Pendekar Sinting

Pendekar Sinting
Sepak Terjang Pendekar Sinting, Walet Merah dan Pendekar Bangau Putih


__ADS_3

"Maafkan aku kawan. Hatiku telah terbawa perasaan, ketika tiba-tiba teringat kejadian dua puluh satu tahun yang lalu. Manakala orang-orang jahat yang mungkin pimpinan mereka membunuh Ramaku, serta membuat keluargaku terpisah," tutur gadis bercadar seakan menyesali. tindakannya.


Sima menghela napas dalam-dalam. Kemudian dengan cenge-ngesan sambil tangan kanan menggaruk-garuk kepala.


"Ayo, masuklah dahulu ke dalam," ajak Sima sambil melangkah menuju ke kedai dengan gadis bercadar merah.


Sima membayar makanan yang telah dimakannya dan yang dimakan gadis bercadar merah, lalu Sima kembali keluar. Gadis bercadar mengikuti di belakangnya.


"Sekarang, hendak ke mana kau pergi?" tanya Sima pada gadis bercadar.


"Hm ... sebenarnya aku akan pergi ke Desa Waringin untuk mencari pedang Ramaku," balas gadis bercadar merah.


"Oh, begitu. Baiklah," ujar Sima.


"Kau hendak ke mana....?" tanya gadis bercadar merah pada Sima.


"Ha ha ha ... hi hi hi. Entahlah. Aku hanyalah pengembara, pergi tanpa tujuan yang pasti," balas Sima tertawa cenge-ngesan.


"Oh, Baiklah," ujar gadis bercadar merah itu.


"Apa nama pedang yang ada di balik punggungmu itu, Nisanak...?" tanya Sima.


"Hm, ini Pedang Walet Merah milik Biyungku. Aku hanya meminjamnya."


"Baiklah, sampai jumpa kembali!" seru Sima sambil melangkah meninggalkan gadis bercadar merah. Gadis bercadar merah itu berdiri mematung,


menatap langkah Pemuda Sinting itu meninggalkan kedai.


"Sungguh seorang pendekar yang berbudi luhur. Meski tingkah lakunya seperti orang gila, jiwanya sangat agung. Semoga kita bisa bertemu lagi, Tuan Pendekar Dan, semoga aku akan segera mendapatkan pedang milik Ramaku," gumam gadis bercadar merah sambil melangkah meninggalkan pelataran kedai.


Semua orang yang sedari tadi memperhatikan pemuda sinting dan gadis bercadar bercakap-cakap seketika mengikuti langkah gadis bercadar merah itu. Mereka seketika merasa memiliki gairah hidup.


"Hidup, Pendekar Sinting!"


"Hidup, Walet Merah!"


Para warga mengelu-elukan kedatangan pemuda sinting itu dan gadis bercadar merah di Desa Pandan Wangi. Kini semua harapan warga tertumpu pada sepasang pendekar tersebut. Mereka mengharap muda-mudi itu akan mampu membela Desa Pandan Wangi dari ancaman Perguruan Aliran Golongan Hitam.

__ADS_1


"Hidup Pendekar Sinting...!"


"Hidup Walet Merah...!"


"Hidup sepasang pendekar...!"


Warga Desa Pandan Wangi terus mengikuti ke mana langkah gadis bercadar pergi. Orang-orang yang berada di dalam rumah pun bermunculan keluar. Suasana Desa Pandan Wangi seketika menjadi riuh. Para penduduk seakan-akan merasa baru saja terjaga dari mimpi buruk, setelah dua puluh tahun lebih dicekam ketakutan.


Senja yang cerah membiaskan cahaya merah di langit sebelah barat. Malam datang dengan perlahan menggantikan siang. Kegelapan menyelimuti bumi persada. Toyang berkelebat mengerahkan ilmu meringankan tubuh meninggalkan Desa Pandan Wangi menuju Desa Waringin. Saat sampai di gapura Perguruan Sanca Beracun. Toyang berjalan terhuyung-huyung. Tak lama lima orang murid perguruan memapah Toyang untuk masuk ke dalam.


"Apa yang terjadi Toyang? Di mana pemimpinmu Palawa dan kawananmu yang lain?" tanya Nyi Gandawati.


"Ketua guru! Ki Palawa, Ki Loreng serta Balakosa. Tewas mati terbunuh ketua," balas Toyang meringis kesakitan di tubuhnya.


"Bodoh! Apa kau melarikan, Toyang?" tukas Nyi Gandawati.


"Tidak ketua guru. Aku tidak melarikan diri," terang Toyang.


"Hmm ... siapa yang membunuh Ki Palawa dan yang lainnya. Bodoh!" tanya Nyi Gandawati.


"Pendekar Walet Merah dan pemuda sinting ketua," balas Toyang.


"Baik ketua guru...!" seru murid-murid dan pendekar aliran sesat yang hadir.


Dengan menunggang kuda mereka menuju Desa Pandan Wangi. Perguruan Sanca Beracun membunuh setiap orang yang dijumpai di jalan.


"Ha ha ha ... katakan pada Ki Wiradana kepala desa kalian, setiap bulan purnama penduduk Desa Pandan Wangi harus menyetorkan upeti pada kami!" seru Nyi Gandawati berpakaian merah muda dan bersandang Pedang Samber Nyawa di punggungnya berbicara dengan penduduk.


"Ya, jangan sesekali berani melawan. Kami tak segan-segan membunuh kalian!" sambung 'Tiga Dewi Iblis dari Lembah Maut' Anala, Ananta dan Anantara.


Warga Desa Pandan Wangi yang ketakutan melihat sepak terjang Perguruan Sanca Beracun tak satu pun yang berani melawan. Semua diam membisu, meski dari pancaran mata mereka tergambar kebencian yang mendalam.


"Katakan pada Ki Wiradana, agar disiapkan pesta meriah. Kami akan datang ke rumahnya!" seru Nyi Gandawati.


"Hei, balas. Kalian seperti orang bisu!" sentak Sakunta si 'Cambuk Api', lelaki bertubuh tinggi dan tegap mengenakan pakaian biru kehitaman. Laki-laki berambut panjang dan hidung pesek itu. Namun, para warga desa yang ketakutan itu tak mampu membalas sentakan keras itu.


"Kurang ajar. Kalian rupanya mencari ******!" maki Toyang si 'Setan Cabul' dari Gunung Sotang'."

__ADS_1


Toyang si Setan Cabul mencabut pedangnya.


Kemudian dijalankan kudanya mendekat ke kerumunan penduduk yang tak berani pergi dari tempat itu. Karena jika pergi melayanglah nyawa mereka.


"Ayo, balas Apa kalian ingin pedang ini yang bicara!" sentak Toyang sambil mengancung-acungkan pedang di depan warga desa yang semakin ketakutan. Namun, tiba-tiba.


"Pengecut kalian hanya berani dengan orang-orang lemah!" terdengar sentakan keras dari arah belakang.


Ketika Toyang menolehkan kepala, dilihatnya seorang wanita bercadar merah usianya sekitat setengah baya, telah berdiri sekitar sepuluh langkah di belakangnya.


"Heh, Siapa kau!" sentak Tiga Dewi Iblis dari Lembah Maut.


"Berani benar menantang kami!" dengus Ananta.


"Hmm ... apa yang mesti aku takutkan? Pendekar Bangau Putih tak pernah gentar!" sahut Dewi Arum. sembari membuka cadarnya.


"Kurang ajar. Rupanya kau Dewi Arum. Kau ke sini mau mencari ******! Suamimu sudah ke neraka. Hu ha ha. Habisi wanita itu!" seru Nyi Gandawati. Matanya membelalak lebar diliputi amarah.


"Kuharap kalian jangan sesekali berani menginjakkan kaki di desa ini!" sahut gadis berpakaian serba merah dan bercadar merah juga. Wajahnya pun menunjukkan keangkeran, seolah ingin menunjukkan pada kelima tokoh-tokoh aliran sesat itu.


"Kurang ajar! Singkirkan mereka!" perintah Nyi Gandawati pada kelima pengikutnya dan murid-murid Perguruan Sanca Beracun.


"Biar aku saja yang menyingkirkan gadis bercadar merah itu!" sahut Ananta salah seorang wanita dari Tiga Dewi Iblis dari Lembah Maut sambil melompat dari punggung kudanya. Tangannya memegang pedang yang tersandang di punggungnya.


"Bersiaplah untuk ******!" sentak Ananta sambil menarik pedangnya dari sarungnya.


"Hiyaaa...!"


"Yeaaaa...!"


Ananta segera merangsek dengan kibasan pedangnya. Gadis bercadar merah seketika berlompatan mundur mengelakkan babatan pedang lawan. Kemudian, dengan cepat gadis bercadar merah balas menyerang dengan sambaran Pedang Walet Merah.


"Hiyaaa..."


"Yeaaaa..."


Wuuuuuuuttt...!!!

__ADS_1


Dalam sekejap, pertarungan telah berjalan dengan seru. Namun tampaknya kemampuan Gadis bercadar merah berada setingkat di bawah lawannya.


__ADS_2