Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta

Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta
Misi Penting


__ADS_3

Dipadepokan Gunung Pangrango Mpu Bagera , Guru Dirgajaya , Pangeran Wijaya Gunawan Wibisono dan Ganendra Wisnu Wijaya masih asik mengobrol sementara para wanita sedang sibuk menyiapkan kue-kue yang sedang Mereka masak. Disaat para pria sedang mengobrol asik kemudian tiba-tiba ada seseorang muncul diruangan


"Salam Hormat Saya Bopo, Guru Dirgajaya dan Pangeran Gunawan Wibisono" ucapnya, dan Mereka menjawab dengan tersenyum


"Lho Paman Tejarana darimana saja?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya


"Dari menjalankan tugas mengantisipasi Firasat burukmu Nak Ganendra,,, hehehe" jawab Tejarana


"Maksudnya Paman bagaimana?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya lagi,kemudian Tejarana menjelaskan panjang lebar tentang semua yang terjadi sebelum Dia datang kesitu, sontak itu membuat Pangeran Gunawan Wibisono dan Guru Dirgajaya kaget sehingga Mereka langsung melihat kearah Mpu Bagera yang terlihat sangat terpukul karena secara tidak langsung bahwa kejadian menyedihkan dari beberapa Tahun ini adalah ulah dari Adiknya sendiri yang ingin menyingkirkan keluarganya sendiri sejak lama, Merka juga otomatis mengkhawatirkan kejadian besok hari yang akan dihadapi oleh Ganendra Wisnu Wijaya dipadepokan Gunung Arjuno.


"Sekali lagi Bopo tanya padamu, apa Kau benar-benar yakin Nak untuk kesana seorang diri besok? Bopo seperti tidak rela melepasmu sendiri, apa Bopo sertakan murid terbaik dari Padepokan?" tanya Guru Dirgajaya


"Hahaa,,, Aku salut denganmu Anakku Dirgajaya, Kakangku Sagara sudah berhasil mendidik murid-muridnya memiliki ikatan batin yang sangat kuat. Nak Ganendra tunjukkan senjatamu kepada Bopomu dan Pamanmu" ucap Mpu Bagera yang nampak sangat antusias.


"Baik Kakek" ucap Ganendra Wisnu Wijaya lalu mengeluarkan Pedang Petir dengan jurus pemindah. Mereka langsung melotot seakan tak percaya bahwa Pedang Legendaris yang dicari dan diinginkan diseluruh dunia persilatan ada didepan Mereka saat ini.


"Benarkah ini Pedang Petir yang melegenda?" tanya Guru Dirgajaya


"Luar biasa, selama ini Aku hanya mendengar ceritanya saja namun aura dan energi dari pedang ini sangat dahsyat" ucap Pangeran Gunawan Wibisono


"Tentu saja ini Pedang Petir, takdir selalu menemukan jalannya sendiri-sendiri. Aku dititipi oleh Kakang Wongso ketika Beliau sudah mendapat firasat lewat mimpinya namun yang tak Aku duga bahwa pelakunya adalah muridnya sendiri. Dulu beliau berpesan akan ada dari Keturunanku yang mampu menjadi tuan dari Pedang ini, dan ternyata memang benar sekarang jalan takdir sudah datang" ucap Mpu Bagera dengan santai dan mata berkaca-kaca seolah Dia sudah menunggu moment ini sangat lama.


"Baiklah kalau begitu, Bopo tidak akan mencegah Agendamu besok Anakku" ucap Guru Dirgajaya


"Pesanku tetap waspada dan hati-hati ya Nak" ucap Pangeran Gunawan Wibisono

__ADS_1


"Baik Bopo - Paman, Doa dan Restu paman semoga selalu menjadi jalan keselamatan untukku" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Setelah besok Kita baru akan membahas langkah berikutnya yang akan Kita tempuh termasuk membahas tentang pernikahan Pangeran Gunawan Wibisono dan Anakku Maharani" ucap Mpu Bagera


"Baik Bopo, Saya terserah Bopo saja bagaimana baiknya" ucap Pangeran Gunawan Wibisono


Setelah itu Mereka kembali bercengkerama dan mengobrol dengan santai. Dan tak terasa malam pun semakin larut, kemudian Pangeran Gunawan Wibisono pamit untuk istirahat kembali kekamarnya sedangnya Mpu Bagera, Nyai Bagera dan Nyai Maharani beristirahat dikamar utama yang sudah disediakan, sedangkan Ganendra Wisnu Wijaya dan Tejarana kembali kekamarnya yang berada disebelah asrama murid-murid disana.


***


Sebelum pagi menjelang Ganendra Wisnu Wijaya sudah terbangun dari tidurnya, kemudian Dia langsung mandi dan mempersiapkan diri untuk menjalani misinya, sebuah misi yang penting menurutnya karena ini akan menjadi awal balik yang bagus untuk mengungkapkan jatidiri Sang Prabu Kertaraja Wiranegara yang sebenarnya karena keburukan Sang Prabu selama ini ditanggung oleh Patih Lodaya yang seolah-olah biang masalah, padahal Sang Prabu Kertaraja Wiranegara adalah Sosok utama dari semua yang terjadi, Dia bersandiwara hanya agar bisa menghabisi setiap Orang yang bisa menjadi ancamannya sewaktu-waktu.


"Duh Gusti Yang Maha Kuasa, Hamba mohon kemudahan pada hari ini, Hamba berserah diri kepadaMU, Engkau adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik yang menuliskan takdir seorang Manusia, jika Engkau berkehendak Hamba berhasil maka itu adalah kebaikan untukku dan rakyat, namun jika Kau berkehendak lain maka Aku akan selalu pasrah kepada semua ketentuanMU" ucap Ganendra Wisnu Wijaya lirih berdoa.


"Masih belum pagi sudah mau berangkat? jangan bilang bahwa Kau akan diam-diam berangkat tanpa pamit" ucap Mpu Bagera


"Hehe,,, rencananya biar tidak membuat deg-degan Aku mau langsung berangkat Kek, Kakek sudah bangun?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya mengalihkan pembicaraan


"Sekarang temui Ibumu, Dia sudah bangun dikamarnya, Aku sudah menyiapkan air dan garam, Kau cuci dan basuh kaki Ibumu, lalu minta Doa dari Ibumu, setelah itu Kau boleh berangkat" ucap Mpu Bagera


"Baik Kakek" jawab Ganendra Wisnu Wijaya kemudian Mereka bergegas masuk kekamar Nyai Maharani dengan hati-hati agar tidak membangunkan yang tidur di bangunan utama padepokan.


Tok,,tok,,,kemudian Ganendra Wisnu Wijaya dan Mpu Bagera masuk kekamar Nyai Maharani.


"Bu Aku mohon ijin untuk mencuci Kaki Ibu" ucap Ganendra Wisnu Wijaya lalu mengambil baskom yang berisi air, lalu Dia duduk dibawah sedangkan Nyai Maharani duduk disebuah kursi yang terus memandangi Anaknya yang akan mempertaruhkan nyawa untuk membela kebenaran.

__ADS_1


"Apakah akan berangkat sepagi ini?" tanya Nyai Maharani kepada Ganendra Wisnu Wijaya yang sedang mencuci Kakinya menggunakan garam.


"Iya Bu, Mohon doa dari Ibu agar Aku nanti selamat dan berhasil dengan apa yang direncanakan" jawab Ganendra Wisnu Wijaya, kemudian Nyai Maharani menengadahkan tangan dan membaca doa untuk Anaknya dengan suara yang sangat lirih.


"Selesai Ibu" ucap Ganendra yang sudah membasuh Kaki Ibunya


"Gunakan airnya untuk membasuh wajah, tangan dan kakimu" ucap Mpu Bagera , kemudian Ganendra Wisnu Wijaya keluar kamar dan melaksanakan perintah Mpu Bagera diteras depan, setelah selesai Ganendra Wisnu Wijaya pun kembali masuk kekamar Nyai Maharani dan ternyata disana sudah ada Diah Ayu Wardani yang duduk disebelah Nyai Maharani


"Lho Dinda sudah bangun?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya


"Sudah Kakang, Aku harus ketemu dengan Kakang sebelum Kakang berangkat" jawab Diah Ayu Wardani


"Bu Minta Restu dari Ibu, Aku berangkat dulu" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Iya Nak, hati-hati, selamat, selalu eling dan waspodo" ucap Nyai Maharani sambil memeluk Ganendra Wisnu Wijaya


"Dinda minta doanya, Kakang berangkat dulu" ucap Ganendra Wisnu Wijaya kemudian Diah Ayu Wardani mencium tangannya


"Kakek terima kasih untuk semuanya, Aku berangkat dulu" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Iya cucuku, yakinlah kepada kemampuan yang Kau miliki, jangan sampai ada kesombongan dalam hatimu, berangkatlah dan tunjukkan Kamu adalah Keturunan kerajaan Kahuripan" ucap Mpu Bagera sambil memegang dada Ganendra Wisnu Wijaya


"Baik Kek" ucap Ganendra Wisnu Wijaya yang langsung menghilang dari pandangan mata.


"Dia pasti akan berhasil, kalian jangan bersedih, doakan saja dan jaga air matamu jangan sampai jatuh" ucap Mpu Bagera yang kemudian keluar dari kamar Nyai Maharani

__ADS_1


__ADS_2