Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta

Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta
Rencana Pernikahan


__ADS_3

Setiap selesai melaksanakan misi menjadi Si Sableng Bertopeng, dalam beberapa hari terakhir Ganendra Wisnu Wijaya dan Diah Ayu Wardani setiap hari dilatih oleh Mpu Bagera, keduanya pun sudah mulai padu dalam ilmu pedang berpasangan dan tehnik formasi dalam bertarung, semua diluar ekspektasi dari Mpu Bagera karena perkembangan Mereka berdua sangat pesat sekali.


"Mereka memang sudah ditakdirkan bersama, perkembangan Mereka sangat unik, cepat sekali dan Nak Ganendra bisa menjadi tutor disaat latihan dengan komunikasi yang sangat bisa diterima oleh Nak Diah Ayu, memang gaya bahasa antara Anak muda dan Orang tua sangat berbeda" ucap Mpu Bagera


"Benar sekali Bopo, Saya sangat kagum dengan Ganendra Wisnu karena Dia begitu sabar terhadap Diah Ayu, Dia sangat mengerti tentang Diah Ayu melebihi Saya yang merupakan Boponya sendiri, Saya sangat tenang rasanya didalam hati melihat interaksi antara Ganendra Wisnu dan Diah Ayu" ucap Guru Dirgajaya


"Mau tidak mau, suka tidak suka Kita memang menyerahkan tanggungjawab yang besar ini kepada Mereka berdua, semoga Gusti Yang Maha Kuasa selalu meridhoi jalan Mereka dan memberikan kemudahan kedepannya" ucap Mpu Bagera


"Aamiin,,, Kita percayakan saja kepada Mereka Bopo dan selalu mendoakan Mereka" ucap Guru Dirgajaya


"Apakah Ibunya ikhlas dengan jalan yang Diah Ayu tempuh kedepannya?" tanya Mpu Bagera


"Istriku sangat mendukung Bopo, karena dari dulu memang sudah menjadi kesepakatan Kami karena kehidupan didunia persilatan saat ini sedang tidak baik jadi Dia bisa memahami semua ini" jawab Guru Dirgajaya


"Adikku sangat dendam kepadaku mungkin karena Dia dulu menyukai Istriku tapi Istriku memilih menikah denganku yang berencana keluar dari Kerajaan Nagari karena tidak berminat menjadi Raja seperti Kakang Sagara tapi Aku tak mengira akan menjadi sejauh ini buntut masalah yang akan terjadi" ucap Mpu Bagera


"Tidak mungkin hanya karena itu Bopo, Saya mendengar bahwa Sang Prabu Kertaraja Wiranegara tidak memiliki Anak laki-laki sedangkan Bopo memiliki Adimas Tejarana jadi menurut Saya permasalah utama adalah itu, jangan menyalahkan diri sendiri Bopo" ucap Guru Dirgajaya


"Bisa jadi seperti itu, makanya Aku mengantisipasinya tidak mengijinkan Tejarana turun Gunung sebelum waktunya saat itu" ucap Mpu Bagera


"Bopo mohon maaf, sekiranya bukankah lebih Baik pernikahan antara Pangeran Gunawan Wibisono dan Nyai Maharani digelar disini saja?" ucap Guru Dirgajaya


"Baiklah, besok adalah hari yang bagus untuk Mereka menikah" ucap Mpu Bagera


"Syukurlah Guru, nanti biarkan Saya mengatur murid-murid mengadakan acara untuk besok" ucap Guru Dirgajaya dengan sumringah


"Tidak perlu repot-repot dan jangan terlalu mencolok agar tidak menarik perhatian telik sandi, karena pernikahan antara Pangeran Gunawan Wibisono dan Anakku Maharani jika terdengar oleh Patih Lodaya akan dilaporkan kepada Adikku, dan itu akan sangat mengganggu dengan rencana membangun lagi Kerajaan Kahuripan" ucap Mpu Bagera


"Baiklah kalau begitu Bopo, Saya pamit dulu untuk menyampaikan kepada Istri Saya" jawab Guru Dirgajaya


"Bahan makanan sudah ada digudang, jadi tidak perlu membeli bahan makanan untuk acara besok" ucap Mpu Bagera

__ADS_1


"Baik Bopo" jawab Guru Dirgajaya yang juga merasa kaget ternyata semua hal sudah dipersiapkan oleh Gurunya tanpa sepengetahuan dirinya, seperti itulah Mpu Bagera selalu penuh kejutan, pemikirannya dua langkah didepan dibandingkan orang-orang biasa karena Beliau adalah sosok waskito


"Latihan Pagi ini cukup dulu" ucap Mpu Bagera, Ganendra Wisnu Wijaya dan Diah Ayu Wardani pun kemudian berhenti dari latihan Mereka


"Bagimana Kek, apakah sudah ada perkembangan dari Kami?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya


"Sudah cukup bagus, besok latihan pada malam hari karena besok adalah hari pernikahan Ibumu dengan Pamanmu" ucap Mpu Bagera


"Baik kek" jawab Ganendra Wisnu Wijaya yang terlihat sumringah


"Bagaimana Nak Diah Ayu staminamu sudah bertambah atau masih kepayahan?" tanya Mpu Bagera


"Puji Syukur sudah semakin membaik Kek, nafas juga sudah tidak terengah-engah seperti dulu" jawab Diah Ayu Wardani


"Baiklah sekarang Kalian istirahatlah dulu, Kakek masih ada urusan yang harus ditangani" ucap Mpu Bagera yang kemudian menghilang menggunakan Pusaka Juring Sakti


"Kira-kira Kakek pergi kemana ya Kakang?" tanya Diah Ayu Wardani


"Kakang ih,,," ucap Diah Ayu Wardani


"Kakang tak tau Dinda, Kakek adalah Orang yang unik, dulu ketika masih tinggal di Gunung Merapi kadang Kakang diam-diam turun Gunung untuk membantu para warga yang didzolimi oleh pengikut Kolowiso tapi menggunakan topeng, Kakek saja bisa tau" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Apa? Berarti Kakang ini sebenarnya sosok Si Sableng Bertopeng?" ucap Diah Ayu Wardani dengan kaget, kemudian Ganendra Wisnu Wijaya langsung menutup bibir Diah Ayu Wardani secara spontan


"Stttt,,, jangan keras-keras, malah keceplosan Kakang" jawab Ganendra Wisnu Wijaya terlihat menyesal, lalu Diah Ayu Wardani memegang tangan Ganendra Wisnu Wijaya lalu memindahkan dari Bibirnya. Kemudian Ganendra Wisnu Wijaya langsung menarik tangannya dengan cepat keduanya menjadi salah tingkah karena Ganendra Wisnu Wijaya melakukan itu tidak sadar.


"Kakang ternyata sangat hebat, Dinda kagum sama Kakang" ucap Diah Ayu Wardani


"Besok Ibu dan Paman melangsungkan pernikahan, Kita kapan ya,, hehehe" ucap Ganendra Wisnu Wijaya mengalihkan pembicaraan


"Aku mau mandi dulu Kakang" jawab Diah Ayu Wardani langsung berlari karena malu

__ADS_1


"Dinda, Aku sangat bersyukur mengenalmu dan Keluargamu, Kau adalah Anugerah terindah dalam hidupku jika mengenang saat pertama Kita kenal dulu, Kamu sangat jutek padaku gara-gara Aku tiba-tiba muncul dikamarmu. Aku berjanji tak akan pernah menyakitimu dan akan selalu ada buatmu" gumam Ganendra Wisnu Wijaya sambil tersenyum sendiri


***


"Selamat datang kembali Kakang Prabu di Kerajaan Nagari" ucap Patih Lodaya


"Kapan pernikahan Anak Kita akan dilangsungkan Adimas?" tanya Prabu Kertaraja Wiranegara


"3 bulan lagi Kakang" jawab Patih Lodaya


"Kelak Putra Kita yang akan meneruskan Kerajaan ini, Aku sudah tua jadi biarkan Putra Kita yang meneruskan perjalanan Kita yang penuh liku" ucap Prabu Kertaraja Wiranegara


"Benar Kakang, Terima Kasih untuk kepercayaan Kakang selama ini kepadaku sehingga Aku menjadi seperti saat ini sekarang, Aku akan selalu setia kepada Kakang" ucap Patih Lodaya


"Begitulah hidup, dulu Aku menemukanmu ketika Aku menyamar untuk melihat dunia luar, Aku melihat kemampuan bertarungmu bagus namun memang harus diasah dan Aku menyuruhmu berguru pada Kakang Sagara dan Kakang Wongso namun Kesetiaan dan nyalimu sangat besar sehingga Aku mengangkatmu menjadi saudaraku" ucap Prabu Kertaraja Wiranegara


"Kehidupanku saat itu sangat menyedihkan, makan pun Aku harus mencuri atau merampas dari Orang lain, untuk makan sesuap nasi harus bertaruh nyawa" ucap Patih Lodaya


"Yang penting sekarang Kau sudah hidup berkecukupan, mau apapun bisa" ucap Prabu Kertaraja Wiranegara


"Sekali lagi terima kasih Kakang" ucap Patih Lodaya


"Buatlah pesta yang megah untuk pernikahan Anak Kita, Undang sekalian semua kerajaan dibawah naungan Kita dan Kerajaan Sundapura sekalian karena Rajanya adalah sahabatku" ucap Prabu Kertaraja Wiranegara


"Baik Kakang, semua tidak akan terlewat karena Aku sendiri yang akan mengawasi persiapan acara ini nantinya" jawab Patih Lodaya


"Baiklah Aku percaya kepadamu Adimas" jawab Prabu Kertaraja Wiranegara


"Apakah ada rencana penaklukan kerajaan Sundapura Kakang?" tanya Patih Lodaya


"Jangan Adimas karena seperti yang Aku bilang tadi bahwa Prabu Sanjaya Surawisesa Raja Kerajaan Sundapura adalah Sahabatku" ucap Prabu Kertaraja Wiranegara

__ADS_1


"Baiklah Kakang" jawab Patih Lodaya yang nampak agak kecewa


__ADS_2