
Saat yang dinanti akhirnya pun tiba, sebuah upacara sakral untuk mengikat janji suci Dua Insan dengan Tuhan Pecipta Alam Semesta, semua orang sudah bersiap untuk menanti mempelai Laki-laki dan Wanita.
Mempelai Laki-laki dan Wanita akhirnya dipertemukan setelah beberapa hari tidak bertemu, terlihat jelas rona kebahagiaan dari wajah Mereka berdua, memang pasangan sangat ideal selain memiliki kesaktian yang mumpuni namun juga keduanya sangat berbudi luhur.
Setelah menjalani prosesi Pernikahan nan sakral keduanya pun sudah duduk dipelaminan nampak begitu memancar auranya, Mereka pun kemudian berganti pakaian dan kembali keluar untuk mengobrol dan bertemu dengan saudara yang datang walau hanya beberapa orang saja termasuk utusan dari Kerajaan Sunda yang merupakan senopati kerajaan dan juga alumni dari Padepokan Gunung Pangrango.
"Akhirnya sekarang sudah sah menjadi suami-istri ya" ucap Tejarana
"Iya Paman, paman Kapan gantian?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya yang disambut tawa oleh para keluarga
"Nanti dulu, biarkan pindah ke Kahuripan dulu nanti Aku akan menikah disana" jawab Tejarana
"Baiklah kalau begitu, Kita akan menyiapkan tempat disana" ucap Ganendra Wisnu Wijaya sumringah
"Kakek sudah menyiapkan tempat disana, jadi tidak perlu repot-repot lagi tinggal pindah saja" ucap Pangeran Rajasawira Prawirabuana
"Memang sudah disediakan disana, jadi tidak usah bingung" jawab Mpu Bagera
"Syukur kalau begitu, berarti beberapa hari lagi Kita akan berangkat ke Kahuripan" ucap Ganendra Wisnu Wijaya dengan semangat
"Baik Baginda Prabu" ucap semua orang dengan serentak
"Aduuuhhh udah direncana ini sepertinya" jawab Ganendra Wisnu Wijaya dan dibarengi para keluarga yang tertawa
"Kau akan menjadi Prabu Ganendra Wisnu Wijaya dari Kerajaan Kahuripan namun prosesi pengangkatan sebagai Raja tentunya ketika nanti di Kahuripan bukan disini" ucap Pangeran Gunawan Wibisono
"Kenapa Bukan Ramanda saja yang menjadi Raja?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya yang membuat semua Orang kaget, karena kebanyakan orang akan berebut menjadi Raja namun Ganendra Wisnu Wijaya berbeda
__ADS_1
"Ini bukan lagi masaku, Kau yang lebih pantas mendudukinya Anakku karena Kau adalah Cucu Anak tertua dari Raja Purwa terdahulu" jawab Pangeran Gunawan Wibisono
"Jadi Pangeran Ganendra Wisnu tidak boleh menolak" ucap Pangeran Rajasawira Prawirabuana
"Baiklah Kakek, Ramanda kalau sudah diputuskan seperti itu" jawab Ganendra Wisnu Wijaya, namun tiba-tiba Ganendra Wisnu Wijaya Merasakan ada 10 Orang dengan aura hitam pekat berada diluar gerbang padepokan, seketika beberapa Orang yang tingkat ilmu Kanuragannya rendah jatuh tergeletak pingsan
"Ada 10 Orang, diluar" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Baiklah biar Aku dan Tejarana yang mengatasi, Pengantin jangan ikut campur dulu" ucap Pangeran Gunawan Wibisono, kemudian langsung bergegas bersama Tejarana menyambut para begundal yang berada diluar Padepokan
"Biarkan Saya ikut, ini adalah Wilayah Kerajaan Sunda dan Mereka berani berbuat ulah" ucap Senopati Arya Lodra yang kemudian ikut Keluar, pertempuran 10:3 yang mungkin akan berjalan sengit karena 10 Orang tersebut memiliki level yang cukup Tinggi. Ketiganya langsung terbang melompati pagar padepokan setelah sampai diluar ternyata Warga Sekitar juga sudah dibuat pingsan.
"Ini adalah Ajian Gelap Ngampar, Mereka Pendekar dengan level diatas rata-rata jangan sampai lengah" ucap Pangeran Gunawan Wibisono
"Baik Kakang" jawab Tejarana
"Sekarang serang!" ucap Pangeran Gunawan Wibisono
Mereka bertiga langsung menyerang 10 Orang yang memakai pakaian hitam dan penutup Wajah, pertarungan sangat sengit pun terjadi diantara Mereka, 10 orang bersenjata pedang dilawan oleh 3 Orang dengan tangan kosong namun 3 Orang bukanlah Orang sembarangan, jika hanya pedang biasa tidak akan pernah mempan dikulit mereka, jual beli serangan pun terjadi Tejarana menghadapi 4 Orang, sedangkan Pangeran Gunawan Wibisono dan Senopati Arya Lodra masing-masing melawan 3 Orang.
Serangan Tejarana hampir tidak dapat menembus formasi 4 Orang yang mengepungnya, malah terlihat Tejarana sedikit Kerepotan, namun Tejarana dapat menghindari setiap tebasan dan tusukan dari 4 Orang tersebut sampai Akhirnya punggungnya kena tebasan namun hanya bajunya yang robek sementara tubuhnya tidak terluka sedikitpun Karena Tejarana memiliki Ajian Lembu Sakilan, jadi Tubuhnya aman dari tebasan Pendekar dengan level dibawahnya kemudian Tejarana mengeluarkan Ajian Tapak Geni yang Dia dapatkan dari Ayahnya Mpu Bagera, kedua tangannya agak memerah sebagai tanda jika ajian tapak geni sudah aktif ditangannya, Ketika Dia diserang Dia mampu menghindar dan menangkis dengan tehnik tangkapan ditangan, senjata dari Orang yang ditangkap tadi langsung jatuh karena Tangan Orang yang ditangkap tadi serasa menyentuh bara api yang sangat panas sehingga membuatnya berteriak sangat kencang, yang membuat 3 Orang temannya mundur 3 langkah dan hanya bisa melihat temannya dipukul sampai terpental 4 Meter dan tidak bernafas lagi dengan tubuh bagian Dada dibekas pukulan menjadi memerah seperti terkena Api,
"Apa kalian takut?" tanya Tejarana kemudian langsung menyerang Mereka lagi yang tersisa 3 Orang, kemudian setiap tebasan pedang dari Mereka hanya ditangkis dengan tangan kosong oleh Tejarana sehingga pedang mereka pun meleleh tinggal sedikit saja,
"Kekuatan macam apa ini" ucap salah satu dari Mereka
"Sepertinya Mereka bukanlah tandingan Kita" jawab seorang lagi
__ADS_1
***
Sementara Pangeran Gunawan Wibisono menghadapi 3 Orang terlihat sangat santai, dari formasi 3 Orang tersebut tidak ada yang berhasil mengenai Pangeran Gunawan Wibisono karena cara menghindarnya sangat cepat karena Dia memiliki tipe cakra angin, jadi mempengaruhi kecepatannya, sehingga setiap serangan dapat dipatahkan dengan sangat mudah, Ketika satu tebasan dapat dihindar dangan kecepatannya Pangeran Gunawan Wibisono meraih lengan satu lawan dan membantingnya tepat mengenai lawan yang lain membuat keduanya bertubrukan dan terkapar, kemudian satu Orang lagi berusaha menyerang dari belakang namun mampu disodok tepat dititik bagian ketek yang menyebabkan dislokasi bahu sangat parah yang membuat tangannya tak bisa bergerak seperti kaku namun rasanya sangat sakit, moment tersebut dimanfaatkan Pangeran Gunawan Wibisono menyerang ulu hatinya dengan sekali pukulan dan membuat lawannya tidak dapat bernafas beberapa detik, lalu Pangeran Gunawan Wibisono mengeluarkan tendangan tanpa bayangan tepat dikepala lawannya itu sehingga membuatnya langsung terkapar tak bernyawa, 2 Orang yang bertubrukan tadi pun belum menyadari bahwa Mereka sudah kehilangan satu teman, Pangeran Gunawan Wibisono pun langsung menyerang Mereka lagi dan mematahkan leher Mereka sebelum mereka bangkit, karena Pangeran Gunawan Wibisono adalah ahli pengobatan jadi Dia sangat paham betul dengan anatomi tubuh manusia.
***
Sedangkan Senopati Arya Lodra adalah salah satu senopati yang paling kuat dibanding senopati yang lain di Kerajaan Sundapura, Dia juga dijuluki Senopati Singo Lodra karena keganasannya ketika bertarung bagaikan Singa yang memburu mangsa, Dia juga tipe pendekar yang tak pernah menyisakan 1 musuh pun ketika bertempur, sehingga membuatnya sangat tersohor ditataran Sunda, melawan 3 Orang dengan level dibawahnya bukanlah perkara sulit walau dengan tangan kosong, semua serangan dari lawan mampu dengan cepat Dia atasi, walau serangannya seperti belum mengenai Mereka namun pancaran tenaga dalam dari Senopati Arya Lodra membuat para lawannya mudah terengah-engah, yang membuat gerakan Mereka pun melambat sehingga Senopati Arya Lodra mampu memanfaatkan kelengahan Mereka dengan menyerang ketiganya sekaligus pada titik vital sehingga menyebabkan ketiganya langsung tak bernafas lagi, 1 Orang terkena bagian tenggorokan, 1 Orang tepat diulu hati dan 1 Orang lagi patah tulang leher karena mendapatkan sekali pukulan karat tepat ditengkuknya.
***
Sementara Tejarana nampak sekali masih berbaik hati, Dia menyisakan 3 Orang dari Mereka,
"Kalian mau gimana enaknya? Balik pulang lalu membawa kawan-kawanmu atau dilanjutkan bertarung? Sekarang bisa 1 lawan 1 karena ketujuh temanmu sudah terkapar." tanya Tejarana
"Baik Kami mohon ampun kepada Para Pendekar, Kami mengaku kalah dan salah, Kami akan membawa kawan Kami" jawab salah satu dari Mereka
"Sekali lagi berbuat onar ditataran Sunda, Aku tidak akan segan" ucap Senopati Arya Lodra dengan penuh emosi
"Siapa yang menyuruh Kalian?" tanya Pangeran Gunawan Wibisono
"Mohon ampun, Kami diutus oleh Patih Lodaya" jawab salah satu dari Mereka, kemudian Mereka langsung pergi dengan membawa teman-teman Mereka yang sudah tergeletak tak bernafas.
***
"Aku akan melaporkan kejadian ini kepada Baginda Prabu Sanjaya Surawisesa karena Mereka sudah melanggar teritorial Wilayah Kerajaan Sundapura" ucap Senopati Arya Lodra
"Monggo silahkan Senopati Arya Lodra" jawab Pangeran Gunawan Wibisono yang kemudian kembali masuk padepokan.
__ADS_1