Pendekar Sinting

Pendekar Sinting
Pesisir Utara


__ADS_3

"Lalu, hendak ke mana kau sekarang, Dewi Arum...?" tanya Nyai Cakrawati.


"Aku akan kembali ke Hutan Setan Kembar, serta membawa kedua bayiku ke pesisir utara. Setalah itu aku akan membuat perhitungan pada seluruh Perguruan Aliran Golongan Hitam," balas Dewi Arum dengan sorotan mata penuh dendam.


"Tinggalah bersama kami, Dewi Arum," ujar Nyai Purbani.


"Benar! Lebih baik kau tinggal bersama kami!" timpal Nyai Cakrawati.


"Terima kasih. Aku harus pergi ke pesisir utara dan membawa mayat suamiku." Dewi Arum kembali menangis memandangi wajah suaminya, Arya Kelantara yang masih memeluk erat tubuhnya.


"Baiklah, kalau begitu persilahkan kami mengantarmu," sahut Ki Kuranta.


"Wirda, Marta, kumpulkan semua murid-murid, dan siapkan kuda-kuda yang kuat, kita akan bergegas pergi ke Hutan Setan Kembar!" Perintah Nyai Cakrawati.


"Baik, guru!" sahut Wirda dan Marta serempak.


***


Matahari tampak memudar berwarna jingga di atas Hutan Setan Kembar alam Madyapada kembali redup menghilangkan sinar panasnya berganti pancaran bintang-bintang yang bertebaran di luasnya angkasa.


Di lain tempat, disetiap harinya Ningrum Sari serasa selalu berhadapan dengan kegelisaham serta kebimbangan penuh hatinya, hanya memikirkan Arya Kelantara dan juga Dewi Arum yang belum juga kembali.


"Ke manakah suamiku dan Nyimas Dewi Arum, Ninik Bintari. Sudah cukup lama mereka belum juga kembali?" tanya Ningrum Sari kepada Ninik Bintari.


"Entahlah, Arum. Kau doakan saja mereka kembali dengan selamat," balas Ninik Bintari menenangkan hati Ningrum Sari.


"Bayi-bayi ini lucu-lucu sekali Ninik. Semoga jika besar nanti seperti Rama dan juga Biyungnya," ujar Ningrum Sari yang sedang menggendong seorang bayi laki-laki yang bernama Sima Kelantara.


"Cah ayu ini juga cantik, Arum. Bayi-bayi mereka jarang sekali menangis. Nang ning, Ning nang gung. Nanti kalau kalian sudah besar main dengan Eyang ya. Den Bagus Den Ayu," seloroh Ninik Bintari pada bayi kembar Arya Kelantara dan Dewi Arum.


Kemudian tak berapa lama, terdengar suara derapan kaki kuda yang melangkah, membuat Ninik Bintari dan Ningrum Sari tersentak. Dengan berkelebat Ninik Bintari lompat ke dahan pohon untuk memastikan siapa yang datang.

__ADS_1


Toplak ... toplaak ... toplak ...!


"Hieeeeek...!"


"Hieeek!"


"Berhenti! Kita bermalam di sini dan turunkan mayat suamiku!" seru Dewi Arum kepada para murid perguruan aliran putih.


"Dewi Arum, kau ‘kah itu...?" tanya Ninik Bintari yang masih bersembunyi di dahan pohon.


"Benar. Aku Dewi Arum, Ninik Bintrari. Turunlah...!"


"Huuup!" Sekejap kemudian, Ninik Bintari mendarat di tanah dengan ringan.


"Siapakah mereka, Arum...?" tanya Ninik Bintari.


"Mereka para ketua Perguruan Aliran Goolongan Putih, serta para muridnya," balas Dewi Arum.


"Perkenalkan kami para ketua Perguruan Aliran Golongan Putih, Ninik," ujar Ki Kuranta memperkenalkan diri.


"Kakang Arya, telah tewas, Ninik Bintari! Aku berniat membawa mayat suamiku di pesisir utara," balas Dewi Arum.


"Oh, Batara Dewa. Secepat ini kau memanggilnya," gumam Ninik Bintari yang kemudian meneteskan air mata.


"Nyimas Dewi Arum, kau baru saja tiba. Di mana kakang Arya?" tiba-tiba Ningrum Sari keluar dari bilik bambu.


"Kakang Arya telah tewas, Ningrum Sari. Kuatkanlah hatimu," balas Dewi Arum seraya memeluk Ningrum Sari.


"Tidak Nyimas Dewi Arum, kakang Arya tidak boleh mati...!" teriak Ningrum Sari menyambar tubuh suaminya yang berada di dalam tandu. Kemudian, wanita yang sama-sama berparas cantik dengan Dewi Arum itupun menangis tiada hentinya.


"Para ketua sekalian, silahkan bermalam di sini. Buatlah api unggun!" seru Dewi Arum kepada para ketua Perguruan Aliran Golongan Putih.

__ADS_1


"Baiklah, Dewi Arum! Esok pagi kita lanjutkan perjalan ke pesisir utara. Kuatkanlah hatimu menerima ini semua, dan beristirahatlah kau sekarang," ujar Nyai Cakrawati.


"Baik Nyai Cakrawati. Aku masuk ke dalam ingin melihat keadaan bayi-bayiku," ujar Dewi Arum yang kemudian masuk ke dalam bilik bambu Ninik Bintari.


Di malam berduka itu, Ningrum Sari seperti tidak menerima suratan takdir Sang Hyang Dewata. Begitu perih hatinya terpisah dengan sosok laki-laki yang amat ia cintainya. Semalaman suntuk ia tidak beranjak dari tubuh suaminya Arya Kelantara.


"Wirda! Kau katakan kepada saudara seperguruanmu yang pandai menangkap kelinci di malam hari, bergegaslah untuk berburu di hutan ini!" Perintah Ki Kuranta kepada kedua muridnya.


"Baik guru...!" seru Wirda sembari menjura hormat.


***


Keesokkan paginya terjadi percakapan antara Dewi Arum dan Ningrum Sari akan hidup selanjutnya, serta nasib kedua bayinya yang masih merah itu.


"Aku akan hidup di pesisir utara Ningrum Sari, sesuai pesan kakang Arya. Sima sengaja aku tinggalkan di sini untuk menanimu, dan Dewi Melati ikut bersamaku," tutur Dewi Arum kepada Ningrum Sari yang tak terasa air matanya berlinangan.


"Kalau itu maumu, aku akan menjaga Sima seperti anakku sendiri, Nyimas Dewi Arum," ujar Ningrum Sari merasa terharu yang kemudian ikut menangis.


"Berhati-hatilah Nyimas Dewi Arum, kami akan mengunjungimu suatu saat nanti ke Pesisir Utara!" sahut Ninik Bintari.


"Kau pegang empat keping emas ini, Ningrum Sari. Sekedar untuk kebutuhanmu, dan ada seekor kuda yang kudapat dari para ketua Perguruan Golonga Aliran Putih," ujar Dewi arum.


"Baiklah, Nyimas Dewi Arum. Aku berharap kau tidak melupakan kami di sini," ujar Ningrum Sari yang menyeka air matanya, kemudian mereka saling berpelukan penuh rasa haru.


Para ketua Perguruan Aliran Putih dan murid-muridnya mengiringi Dewi Arum menuju pesisir utara. Sementara Ningrum Sari dan Ninik Bintari tetap tinggal di Hutan Setan Kembar mengasuh putra Arya Kelantara dan Dewi Arum yang bernama Sima Kelantara.


Siang itu di pesisir utara berderu gulungan ombak kejar mengejar menghantam batu karang yang berdiri kokoh. Sepoi angin pun ikut menari bersama rimbunnya dedaunan. Matahari pun menyelinap diantara dedaunan hutan kecil yang tumbuh di sekitar pesisir pantai utara. Semakin menambah keindahan alam daerah pesisir utara itu.


Selepas penguburan mayat Arya Kelantara, para ketua Perguruan Aliran Putih beserta para muridnya meninggalkan daerah pesisir utara. Lainnya hal dengan Dewi Arum ia menempati sebuah gua. Gua itu bernama 'Gua Walet Merah' yang berada di pinggiran pantai utara bersama dengan putrinya yang mereka beri nama Dewi Melati Kelantara.


Sepuluh tahun berlalu begitu cepatnya, di Hutan Setan Kembar. Sima Kelantara tumbuh menjadi anak yang pintar, patuh dan juga lucu. Sima kecil memiliki wajah yang amat tampan, berpenampilan telanjang dada dan hanya memakai celana sebatas paha yang terbuat dari kulit rusa.

__ADS_1


Sima dibesarkan oleh Ningrum Sari istri kedua dari ayahnya. Setelah di persunting Arya Kelantara, Ningrum Sari tidak di karuniai seorang anak. Namun dengan adanya Sima, rindunya kepada mendiang suaminya Arya Kelantara sedikit terobati.


Di Hutan Setan Kembar Sima di ajari cara berburu oleh Ninik Bintari. Sima begitu cepat memahami bagaimana caranya berburu binatang di hutan, gerakannya lincah seperti seekor kera. Cara ia berlari bak harimau yang sangat buas. Hutan Setan Kembar, hutan yang memiliki beragam binatang. Sima dilarang memasuki hutan yang paling dalam oleh wanita yang tubuhnya sudah dimakan usianya.


__ADS_2