
Sementara itu di Kerajaan Nagari sedang terjadi kehebohan karena mendapatkan kabar dari telik sandi Kerajaan Nagari, "Kemarin malam terjadi penyerangan terhadap tiga padepokan di Kerajaan Sundapura Kakang Prabu" ucap Patih Lodaya
"Siapa yang menyerang? Apakah dari Kerajaan Sundapura atau dari mana?" tanya Prabu Kertaraja Wiranegara
"Pendekar yang memakai topeng, yang biasa disebut Si Sableng Bertopeng, padahal sudah Saya antisipasi dengan menempatkan Dua Pendekar sakti namun ternyata masih kalah juga" ucap Patih Lodaya
"Sebenarnya Dia itu siapa, mengapa selalu mengganggu Kita" ucap Prabu Kertaraja Wiranegara
"Aku juga tidak paham sama sekali Kakang, karena gerakan silat yang Dia miliki tidak bisa ditebak dari mana asalnya" jawab Patih Lodaya
"Apakah Dia tidak bisa ditarik untuk menjadi bagian dari Kita?" tanya Prabu Kertaraja Wiranegara
"Coba nanti akan Saya umumkan kepada semua abdi Kerajaan Nagari Kakang Prabu, agar ada yang merayu saat bertemu dengannya" jawab Patih Lodaya
"Bagaimana dengan Ganendra Wisnu Wijaya, seharusnya saat ini Dia sudah beranjak dewasa" ucap Prabu Kertaraja Wiranegara
"Seharusnya memang harus dihabisi Anak itu, karena bisa jadi kelak Dia akan merugikan Kita" jawab Patih Lodaya
"Urus saja, Dia bagianmu" ucap Prabu Kertaraja Wiranegara
"Baik Kakang, secepatnya Aku akan menghabisinya" jawab Patih Lodaya
"Tapi jangan menyentuh Padepokan Gunung Pangrango, karena itu adalah wilayah Kerajaan Sundapura, jika terjadi kesalahan sedikit saja maka hubungan Kita dengan Kerajaan Sundapura akan berantakan setidaknya jagalah hubungan dengan Kerajaan Sundapura, karena Kerajaan Sundapura adalah Kerajaan yang kuat namun tidak pernah mengganggu Kerajaan Nagari" ucap Prabu Kertaraja Wiranegara
"Baik Kakang, Saya akan patuhi hal tersebut" jawab Patih Lodaya
***
Pangeran Rajasawira Prawirabuana seakan memiliki semangat baru setelah tau bahwa Pangeran Gunawan Wibisono masih hidup apa lagi setelah melihat Ganendra Wisnu Wijaya tumbuh menjadi seorang pendekar yang sangat tangguh, jadi setelah menghadiri pernikahan Pangeran Gunawan Wibisono, Pangeran Rajasawira Prawirabuana langsung mengabarkan kepada keluarganya di Kahuripan.
"Kakek Setelah mengunjungi Paman Gunawan Wibisono menjadi lebih bahagia dan semangat" ucap Jaya Prawirabuana cucu dari Pangeran Rajasawira Prawirabuana
"Kakek sangat bahagia karena ternyata pewaris Kerajaan Kahuripan masih ada, sehingga masih ada harapan untuk Kita bisa bangkit melawan kedzaliman" jawab Pangeran Rajasawira Prawirabuana
"Iya Kek, Aku juga lebih bersemangat untuk latihan tiap hari" ucap Jaya Prawirabuana
"Nantinya walau Kau juga keturunan dari Raja Kerajaan Kahuripan namun Ganendra Wisnu Wijaya lebih berhak menjadi Raja jadi Kamu tidak boleh iri dan berambisi masalah tahta, kalian harus saling membantu dan bersinergi untuk kejayaan Kerajaan Kahuripan" ucap Kakek Pangeran Rajasawira Prawirabuana
"Baik Kek, Aku akan selalu mengingatnya dan memberikan pemahaman kepada Anak-Cucuku kelak" jawab Jaya Prawirabuana dengan sangat antusias
__ADS_1
"Kakek sangat bahagia mendengarnya" ucap Pangeran Rajasawira Prawirabuana
"Puji Syukur Kek, sekarang penduduk disini secara diam-diam sudah mempersiapkan semuanya Kek, namun belum semua tau hanya yang kerabat Kita saja karena ditakutkan ada yang menjadi mata-mata dari Kerajaan Nagari" jawab Jaya Prawirabuana
"Betul sekali langkahmu Cucuku, Apakah ada yang dicurigai?" tanya Pangeran Rajasawira Prawirabuana
"Ada beberapa Kek tapi karena belum cukup bukti jadi belum berani bertindak" jawab Jaya Prawirabuana
"Tidak apa-apa, pantau saja kondisinya kalau ada yang mencurigakan langsung habisi saja karena ini adalah situasi genting" ucap Pangeran Rajasawira Prawirabuana
"Baik Kek akan Aku sebarkan tentang ini kepada saudara-saudara" jawab Jaya Prawirabuana, lalu tiba-tiba muncul Dua orang yang familiar
"Salam Hormat kepada Paman Rajasawira Prawirabuana" ucap Pangeran Gunawan Wibisono
"Wah panjang umur Nak, baru saja tadi Aku membicarakan tentangmu bersama Cucuku" jawab Pangeran Rajasawira Prawirabuana
"Hehhehe bagaimana kabar Paman?" tanya Pangeran Gunawan Wibisono
"Sehat Nak, bagaimana kabar istrimu dan Pangeran Ganendra Wisnu Wijaya?" jawab Pangeran Rajasawira Prawirabuana kemudian lanjut bertanya
"Puji Syukur Sehat semua Paman" ucap Pangeran Gunawan Wibisono
"Kakang Bagera bagaimana kabarnya? Sehat juga kan?" tanya Pangeran Rajasawira Prawirabuana
"Ah Kakang ini bisa saja, Aku hanya bertambah bahagia setelah melihat keturunan dari Raja Kerajaan Kahuripan masih hidup" jawab Pangeran Rajasawira Prawirabuana
"Syukur kalau begitu, harus saling berbagi kebahagiaan" ucap Mpu Bagera
"Bagaimana kabar cucuku Pengeran Ganendra Wisnu Wijaya,Kapan Dia menikah dengan Diah Ayu Wardani?" tanya Pangeran Rajasawira Prawirabuana
"Aku dan Nak Sunsang kesini untuk menyampaikan hal ini, 3hari lagi Ganendra Wisnu Wijaya dan Diah Ayu Wardani akan melangsungkan pernikahan jadi Aku akan menjemputmu sekarang untuk ikut membantu persiapan acaranya dan Kamu kan sebagai keluarga tertua dari trah Kerajaan Nagari jadi harus berada disana sebelum hari H" ucap Mpu Bagera
"Baiklah Kakang, Aku akan mengajak cucuku Jaya Prawirabuana saja, kalau anakku Asri Kartikabumi biar dirumah bersama suaminya" jawab Pangeran Rajasawira Prawirabuana
"Baiklah terserah Kau saja saudaraku" ucap Mpu Bagera
"Kalau begitu Aku masuk dulu untuk bersiap-siap, Kau juga Jaya Prawirabuana segeralah berkemas" jawab Pangeran Rajasawira Prawirabuana
"Baik Kek" jawab Jaya Prawirabuana, kemudian Mereka masuk dan mulai berkemas
__ADS_1
***
"Baiklah Ayo berangkat Kami sudah siap" ucap Pangeran Rajasawira Prawirabuana
"Baiklah mari berangkat sekarang" ucap Mpu Bagera
"Tunggu dulu, ini Anakku Asri dan Dia menantuku Panji Laksono" ucap Pangeran Rajasawira Prawirabuana, kemudian Asri dan Panji Laksono mencium tangan Mpu Bagera
"Baiklah salam kenal anakku, Kami Pamit dulu ya? ucap Mpu Bagera dan keduanya lalu menundukkan kepala
"Pegang tanganku" ucap Mpu Bagera, kemudian Mereka hilang dari pandangan mata
"Akhirnya Aku melihat lagi senyum diwajah Bopo" ucap Asri Kartikabumi kemudian Mereka berdua kembali masuk kedalam Rumah
***
"Kita sudah sampai" ucap Mpu Bagera
"Cepat sekali Kek berpindah tempat" ucap Jaya Prawirabuana
"Itu namanya teleportasi dengan menggunakan Pusaka Juring Sakti" jawab Pangeran Rajasawira Prawirabuana
"Waoww,,, luar biasa" ucap Jaya Prawirabuana
"Silahkan Masuk Paman" ucap Pangeran Gunawan Wibisono
"Mari masuk" ucap Mpu Bagera, kemudian Mereka masuk kedalam rumah
"Lho ternyata ada tamu dari jauh" ucap Guru Dirgajaya menyambut Mereka
"Tidak perlu sungkan Guru Dirgajaya, Kita semua kan sudah menjadi keluarga" ucap Pangeran Rajasawira Prawirabuana
"Silahkan duduk Pangeran" ucap Guru Dirgajaya, kemudian Mereka masuk dan kemudian Mereka duduk dan bercerita sambil bercanda agar situasi cepat cair dan menjadi lebih cepat akrab.
"Nak Ganendra Wisnu Wijaya mengapa dari tadi belum keluar ya?" tanya Pangeran Rajasawira Prawirabuana
"Dia sedang latihan sendiri Adimas, akhir-akhir ini Dia sangat semangat apalagi setelah bertemu denganmu Dia memiliki semangat baru bahwa ada saudara-saudaranya yang masih hidup diwilayah dekat dengan Ibu Kota Kerajaan Kahuripan" ucap Mpu Bagera
"Baik apa Saya saja yang keluar untuk menemui Ganendra Kakang. Aku sangat merindukannya" ucap Pangeran Rajasawira Prawirabuana
__ADS_1
"Monggo silahkan agar tidak jenuh juga dari tadi disini ngobrol sampai tertawa terbahak-bahak" jawab Mpu Bagera, kemudian Pangeran Rajasawira Prawirabuana pun keluar dan jalan sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Ganendra Wisnu Wijaya, namun sampai berkeliling tak melihat dimana Ganendra Wisnu Wijaya berada.
Kemudian Pangeran Rajasawira Prawirabuana berkeliling melihat metode latihan Padepokan Gunung Pangrango dan Murid-murid Padepokan yang melihat Dirinya nampak sangat hormat tidak ada yang meremehkan sama sekali kepada setiap orang yang datang menjadi tamu Guru Dirgajaya, karena Mereka paham bahwa yang berkunjung dan dekat dengan Guru Dirgajaya pasti adalah Para Pendekar Tersohor yang pasti memiliki kemampuan Kanuragan diatas rata-rata dan tentunya jika para murid merendahkan akan membuat Padepokan terkesan gagal dalam mendidik Muridnya.