunakan Pedang pemberian Kakek" ucap Mpu Bagera


"Baik Kakek" jawab Diah Ayu Wardani kemudian mulai menggunakan ajian pemindah lalu pedang muncul ditangannya, ketika pedang dicabut dari sarungnya semua yang melihat terlihat sangat kaget, kemudian Diah Ayu Wardani pun mempraktekkan beberapa jurus, setelah menggunakan Pedangnya terlihat gerakannya menjadi sangat luar biasa, benar-bener menunjukkan level yang berbeda sampai digerakan terakhir pun gerakan Diah Ayu Wardani tetap konsisten berada dilevel tertinggi.


"Pedang Langit memang luar biasa" ucap Guru Dirgajaya


"Benar sekali Kakang Dirgajaya, Aku baru ingat ciri-ciri Pedang Langit, ternyata memang luar biasa" ucap Pangeran Gunawan Wibisono


"Baiklah sudah pantas jika nantinya Kalian berdua mengembara" ucap Mpu Bagera, Guru Dirgajaya pun kaget mendengar hal itu


"Apakah harus mengembara Guru?" tanya Guru Dirgajaya


"Harus,, karena dengan cara itu, Mereka berdua akan mampu melihat kondisi Rakyat dan semakin dikenal oleh rakyatnya" ucap Mpu Bagera


"Ya sudah sekarang Kalian mending istirahat dulu saja, besok pagi bangun dan langsung latihan bersama Kakek" ucap Mpu Bagera


"Baik Kakek" jawab Diah Ayu Wardani, kemudian Mereka pun bergegas kembali kekamar masing-masing.


Setelah sampai dikamar Ganendra Wisnu Wijaya tidak langsung tidur, Dia memilih untuk bermeditasi agar tenaga dalamnya semakin kuat , tak terasa keringat keluar dari tubunya namun tingkat tenaga dalamnya bisa sangat dirasakan kalau semakin membaik. Setelah lelah kemudian Dia pun baru beranjak untuk tidur


***


Pada pagi hari Diah Ayu Wardani sudah datang ditempat latihan, agar tidak dilihat oleh murid-murid lain Mpu Bagera menutup proses latihan dengan Ajian Halimunan. Latihan pun dimulai dan Diah Ayu Wardani sangat antusias dan sering bertanya bila ada yang susah dipahami, bukan hal yang sulit mengajari yang sudah memiliki basic dan memiliki gen seorang pendekar dari Orang Tua nya atau Kakek-Neneknya dulu. Sedangkan Ganendra Wisnu Wijaya memilih menjalankan misi kembali menggunakan Topeng menjadi Si Sableng Bertopeng


Sampai hari menjelang Siang latihan tersebut dihentikan tampak jelas sekali wajah Diah Ayu Wardani sudah sangat lelah apa lagi Dia juga belum makan dari pagi, setelah itu Dia langsung saja menuju kedapur soalnya Mereka sudah tidak kuat lagi dan sesampai didapur ternyata sudah ada Nyai Maharani dan Nyai Dirgajaya yang tengah mengobrol berdua,

__ADS_1


"Ibu makan, sudah gag kuat ini Bu" ucap Diah Ayu Wardani


"Baru selesai ya latihannya, bagus semangat ya" ucap Nyai Dirgajaya


"Ini makan dan minumnya, pelan-pelan saja pas makan ya ini juga salah satu cara melatih hawa nafsu" ucap Nyai Maharani


"Baik Ibu" ucap Diah Ayu Wardani kemudian langsung makan dengan lahap, setelah selesai Diah Ayu Wardani pun ikut mengobrol bersama kedua Ibunya yang tengah sibuk menyiapkan bahan makanan untuk kembali dimasak disiang hari.


"Hayo Nak Diah Ayu tadi belum mandi kan?" tanya Nyai Bagera ketika datang kedapur


"Belum Nek" jawab Diah Ayu Wardani


"Mandi dulu sana Nak, setelah itu ganti pakaian" ucap Nyai Bagera


"Baik Nek" jawab Diah Ayu Wardani yang terlihat sangat lelah sekali, kemudian Dia pun beranjak untuk pergi mandi


"Cucuku Diah Ayu Wardani harus kuat ya, jangan nyerah sama capek" ucap Nyai Bagera


"Baik Nenekku sayang" jawab Diah Ayu Wardani yang kemudian terus berjalan keluar menuju ruang tengah.


***


Dikediaman Sang Prabu Kertaraja Wiranegara dilereng Gunung Arjuno sedang ada rapat besar karena dihadiri oleh Patih Lodaya dan para pemangku pemerintahan yang sudah diganti oleh orang-orang kepercayaan dari Pihak Gagak Ireng.


"Kakang Prabu sepertinya rencana Kita untuk menghabisi Ganendra Wisnu Wijaya, Gunawan Wibisono dan Tejarana gagal, karena para pendekar suruhan Kita menghilang lalu bangunan Padepokannya pun juga telah lenyap" ucap Patih Lodaya


"Tidak masalah Adikku, suatu saat Mereka pasti akan Kita habisi. Kakangku dan Anaknya pun juga lolos dari penyergapan karena memang Kita salah perhitungan dan personil yang Kita kirimkan memang kurang mumpuni sehingga dapat dikalahkan oleh Mereka dengan mudah" jawab Prabu Kertaraja Wiranegara


"Apakah lebih baik Kita menghidupi para pendekar-pendekar yang lebih tangguh dari sekarang agar Mereka semua berada dipihak Kita Kakang Prabu, karena masih banyak Pendekar-pendekar hebat yang belum Kita rangkul" ucap Patih Lodaya

__ADS_1


"Baiklah cari pendekar yang tingkatannya Dia atas rata-rata Pendekar dari Padepokan Gagak Ireng kalau Mereka tidak lebih baik dari orang-orang Kita saat ini ya percuma saja kan" jawab Sang Prabu Kertaraja Wiranegara


"Baik Kakang Prabu, nanti Saya akan membuat kelas-kelas dalam hal ini agar mereka berlomba menjadi yang terbaik agar semakin mendapatkan penghidupan semakin layak, jika tidak Mereka akan terbuang karena disetiap kelas Kita hanya akan mengisi dengan jumlah 10 Pendekar agar persaingan semakin ketat" ucap Patih Lodaya


__ADS_2