Pendekar Sinting

Pendekar Sinting
Pemuda Buta dan Gadis Bercadar


__ADS_3

"*******! Ditanya malah kau bertanya...?" Ki Palawa marah. Kemudian bergerak hendak membabatkan pedangnya ke arah Ki Wiradana. Namun pedang itu belum sempat menyentuh tubuh laki-laki tua itu. Karena mendadak sesosok gadis gadis bercadar berparas cantik itu melompat.


"Yeaaa...!"


Taaang....!!!


"Hah?" Ki Palawa tersentak kaget, melihat pedangnya tiba-tiba terjatuh di tanah.


Belum sempat Ki Palawa dan Ki Loreng mengenali siapa penyerangnya. Gadis berambut panjang itu sudah menyentaknya.


"Hei, jangan sembarangan menggunakan pedang kepada orang yang tak tahu apa-apa tentang wanita yang kau maksud!" Gadis itu bahkan berani menantang Ki Palawa dan Ki Loreng. Matanya yang bening dan lembut menatap wajah kedua laki-laki tua yang duduk di punggung kuda itu.


"Bedebah! Siapa kau? Kau 'kah yang membunuh kelompok perguruan kami!" sentak Ki Palawa dengan geram. Lalu melompat dari atas punggung kudanya, disusul oleh Ki Loreng. Keduanya berdiri tegak di hadapan gadis bercadar itu.


"Ha ha ha ... rupanya kalian orang-orang picik dan rendah tak bedanya dengan seekor binatang!" maki gadis bercadar itu sambil mencabut pedang yang tersampir di punggungnya.


"Hah?" Ki Palawa dan Ki Loreng tersentak kaget bukan karena hinaan yang keluar dari mulut gadis itu. Tetapi, disebabkan melihat pedang yang tergenggam di tangan kanan gadis berparas cantik yang mengenakan cadar itu, memancarkan sinar merah yang begitu menyilaukan.


"Pedang Walet Merah? Siapa gadis cantik ini...?" desis Ki Palawa dan Ki Loreng lagi dengan mata terbelalak seakan tak percaya pada apa yang dilihatnya.


Ki Wiradana dan para warga Desa Pandan Wangi yang berada di tempat itu tampak terbelalak menyaksikan pedang gadis bercadar yang bersinar merah terang menyilaukan itu.


"Hi hi hi ... ha ha ha. Lucu, kalian berdua ini lucu!" celetuk Sima yang melangkah maju sambil menggaruk-garuk kepala mengejek Ki Palawa dan Ki Loreng.


Kedua tokoh Perguruan Aliran Golongan Hitam itu semakin terkejut, wajah mereka saling beradu pandang seperti diliputi ketegangan. Sementara itu Ki Wiradana, nampak tersenyum lega melihat kedua pendekar yang baru saja terlihat di desa mereka selama ini.


"Pendekar Tapak Maut? Bukankah ia telah tewas! Tapi di hadapanku hanya bocah buta yang tingkahnya seperti orang yang tidak waras. Mengapa pemuda ini wajahnya sama persis dengan Pendekar Tapak Maut?" gumam Ki Palawa. Wajahnya yang semula garang dan bengis berubah seketika. Tersungging senyum kecut di bibirnya.

__ADS_1


"Hei ... apa kau menuduh kami telah membunuh kelompok perguruanmu?" ujar gadis bercadar ketus, sambil menuding Ki Palawa dengan pedangnya.


"Mak--maksud kami. Hanya ingin tahu siapa yang telah membunuh kelompok perguruan kami itu," balas Ki Palawa bimbang.


"Hi hi hi ... ha ha ha. Lucu kalau hanya itu? Kenapa kau berbuat kasar dengan orang yang tak tahu-menahu urusanmu. Aku kurang suka dengan tindakanmu itu, Kisanak," ujar Sima dengan cenge-ngesan, kemudian menggaruk-garukan kepala.


Ki Palawa dan Ki Loreng pandang. Wajahnya memerah. Namun, Ki Loreng yang lebih memakai otak dari pada otot segera menbalas.


"Maaf, kami tak ingin bentrok dengan, Kisanak dan Nimas. Kami berdua hanya ingin mencari pembunuh kelompok perguruan kami," ujar Ki Loreng.


"Hm, baiklah. Jika memang kalian berdua mengerti bahwa aku dan pemuda itu bukan pembunuh yang kau cari. Sekarang cepat kalian tinggalkan desa ini. Aku paling tak suka melihat penduduk Desa Pandan Wangi ini ketakutan dan cemas!" sentak wanita bercadar ketus. Ki Palawa menahan amarahnya giginya gemeretak.


"Tenang, Kawan. Kedua pendekar di hadapan kita bukan pembunuh kelompok Perguruan Aliran Golongan Hitam. Sebaiknya kita cepat pergi dari desa ini. Tujuan kita mencari pembunuh itu. Urusan sakit hati pada pendekar buta dan gadis bercadar itu, kita atur selanjutnya," bisik Ki Loreng. Ki Palawa memaksakan diri untuk tersenyum mengangguk.


"Ayo, kita pergi!" seru Ki Palawa dengan mengajak Ki Loreng untuk segera pergi dari tempat itu.


"Hiya...!"


"Hiyaaa...!" Kedua kuda yang ditunggangi Ki Palawa dan Ki Loreng dengan cepat meninggalkan Desa Pandan Wangi. Pemuda buta dan gadis bercadar memandangi dari belakang. Pemuda buta itu terus tertawa-tawa cekikikan.


"Terima kasih untuk Tuan Pendekar, juga Nimas pendekar," ujar Ki Wiradana sambil menjura. Begitu juga para penduduk desa yang merasa senang dengan kehadiran sepasang pendekar muda itu di desa mereka.


"Sama-sama kisanak. Sudah kewajiban kami untuk menolong seorang yang membutuhkan pertolongan," balas gadis bercadar seraya tersenyum di balik cadarnya.


"Siapa sebenarnya kedua laki-laki tua tadi, Kisanak...?" tanya Sima kemudian.


"Mungkin Ki Wiradana bisa menjelaskan," tambah gadis bercadar menyela ujaran Sima. Ki Wiradana manggut-manggut seraya menatap dengan senyum pada pemuda dan gadis bercadar di depannya.

__ADS_1


"Hmm, mereka para ketua Perguruan Aliran Golongan Hitam yang berkuasa di desa ini, dan di desa-desa lainnya. Ketua besar mereka berada di Desa Waringin, dia seorang wanita yang bernama Nyai Gandawati, karena pedang yang ia miliki tak satupun dari orang rimba persilatan yang berani menentangnya," terang Ki Wiradana pada Sima dan gadis bercadar itu. Mereka berdua menyimak penuturan Ki Wiradana begitu cermat.


"Pedang apa yang dimiliki wanita yang bernama Nyai Gandawati itu, Ki Wirdana?" tanya gadis bercadar penasaran.


"Pedang Samber Nyawa, Nimas pendekar," balas Ki Wiradana. Wanita bercadar itu mengangguk-anggukan kepalanya.


Kemudian, Sima teringat akan penuturan sepasang Setan Kembar di hutan, bahwa pendekar yang memiliki Pedang Samber Nyawa itu pernah menaklukannya.


"Sebaiknya, Tuan pendekar dan Nimas pendekar singgah terlebih dahulu di pondok kami. Nanti akan kuceritakan semua tentang persoalan kelompok Perguruan Aliran Hitam yang berkuasa di desa ini," ujar Ki Wirdana kalem.


"Maaf, bukan maksudku menolak ajakan kisanak. Aku harus segera pergi sekarang," ujar Sima dengan mulut cenge-ngesan. Kemudian, berkelebat meninggalkan percakapan itu.


"Hei, sebentar siapa namamu...?" seru gadis bercadar pada Sima. Pemuda buta menengok gadis bercadar itu, lalu hanya membalas dengan senyuman.


"Apakah kau mengenal pemuda buta itu, Kisanak...?" tanya gadis bercadar pada Ki Wiradana.


"Aku tidak mengenalnya, Nimas pendekar. Aku pikir dia kekasihmu," balas Ki Wiradana.


"Ah, bukan kisanak. Aku baru saja berjumpa dengannya," ujar gadis bercadar itu.


"Semoga desa ini dilindungi para pendekar macam kalian, Nimas," ujar Ki Wiradana.


"Maaf aku pun harus pergi, Kisanak!"


"Sebentar, Nimas Pendekar!" Belum habis perkataan Ki Wiradana gadis bercadar itu sudah berkelebat meninggalkan Ki Wiradana.


"Hmm ... banyak sekali orang-orang aneh belakangan ini. Tetapi, tidak masalah bagiku, hal yang terpenting mereka berpihak kepada penduduk desa ini," gumam Ki Wiradana.

__ADS_1


Malam itu angin berhembus kencang dan menderu-deru di pesisir utara. Nampak Dewi Arum sedang duduk termangu seorang diri di pinggiran pantai utara. Tiba-tiba sekelebat bayangan hitam hendak menghampirinya.


__ADS_2