Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta

Pendekar Pedang Petir - Sang Penerus Tahta
Penerus Kerajaan Kahuripan


__ADS_3

Ketika Ganendra Wisnu Wijaya terpental disertai suara ledakan yang cukup keras, sehingga membuat Nyai Maharani dan Diah Ayu Wardani keluar dari rumah untuk melihat apa yang terjadi namun Mereka tak mampu melihat apapun karena sudah ditutup oleh Mpu Bagera dengan Ajian Halimunan.


"Sudah nak mari Kita masuk lagi, Ganendra sedang berlatih dengan Kakeknya" ucap Nyai Maharani


"Baik Ibu" jawab Sukma Diah Ayu Wardani


***


"Dia belum mau Kau taklukkan, apakah masih kuat atau sudah menyerah?" tanya Mpu Bagera


"Masih kuat Kakek" jawab Ganendra Wisnu Wijaya, kemudian Dia kembali mengambil Pedang Petir yang menancap ditanah, baru saja memegang gagangnya namun tubuh Ganendra Wisnu Wijaya rasanya seperti tersambar petir dan getaran yang sangat kuat sekali disertai dengan suara ledakan, sehingga Dia terpental lagi beberapa meter dan kali ini sesaat Dia pingsan namun tak lama kembali tersadar lagi, kemudian Ganendra Wisnu Wijaya mulai mengatur nafas dan menyelaraskan tenaga dalamnya lalu berusaha sangat tenang untuk kembali mencoba memegang Pedang Petir, namun kembali terjadi ketika Ganendra Wisnu Wijaya memegang gagang pedang tapi kali ini Dia terus berusaha menahan dengan yang Dia rasakan sehingga pada akhirnya mampu mencabut pedangnya dan getaran dalam pedang berangsur melemah, setelah berhasil menaklukkan Pedang Petir, Ganendra Wisnu Wijaya kemudian berlatih dengan Pedang Petir, setelah beberapa saat Ganendra Wisnu Wijaya menyarungkannya kembali dan seketika getaran dari Pedang Petir pun menghilang.


"Bagaimana rasanya?" tanya Mpu Bagera


"Rasanya seperti tersambar petir Kek, badan sangat berat ketika terpental dada rasanya sangat sakit Kek sampai hilang kesadaran beberapa menit tadi, namun yang ketiga sangat luar biasa Kek rasanya sangat besar getaran dari Pedang ini, lalu ketika Aku mencobanya seolah tanganku bisa bergerak sendiri untuk bertarung, benar-benar Pedang yang sangat luar biasa" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Sekarang Kau tak lagi menggunakan Pedang Langit, biarkan nantinya Diah Ayu Wardani yang menggunakan, Kau mulai sekarang akan menggunakan Pedang Petir dalam setiap pertarunganmu" ucap Mpu Bagera


"Baik Kek, Saya menurut saja dengan Kakek" jawab Ganendra Wisnu Wijaya tersenyum.


"Jangan lupa bahwa dibalik kekuatan yang besar memiliki tanggungjawab yang besar pula, jangan sampai membuatmu sombong, jumawa dan suka menindas rakyat kecil" ucap Mpu Bagera memberikan nasehat


"Baik kakek" jawab Ganendra Wisnu Wijaya

__ADS_1


"Bolehkah Aku bertanya kepada Kakek?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya


"Boleh saja, jika Kakek bisa menjawab akan Kakek jawab" jawab Mpu Bagera


"Kenapa dulu Kakek Sagara bukan yang menjadi pewaris tahta Kerajaan Nagari? Bukankah seharusnya Anak Pertama yang biasanya menjadi Putra Mahkota Kek?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya


"Aku dan Kakang Sagara tidak perduli dengan kekuasaan, karena Kami dulu sangat menggemari Beladiri dan Ilmu Kanuragan, Kami hanya bercita-cita ingin menjadi seorang pendidik agar tidak ada penindasan didalam masyarakat dan mengajarkan tentang tepo sliro serta ilmu budi luhur warisan para leluhur Kita jadi Kami memutuskan keluar dari Kerajaan walau saat itu sangat ditentang oleh Kakek buyutmu, Kakek Buyutmu mulai tidak terlalu mempersoalkan keluarnya Aku dan Kakang Sagara adalah ketika Kami ikut maju dalam pasukan kerajaan disetiap Kerajaan memiliki masalah dengan kerajaan-kerajaan tetangga dulu dan akhirnya Seluruh Jawa bisa disatukan termasuk harus menyerang kerajaan Kahuripan milik Kakekmu" jawab Mpu Bagera


"Lalu Apakah Sang Prabu Kerajaan Nagari yang juga Adik Kakek pernah mengunjungi Kakek ketika saat-saat tertentu?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya lagi


"Tidak pernah, Dia hanya dua kali kesini ketika Pemakaman Kakang Sagara dan ketika Bopomu wafat setelah menyelamatkannya dari pemberontakan Patih Lodaya beberapa tahun lalu terkadang Aku kesana namun bertindak sebagai Rakyat biasa yang berperan untuk Kerajaan, seperti itulah hubungan Kami antara Rakyat dan Rajanya" jawab Mpu Bagera


"Apakah tidak ada yang tau tentang masa lalu Kakek dan silsilah ini?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya lagi


"Baiklah Kakek kalau begitu Saya paham harus melakukan apa kedepannya" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Jangan terbebani tentang statusmu sebagai Buyut dari Raja Kerajaan Nagari terdahulu karena Kau juga merupakan Keturunan dari kerajaan Kahuripan dari Bopomu, jadi tidak perlu Kau hiraukan tentang kelanjutan Kerajaan Nagari" ucap Mpu Bagera


"Baik Kakek, Saya hanya ingin mengetahui cerita detailnya dan sudut pandang Kakek dari masalah yang akan Saya hadapi kelak" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Kakek paham cucuku, Kau memiliki garis takdir sendiri jadi jangan mengekor dengan Orang lain karena Kerajaan ini sudah tidak memiliki masa depan karena sudah terlalu banyak darah yang ditumpahkan dan Adikku juga tidak memiliki Anak Laki-laki maka garisnya sudah habis" ucap Mpu Bagera


"Baik Kakek, Apakah Guru Gunawan tau tentang Jatidiriku Kakek?" tanya Ganendra Wisnu Wijaya

__ADS_1


"Gunawan adalah Adik Bopomu namun Mereka berpura-pura menjadi orang lain karena untuk mengelabui pihak-pihak yang mengantisipasi keturunan Kerajaan Kahuripan yang sudah dihancurkan jadi sebenarnya Padepokan Kenaling Rogo khususnya yang berada di Lereng Arjuno selalu dipantau oleh Telik Sandi Kerajaan Nagari, sampai-sampai dulu ketika Bopomu dan yang lain ingin menyerang para antek Gagak Ireng, Aku harus menjelaskan tentang niat Aliran Putih bukan untuk menyerang Kerajaan Nagari kepada Adikku namun Kami bermasalah dengan Patih Lodaya, Adikku pasti dulu juga sangat khawatir dengan kelahiranmu karena Kau bisa menjadi penerus dan membangun kembali Kerajaan Kahuripan, itulah alasanku mengapa Pamanmu Tejarana tak pernah turun Gunung dan baru Aku ijinkan ke Padepokan Gunung Arjuno ketika konfrontasi sudah mulai memanas antara aliran Putih melawan Aliran Hitam, karena sebenarnya Tejarana berhak menjadi penerus Kerajaan Nagari" ucap Mpu Bagera


"Ternyata masalahnya begitu komplek Kek, kepalaku jadi sangat pusing sekarang" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Istirahatlah dulu, biar Diah Ayu Wardani Aku panggil agar Kakek bisa mengukur kemampuanya dan akan Kakek ajari beberapa jurus nanti" ucap Mpu Bagera


"Baik Kakek, Saya akan bermeditasi dan memanggil Dinda Diah Ayu kesini Kek" jawab Ganendra Wisnu Wijaya lalu Dia masuk kedapur untuk menemui Diah Ayu Wardani yang sedang memasak didapur


"Dinda dipanggil Kakek diajak latihan Pedang katanya" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Baik Kakang, Ibu Aku tinggal dulu ya" ucap Diah Ayu Wardani


"Baiklah Anakku, tinggal sedikit biar Ibu yang menyelesaikan" jawab Nyai Maharani


"Kakang mau meditasi dulu karena kepala Kakang agak pusing Dinda" ucap Ganendra Wisnu Wijaya


"Baiklah Kakang, apakah parah pusingnya? perlu dipijitkah? atau mau Dinda buatkan Teh hangat" tanya Diah Ayu Wardani


"Tidak perlu Dinda, Kakang tidak apa-apa" jawab Ganendra Wisnu Wijaya


"Apa perlu Ibu pijit pakai minyak sereh" ucap Nyai Maharani


"Tidak perlu Ibu, Aku cukup istirahat pasti nanti sembuh sendiri" jawab Ganendra Wisnu Wijaya

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu buat istirahat dulu Nak" ucap Nyai Maharani Kemudian Diah Ayu Wardani bergegas kedepan sangat semangat dan Ganendra Wisnu Wijaya menuju kamarnya untuk bermeditasi.


__ADS_2