Pendekar Sinting

Pendekar Sinting
Dewi Arum di Bakar Api Cemburu


__ADS_3

Saat berjalan kembali menuju bilik Ninik Bintari, Ningrum Sari disejajarkan cara berjalannya. Akibat terkena tendangan Arya Kelantara, Gadis itu luka dalam dan harus segera di obati.


"Mengapa kau tidak menggendongku saja, Kakang? Agar lebih cepat kita sampai," ujar Ningrum Sari.


"Bagaimana aku dapat menggendongmu? Sedangkan kita harus membawa buah-buahan dan ayam hutan ini."


"Oh iya, aku hampir lupa, Kakang," ujar Ningrum Sari dengan suara yang begitu lembut.


Semilir angin malam di Hutan Setan Kembar menghembuskan udara yang sangat dingin.


Di dalam bilik bambu, Dewi Arum hatinya begitu gelisah menunggu Arya Kelantara yang belum juga tiba. Yang mengkhwatirkan bagi dirinya adalah, suaminya tewas terbunuh oleh perguruan aliran hitam yang begitu ingin menginginkan Pedang Samber Nyawa.


Terselip sebuah pertanyaan di dalam benak Dewi Arum, mengapa Ningrum Sari tiba-tiba tidak terlihat olehnya. Kecurigaan pada Ningrum Sari pun makin menjadi. Telah ia sadari bahwa gadis itu mencintai suaminya Arya Kelantara.


Sementara di luar Ninik Bintari sedang mengunyah daun sirih di depan bale-bale bambu biliknya, sembari menunggu Arya Kelantara dan Ningrum Sari tiba. Tetapi, tak lama. Dewi Arum ikut serta duduk di luar bersama Ninik Bintari setelah menidurkan kedua bayinya.


"Ninik Bintari, apakah Ningrum Sari bersama kakang Arya...?" tanya Dewi Arum.


"Hmm, sepertinya begitu Arum. Karena gadis itu tidak terlihat dari tadi olehku. Mungkin ia menyusul Arya suamimu di hutan," balas Ninik Bintari.


"Asal mereka berdua tidak melakukan hal yang tidak senonoh saja, Ninik Bintari," tukas Dewi Arum dengan wajah begitu cemburu.


"Hik hik, hik. Aku tidak percaya Den Arya melakukan perbuatan buruk seperti itu. Coba kau perhatikan suamimu begitu mengenal adat dengan baik. Dewi Arum," ujar Ninik Bintari menenangkan perasaan Dewi Arum.


"Ninik Bintari itu kakang Arya, bersama dengan Ningrum Sari. Tetapi, mengapa Ningrum Sari cara berjalannya terseret-seret seperti itu?" Kemudian, Dewi Arum segera menghampiri mereka berdua.


"Apa yang telah terjadi, Kakang? Mengapa keadaan Ningrum Sari seperti ini...?"


"Aku tak sengaja melukai Ningrum Sari, Arum. Sebaiknya kau obati dia."


"Biarlah aku saja yang mengobatinya." Tiba-tiba Ninik Bintari menyela.

__ADS_1


"Cepat masuklah, Arum. Aku membawakan kau buah-buahan dan tiga ekor ayam hutan. Kau makan saja dahulu buahnya agar tenagamu cepat pulih kembali," ujar Arya Kelantara pada istrinya.


"Terima kasih, Kakang."


Saat itu Ninik Bintari, menyalurkan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan Ningrum Sari akibat terkena tendangan Arya Kelantara. Selepas itu barulah wanita tua itu dan juga cucunya tertidur dengan lelapnya.


"Apa kau mencintai Ningrum Sari kakang...?" tanya Dewi Arum pada Arya.


"Mengapa kau bicara seperti itu, Arum?"


"Kulihat dari pancaran mata Ningrum Sari, sepertinya ia mencintaimu, Kakang. Terlebih perhatiannya kepadamu tak dapat kuelakkan lagi," tukas Dewi Arum dengan wajah penuh cemburu.


"Ha ha ha. Kau sedang dibakar api cemburu Arum. Aku tidak mencintai Ningrum Sari. Dan, aku pun tidak melakukan hubungan apapun, yang mungkin sekarang sedang kau pikirkan," ujar Arya Kelantara.


"Aku tidak percaya kakang, dari tatapanmu saja kau menyukai Ningrum Sari," ujar Dewi Arum lirih.


"Aku ingin segera sampai ke pesisir utara Arum, kemudian hidup bersama putra-putri kita di sana," tutur Arya.


Pagi yang cerah, langit tampak bersih tanpa mega. Angin berhembus sejuk di dalam sebuah rumah bilik dan terdengar tangisan sepasang orok kembar yang menyambut datangnya pagi ini.


"Ninik Bintari, aku bersama Dewi Arum akan meneruskan perjalanan ke pesisir utara, dan kami akan menetap di sana," ujar Arya Kelantara pada Ninik Bintari.


"Mengapa kau ingin menetap di pesisir utara? Kau pun bisa hidup bersama Dewi Arum dan juga putra-putrimu di sini," tutur Ninik Bintari.


"Kakang kau menetap di sini saja. Aku akan mengasuh Sima dan Dewi Melati," sahut Ningrum Sari pada Arya Kelantara dengan nada lirih.


"Ningrum Sari, kami tidak akan berlama-lama di hutan ini. Karena kami sedang diburu perguruan aliran hitam. Aku tidak ingin membahayakan keselamatan kalian," terang Dewi Arum kepada Ningrum Sari.


"Apa maksudmu, Arum? Dan, siapakah sebenarnya kalian...?" tanya Ningrum Sari penuh selidik.


"Kami hanya sepasang suami-istri yang kebetulan memiliki Pedang Samber Nyawa. Sebuah pedang sakti yang dicari-cari selama ini dalam rimba persilatan. Suamiku bergelar Pendekar Tapak Maut, dan aku biasa disebut Pendekar Bangau Putih," terang Dewi arum kepada Ningrum Sari.

__ADS_1


"Ternyata dugaanku benar tidak meleset. Kalian memang bukan orang-orang sembarangan," ujar Ninik Bintari seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Maka dari itu kami akan berdiam diri di pesisir utara Ninik Bintari. Andai kami dapat menetap di sini, keselamatan kalian pasti dalam bahaya," ujar Arya Kelantara menimpali.


"Kami pergi Ninik Bintari. Budi baik kalian akan selalu kami ingat sampai akhir hayat," ujar Dewi Arum.


Sementara Ningrum Sari tiba-tiba sudah tidak terlihat lagi dalam percakapan. Ia berkelebat menuju air terjun dengan isakan tangis yang tiada penuh henti-hentinya. Gadis ini berduka karena akan berpisah dengan laki-laki yang membuatnya jatuh hati.


"Ke mana perginya Ningrum Sari, Ninik Bintari? Kenapa tiba-tiba ia menghilang?" tanya Dewi Arum.


"Entahlah, mungkin ia sedang berada di air terjun."


"Aku sudah mengetahui, bahwa Ningrum Sari mencintai kakang Arya, Ninik Bintari." Tiba-tiba Dewi Arum membuka percakapan kepada wanita tua itu.


"Ningrum Sari hanyalah seorang gadis sebatang kara di hutan ini, Dewi Arum. Kedua orangtuanya telah tiada saat ia masih kecil. Akulah wanita tua yang mengasuhnya di hutan ini," terang Ninik Bintari.


"Kakang, kau tunggu aku sebentar di sini. Aku coba menyusul Ningrum Sari," ujar Dewi Arum kepada Arya Kelantara.


"Untuk apa kau menemui Ningrum Sari, Arum...?" tanya Arya pada istrinya.


Dewi Arum hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Arya Kelantara. Dan, hanya memandang suaminya dengan pandangan yang sulit diartikan dengan kata-kata biasa.


Tak lama, Pendekar Bangau Putih berkelebat secepat kilat, menerobos rimbunnya hutan. Tidak membutuhkan waktu lama ia sudah sampai di bawah kaki air terjun Setan Kembar.


Diamatinya Ningrum Sari termangu di sebongkahan batu besar sambil menyeka bulir-bulir air mata yang berjatuhan di pipinya.


"Tak perlu kau menangis seperti ini, Ningrum Sari. Aku telah mengetahui kau sangat mencintai suamiku. Aku restui kau menjadi istri, Kakang Arya," ujar Dewi Arum dengan lirih.


"Terima kasih, Dewi Arum. Entahlah, apa yang harus kukatakan padamu," ujar Ningrum Sari yang kemudian memeluk tubuh Dewi Arum penuh haru.


Awan putih berlarian tertiup angin, menyapu langit yang kian membiru. Sayap-sayap kecil pun enggan mengalah bermain diangkasa meliuk-liukan tubuhnya terbang bebas kian kemari, di Desa Waringin. Berbeda dengan suasana di perguruan aliran hitam bak raksasa murka yang telah siap menghentakkan kakinya di bumi.

__ADS_1


__ADS_2