Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta

Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta
Bakat Ganendra Wisnu Wijaya


__ADS_3

Ganendra Wisnu Wijaya sudah 3hari 3malam tak tidur dan tak makan, Dia membaca dengan seksama setiap kitab dengan sangat teliti, dia bagaikan melintasi setiap dimensi waktu tak merasa ngantuk, lapar dan haus, walau Dia terlihat membaca tapi apa yang dia alami adalah level tertinggi meditasi.


Tepat ketika tengah malam Ganendra Wisnu Wijaya selesai membaca semua kitab yang diperintahkan untuk dibaca, kemudian Ganendra Wisnu Wijaya keluar dari kamar dan ternyata hari sudah gelap, lalu Ganendra Wisnu Wijaya tiba-tiba merasa lapar dia pergi ke dapur untuk makan, melihat ada buah-buahan lalu dia makan dengan lahapnya. Dan secara tiba-tiba Ganendra Wisnu Wijaya bisa merasakan siapa saja yang ada disekitarnya seperti Murid-murid yang sedang berjaga maupun yang sedang Mereka bicarakan namun tiba-tiba Ganendra Wisnu Wijaya merasakan hawa jahat dari 3orang yang cakranya sangat berbeda dengan para penghuni padepokan Gunung Arjuno. Anak yang belum berusia remaja ini lalu keluar tanpa rasa takut sedikitpun, dan muncul secara tiba-tiba-tiba dan membuat 3 orang penyusup kaget.


"Paman mencari siapa?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya, Tapi rasa kaget itu seketika sirna setelah melihat yang muncul hanyalah anak kecil, tanpa pandang bulu mereka langsung menyerang Ganendra Wisnu Wijaya dengan niat membunuh


Akan tetapi kejadian yang tak terduga adalah Ganendra Wisnu Wijaya dapat menangkis pedang yang diayunkan kepadanya hanya menggunakan telapak tangan, belum Mereka berhenti kaget dan terheran gerakan cepat Ganendra Wisnu Wijaya dan pukulannya membuat mereka tidak mampu bernafas hanya dengan satu pukulan dari masing-masing penyusup, sontak ketiganya langsung tewas dengan bekas hitam telapak tangan dimasing-masing dada.


Namun Ganendra Wisnu Wijaya masih merasakan ada 7 penyusup yang memiliki hawa jahat, seketika Ganendra Wisnu Wijaya langsung melesat dengan sangat cepat menghabisi mereka satu persatu tanpa menggunakan senjata apapun.


Pancaran tenaga dalam yang sangat besar dari Ganendra Wisnu Wijaya mambangunkan Guru Wijaya Karna serta Semua Sesepuh dan Pendekar Senior padepokan, Mereka langsung keluar dari kamar dan Mereka mendapati ada 10 mayat penyusup tergeletak dan Ganendra Wisnu Wijaya disebelahnya dengan tatapan tajam tak seperti biasanya.


Menyadari ada yang aneh dari anaknya Guru Wijaya Karna pun segera memeluk Ganendra Wisnu Wijaya dan perlahan Ganendra Wisnu Wijaya menjadi tenang lalu tertidur.


"Segera bereskan apa yang terjadi dan besok jalani seperti biasa, biar Ganendra Wisnu Wijaya merasa kejadian malam ini hanya sebuah Mimpi" perintah Guru Wijaya Karna dan kemudian Beliau masuk kedalam Kamar untuk membaringkan Ganendra Wisnu Wijaya , Nyai Maharani pun sangat khawatir dengan Anaknya Ganendra Wisnu Wijaya .


"Dinda sepertinya sudah saatnya membawa Ganendra Wisnu Wijaya menemui Paman Bagera agar Ganendra Wisnu Wijaya dilatih Oleh Paman Bagera, kekuatan Ganendra melebihi batas orang normal, sensornya pun sangat hebat karena bisa merasakan dan membunuh penyusup dengan level tinggi" ucap Guru Wijaya Karna


"Baiklah Kakang, mana yang terbaik saja untuk Anak Kita, Dinda Pasrah" jawab Nyai Maharani


"Besok pagi Kakang akan membawa Ganendra Wisnu Wijaya ke kediaman Paman Bagera di Gunung Merapi" ucap Guru Wijaya Karna


"Baik Kakang" jawab Nyai Maharani


"Sekarang temanilah Anak Kita tidur Dinda, Biar kakang keluar melihat situasi diluar" ucap Guru Wijaya Karna

__ADS_1


Kemudian Guru Wijaya Karna keluar dan bertanya kepada para Sesepuh dan Pendekar Senior Padepokan bagaimana kondisinya.


"Sepertinya ini dari bekas serangan adalah ilmu tapak besi, tapi darimana Ananda Ganendra Wisnu Wijaya bisa menguasainya" ucap Argo Baruna


"Coba panggil 2 orang yang Adimas Gunawan temui ketika dihutan" ucap Guru Wijaya Karna kemudian Guru Gunawan bergegas memanggil mereka


"Ini Kakang mereka sudah datang" ucap Guru Gunawan


"Aku belum sempat bertanya, siapa Nama Guru kalian?" tanya Guru Wijaya Karna


"Guru Saya bernama Guru Karya Suman Si Pendekar Cakar Garuda" jawab Wito


"Sedangkan Guru Saya bernama Guru Barga Si Pendekar Tapak Besi" jawab Brojo


"Coba lihat luka dari mayat-mayat ini" ucap Guru Gunawan


"Baiklah sekarang kalian sudah menemukan jawaban dari pertanyaan kalian tempo hari mengapa Guru-gurumu menurunkan ilmunya kepada Anakku Ganendra Wisnu Wijaya" ucap Guru Wijaya Karna sontak kedua tamu tersebut menjadi tercengang melihat kondisi mayat yang hanya tewas dengan satu serangan saja, apalagi itu adalah anak berusia Remaja


"Rahasiakan kejadian ini dari Ganendra Wisnu Wijaya, dia setengah sadar melakukan ini semua, tapi setidaknya malam ini kita diselamatkan oleh Ganendra Wisnu Wijaya namun besok Ganendra Wisnu Wijaya akan aku bawa kepada kakeknya Mpu Bagera, kJia harus lebih waspada lagi dengan kejadian malam ini, dan Saya harap kalian berdua mau ikut perpartisipasi melawan aliansi aliran hitam" perintah Guru Wijaya Karna


Lalu para sesepuh dan Pendekar Senior Padepokan pergi ke aula utama untuk mengatur strategi agar setiap malam ada pendekar spesialis sensorik yang piket berjaga malam dalam satu tim jaga, intinya jangan sampai kecolongan seperti malam hari ini.


Kemudian Guru Wijaya Karna meditasi dan bertelepati dengan para Guru Padepokan aliran Kenaling Rogo lainnya lalu menceritakan kejadian pada malam ini, ternyata dipadepokan aliran Kenaling Rogo lainnya juga didatangi Penyusup untungnya para penyusup di padepokan aliran Kenaling Rogo yang lain dapat dipukul mundur tapi tidak ada yang sanggup membunuh mereka seperti yang dilakukan oleh Ganendra Wisnu Wijaya.


Kemudian Guru Wijaya Karna menceritakan bahwa besok pagi akan mengantarkan Ganendra Wisnu Wijaya ke Lereng Gunung Merapi ketempat Mpu Bagera dan Para Guru Padepokan aliran Kenaling Rogo memutuskan akan ikut acara besok pagi mengantar Ganendra Wisnu Wijaya Ke Gunung Merapi.

__ADS_1


***


Dan pagi pun tiba Ganendra Wisnu Wijaya bangun dan mendapati ibunya tidur disebelahnya, lalu Nyai Maharani merasakan bila Ganendra Wisnu Wijaya bangun membuat Nyai Maharani juga ikut bangun.


"Kenapa nak, seperti bingung ibu lihat?" tanya Nyai Maharani


"Aku seperti mampi buruk Ibu semalam, seperti ada penyusup yang masuk ke Padepokan" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Kamu mungkin kelelahan setelah membaca semua kitab yang diperintahkan oleh Bopomu tempo hari nak, Kamu semalam kan tidur sama Ibu" ucap Nyai Maharani menutupi kejadian semalam kemudian memeluk Ganendra Wisnu Wijaya


"Aku lapar Ibu" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Oh lapar, sebentar ya Ibu ambilkan makanan dulu" ucap Nyai Maharani lalu ke dapur untuk mengambilkan makanan untuk Ganendra Wisnu Wijaya lalu menyuapinya, sambil menyuapi sesekali memandang Anaknya yang masih anak-anak tapi harus menanggung tanggung jawab yang besar, namun Nyai Maharani sadar bahwa ini sudah menjadi takdir Gusti Hamengku Jagad. Setelah selesai lalu Nyai Maharani bercerita tentang masa ketika melahirkan Ganendra Wisnu Wijaya dan cerita ketika Ganendra Wisnu Wijaya semasa balita.


"Nak Ganendra Wisnu Wijaya harus berjanji kepada Ibu, bahwa kelak akan menjadi pendekar yang berjiwa ksatria, membela kebenaran, berbudi luhur, tau benar dan salah, jangan menindas dan harus membela kepentingan rakyat" Ucap Nyai Maharani


"Baik Ibu, Aku berjanji pada Ibu dan akan Aku tepati" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Nanti Nak Ganendra Wisnu Wijaya akan berguru kepada Kakek Bagera di Gunung Merapi jadi Kamu jangan nakal dan harus patuh kepada Kakek, Nenek dan Paman Tejarana disana, Kakek Bagera tidak pernah mau mengangkat murid jadi kalau Kakek mengangkat Nak Ganendra Wisnu Wijaya menjadi murid, itu adalah keberuntungan untuk Nak Ganendra Wisnu Wijaya jadi harus giat berlatih jangan malas-malasan ya Anakku" ucap Nyai Maharani


"Wah akhirnya Aku sudah boleh latihan Silat ya Ibu, baik Ibu Aku akan latihan dengan giat nantinya" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Sekarang Kamu harus mandi dulu dan siap-siap berangkat kesana" ucap Nyai Maharani


"Baik Ibu" jawab Ganendra Wisnu Wijaya kemudian para Guru Padepokan aliran Kenaling Rogo lainnya sudah berkumpul di Aula Utama Padepokan Gunung Arjuno untuk ikut mengantar Ganendra Wisnu Wijaya, sedangkan Guru Dirgajaya membawa Diah Ayu Wardani, inilah kedua kalinya Ganendra Wisnu Wijaya bertemu dengan Diah Ayu Wardani, Ganendra Wisnu Wijaya dan Diah Ayu Wardani nampak akrab dan bermain dengannya di Aula utama.

__ADS_1


"Baiklah mari kita berangkat sekarang Saudara-saudaraku" Ucap Guru Wijaya Karna, sedangkan Nyai Asih, Guru Gunawan serta Para sesepuh dan Pendekar Senior Padepokan juga mengucapkan salam perpisahan kepada Ganendra Wisnu Wijaya dengan memeluknya, mungkin jika tidak ada Ganendra Wisnu Wijaya malam itu mereka sudah tak ada lagi didunia ini.


__ADS_2