
"Hehehe,,baiklah Bopo, Aku ijin untuk mencari dinda Diah Ayu Wardani Bopo" jawab Ganendra Wisnu Wijaya disambut senyuman dan anggukan Guru Dirgajaya.
Kemudian Ganendra Wisnu Wijaya berkeliling mencari Diah Ayu Wardani dan ternyata Dia sedang duduk termenung dipinggir taman bunga.
"Hai Dinda, boleh kakang ikut duduk?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya untuk mengawali pembicaraan, namun Diah Ayu hanya diam saja sambil duduk memainkan rumput.
"Maafin kakang ya, kakang tadi tidak sengaja muncul dikamar Dinda karena ketika akan teleportasi Kakang terbayang wajah Dinda makanya munculnya didekat Dinda Diah Ayu Wardani" ucap Ganendra Wisnu Wijaya menjelaskan
"Ya sudah kakang, tidak apa-apa tapi lain kali jangan terulang lagi seperti itu" jawab Diah Ayu Wardani
"Semoga saja pas akan teleportasi Kakang tidak terbayang wajah Dinda" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Kakang dari mana tadi? Apa dari Rumah Kakek Bagera di Gunung Merapi langsung kesini?" tanya Diah Ayu Wardani
"Iya dari Merapi langsung kesini, kenapa Dinda?" tanya balik Ganendra Wisnu Wijaya
"Tidak apa-apa Kakang, Aku cuma penasaran tentang Pendekar yang berjuluk Si Sableng Bertopeng, sudah sangat terkenal ditelinga pendekar aliran putih, Dia sering melancarkan aksinya dilereng Merapi tapi tepat sebelum Kakang datang ke Padepokan, Si Sableng Betopeng melancarkan aksi diperbatasan antara Kerajaan Nagari dan Kerajaan Sundapura tak terlalu jauh dari sini, apakah Kakang memiliki kaitan dengan Si Sableng Bertopeng?" tanya balik Diah Ayu Wardani
"Apa benar dinda? Kakang malah tidak tahu tentang hal itu, mungkin kebetulan saja Dinda" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
"Baiklah Dinda akan berusaha percaya, tapi kemampuan silat Kakang sangat hebat tadi Dinda benar-benar serius ingin menebas tapi kakang bisa menghindari setiap serangan yang dinda lancarkan dengan sangat mudah" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Ya syukurlah jadi tidak sia-sia Kakang berlatih hampir setiap hari dari kecil dulu" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Oww,,jadi Kakang berlatih dengan Kakek Bagera ya Kakang, Bopo dari Paman Tejarana kan?" tanya Diah Ayu Wardani
"Iya betul, Paman Tejarana adalah adik ibuku, jadi Mpu Bagera adalah kakekku, begitulah Kira-kira, Ilmu pedang Dinda juga sangat bagus, mungkin jika pendekar lain tadi sudah mati ditangan Dinda, padahal baru berusia Remaja namun sudah sangat hebat" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
"Masih harus berlatih lagi karena Kakang saja tak mampu Dinda lukai, berarti masih belum apa-apa" ucap Diah Ayu Wardani
"Jangan terlalu dipaksakan, dinikmati saja, kakang pergi dulu ya Dinda ada urusan kecil, nanti Kakang malam hari kembali lagi" ucap Ganendra Wisnu Wijaya, lalu menggunakan Pusaka Juring Sakti menghilang dari pandangan Diah Ayu Wardani. Ganendra Wisnu Wijaya merasakan keberadaan telik sandi Gagak Ireng jadi dia memilih untuk segera bertindak.
***
__ADS_1
"Kamu sedang apa kisanak?" suara tiba-tiba datang disebelah seorang telik sandi, dan sebuah belati sudah mengarah dilehernya, baru dia menggerakkan tangan untuk melawan namun belati sudah menancap dilehernya
"Haduh gag bisa dikasih hati, sudah tau ada belati tapi masih pengen nglawan aja" gumam Ganendra Wisnu Wijaya
Kemudian 2 telik sandi lagi bernasib sama, kemudian Ganendra Wisnu Wijaya melempar jasad Mereka agar diurus oleh Murid-murid Pedepokan lalu Dia menghilang menuju Lereng Gunung Merbabu dan Lereng Gunung Bromo untuk menumpas para pengikut Gagak Ireng dengan menggunakan identitas Si Sableng Bertopeng, Serangan tersebut bertujuan untuk untuk mengalihkan perhatian keberadaannya di Gunung Pangrango dan setelah itu Dia pun berpindah menuju Gunung Arjuno untuk menemui Prabu Kertaraja Wiranegara
"Hormat Saya Baginda Prabu" Ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Berpindah menggunakan Pusaka Juring Sakti, berarti kau adalah salah satu murid terpercaya dari Padepokan Kenaling Rogo" ucap Prabu Kertaraja Wiranegara
"Orang-orang menjuluki Saya sebagai Si Sableng Bertopeng" Ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Kau sangat tersohor sehingga banyak sekali yang membicarakan tentang dirimu, sebenarnya siapakah dirimu ini anak muda?" tanya Prabu Kertaraja Wiranegara
"Baginda Prabu Kertaraja Wiranegara tidak perlu tau Siapa Aku sebenarnya, namun Aku adalah Pendekar dari aliran putih" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Baiklah tidak apa-apa Anak Muda, lalu ada perlu apa Kau datang kemari?" tanya Prabu Kertaraja Wiranegara
"Saya datang kesini hendak meminta pertimbangan saja dari Baginda Prabu Kertaraja Wiranegara, menurut Baginda Prabu jika Saya menghabisi warga Kerajaan Nagari namun Dia adalah anggota dari Gagak Ireng, apakah Saya bersalah?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya
"Baiklah Sang Prabu Kertaraja Wiranegara, Saya mohon undur diri" Ucap Ganendra Wisnu Wijaya yang langsung menghilang untuk kembali ke Padepokan Gunung Arjuno
***
Dalam sekejap sampailah Ganendra Wisnu Wijaya dipadepokan yang masih bersih dan rapi, ketika melihat dengan seksama Dia seakan kembali kemasa lalu, sebuah kehidupan yang normal dan bahagia.
"Permisi den, maaf nyari siapa den?" ucap seorang penjaga
"Tidak mencari siapa-siapa paman, hanya sekedar berkunjung" ucap Ganendra Wisnu Wijaya yang sudah melepaskan topeng ketika hendak masuk Padepokan
"Lho den Ganendra apa bukan ini? Saya Sukir den, Sukir" ucap Pakde Sukir
"Ohh Pakde Sukir to, terima kasih pakde masih mau merawat padepokan" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
__ADS_1
"Iya sama-sama den, kapan kembali kesini lagi den?" tanya Pakde Sukir sambil meneteskan air mata
"Kita kedalam dulu saja Pakde nanti Saya ceritakan pas didalam" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
Kemudian setelah sampai didalam padepokan Ganendra Wisnu Wijaya mulai bercerita
"Kita ada rencana kembali Pakde, tapi tidak tau kapan akan pindah kesini, namun ini masih rahasia" ucap Ganendra Wisnu Wijaya namun tiba-tiba Ganendra Wisnu Wijaya merasakan kehadiran 4orang dengan hawa jahat mengendap-endap, dengan level bukan seorang telik sandi, tapi diatasnya
"Pakde disini dulu, ada hal yang perlu Saya bereskan" ucap Ganendra Wisnu Wijaya yang seketika langsung menghilang lalu dengan cepat menghabisi 4 Pendekar tadi agar tidak menimbulkan pertempuran karena tidak ada seorang pun yang tau dirinya kesana selain Pakde Sukir, kemudian Ganendra Wisnu Wijaya kembali menemui Pakde Sukir
"Pakde tolong bereskan ya, ngajak warga sekitar gag apa-apa, pura-puranya aja gag tau dengan kejadian ini ya" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Baik den" jawab pakde Sukir , dan Ganendra Wisnu Wijaya seketika langsung kembali menghilang lagi dan sudah berpindah dipadepokan Gunung Pangrango.
***
Setelah itu arya Sena menemui Guru Dirgajaya dan Guru Gunawan
"Dari mana saja nak seharian ini?" tanya Guru Dirgajaya ketika melihat Ganendra Wisnu Wijaya yang muncul.
"Hehehe,,salam hormat Bopo, maaf Bopo tadi tidak sempat pamit dan hanya pamit kepada dinda Diah Ayu Wardani" jawab Ganendra Wisnu Wijaya
"Nak Ganendra dari mana saja tadi nak?" tanya Guru Gunawan
"Saya tadi dari Padepokan Gunung Arjuno Paman Guru untuk mengecek kondisi disana" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Bagaimana kondisi padepokan?" tanya Guru Gunawan
"Puji Syukur Paman Guru ternyata benar bahwa Padepokan ada yang membersihkan, soalnya Aku ketika mampir bertemu dengan Pakde Sukir yang merawat" ucap Ganendra Wisnu Wijaya
"Syukur kalau begitu Nak" jawab Guru Gunawan
"Nanti bagaimana strategi yang akan Nak Ganendra lakukan?" tanya Guru Dirgajaya
__ADS_1
"Begini Bopo rencananya Aku akan sedikit demi sedikit membersihkan area sekitar padepokan dan mencari beberapa pendekar aliran putih yang memiliki ilmu kanuragan hebat untuk bermukim disekitar padepokan agar dapat bersinergi untuk membentuk sebuah wilayah kuat dan akan Saya jadikan markas para pendekar aliran putih disana, agar bisa mudah berkoordinasi, namun ini hanya sebuah rencana Bopo jadi nanti akan seperti apa hasilnya, Aku serahkan semua kepada Gusti Hamengku Jagad" jawab Ganendra Wisnu Wijaya