
Dan setelah Senopati Acep Wirawan sampai di Kerajaan Sundapura, Dia langsung melaporkan apa yang terjadi di Padepokan Gunung Pangrango kepada Sang Prabu Sanjaya Surawisesa karena saat itu bertepatan dengan seluruh Punggawa Kerajaan berkumpul dalam Ruangan Utama Istana Kerajaan Sundapura
"Bagaimana berjalannya acara Pernikahan Pangeran Ganendra Wisnu Wijaya dan Diah Ayu Wardani?" tanya Sang Prabu Sanjaya Surawisesa
"Mohon ijin melapor Sang Prabu, acara Pernikahan berlangsung dengan tenang kedua mempelai melangsungkan pernikahan tanpa hambatan sama sekali, acara hanya dihadiri oleh kalangan keluarga tertentu saja seperti agenda sebelumnya, namun ketika acara rampung dan Kami sedang santai mengobrol terjadi serangan kepada Padepokan Gunung Pangrango oleh 10 Orang berpakaian serba hitam, Mereka tak hanya berusaha menyakiti didalam Padepokan namun Rakyat Kita yang berada disekitar Padepokan juga terkena ajian Gelap Ngampar dari Mereka untungnya Mpu Bagera dapat membatalkan ajian tersebut jika tidak Mereka pasti tidak dapat bangun lagi" ucap Senopati Acep Wirawan
"Benarkah itu? Mereka sudah berani menyakiti Rakyat Kerajaan Sundapura ternyata" ucap Sang Prabu Sanjaya Surawisesa
"Benar Sang Prabu karena yang menghadapi kesepuluh Penyusup itu adalah Pangeran Gunawan Wibisono dari Keturunan Kerajaan Kahuripan, Tejarana putra Mpu Bagera dan Saya sendiri dan untungnya Tejarana tidak menghabisi semuanya disisakan 3 Orang lalu menanyai Siapa yang menyuruh Mereka" jawab Senopati Acep Wirawan
"Lalu Siapa yang menyuruh Mereka Senopati?" tanya Sang Patih Tatang Wowon yang sudah tidak sabar
"Patih Lodaya dari Kerajaan Nagari kata Mereka" jawab Senopati Acep Wirawan, sontak Mereka semua kaget hanya Sang Prabu Sanjaya Surawisesa yang terlihat tenang
"Mohon ampun Baginda Prabu, berikan perintah kepada Saya" ucap Patih Tatang Wowon, Sang Prabu diam sejenak untuk berfikir
"Tahan emosi dulu Kakang Patih, karena Kita tidak bisa jika langsung menyerang atau dengan frontal meminta pertanggung jawaban, Kita tempuh jalur diplomasi terlebih dahulu" jawab Sang Prabu Sanjaya Surawisesa
"Kalau Baginda Prabu berpendapat begitu Saya akan menurut saja" jawab Patih Tatang Wowon
"Kerajaan Kita berdiri tujuannya adalah mengayomi Wilayah Pasundan, bukan untuk menaklukkan Kerajaan lain jadi Prinsip ini harus selalu dijaga sampai Generasi berikutnya, Kita jangan sampai terkesan lebih dulu menggaungkan permusuhan itu sudah menjadi Ketentuan para Pendiri dahulu" jawab Sang Prabu Sanjaya Surawisesa
"Lalu langkah seperti apa yang harus ditempuh Baginda Prabu?" tanya Patih Tatang Wowon
__ADS_1
"Aku akan mengirimkan Surat Teguran kepada Sang Prabu Kertaraja Wiranegara setelah acara Pernikahan anaknya nanti jadi saat Pernikahan Kita tidak perlu mengirimkan hadiah kepada Mereka dan Kita tidak perlu mengutus perwakilan untuk menghadiri acara tersebut" jawab Sang Prabu Sanjaya Surawisesa
"Baik Baginda Prabu, Oh Iya Saya lupa menyampaikan bahwa ketika Saya diutus untuk mengirimkan seserahan ke Padepokan Gunung Pangrango Saya bertemu dengan Patih Kerajaan Kahuripan terdahulu, Pangeran Rajasawira Prawirabuana" ucap Patih Tatang Wowon
"Ternyata beliau masih Hidup, dulu Kami sering bertemu ketika Ayahanda masih ada, bagaimana keadaan beliau?" tanya Sang Prabu Sanjaya Surawisesa
"Beliau dalam keadaan sehat Baginda" jawab Patih Tatang Wowon lalu menceritakan dengan detail kondisi Pangeran Rajasawira Prawirabuana dan tentang cerita berhasil selamat karena pertolongan Mpu Bagera
"Mpu Bagera memang sangat luar biasa" ucap Sang Prabu dan kemudian Mereka pun membahas tentang strategi dalam mengantisipasi jika sewaktu-waktu Kerajaan Nagari menyerang Kerajaan Sundapura
***
Sementara di Kerajaan Nagari semua sedang repot mempersiapkan acara pernikahan yang megah untuk Anak dari Prabu Kertaraja Wiranegara dan Patih Lodaya, hiasan janur dan kemeriahan sudah nampak di Kerajaan Nagari dan seluruh penjuru Ibukota Kerajaan.
Sepasang pengantin dari Kerajaan Besar ditanah Jawa yaitu Arya Putra Lodaya putra dari Patih Lodaya dan Putri Ayu Kumala yang merupakan putri dari Prabu Kertaraja Wiranegara
"Persiapan sudah maksimal Kakang, beberapa tamu undangan juga sudah tiba sehingga Penginapan-penginapan Gagak Ireng kelas utama sudah penuh karena sudah dipesan Oleh para tamu undangan sedangkan beberapa kamar tamu untuk para pejabat daerah juga sudah siap, bahkan sudah banyak para pejabat daerah yang datang untuk menghadiri malam Midodareni Malam nanti, sehingga ini nanti akan menjadi pesta pernikahan termegah yang pernah ada" jawab Patih Lodaya
"Syukurlah, ini akan menjadi sebuah bukti kemampuan Kerajaan Nagari sehingga para Kerajaan taklukkan Kita akan terperanga dan tidak berani berniat macam-macam kepada Kerajaan Caraka" ucap Sang Prabu Kertaraja Wiranegara
"Hadiah dari Kerajaan undangan juga sudah banyak yang tiba dari beberapa hari yang lalu, menurut data yang belum memberikan hadiah sampai sekarang adalah Kerajaan Sundapura" jawab Patih Lodaya
"Mungkin besok, tidak mungkin Kerajaan Sundapura tidak mengirimkan Hadiah mungkin saja bersama para utusan nantinya" ucap Sang Prabu Kertaraja Wiranegara
__ADS_1
"Raja Bali sudah tiba beberapa saat yang lalu Mereka sangat bersahabat dengan Kita, mereka juga tidak pernah ikut campur dalam masalah yang terjadi diwilayah Kerajaan Nagari" jawab Patih Lodaya mengalihkan pembicaraan karena Dia sebenarnya tau bahwa kabar dari telik sandi tidak ada perjalanan para utusan Kerajaan Sundapura yang melewati perbatasan antara Kerajaan Sundapura dan Kerajaan Nagari
"Seharusnya begitu karena dari Silsilah, Kami masih bersaudara dari Kakek Buyutku" ucap Sang Prabu Kertaraja Wiranegara
"Iya Kakang Prabu, sekarang Kakang beristirahat sajalah dulu karena nanti malam dan besok acara sangat padat agar Kakang Prabu tidak kelelahana nantinya" ucap Patih Lodaya
"Baiklah Adimas Patih, terima kasih atas perhatianmu, Aku akan berendam diair hangat bersama para dayang kalau begitu" jawab Sang Prabu Kertaraja Wiranegara
"Silahkan Kakang" jawab Patih Lodaya dengan senyuman liciknya
***
Saat Pangeran Rajasawira Prawirabuana dan Jaya Prawirabuana sudah kembali ke Kahuripan disetiap sudut ada janur kuning yang bertuliskan tentang pernikahan Arya Putra Lodaya dan Putri Ayu Kumala, sehingga penjagaan dari Para telik sandi dan pengikut kolowiso di Kahuripan agak longgar sehingga Pangeran Rajasawira Prawirabuana mengumpulkan para pemuda untuk meneruskan pembangunan Kompleks rumah untuk Pangeran Ganendra Wisnu Wijaya dan Diah Ayu Wardani yang tinggal finishing saja, walaupun sederhana namun susunan bangunan sudah sangat mirip sebuah Keraton Kerajaan.
"Siapakah sebenarnya Pengeran Ganendra Wisnu Wijaya itu Kakek?" tanya Sam Sadewa yang merupakan salah satu Anak bekas Senopati Kerajaan Kahuripan terdahulu
"Beberapa hari lagi Kau akan tau, jadi bersabarlah jangan terlalu penasaran" jawab Pangeran Rajasawira Prawirabuana
"Kau ini kebiasaan, terlalu Kepo jadi Orang" ucap Sam Nakula yang merupakan Kakak dari Sam Sadewa
"Sedikit saja tidak apa-apa kan Kakang" jawab Sam Sadewa yang disambut tawa oleh Para Pemuda yang lain
"Kalian ini kalau berkumpul pasti membuat suasana menjadi ramai, kalau tidak ada kalian berdua pasti sepi" ucap Jaya Prawirabuana
__ADS_1
"Harus dong Kakang, buat apa Kami dilahirkan kembar kalau tidak untuk membuat Orang lain bahagia, kalian sepi saat lahir karena sendirian, Aku dan Kakakku bareng jadi hidup Kami ini lebih beruntung kan,,, hahaha" ucap Sam Sadewa yang membuat suasana tambah menyenangkan
"Terserah apa katamu saja, Ayo fokus berkerja sama agar cepat selesai" jawab Jaya Prawirabuana, kemudian Mereka pun langsung fokus pada pembangunan Rumah tersebut, Rumah yang paling besar dibangun diwilayah itu, kamarnya pun juga sangat besar untuk ukuran rumah yang semuanya dibuat dari batu bata sangat mencolok dibanding yang lain.