
"Beri aku makan, aku lapar sekali...!"
"Hei, kau wanita gila! Pergi dari kedaiku. Kau membuat bau kedaiku saja. Pergi atau kuhajar kau!" hardik pemilik kedai pada Ningrum Sari.
"Tunggu! Kau tidak boleh kasar seperti itu orang tua. Berikan sepotong ayam buat wanita itu. Hua ha ha ha," seru salah seorang laki-laki berpakaian hitam yang sudah mabuk seraya tertawa terkekeh.
"Ba, baik Den," ujar pemilik kedai itu dengan suara terbata-bata.
"Badiran, kau perhatikan wanita gembel itu yang sedang makan sepotong ayam di sana! Sepertinya ia cantik dan molek tubuhnya jika kita bersihkan. Hua ha ha,'" seloroh kawannya yang bernama Prawara.
"Hua ha ha ... kau benar Prawara. Ayo kita bawa wanita itu ke tepi sungai. Kita akan bersenang-senang di sana. Hua ha ha," ujar Prawara yang sudah mabuk tertawa terbahak-bahak.
Tak berapa lama, keempat laki-laki berpakaian serba hitam tersebut membawa pergi Ningrum Sari, setelah dirinya terkena totokkan. Kemudian keempatnya menerkam dengan buas Ningrum Sari setelah sampai di tepi sungai.
Mereka memang sudah merencankan hendak memperkosa wanita cantik jelita yang hanya terlihat kotor itu. Namun, Ningrum Sari tak kuasa melawan, karena ia tak ingat ilmu bela diri yang ia pernah pelajari.
Walaupun seluruh tenaganya sudah ia kerahkan, perlawanan hanya sia-sia saja pada keempat laki-laki yang sedang berusaha menindih tubuhnya. Jangankan keempat orang yang memegangnya satu orang pun ia tak sanggup. Apalagi saat itu mereka memegang kedua kaki dan tangannya, lalu direntangkan lebar-lebar.
Ningrum Sari hanya bisa berteriak meminta pertolongan. Minta dikasihani oleh keempat laki-laki tersebut. Namun, manusia-manusia bejat itu seakan sudah diselimuti nafsu birahi yang besar. Mereka tak menghiraukan lagi ujaran Ningrum Sari. Mereka makin ganas.
Namun pada saat kritis, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat bagai angin kencang. Dan, seketika kejadian begitu cepat, hingga keempat laki-laki yang hendak memperkosanya tergeletak begitu saja tanpa nyawa di tepi sungai. Keadaan Ningrum Sari pun tergeletak pingsan, kemudian sosok bayangan itu, berkelebat membawanya pergi.
***
__ADS_1
Pagi telah datang bersama munculnya sang mentari dari peraduannya, menyinari alam Madyapada. Angin pagi bertiup dengan lembut, menambah suasana pagi terasa sejuk. Burung-burung berkicau riang, turut menikmati kehangatan mentari di Bukit Sampar.
Sebelas tahun kemudian. Di Bukit Sampar tampak dua sosok bayangan tubuh yang sedang berlatih jurus-jurus yang mematikan, sosok itu seorang laki-laki tua berusia tujuh puluh lima tahun, berjenggot serta rambutnya sudah memutih terurai. Nama laki-laki tua itu adalah Eyang Arang Sedayu.
Sosok satunya seorang wanita cantik mengenakan pakaian berwarna hijau lumut, berlengan panjang. Rambutnya masai terlihat seperti wanita yang tidak waras dialah Ningrum Sari. Eyang Arang Sedayu menggembleng, Ningrum Sari sampai benar-benar ia dapat menguasai seluruh ilmu yang diturunkannya.
Tak terasa hari demi hari macam-macam jurus ia serap dengan begitu cepatnya, serta ajian yang diwariskan Eyang Arang Sedayu berhasil telah ia telah kuasai seluruhnya. Tetapi, sangat disayangkan Ningrum Sari tidak lagi mengenal siapa dirinya, hanya satu anak bocah saja yang ia ingat yaitu Sima Kelantara anak laki-laki susuhannya.
Selama sebelas tahun di Bukit Sampar yang dilakukan Ningrum Sari hanya berbakti kepada gurunya dan berlatih ilmu silat. Ia tidak akan turun bukit sebelum puas berbakti kepada gurunya. Walaupun Ningrum Sari kehilangan ingatannya, namun rasa nalurinya terhadap orang lain begitu tajam.
Seringkali gurunya memberikannya petuah-petuah yang harus ia jalani. ‘Seorang pendekar harus mengabdi kepada semesta alam, guna menegakkan kebenaran dan keadilan di muka bumi ini’. Itulah pesan Eyang Arang Sedayu yang selalu akan diingatnya.
"Sudah waktunya kau turun bukti cucuku. Eyang rasa sudah cukup mendidikmu. Di luar sana banyak orang yang membutuhkan pertolonganmu," tutur Eyang Arang Sedayu yang nampak semakin tua.
"Kau tidak boleh bersikap seperti itu cucuku. Carilah keberadaan anakmu dan carilah jati dirimu sebenarnya. Dan, tegakkanlah panji-panji kebenaran di alam jagad raya ini," tutur Eyang Arang Sedayu kembali pada Ningrum Sari.
"Baiklah Eyang Guru. Murid junjung tinggi petuah-petuahmu," ujar Ningrum Sari pada Eyang Arang Sedayu.
"Hmm, bagus cucuku. Terimalah 'Pedang Matahari' ini gunakanlah di jalan yang benar," tutur Eyang Arang Sedayu seraya menatap muridnya dalam-dalam.
Setelah sampai di tangan, Ningrum Sari segera diciumnya pedang pusaka itu. Kemudian dililitkan tali pedang ke tubuhnya, hingga pedang mustika itu tersandang di punggungnya.
"Baiklah, Eyang Guru. Murid mohon diri. Setelah kutemukan putraku, aku akan kembali ke Bukit Sampar ini untuk menengokmu," pinta Ningrum Sari sambil menyembah.
__ADS_1
Kemudian dengan diikuti tatapan mata sang guru, Ningrum Sari melangkah meninggalkan gurunya. Sekian jauh meninggalkan Bukit Sampar, Ningrum Sari telah memasuki Desa Pandan Wangi dan mengamati daerah sekitarnya.
Tampaknya desa itu biasa-biasa saja. Kesibukan para penduduknya aman dan tenteram. Mereka berlalu-lalang dengan kesibukan masing-masing. Namun, di dalam kedai makan, terlihat sekumpulan orang yang sedang mabuk.
Pakaian dan wajah mereka menunjukkan kalau mereka bukan orang baik-baik. Dan, hampir semuanya menyandang pedang di punggung. Tingkah laku mereka sungguh tak sedap dipandang mata. Bila ada gadis desa yang sedang lewat, tak segan-segan mereka menggoda atau menjamah tubuh wanita itu dengan kasar. Bahkan, pada saat Ningrum Sari melintasi kedai makan itu, matanya sempat melihat seorang pemabuk merangkul seorang wanita muda dengan paksa seraya menciumi dan meremas-remas buah dadanya.
Wanita itu hanya bisa menangis sambil mengeluh. Sementara orang-orang yang lewat tak ada yang berani melarang atau membela wanita muda itu. Sungguh miris sekali pemandangan tersebut.
"Siapa laki-laki keparat itu?" gumam Ningrum Sari dengan geram. Tanpa banyak omong lagi, ia melesat ke arah para pemabuk itu.
"Hei, manusia biadab! Lepaskan wanita itu!" sentak Ningrum Sari sambil berkacak pinggang pada orang-orang yang sedang menggerayangi tubuh wanita muda tadi.
Kemudian orang yang sedang mempermainkan wanita itu tersentak. Termasuk orang yang sedang menyantap makanannya. Mereka menoleh ke arah Ningrum Sari yang menatap dengan pandangan sinis.
"Cuuiih! Kalian manusia laknat yang perlu diberi pelajaran. Lepaskan wanita itu kataku!" sentak Ningrum Sari lagi, karena lelaki kurang ajar itu belum melepaskan wanita yang baju bagian atasnya sudah terbuka. Lelaki itu berkumis dan bercambang lebat.
"He he he...." Lelaki itu malah tertawa tergelak-gelak sambil terus menciumi wanita di pelukannya.
"Kalau kau ingin merasakan ciuman dan remasanku juga, kemarilah. Hua ha ha," seloroh lelaki pemabuk itu menggoda Ningrum Sari. Yang lain jadi tertawa terbahak-bahak. Sebagian dari para pengunjung kedai makan, kini berpaling dan menghadap ke arah Ningrum Sari.
"Hua ha ha ... sontoloyo. Ini baru santapan lezat. Ayo, kemarilah manis. Jangan galak-galak. He he he," celetuk seorang pemabuk sambil menoleh ke arah Ningrum Sari. Lalu, ia bergerak bangkit. Semua berdiri dengan tingkah laku yang memuakkan Ningrum Sari. Konyol dan kurang ajar.
"Biasanya wanita yang galak malah lebih panas mainnya," seloroh laki-laki berperut gendut dan berwajah persegi dengan ikat kepala menutupi seluruh rambutnya. Lantas saja semua tertawa terbahak-bahak. Namun, terlihat sekali Ningrum Sari nampaknya sudah tidak sabar lagi untuk menghabisi manusia-manusia yang berperilaku seperti binatang di hadapannya.
__ADS_1