Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta

Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta
Kesan Pertama Diah Ayu Wardani


__ADS_3

Lalu Ganendra Wisnu Wijaya mencari sungai untuk membilas pedangnya dari noda darah, namun dia merasakan ada 2 orang telik sandi yang mengikuti, 1orang dari auranya adalah aliran putih, sedangkan yang satu lagi dia dari aliran hitam kemudian Dia pun melemparkan pisau kecil namun meleset, pisau itu hanya menancap dibahunya, lalu dia langsung melarikan diri, sedangkan yang telik sandi aliran putih terperanga sampai tidak bisa bergerak.


"Aku tidak suka dimata-matai, Kita bukan berada dipihak yang bersebrangan jadi Aku tak memiliki alasan untuk menyerangmu apa lagi menghabisimu, cepat keluar sekarang atau aku akan berubah pikiran" ucap Ganendra Wisnu Wijaya dengan serius, lalu Telik Sandi tersebut keluar dan mendekati Si Sableng Bertopeng


"Hehehe,,akhirnya keluar juga, hehe, takut ya sama ancamanku,,hehehe Pendekar kok masih takut mati,,hehehe" ucap Si Sableng Bertopeng sambil mencuci pedangnya.


"Maaf pendekar bukan seperti itu, saya hanya penasaran dengan Pendekar, apakah Pendekar ini yang sudah terkenal sering membasmi para anggota Gagak Ireng?" tanya Telik Sandi tersebut


"Wah wah wah, ternyata Aku sudah terkenal banget ya, pokoknya aku tidak suka diikuti, jadi silahkan pergi dari sini, beritahu semua teman-temanmu jangan pernah mengikutiku" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Baik Pendekar, Aku mohon pamit" ucap Telik Sandi tersebut dan kemudian menghilang


Ketika keadaan dirasa aman kemudian Ganendra Wisnu Wijaya berganti pakaian, lalu mengirimkan pakaian dan pedangnya kerumah dengan ajian pemindah, agar pakaiannya dicuci oleh ibunya. Jadi Nyai Maharani akan selalu menempatkan pakaian bersih dan Pedang Langit ditempat yang sudah ditandai dengan sebuah simbol.


Ganendra Wisnu Wijaya kemudian langsung ke padepokan Gunung Pangrango untuk bertemu saudara-saudaranya dengan menggunakan Pusaka Juring Sakti berteleportasi masuk kedalam padepokan, tapi sialnya Dia malah nyasar kekamar Diah Ayu Wardani tepat ketika Diah Ayu Wardani selesai berganti baju, sontak Diah Ayu Wardani langsung berteriak dan menghunus pedanya, pertarungan pun tak terhindarkan antara Diah Ayu Wardani dan Ganendra Wisnu Wijaya, berulang kali Ganendra memberikan penjelasan ketika bertarung tapi Diah tidak perduli karena Boponya saja tidak berani masuk kekamarnya, ini ada laki-laki asing berani masuk kekamarnya secara diam-diam, hal tersebut sontak menarik perhatian semua Guru dan Pendekar padepokan yang lain.


"Ilmu kanuragan bocah ini sangat hebat, dia berhasil menghindari serangan Diah Ayu Wardani dengan sangat santai, dia sama sekali tidak membalas, dari gerakan Silatnya ini mirip sekali dengan gerakan Silat milik Tejarana tapi agak berbeda, apakah dia Nak Ganendra Wisnu Wijaya" gumam Guru Dirgajaya lalu melihat Guru Gunawan dan Tejarana tersenyum sangat sumringah ketika melihat pertarungan Mereka, namun Guru Dirgajaya memilih membiarkan pertarungan, menanti apa yang akan dilakukan Ganendra Wisnu Wijaya dalam keadaan seperti ini.


"Dinda Maafkan Aku, aku tidak sengaja tadi" ucap Ganendra Wisnu Wijaya sambil menghindar dari setiap serangan


"Dasar laki-laki kurang aja, berani masuk kamarku" teriak Diah Ayu Wardani nampak emosi sambil terus melakukan serangan.


Namun Ganendra Wisnu Wijaya sepertinya harus segera mengakhiri pertarungan tanpa harus mengalahkan Diah Ayu Wardani karena bisa membuatnya malu, lalu Ganendra Wisnu Wijaya melihat Guru Dirgajaya sedang berdiri mengamati pertarungannya dengan Diah Ayu Wardani kemudian Ganendra pun mencari celah lalu bersembunyi dibalik badan Guru Dirgajaya sehingga Diah Ayu Wardani sudah tidak berani menyerang.


"Paman Guru tolong Aku Paman" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Bopo dia masuk kekamar Diah" keluh Diah Ayu Wardani kepada Guru Dirgajaya Boponya


"Nak Ganendra Wisnu Wijaya mungkin tidak sengaja, atau ketika berpindah dia hanya teringat wajahmu saja jadi dia berada didekatmu ketika muncul, tidakkah Diah Ayu Wardani mengenalinya? Dia Ganendra Wisnu Wijaya putra mendiang Guru Wijaya Karna dari Padepokan Gunung Arjuno dulu" jawab Guru Dirgajaya


"Salam Hormat Saya Paman Guru" seketika Ganendra Wisnu Wijaya bergerak kedepan dan langsung sungkem kepada Guru Dirgajaya

__ADS_1


"Berdiri nak Ganendra, apa kamu juga lupa dengan Diah?" tanya Guru Dirgajaya


"Tidak Paman Guru, hanya sedikit pangling saja" jawab Ganendra Wisnu Wijaya sambil tertawa


"Maafkan aku Dinda, Aku belum terlalu lihai dalam menggunakan Pusaka Juring Sakti" ucap Ganendra Wisnu Wijaya, namun Diah Ayu Wardani malah berlari malu masuk kekamar.


Kemudian para murid-murid pindahan dari Padepokan Gunung Arjuno langsung mengerubungi Ganendra Wisnu Wijaya dan merangkulnya,


"Apa kabar Saudaraku? Sekarang sudah menjadi besar ternyata" ucap Argo Baruna


"Sehat Kakang, Aku bersyukur bahwa masih banyak yang selamat dari serangan Patih Lodaya" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


Kemudian Guru Gunawan dan Tejarana pun menghampiri Ganendra Wisnu Wijaya


"Ganendra Wisnu Wijaya, bagaimana kabarmu Nak dan bagaimana kabar ibumu dan kakekmu serta Nenekmu?" tanya Guru Gunawan


"Sehat Paman Guru, makanya Saya berani meninggalkan mereka kesini,,hehe" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Baru saja paman Tejarana, aku malah salah masuk tempat karena sekilas aku teringat Dinda Diah Ayu Wardani,,, hahaha" jawab Ganendra Wisnu Wijaya sambil tertawa


"Makanya harus selalu fokus" ucap Tejarana


"Oh iya paman, ada titipan dari Kakek dan Ibu, ini kitab dari kakek dan Baju dari ibu" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Waahhh akhirnya dapet kiriman kasih sayang dari keluarga,,hehehe" ucap Tejarana


"Kalau paman Guru Dirgajaya dapet titipan teh herbal buatan kakek" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Kalau Aku dapet oleh-oleh apa ini?" ucap Guru Dirgajaya untuk memecah suasana.


"Ada titipan dari Kakek untuk Paman Guru" jawab Ganendra Wisnu Wijaya sambil menyerahkan sebuah Kotak kepada Guru Dirgajaya

__ADS_1


"Panggil saja Bopo nak, jangan Paman Guru" ucap Guru Dirgajaya sambil menerima kotak kecil dari Ganendra Wisnu Wijaya


"Baik Bopo" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Ini adalah Batu Merah Delima, sungguh indah" ucap Guru Dirgajaya


"Pesan Kakek, kotak dan batunya ditaruh lalu ditunggu selama 3hari Bopo, kalau 3hari kotak&batu menghilang jadi kotak&batunya balik lagi ke Gunung Merapi" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Baiklah aku paham nak Ganendra" jawab Guru Dirgajaya, kemudian mereka berbincang dan melepas rindu, sambil membahas apa yang terjadi akhir-akhir ini disekitar padepokan.


"Nak Ganendra Wisnu Wijaya Bopo mendengar bahwa dilereng Gunung Merapi ada pendekar yang memakai topeng dan berjuluk Si Sableng Bertopeng, Dia sangat terkenal dikalangan Pendekar aliran putih karena satu-satunya yang menggaungkan perlawanan terhadap Kelompok Gagak Ireng seorang diri. Apakah Nak Ganendra Wisnu Wijaya pernah mendengarnya atau bahkan mengenalnya?" tanya Guru Dirgajaya


"Waduh Aku malah belum pernah mendengarnya Bopo, karena Aku tidak pernah turun Gunung, setiap hari hanya berlatih dan meditasi saja" Jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Semoga dengan kemunculannya akan membuat para pendekar aliran Putih kembali memiliki keberanian untuk bersatu" Ucap Guru Dirgajaya


"Paman Guru Gunawan bagaimana jika kita kembali ke Padepokan dan membangun kembali padepokan Gunung Arjuno? Namun tidak dalam waktu dekat ini, kita benar-benar harus menyusun strategi dalam melangkah" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Kalau Aku selalu setuju saja dan selalu siap, karena Aku sudah berjanji kepada Kakang Wijaya Karna untuk selalu mendukungmu dan mendampingi, tapi untuk saat ini padepokan dijaga oleh masyarakat sekitar dan masih terawat, dulu setelah diserang oleh Patih Lodaya sempat rusak parah namun masyarakat bergotong-royong untuk memperbaiki, mereka berharap padepokan akan kembali eksis seperti dulu" jawab Guru Gunawan


"Kalau kondisinya seperti itu, mari mempersiapkan untuk kembali ke Gunung Arjuno Paman Guru, agar Baginda Prabu juga bersemangat lagi. Paman Guru Gunawan bisa mengabarkan kepada teman-teman agar bersiap jika sewaktu-waktu kembali ke Padepokan" Ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Baiklah Anakku Ganendra Wisnu Wijaya, Kau sangat semangat" ucap Guru Gunawan, Ganendra Wisnu Wijaya hanya tersenyum


"Memang benar ucapan Kakang Wijaya Karna, Ganendra Wisnu Wijaya walau baru berusia 17 Tahun sudah sangat terlihat jika dia memiliki Jiwa pemimpin. Tak salah perkiraan Kakang dulu. Kakang Hadiwijaya anakmu pasti akan membanggakanmu" gumam Guru Dirgajaya dalam batin


"Bagaimana Bopo? Apakah Bopo mengijinkan dengan rencana kami?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya


"Tentu saja Bopo mendukung, aliran putih harus bangkit apalagi saat ini baginda prabu sedang bermukim di Gunung Lawu, ini adalah langkah strategis nak, namun jangan terlalu memaksakan diri" jawab Guru Dirgajaya


"Baik Bopo jika Bopo sudah mengijinkan, Aku akan menyusun strategi dan membuka jalan agar tidak ada kendala" ucap Ganendra Wisnu Wijaya

__ADS_1


"Apa Kamu tidak ingin menemui Diah Ayu Wardani? Ajaklah dia berbincang agar kesalahpahaman tadi segera selesai" ucap Guru Dirgajaya sambil tersenyum, sedangkan Ganendra bingung harus menjawab bagaimana


__ADS_2