
Ketika bermeditasi Ganendra Wisnu Wijaya seperti melihat sebuah gambaran jika besok Dia tidak boleh membawa Guru Gunawan dan para murid untuk kembali ke Padepokan Gunung Arjuno, sebuah firasat buruk sedang Dia rasakan. Kemudian Ganendra Wisnu Wijaya mencoba bertelepati dengan Guru Gunawan mengingat Dia pernah bertelepati dengan Boponya Guru Wijaya Karna semasa Guru Wijaya Karna masih hidup.
"Paman Gunawan jika paman mendengar ucapan Saya mohon jawablah Paman" ucap Ganendra Wisnu Wijaya dalam batin mencoba bertelepati dengan Guru Gunawan
"Apakah ini Nak Ganendra?" balas oleh Guru Gunawan
"Betul Paman, syukur Paman mendengarku karena ada hal penting yang ingin Saya sampaikan kepada Paman Gunawan" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Apa itu Nak, coba jelaskan kepada Paman" jawab Guru Gunawan
"Hari ini Kakek sudah menceritakan tentang silsilah Bopo, Paman dan Saya, namun Saya memiliki firasat kurang Baik tentang rencana besok Kita kembali ke Padepokan Lereng Gunung Arjuno jadi besok biar Saya saja yang kembali melihat situasi dipadepokan, sedangkan Kakek, Nenek dan Ibu akan Saya ajak ke Padepokan Gunung Pangrango untuk sementara waktu" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Baiklah nak memang sudah waktunya Kamu mengetahui semuanya, namun apa yang membuatmu merubah strategi Nak tentang wacana Kita membangun lagi Padepokan?" tanya Guru Gunawan
"Saya mencurigai Prabu Kertaraja Wiranegara bahwa besok memiliki rencana kurang baik kepada Kita paman" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
"Ya sudah, Paman terserah Kau saja, jadi besok apa strategi yang akan Kau terapkan?" tanya Guru Gunawan
"Besok biarkan Saya jelaskan ketika bertemu Paman, akan Saya tunjukkan seperti apa Ksatria trah dari Kerajaan Kahuripan" jawab Ganendra Wisnu Wijaya lewat telepati
"Baiklah Paman setuju saja dengan apapun yang Kau rencanakan Anakku" jawab Guru Gunawan
"Baiklah Paman, kalau begitu Saya mohon undur diri dulu karena Saya harus mencari cara agar Kakek, Nenek dan Ibu mau diajak berkunjung kepadepokan Gunung Pangrango" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Baik Nak Ganendra, tetap selalu waspada" ucap Guru Gunawan, kemudian Ganendra Wisnu Wijaya membuka mata lalu bergegas kedepan untuk melihat Diah Ayu Wardani yang sedang latihan, lalu Ganendra Wisnu Wijaya duduk diteras dan ditemani oleh Nyai Maharani dan Nyai Bagera yang sama-sama mengamati Diah Ayu Wardani.
"Bagaimana kondisimu Anakku?" tanya Nyai Maharani
"Saya sudah sehat bu, tenang ya,,, hehehe" jawab Ganendra Wisnu Wijaya , tak berselang lama latihan Diah Ayu Wardani pun berakhir, kemudian Diah Ayu Wardani dan Mpu Bagera bergabung dengan Ganendra Wisnu Wijaya dan Nyai Maharani duduk untuk minum teh hangat.
"Paman Tejarana sedang kemana ya Kakek? dari tadi Saya tidak ketemu dengan Paman" ucap Arya Sena
"Tejarana dari kemarin belum pulang karena sekarang Dia sudah memiliki Pusaka Juring sakti jadi bisa kemana-mana seperti yang Kau lakukan" Jawab Mpu Bagera
__ADS_1
"Kakek bisakah Kakek, Nenek dan Ibu nanti sore ikut Aku dan Dinda Diah ke Padepokan Gunung Pangrango?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya
"Tumben sekali, ada apa Nak?" tanya Nyai Maharani
"Aku minta Kakek, Nenek dan Ibu kesana untuk melamarkan Dinda Diah untuk menjadi Istriku" jawab Ganendra Wisnu Wijaya, sontak perkataan Ganendra Wisnu Wijaya itu membuat kaget semua orang dan Diah Ayu Wardani wajahnya langsung memerah seketika
"Ini serius Kakang?" tanya Diah Ayu Wardani menegaskan
"Betul Dinda, Aku ingin melamarmu walau Kita sudah dijodohkan namun Aku ingin segera menikah denganmu" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
"Apa sudah Kau timbang dengan matang nak?" tanya Nyai Maharani
"Sudah ibu, yang terpenting dilamarkan dulu saja ya Kek?" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Baiklah nanti Kita semua akan kesana" jawab Mpu Bagera
"Yeaahh,,, terima kasih Kakek" jawab Ganendra Wisnu Wijaya sambil berteriak kegirangan
"Nak Diah Ayu sekarang Kakek akan memberikanmu sesuatu, Kamu apakah sanggup menjaganya?" tanya Mpu Bagera
"Berikan pedangmu itu kepada Kakek, apa nama pedangmu Nak?" tanya Mpu Bagera
"Hehehe,,, ini pedang biasa Kek tidak istimewa jadi tidak ada namanya" jawab Diah Ayu Wardani sambil menyerahkan pedangnya, kemudian Mpu Bagera menghunus pedang lalu menyerang Ganendra Wisnu Wijaya
"Waspada Ganendra" Teriak Mpu Bagera , seketika Ganendra Wisnu Wijaya refleks menangkis dengan tangannya dan membuat pedang Diah Ayu Wardani patah menjadi beberapa bagian walau hanya dengan tangan kosong
"Pedangmu ini tak layak menjadi senjatamu, karena fungsinya tidak mampu menopang kemampuanmu bermain pedang. Pedang itu sangat berpengaruh dalam sebuah pertarungan" ucap Mpu Bagera
"Lalu bagaimana Kakek?" tanya Diah Ayu Wardani kemudian Mpu Bagera membuka tangan dan tiba-tiba muncul sebuah pedang
"Ini hadiah dari Kakek untukmu, namanya Pedang Langit" ucap Mpu Bagera
"Benarkah ini Pedang Langit kek?" tanya Diah Ayu Wardani sambil wajahnya terlihat sangat terkejut
__ADS_1
"Tentu saja benar, Apakah nak Diah Ayu tau tentang Pedang Sutra ini?" tanya Mpu Bagera
"Semua Pendekar Wanita pasti pernah mendengar Legenda Pedang Langit Kek, karena Pedang Langit konon dibawa oleh Pendekar Wanita yang sangat Sakti dari negeri sebrang" jawab Diah Ayu Wardani
"Calon istrimu ternyata berwawasan sangat luas Nak Ganendra, ini adalah Pedang Langit silahkan Nak Diah Ayu lihat apa perbedaannya dibanding dengan pedang-pedang lain" ucap Mpu Bagera sambil menyerahkan Pedang Langit kepada Diah Ayu Wardani
"Terima Kasih Kakek" jawab Diah Ayu Wardani kemudian Diah Ayu Wardani melihat dengan seksama, lalu merasakan berat dari pedangnya dan kemudian menarik pedangnya dari sarungnya, kemudian melihat mata pedangnya dengan seksama, terlihat sangat bahagia dan seperti memahami sesuatu yang hanya Dia sendiri yang mengetahuinya
"Tidak salah Orang, Nak Diah Ayu adalah Pendekar yang tepat menjadi tuan dari Pedang Langit selanjutnya, coba Nak Lakukan beberapa jurus menggunakan Pedang ini" ucap Mpu Bagera
"Baik Kakek" jawab Diah Ayu Wardani lalu berjalan kehalaman dan mempraktekkan beberapa jurus, terlihat gerakannya sangat indah, tenpa sadar setiap gerakannya menimbulkan angin yang berhembus mengelilingi tubuhnya.
"Aku belum pernah melihat perpaduan seperti ini, Kakang Sagara saja dulu tidak mampu membuat tiupan angin seperti ini, sangat berbakat" ucap Mpu Bagera, Ganendra Wisnu Wijaya pun terlihat sangat terpesona dengan Diah Ayu Wardani yang sangat hebat walau baru dilatih sekali oleh Mpu Bagera. Kemudian setelah selesai Diah Ayu Wardani seakan tidak percaya dengan apa yang dilakukannya tadi, sangat menikmati dan merasa nyaman ketika menggerakkan seluruh tubuhnya, dan kemudian Diah Ayu Wardani kembali duduk ditempatnya.
"Pedangnya sangat ringan Kek dan terasa begitu nyaman setiap mengayunkannya" ucap Diah Ayu Wardani
"Kau memang sangat berbakat cucuku" ucap Mpu Bagera
"Simpan baik-baik jangan boleh dipinjam oleh siapapun walaupun itu Bopomu sendiri" ucap Mpu Bagera lalu mengajari Diah Ayu Wardani untuk melakukan jurus pemindah untuk berjaga-jaga jika ingin menyembunyikan pedangnya dimoment tertentu, lalu hal yang tidak disangka adalah Diah Ayu Wardani langsung bisa menguasai Jurus Pemindah tersebut.
"Latihan dan pembahasan pedangnya istirahat dulu, sekarang waktunya makan" ucap Nyai Bagera sambil membawakan nasi dan beberapa lauk, kemudian Nyai Maharani dan Diah Ayu Wardani langsung bergegas kedapur untuk membantu mengeluarkan sayur dan lauk, setelah makan kemudian mereka berbincang dan bercerita sambil bercanda sampai tidak terasa waktu sudah menjelang sore.
"Lebih baik Kita berangkat sekarang saja biar sampai sana masih banyak waktu untuk berbincang dengan Dirgajaya " ucap Mpu Bagera
"Baik Bopo, Aku akan siap-siap dulu" ucap Nyai Maharani
***
"Baiklah semua sudah siap?" tanya Mpu Bagera
"Sudah Kek" jawab Ganendra Wisnu Wijaya, kemudian Mpu Bagera malah menuju halaman lalu mengeluarkan beberapa jarum dan kemudian tiba-tiba melemparkan jarum tersebut dibeberap titik, dan terdengar suara kesakitan
"Aku paham tujuanmu mengajak Kami semua cucuku, karena sudah tiga hari mereka mengamati rumah Kita" ucap Mpu Bagera sambil tersenyum dan kemudian mereka bergandengan tangan dan menghilang dari pandangan mata dalam sekejap.
__ADS_1
Telik Sandi yang bernasib malang karena Mereka akan menjadi mangsa Binatang buas yang berada di Lereng Gunung Merapi.