
Di sebuah desa yang bernama Desa Waringin terdapat sebuah pondok yang terbuat dari bambu, hidup sepasang pendekar yang namanya menjadi buah bibir rimba persilatan.
Sepasang pendekar itu bernama Arya Kelantara dan istrinya Dewi Arum. Karena memiliki sebuah pedang yang sangat sakti yang bernama Pedang Samber Nyawa, pemberian seorang Resi sakti di sebuah hutan, Arya dan Arum diburu para tokoh golongan hitam. Namun, untuk menyelamatkan pedang sakti tersebut dari manusia-manusia yang tamak, dan bersewenang-sewenang di alam jagad raya ini, kedua pendekar muda itu harus bersusah payah menghindar kejaran para tokoh sesat tersebut.
Di pagi yang masih meremang dan dingin, kokok ayam jantan terdengar bersahutan, seperti menyambut sang fajar. Penduduk Desa Waringin yang masih bergumul dengan selimut karena hawa terasa dingin menusuk tulang.
"Arum, apakah kakang harus melenyapkan pedang sakti ini? Pedang inilah yang diperebutkan rimba persilatan, hingga banyak darah yang tumpah di tanah Jawa Dwipa ini," ujar Arya Kelantara kepada istrinya.
"Tak perlu kakang melenyapkan Pedang Samber Nyawa. Pedang itu sangat berguna sekali untuk golongan beraliran lurus dalam rimba persilatan. Dan, dapat dipergunakan saat mereka terdesak oleh golongan tokoh beraliran sesat yang bersemena-mena," sahut Dewi Arum.
"Kau memang benar. Tetapi, hal yang sangat aku risaukan adalah, pedang ini jatuh di tangan tokoh beraliran sesat, Arum."
"Lalu, apa rencana kakang saat ini? Tidak lama lagi kita akan memperoleh seorang keturunan kakang. Pastinya sepak terjang kita menjadi terganggu," tutur Dewi Arum seraya melirik ke arah suaminya yang bukan hanya tampan, tetapi begitu bijak.
"Aku mengerti kecemasanmu, Arum. Baiklah selama aku masih bernafas, pedang ini tetap kupertahankan walapun nyawa taruhannya!"
Selepas Arya Kelantara berbicara, tiba-tiba saja sebatang anak panah masuk ke dalam pondok mereka yang hampir saja mengenai punggung Dewi Arum.
Swiiiiing...!!!
Dengan naluri seorang pendekar yang tidak sesaat mengarungi rimba persilatan, Sekejap saja Arya Kelantara berkelit dan menangkap anak panah itu dengan begitu cepat.
"Rupanya ada tamu tak diundang, Kakang Arya," ujar Dewi Arum.
"Hmm, mari kita hadapi mereka, Arum!" sahut Arya.
Pendekar muda itu segera mengambil sebuah pedang sakti yang telah ia simpan di sebuah peti kayu yang berukir sebuah tapak tangan. Kemudian pedang itu diikatkan pada punggungnya, dan sekejap saja ia berkelebat keluar.
Matanya menyapu ke sekeliling halaman pondok mencari penyusup yang masih bersembunyi semak-semak halaman.
"Hmm, seperti itu 'kah seorang pendekar datang, bersembunyi dalam bertamu!" seru Arya menyidir penyusup yang masih bersembunyi.
"Keluar kalian pengecut! Seperti gadis pingitan saja kalian bersembunyi!" seru Dewi Arum yang tak kalah sengit pada penyusup-penyusup itu.
__ADS_1
"Kalian memang pantas mendapati gelar sepasang pendekar tangguh dalam rimba persilatan. Nama kalian memang sedang membumbung tinggi di langit. Tetapi, itu semua tidak akan menyurutkan nyaliku untuk takut terhadap kalian!"
Tiba-tiba saja sesosok tubuh keluar dari semak-semak, dengan rambut berwarna merah. Pakaiannya serba hitam dialah Ki Mahawirya, ketua dari Perguruan Gagak Hitam.
"Ada keperluan apa kisanak singgah di pondok kami, dengan menyusup seperti seorang maling?" tanya Arya membuat mendidih darah keempat dedengkot tokoh golongan hitam yang sudah menampakkan wujud mereka di depan Arya Kelantara dan juga Dewi Arum.
"Keparat! Kurobek mulutmu!" sentak salah seorang yang keluar dibarengi kawan-kawannya yang lain.
Kemudian, di hadapan mereka sudah ada Ki Gentala ketua Perguruan Cakar Setan, Ki Halayuda, ketua Perguruan Serigala Hitam, Nyai Wagiswari, ketua Perguruan Sanca Beracun dan Ki Madaharsa ketua Perguruan Tangan Iblis.
Setelah kelima orang penyusup keluar dari persembunyiannya. Arya Kelantara menjura hormat, kepada mereka, walaupun lima tokoh di hadapannya adalah tokoh dari golongan hitam.
Dengan kehadiran kelima tokoh aliran sesat tersebut, Dewi Arum mensejajarkan tubuhnya di samping Arya dan juga memperkuat pegangan gagang pedangnya.
"Sekiranya apa yang membuat tuan-tuan bertengger di pondok kami?" tanya Arya kembali.
"Tak perlu banyak tanya, Anak Muda. Cepat kau serahkan Pedang Samber Nyawa kepada kami!" sentak Ki Mahawirya dengan bersikap tangan meminta.
"Kami telah bersikap dengan baik, tetapi mengapa orang tua semacam kalian yang berilmu tinggi seperti tak punya adat!" cetus Dewi Arum mulai geram atas perilaku mereka.
"Heyaaaaa...!"
Dewi Arum mundur dua langkah, kemudian membuka jurus Bangau Putih. Nyai Wagiswari pun membuka jurus Patukan Ular Sanca. Sementara Arya Kelantara menghadapi keempat tokoh sesat lainnya dalam rimba persilatan tersebut.
"Lebih baik kau serahkan saja Pedang Samber Nyawa itu, Anak Muda! Kau dan istrimu kuizinkan meninggalkan tempat ini," seru Ki Gentala.
"Maaf para kisanak, aku tidak akan menyerahkan pedang ini ke tangan kalian!" seru Arya Kelantara tegas.
"Rupanya kau memilih ******! Hua ha ha. Biar aku coba terlebih dahulu anak muda sombong ini!" potong Ki Mahawirya yang tiba-tiba masuk dalam pertarungan.
"Hiyaaaat...!"
Ki Mahawirya segera merangsek lawannya, kemudian menyerang dengan menapak dada Arya. Tetapi, pendekar muda itu masih berdiam diri dan tak bergeming sedikitpun. Serangan Ki Mahawirya hanya di tepis dengan 'Pukulan Tapak Salju'.
__ADS_1
"Pukulan Tapak Salju, siapa kau sebenarnya?"
"Aku bukan siapa-siapa, Kisanak."
"Uuh! Rupanya tenaga dalammu cukup tinggi, Anak Muda!" pekik Ki Mahawirya tangan kanannya terasa menjadi kaku.
Merasa malu dengan keempat kawannya yang sedang memperhatikan jalannya pertarungan, Ki Mahawirya kembali merangsek lawannya dengan tergesa-gesa, lantas membuka jurus 'Cakar Gagak Mencabut Nyawa'.
*Cakar Gagak Mencabut Nyawa*
Arya Kelantara mundur tiga langkah, lawannya berusaha merangsek dan membenamkan cakarnya di dada pendekar muda itu.
Breeeeett...!!!
Pakaian yang dikenakan Arya robek, hingga tembus ke dadanya, akibat terkena jurus Cakar Gagak Mencabut Nyawa, sehingga dari mulutnya meleleh darah segar.
"Hua ha ha, ****** kau! Sebentar lagi cakar gagakku mengeluarkan racun di tubuhmu," ujar Ki Mahawirya bersikap pongah.
Arya Kelantara mengatur nafasnya, dan mematikan peredaran darahnya, kemudian menyalurkan 'Inti Tapak Salju' di tubuhnya. Sekejap kemudian, nampak asap putih mengepul di dadanya dibarengi darah hitam yang keluar dari mulutnya.
"****** kau, Keparat!" seru Ki Mahawirya.
Tak menunggu lama, Ki Mahawirya kembali melancarkan serangan dengan melayangkan senjata rantai bercakar tiga ke arah kepala lawannya.
"Heyaaaa...!"
Wuusssss...!!!
Arya sentakkan kaki ke tanah, lalu Pedang Samber Nyawa keluar dari sarungnya, kemudian diperkuat pegangan pedang tersebut dengan mantap, lalu dihantamkan ke arah senjata Ki Mahawirya.
Traaaang...!!!
Daaaaarrr...!!!
__ADS_1
Dengan mata terbelalak Ki Mahawirya terkejut mendapati senjata pamungkasnya hancur berantakan tinggal rantainya saja.
"Hua ha ha, mengapa bisa begitu, Mahawirya!" teriak Ki Gentala dengan nada mengejek kawannya sendiri.